Halaqah 82 | Pembahasan Hadits Abu Hurairah

Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-82 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauhīd alladzhī huwa haqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muḥammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī raḥimahullāh.

Sampai kita kepada bab yang ke-16. Hadits yang pertama adalah hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan juga Muslim.

فِي الصَّحِيحِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ

Di dalam hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan juga Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu,

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

Dari Nabi ﷺ Beliau bersabda:

إِذَا قَضَى اللَّهُ الأَمْرَ فِى السَّمَاءِ

Apabila Allāh ﷻ menentukan sebuah perkara di langit.

Yang dimaksud dengan Allāh menentukan sebuah perkara maksudnya adalah dengan berbicara. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang selanjutnya. Idzā takallamallāhu bil-wahyi – Apabila Allāh ﷻ berbicara dengan wahyu. Dan wahyu adalah pemberitahuan yang cepat. Menunjukkan bahwasanya maksud idzā qadhallāhul amra – apabila Allāh memutuskan sebuah perkara, yaitu dengan berbicara tentang perkara-perkara yang akan terjadi di permukaan bumi dan juga di langit. Fis-samā’, di atas. As-samā’ di sini maknanya adalah di atas.

Dan ini sama dengan firman Allāh ﷻ:

ءَأَمِنتُم مَّن فِى ٱلسَّمَآءِ

Apakah kalian merasa aman dengan Dzat yang berada di atas? (QS. Al-Mulk: 16).

Atau bisa juga as-samā’ di sini diartikan dengan langit yang terbangun ini, hanya (فِي) di sini maknanya adalah ‘alā (عَلَى). Jadi fis-samā’ adalah ‘alas-samā’ (عَلَى السَّمَاءِ), yaitu di atas langit. Bukan berarti fis-samā’ di sini adalah Allāh di dalam langit, tidak. Maha Suci Allāh dari sifat yang demikian. Allāh ﷻ ‘alas-samā’ dan di sini maknanya adalah ‘alā. Sebagaimana dalam firman Allāh ﷻ:

فَسِيحُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ

Maka berjalanlah kalian di atas bumi. (QS. At-Taubah: 2). Maksudnya adalah di atas bumi, bukan di dalam bumi.

Idzā qadhallāhul amra fis-samā’ – Apabila Allāh ﷻ menentukan perkara di atas, yaitu berbicara dengan wahyu sebagaimana dalam hadits yang lain.

ضَرَبَتِ الْمَلَائِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا

Maka para malaikat akan mengepakkan sayapnya. Menunjukkan bahwasanya malaikat memiliki sayap. Sebagaimana firman Allāh ﷻ, Allāh mengabarkan di dalam Al-Qur’an:

جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ أُولِي أَجْنِحَةٍ

Yang menjadikan malaikat mempunyai sayap-sayap. (QS. Fathir: 1).

Allāh menjadikan para malaikat ini memiliki ajnihah yaitu memiliki sayap-sayap. Dharabatil malā’ikatu bi ajnihatihā, para malaikat mereka mengepakkan sayapnya. Mengapa mereka mengepakkan sayapnya?

خُضْعَانًا لِقَوْلِهِ

Karena tunduk dengan ucapan Allāh. Ketika Allāh ﷻ berbicara mereka memiliki ta‘zhīm di dalam hati mereka. Khudh‘ānan li qaulihī, ini adalah Allāh ﷻ yang berbicara. Dan kalāmullāh adalah sebaik-baik ucapan. Sehingga mereka memiliki khudh‘ān, memiliki kerendahan hati, kerendahan diri, dan juga memiliki ta‘zhīm terhadap kalāmullāh. Dan ini menunjukkan bahwasanya adab di antara adab-adab yang harus kita miliki terhadap kalāmullāh adalah kita memiliki ta‘zhīm terhadap Al-Qur’an. Jangan kita samakan kalāmullāh ini dengan kalāmunnās. Apabila dibacakan kita mendengar. Kalau kita menghafal ya kita bersungguh-sungguh menghafal Al-Qur’an, memuraja’ahnya, berusaha untuk memahami maknanya. Ini adalah termasuk bagian dari ta‘zhīm terhadap kalāmullāh. Para malaikat mereka mengagungkan kalāmullāh.

كَأَنَّهُ سِلْسِلَةٌ عَلَى صَفْوَانٍ

Ka-annahu, dia seperti, dia di sini kembali kepada ucapan Allāh ﷻ. Silsilatun ‘alā shafwān, itu seperti rantai yang ditarik di atas batu. Ya, suaranya seperti rantai yang ditarik di atas batu. Dan yang dimaksud dengan tasybīh , penyerupaan di sini. Suaranya seperti, maksudnya adalah tasybīhus-samā‘i bis-samā‘ yaitu penyerupaan pendengaran dengan pendengaran. Bukan al-masmū‘ bil-masmū‘ , bukan penyerupaan sesuatu yang didengar dengan yang didengar. Artinya yang diserupakan di sini adalah samā‘-nya. Para malaikat mendengarnya, mendengarnya adalah seperti ya mereka mendengar rantai yang diseret di atas batu.

Bukan menyerupakan apa yang mereka dengar, bukan menyerupakan kalāmullāh yang mereka dengar, tidak. Karena kalāmullāh tidak ada yang serupa dengan kalāmullāh. Yang mereka tasybīh di sini adalah as-samā‘, as-samā‘ mereka yaitu pendengaran mereka. Sebagaimana dalam hadits,

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، لَا تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ

“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini di malam bulan purnama, kalian tidak saling berdesak-desakan satu dengan yang lain.” Di sini yang diserupakan adalah ru’yah-nya, yaitu penglihatan kita ketika kita melihat Allāh, sama dengan ketika kita melihat bulan. Tidak saling berdesakan satu dengan yang lain. Ketika kita melihat bulan, maka kita tidak saling berdesakan satu dengan yang lain, masing-masing mereka melihat di tempatnya.

Demikian pula di hari kiamat dengan banyaknya umat yang mereka masuk ke dalam surga dan mereka melihat Allāh ﷻ, mereka tidak saling berdesak-desakan satu dengan yang lain. Adapun mar’i-nya yaitu yang dilihat, yaitu Allāh ﷻ, maka tidak ada yang serupa dengan Allāh. Demikian pula di sini yang di-tasybīh adalah samā‘-nya, yaitu pendengaran para malaikat tadi. Bukan masmū‘-nya. Jadi kalāmullāh tidak sama dengan kalāmul makhluq.

Ka-annahu silsilatun ‘alā shafwān, firman Allāh ﷻ tadi seperti rantai yang ditarik di atas batu.

يَنْفُذُهُمْ ذَلِكَ حَتَّى إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ

Yanfudzuhum dzālika, suara tadi sampai ke dalam hati-hati mereka, masuk ke dalam hati-hati mereka. Sehingga apa? Sehingga masuk di dalam hati mereka rasa takut yang luar biasa. Hattā idzā fuzzi‘a ‘an qulūbihim, sehingga ketika dihilangkan rasa takut tersebut dari hati-hati mereka, berarti ini menunjukkan tafsir terhadap ayat yang tadi disebutkan oleh Syaikh. Ya, ini adalah penafsiran terhadap ayat yang disebutkan oleh Syaikh sebelumnya. Sehingga ketika dihilangkan rasa takut dari hati-hati mereka, qālū mādzā qāla rabbukum – mereka mengatakan apa yang dikatakan oleh Allāh, Rabb kalian. Menunjukkan bahwasanya mereka tidak mengetahui ilmu yang ghaib.

Qālūl haqq – Mereka mengatakan al-haqqa, yang Allāh ﷻ katakan adalah kebenaran semata. Wa huwal ‘aliyyul kabīr – Dan Dialah Allāh ﷻ Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. Menunjukkan tentang tafsir terhadap surat Saba’ ayat yang ke-23 yang disebutkan oleh Syaikh.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 

image_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top