Halaqah 85 | Kandungan Bab 16

Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-85 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauhīd alladzhī huwa haqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muhammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī rahimahullāh.

Beliau menyebutkan tentang beberapa faedah dan pelajaran-pelajaran yang bisa diambil dari bab ini. Dan juga dalil-dalil yang beliau sebutkan di dalam bab ini.

فِيهِ مَسَائِلُ

الأُولَى: تَفْسِيرُ الْآيَةِ

1. Tafsir dari ayat, yaitu firman Allāh ﷻ:

حَتَّىٰ إِذَا فُزِّعَ عَن قُلُوبِهِمْ قَالُوا۟ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ ۖ قَالُوا۟ ٱلْحَقَّ ۖ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْكَبِيرُ

Sehingga apabila dihilangkan rasa takut dari hati-hati mereka, mereka mengatakan, “Apa yang dikatakan oleh Rabb kalian?” Mereka menjawab, “(Perkataan) yang benar,” dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. Saba’: 23)

Dan penafsiran ayat ini adalah dengan hadits, yaitu hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan juga Muslim. Dan menafsirkan ayat dengan hadits, ini adalah termasuk cara dalam mengetahui tafsir yang benar dari Al-Qur’an. Terkadang Al-Qur’an ditafsirkan dengan ayat yang lain, terkadang ditafsirkan dengan hadits, dan terkadang ditafsirkan dengan ucapan shahabat, dan terkadang ditafsirkan dengan ucapan tabi’in.

الثَّانِيَةُ: مَا فِيهَا مِنَ الْحُجَّةِ عَلَى إِبْطَالِ الشِّرْكِ خُصُوصًا مَنْ تَعَلَّقَ عَلَى الصَّالِحِينَ، وَهِيَ الْآيَةُ الَّتِي قِيلَ: إِنَّهَا تَقْطَعُ عُرُوقَ شَجَرَةِ الشِّرْكِ مِنَ الْقَلْبِ

2. Apa yang ada di dalamnya berupa hujjah, berupa dalil, bukti tentang batilnya kesyirikan,khususnya bagi orang yang mereka bergantung hatinya dengan orang-orang shalih. Mengingat orang shalih lebih banyak daripada mengingat Allāh, bergantung hatinya kepada orang shalih. Maka ini adalah, atau ayat ini menunjukkan tentang kebatilan perbuatan tadi. Para malaikat mereka adalah makhluk Allāh yang shalih yang tidak pernah berbuat maksiat kepada Allāh ﷻ.

لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

(Mereka) tidak mendurhakai Allāh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim: 6)

Yang mereka senantiasa bertasbih, beribadah, bersujud, namun demikian ternyata keadaan mereka adalah sangat lemah dan tidak pantas untuk disembah selain Allāh ﷻ, tidak pantas untuk disembah karena lemahnya mereka. Maka ayat ini menunjukkan tentang kebatilan setiap orang yang bergantung kepada selain Allāh ﷻ terutama orang-orang yang bergantung kepada orang-orang shalih.

Dan dia adalah ayat yang dikatakan bahwasanya dia memutus akar-akar pohon kesyirikan yang ada di dalam hati. Jadi kalau kita memahami dan kita ingin kebenaran, membaca ayat ini maka insya’ Allāh akan hilang dari kita ketergantungan kepada selain Allāh ﷻ. Tidak ada alasan bagi seseorang untuk menyembah kepada selain Allāh ﷻ.

الثَّالِثَةُ: تَفْسِيرُ قَوْلِهِ: قَالُوا الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

3. Penjelasan dari firman Allāh, mereka mengatakan al-haqqa, yaitu mereka para malaikat mengatakan yang Allāh katakan adalah kebenaran. Tidak ada kebatilan. Wa huwal-‘aliyyul kabīr – Dan Allāh ﷻ Dialah Yang Maha Tinggi dan juga Maha Besar.

الرَّابِعَةُ: سَبَبُ سُؤَالِهِمْ عَنْ ذَلِكَ

4. Sebab mereka bertanya tentang yang demikian. Ya karena mereka dalam keadaan tidak sadar, tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Allāh ﷻ. Kenapa mereka tidak sadar? Takut kepada Allāh ﷻ.

الْخَامِسَةُ: أَنَّ جِبْرِيلَ يُجِيبُهُمْ بَعْدَ ذَلِكَ بِقَوْلِهِ: «قَالَ كَذَا وَكَذَا

5. Bahwasanya Jibrīl menjawab pertanyaan mereka setelah itu dengan mengatakan, Allāh mengatakan demikian dan demikian. Yaitu Jibrīl mendengar wahyu dari Allāh, kemudian Jibrīl menyampaikan ini kepada para malaikat yang lain.

السَّادِسَةُ: ذِكْرُ أَنَّ أَوَّلَ مَنْ يَرْفَعُ رَأْسَهُ جِبْرِيلُ

6. Penyebutan bahwasanya yang pertama kali mengangkat kepalanya adalah Jibrīl. Setelah bersujud, dan ini menunjukkan tentang keutamaan Jibrīl dan dia adalah pemukanya para malaikat.

السَّابِعَةُ: أَنَّهُ يَقُولُ لِأَهْلِ السَّمَاوَاتِ كُلِّهِمْ لِأَنَّهُمْ يَسْأَلُونَهُ

7. Bahwasanya malaikat Jibrīl mengatakan kepada penduduk langit semuanya karena mereka bertanya semuanya. Karena mereka bertanya, akhirnya beliau menjawab.

الثَّامِنَةُ: أَنَّ الْغَشِيَ يَعُمُّ أَهْلَ السَّمَاوَاتِ كُلَّهُمْ

8. Bahwasanya ketidaksadaran di sini itu meliputi seluruh penduduk langit. Semuanya, termasuk di antaranya adalah Jibrīl ‘alaihissalām. Menunjukkan tentang lemahnya mereka semuanya.

التَّاسِعَةُ: ارْتِجَافُ السَّمَاوَاتِ لِكَلَامِ اللَّهِ

9. Goncangnya langit-langit karena sebab mendengar kalāmullāh.

الْعَاشِرَةُ: أَنَّ جِبْرِيلَ هُوَ الَّذِي يَنْتَهِي بِالْوَحْيِ إِلَى حَيْثُ أَمَرَهُ اللَّهُ

10. Bahwasanya Jibrīl dialah yang menjalankan, melaksanakan apa yang diwahyukan sesuai dengan kehendak Allāh ﷻ.

الْحَادِيَةَ عَشْرَةَ: ذِكْرُ اسْتِرَاقِ الشَّيَاطِينِ

11. Penyebutan tentang pencurian yang dilakukan oleh setan-setan. Bahwasanya mereka mencuri kabar dari langit dengan cara yang disebutkan dalam hadits tadi.

الثَّانِيَةَ عَشْرَةَ: صِفَةُ رُكُوبِ بَعْضِهِمْ بَعْضًا

12. Tentang bagaimana sifat mereka saling menaiki satu dengan yang lain. Yang satu berada di atas yang lain sampai ke langit.

الثَّالِثَةَ عَشْرَةَ: إِرْسَالُ الشُّهُبِ

13. Sebab kenapa diutus dan kenapa dilemparkan bintang kepada mereka. Karena mereka mencuri kabar dari langit. Dan Allāh ﷻ menciptakan bintang di antaranya adalah untuk melempar para pencuri kabar tadi.

الرَّابِعَةَ عَشْرَةَ: أَنَّهُ تَارَةً يُدْرِكُهُ الشِّهَابُ قَبْلَ أَنْ يُلْقِيَهَا، وَتَارَةً يُلْقِيهَا فِي أُذُنِ وَلِيِّهِ مِنَ الْإِنْسِ قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُ

14. Terkadang setan tadi terkena bintang sebelum dia melemparkan kalimat tadi. Dan terkadang dia sudah melemparkan ke telinga walinya, yaitu telinga wali dari setan tadi, baik tukang sihir maupun dukun sebelum akhirnya dia terkena bintang.

الْخَامِسَةَ عَشْرَةَ: كَوْنُ الْكَاهِنِ يُصَدِّقُ بَعْضَ الْأَحْيَانِ

15. Bahwasanya seorang dukun terkadang dia benar. Terkadang dia benar. Dari mana kebenaran tersebut? Ya dari apa yang dia dengar dari setan. Apa yang dia dengar dari setan dan mungkin saja dia main tebak-tebakan, hanya sekedar mengatakan begitu saja tidak berdasarkan ilmu ternyata pas dengan takdir Allāh. Dan itu tidak menunjukkan bahwasanya itu termasuk pengetahuan ghaib yang dia miliki, dia tidak tahu ilmu ghaib. Dia hanya menyampaikan, menebak kalau benar ya menjadi bahan bagi dia untuk semakin kuat di mata masyarakat kalau salah ya sudah. Jadi terkadang dia benar ucapannya bukan karena dia mengetahui ilmu yang ghaib.

السَّادِسَةَ عَشْرَةَ: كَوْنُهُ يَكْذِبُ مَعَهَا مِئَةَ كَذْبَةٍ

16. Bahwasanya dia berdusta bersama kabar yang benar yang dia dengar dari pencuri kabar tadi dengan seratus kedustaan. Satu kebenaran ditambah dengan seratus kedustaan menunjukkan tentang banyaknya kedustaan yang dia tambahi di atas kebenaran yang dia dengar.

السَّابِعَةَ عَشْرَةَ: أَنَّهُ لَمْ يُصَدَّقْ كَذِبُهُ إِلَّا بِتِلْكَ الْكَلِمَةِ الَّتِي سُمِعَتْ مِنَ السَّمَاءِ

17. Sesungguhnya dia tidak dibenarkan kedustaan dia kecuali karena kalimat yang didengar dari langit yang dibawa oleh pencuri kabar tadi.

الثَّامِنَةَ عَشْرَةَ: قَبُولُ النُّفُوسِ لِلْبَاطِلِ! كَيْفَ يَتَعَلَّقُونَ بِوَاحِدَةٍ وَلَا يَعْتَبِرُونَ بِمِئَةٍ؟

18. Menerimanya jiwa-jiwa ini dengan kebatilan. Jiwa-jiwa kita ini banyak menerima kebatilan, lemahnya mereka. Sehingga mereka menerima kebatilan. Bagaimana mereka bergantung dengan satu kebenaran kemudian mereka tidak melihat dengan seratus kedustaan. Ini menunjukkan tentang lemahnya jiwa manusia.

التَّاسِعَةَ عَشْرَةَ: كَوْنُهُمْ يَتَلَقَّى بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ تِلْكَ الْكَلِمَةَ وَيَحْفَظُونَهَا وَيَسْتَدِلُّونَ بِهَا

19. Bahwasanya mereka, sebagian mereka melemparkan kalimat kepada sebagian yang lain, kemudian menjaganya, maksudnya adalah para manusia mereka menjaga kalimat tadi, kemudian berdalil dengan kalimat tadi. Mereka ingat-ingat kebenaran kalimat tadi kemudian berdalil dengan kalimat tadi bahwasanya si dukun tadi benar-benar mengetahui ilmu yang ghaib.

الْعِشْرُونَ: إِثْبَاتُ الصِّفَاتِ خِلَافًا لِلْأَشْعَرِيَّةِ الْمُعَطِّلَةِ

20. Di dalam dalil-dalil ini ada penetapan sifat bagi Allāh, karena di situ ada sifat kalām, dan bahwasanya kalāmullāh ini bisa didengar. Berbeda dengan al-mu‘aththilah yang mereka menafikan sifat Allāh ﷻ. Tentunya kalāmullāh yang kita tetapkan adalah kalāmullāh yang merupakan sifat Allāh yang sesuai dengan keagungan-Nya.

الْحَادِيَةُ وَالْعِشْرُونَ: التَّصْرِيحُ بِأَنَّ تِلْكَ الرَّجْفَةَ وَالْغَشِيَ خَوْفًا مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

21. Penjelasan yang gamblang bahwasanya goncangnya langit-langit tadi dan juga tidak sadarnya para malaikat tadi sebabnya adalah karena rasa takut kepada Allāh ﷻ. Menunjukkan lemahnya makhluk. Dan bahwasanya makhluk tidak pantas dan tidak berhak untuk disembah.

الثَّانِيَةُ وَالْعِشْرُونَ: أَنَّهُمْ يَخِرُّونَ لِلَّهِ سُجَّدًا

22. Bahwasanya para malaikat mereka tersungkur di hadapan Allāh ﷻ dalam keadaan bersujud. Jadi mereka menyembah kepada Allāh bukan disembah, mereka menyembah kepada Allāh bersujud kepada Allāh, bukan disembah dan diagung-agungkan oleh manusia.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 

image_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top