Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-87 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauhīd alladzhī huwa haqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muhammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī rahimahullāh.
Masuk kita pada bab yang ke-17, yaitu
بَابُ الشَّفَاعَةِ
Bab tentang asy-syafā‘ah.
Kemudian beliau mendatangkan di sini beberapa ayat dan juga hadits yang menunjukkan tentang masalah hakikat dari syafā‘ah di hari kiamat. Sebenarnya bagaimana? Apa yang dilakukan oleh sebagian orang? Dan perkara syafā‘ah ini, ini perkara yang samar, tidak semua orang memahaminya. Banyak orang yang tidak paham tentang masalah syafā‘ah ini. Dan disebutkan oleh sebagian ahlul ilmu, ini termasuk perkara yang daqīq, perkara yang teliti, tidak semua orang mudah untuk memahaminya.
Sehingga kalau sebagian itu terjerumus ke dalam kesalahan dengan banyaknya syubhat, dan dia adalah perkara yang sangat teliti yang sangat detail, meskipun dia tinggal di sebuah negara yang mayoritas Islam, bisa jadi ini adalah perkara yang sangat samar sehingga seseorang diberikan udzur atas kebodohan yang ada, kebodohan dia dan kejahilan dia terhadap perkara ini karena dia adalah termasuk perkara yang samar.
Perkara yang detail tidak bisa kita samakan dengan perkara yang lebih jelas daripada itu. Tentang masalah berdoa kepada selain Allāh, syirik, ini perkara yang jelas. Bersujud untuk selain Allāh, syirik, adalah perkara yang jelas. Tapi masalah syafā‘ah, ini perkara yang detail dan samar bagi sebagian orang. Sehingga sebagian ulama menyebutkan bahwasanya termasuk perkara yang seandainya ini ada sebagian orang yang terjatuh di dalam kesalahan di dalam memahaminya, ini bisa menjadi udzur bagi seseorang.
Beliau akan menjelaskan dengan gamblang insya Allāh tentang hakikat syafā‘ah di hari kiamat. Dan bahwasanya syafā‘ah di hari kiamat, di dalam Al-Qur’an kita kembalinya kepada Al-Qur’an dan hadits, di situlah kita bisa memahami hakikat dari sesuatu. Jangan seperti orang-orang musyrikin yang mereka berbicara tanpa ilmu, tanpa wahyu yang turun kepada mereka.
Kita lihat bagaimana Allāh ﷻ menjelaskan di dalam Al-Qur’an tentang hakikat syafā‘ah.
Beliau mengatakan,
وَقَوْلِ اللهِ تَعَالَى
Dan firman Allāh ﷻ:
وَأَنذِرْ بِهِ ٱلَّذِينَ يَخَافُونَ أَن يُحْشَرُوٓا۟ إِلَىٰ رَبِّهِمْ ۙ لَيْسَ لَهُم مِّن دُونِهِۦ وَلِىٌّ وَلَا شَفِيعٌ
Dan ingatkanlah dengannya, yaitu dengan Al-Qur’an, orang-orang yang takut untuk dikumpulkan kepada Rabb mereka. Mereka tidak memiliki selain Allāh waliyun yang menolong, walā syafī‘un dan tidak pula orang yang memberikan syafā‘ah. (QS. Al-An’am: 51)
Firman Allāh ﷻ, “dan ingatkanlah dengannya”, yaitu dengan Al-Qur’an, orang-orang yang takut untuk dikumpulkan kepada Allāh. Ingatkan mereka, ingatkan mereka dengan Al-Qur’an, kita bacakan kepada mereka Al-Qur’an, kita sebutkan ayat-ayat Allāh.
“Mereka tidak memiliki selain Allāh walīyyun yang menolong.” Yaumul qiyāmah ketika dikumpulkan oleh Allāh ﷻ, tidak ada yang menolong selain Allāh. Semua makhluk dalam keadaan mereka tunduk di hadapan Allāh di hari tersebut. Bapak tidak bisa menolong anaknya, raja tidak bisa menolong rakyatnya, semua dalam keadaan tunduk di hadapan Allāh, termasuk di antaranya adalah para mutakabbirūn, orang-orang yang sombong di dunia. Mungkin di dunia dia ada penjaganya, ada pengawalnya, tapi di akhirat tidak ada yang menolong selain Allāh ﷻ. “Mereka tidak memiliki selain Allāh waliyyun walā syafī‘un.” Dan tidak ada di sana yang memberikan syafā‘ah.
Tidak ada yang memberikan syafā‘ah kepada mereka. Berarti di sini ada syafā‘ah yang diingkari oleh Allāh ﷻ. Tidak ada yang menolong, kemudian tidak ada yang memberikan syafā‘ah. Dan kalau dikumpulkan antara ayat dengan ayat yang lain, maka diketahui bahwasanya yang diingkari oleh Allāh ﷻ di sini adalah syafā‘ah tanpa izin dari Allāh. Di hari kiamat tidak ada syafā‘ah yang terjadi tanpa izin dari Allāh, tidak mungkin. Inilah yang diingkari oleh Allāh ﷻ dalam ayat ini. Tidak ada bagi mereka selain Allāh ﷻ seorang penolong dan yang memberikan syafā‘ah.
Tidak ada yang menolong selain Allāh di hari tersebut. Maka seorang meminta kepada Allāh pertolongan ya, kepada Allāh ﷻ, ditolong oleh Allāh di hari kiamat dan tidak dibiarkan oleh Allāh ﷻ. Dan Allāh mengingkari di sini adanya pemberi syafā‘ah di hari kiamat, maksudnya adalah yang memberikan syafā‘ah tanpa izin Allāh, ini tidak ada. Semuanya, baik malaikat, nabi, orang-orang yang beriman, kalau mereka ingin mendoakan bagi orang lain, meminta kepada Allāh untuk orang lain di hari tersebut, maka harus dengan izin Allāh.
Maka dari sini seseorang mengetahui kebatilan keyakinan sebagian orang yang mereka meminta kepada wali, meminta kepada nabi supaya menjadi pemberi syafā‘ah di hari kiamat. Seakan-akan nabi dan wali tersebut kelak di hari kiamat bisa memberikan syafā‘ah tanpa izin dari Allāh ﷻ. Itu yang terjadi. Sehingga mereka semangat untuk mendekatkan diri kepada wali, kepada nabi, dan ini persis yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin di zaman Nabi ﷺ.
Allāh menceritakan tentang keadaan mereka:
وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰٓؤُلَآءِ شُفَعَٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِ
Dan mereka menyembah kepada selain Allāh sesuatu yang tidak memudharati mereka dan tidak memberikan manfaat kepada mereka, dan mereka mengatakan mereka ini adalah orang-orang yang akan memberikan syafā‘ah untuk kami di sisi Allāh. (QS. Yunus: 18)
Alasan mereka menyerahkan ibadah kepada wali tersebut, orang yang shalih tersebut, adalah mereka berharap supaya mereka memberi syafā‘ah untuk mereka di sisi Allāh.
Kemudian beliau mendatangkan ayat yang kedua.
وَقَوْلُهُ: قُل لِّلَّهِ ٱلشَّفَٰعَةُ جَمِيعًا
Dan firman-Nya: Katakanlah bagi Allāh milik Allāh syafā‘ah semuanya. (QS. Az-Zumar: 44)
Yang kedua adalah firman Allāh ﷻ yang artinya katakanlah bagi Allāh, milik Allāh syafā‘ah semuanya. Katakanlah yaitu wahai Muhammad, lillāh milik Allāh asy-syafā‘ah. Aslinya asy-syafā‘atu lillāh (الشَّفَاعَةُ لِلَّهِ), itu dalam bahasa Arab. Asy-syafā‘ah sebagai mubtadanya, lillāh ini sebagai khabar, jar dan juga majrur. Cuma di sini dimajukan lillāh-nya dan diakhirkan syafā‘ah-nya. Harusnya kan mubtada khabar, di sini khabar mubtada. Nah, di dalam bahasa Arab yang demikian itu menunjukkan tentang pengkhususan, penguatan. Sehingga ketika Allāh mengatakan qul lillāhisy-syafā‘atu jamī‘an, katakanlah hanya milik Allāh syafā‘ah. Yaitu syafā‘ah di hari kiamat, Allāh ﷻ saja yang memilikinya.
Selain Allāh mereka tidak memilikinya. Mereka tidak akan bisa memberikan syafā‘ah di sisi Allāh kecuali setelah diizinkan oleh Allāh. Mereka memuji Allāh, meminta izin kepada Allāh. Kalau Allāh mengizinkan baru mereka bisa memberikan syafā‘ah. Kalau Allāh tidak mengizinkan maka mereka tidak akan bisa memberikan syafā‘ah. Lillāhisy-syafā‘ah – Hanya milik Allāh syafā‘ah. Berarti para anbiya, para malaikat tidak memiliki syafā‘ah.
Jamī‘an – Dikuatkan lagi di sini dengan kalimat jamī‘an semuanya. Karena syafā‘ah sekali lagi di hari kiamat ini bermacam-macam dan berjenis-jenis. Dan semuanya adalah milik Allāh. Di dalam berbagai jenis syafā‘ah, syafā‘ah al-‘uzhmā, syafā‘ah dibukanya pintu surga, syafā‘ah untuk Abu Thalib, syafā‘ah untuk orang yang sudah masuk neraka supaya dia keluar dari neraka. Maka ini semua tidak terjadi kecuali setelah Allāh ﷻ mengizinkan bagi yang memberikan syafā‘ah.
Nah kalau demikian, kalau syafā‘ah adalah milik Allāh semuanya, berarti apa yang kita lakukan? Berarti yang kita lakukan adalah minta kepada Allāh ﷻ yang memiliki syafā‘ah semuanya. Bukan justru meminta kepada nabi, atau wali, atau malaikat. Karena mereka tidak memiliki syafā‘ah. Kita minta kepada yang memiliki syafā‘ah, qul lillāhisy-syafā‘atu jamī‘an. Jangan seperti orang-orang musyrikin Quraisy yang mereka justru mintanya kepada orang yang shalih dan mengatakan mereka ini adalah yang memberikan syafā‘ah untuk kami di sisi Allāh. Ini adalah cara yang salah.
Cara yang benar adalah dengan meminta kepada Allāh ﷻ yang memiliki syafā‘ah. Sehingga kita mengatakan, “Ya Allāh, aku meminta syafā‘ah Nabi-Mu. Ya Allāh, aku meminta syafā‘ah para malaikat. Ya Allāh, aku meminta syafā‘ah orang-orang yang beriman untukku.” Nah, ini cara yang benar. Karena tidak ada yang memiliki syafā‘ah kecuali Allāh ﷻ. Kita meminta kepada yang memiliki. Jangan meminta kepada yang tidak memiliki.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
