Halaqah 77 | Pembahasan QS. Fathir 13-14

Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-76 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauḥīd alladzhī huwa ḥaqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muḥammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī raḥimahullāh.

Beliau mendatangkan firman Allāh ﷻ

وَقَوْله: وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِۦ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ

Dan firman Allāh ﷻ “Dan orang-orang yang kalian sembah selain Allāh, mereka tidak memiliki apa pun walaupun setipis kulit ari.” (QS. Fāthir: 13)

Mā yamlikūna min qithmīr, mereka tidak memiliki qithmīr. Qithmīr ini adalah lapisan tipis yang ada di isi kurma. Jadi kalau kita buka isi kurma, pasti di sana ada lapisan tipis yang warnanya seperti keputih-putihan. Inilah dinamakan dengan qithmīr. Mereka mengenal yang demikian, orang-orang Arab memahami yang demikian.

Baik, orang-orang yang kalian sembah selain Allāh, مَا يَمْلِكُونَ, mereka tidak memiliki مِن قِطْمِيرٍ, meskipun hanya qithmīr saja. Padahal qithmīr ini suatu yang kecil, suatu yang remeh, tapi mereka tidak memiliki, apalagi yang lebih besar daripada itu. Menunjukkan bahwasanya mereka tidak memiliki sesuatu. Bahkan mereka-lah yang dimiliki oleh Allāh ﷻ.

لَهُۥ مُلْكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ

milik Allāh apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Mereka itu milik Allāh. Mereka tidak memiliki, tapi bahkan mereka dimiliki oleh Allāh ﷻ.

Nah, kalau mereka tidak memiliki sesuatu, bagaimana kita menyembah kepada mereka? Karena ketika seseorang menyembah, berdoa, meminta ini, meminta itu, kemudian yang disembah tidak memiliki sesuatu, apa yang akan dia dapatkan? Bahkan dia sendiri meminta kepada Allāh. Harusnya kita menyembah kepada Dzat yang memiliki segala sesuatu.

لَهُۥ مُلْكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ

bagi Allāh kerajaan langit dan juga bumi. Milik Allāh rezeki, milik Allāh kesuksesan, milik Allāh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Kita meminta kepada Dzat yang memiliki semuanya itu. Jangan kita meminta kepada Dzat yang tidak memiliki, meskipun hanya qithmīr. Menunjukkan miskinnya dia, fakirnya dia.

Dalam kelanjutan ayat, Allāh mengatakan:

إِن تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا۟ دُعَآءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا۟ مَا ٱسْتَجَابُوا۟ لَكُمْ ۚ وَيَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ ۚ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ

“Jika kalian berdoa kepada mereka, mereka tidak mendengar doa kalian. Dan sekiranya mereka mendengar, mereka juga tidak akan memperkenankan doa kalian. Dan pada hari Kiamat mereka akan mengingkari kesyirikan kalian. Dan tidak ada yang dapat memberikan kepadamu berita seperti yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.” (QS. Fāthir: 14)

إِن تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا۟ دُعَآءَكُمْ

kalau kalian berdoa kepada mereka, mereka tidak mendengar doa kalian.

Subhānallāh, sudah tidak punya dan kalau ada yang berdoa kepada mereka, dia tidak mendengar. Dia makhluk dan pendengaran dia terbatas. Dia mendengar apa yang ada di sekitar.

Adapun Allāh ﷻ, maka Dia-lah As-Samī‘ud-Du‘ā’, Allāh Maha Mendengarkan doa. Maka seseorang berdoa kepada Dzat yang Maha Mendengar, bukan berdoa kepada makhluk yang pendengaran dia terbatas. Karena kalau pendengaran dia terbatas, dia berdoa tidak didengar, dia minta didengarkan dari mulut orang tidak didengar, dia minta sesuatu tidak didengar.

وَلَوْ سَمِعُوا۟ مَا ٱسْتَجَابُوا۟ لَكُمْ

seandainya mereka ini mendengar, mereka tidak akan bisa mengijabahi. Seseorang berdoa inginnya didengar, kemudian setelah itu diapakan? Diijabahi dan dikabulkan doa.

Nah, mereka seandainya mereka ini benar-benar mendengar, mendengar apa yang kalian ucapkan karena mungkin kebetulan pas di dekatnya, seandainya mereka mendengar, مَا ٱسْتَجَابُوا۟ لَكُمْ, mereka tidak akan bisa mengijabahi apa yang kalian minta.

Ini berbicara tentang amwāt, orang-orang yang sudah meninggal dunia, tentang permasalahan apakah mereka mendengar ucapan orang yang masih hidup, apakah mereka mendengar atau tidak mendengar. Ini ada khilaf di antara para ulama.

Dan pendapat yang lebih kuat bahwasanya mereka, yaitu orang-orang yang sudah meninggal, apabila Allāh ﷻ menghendaki, dalam keadaan tertentu mereka mendengar. Contoh misalnya ketika setelah dikuburkan, dan keluarganya meninggalkan kuburannya, dia akan mendengar suara sandal yang meninggalkan tempat. Ini dikehendaki oleh Allāh ﷻ untuk mendengar saat itu.

Tapi ini bukan kelaziman bahwasannya dia mendengar terus. Ingat, dia berada di alam sana, sedangkan kita berada di alam yang lain. Kita di alam dunia, sementara dia berada di alam kubur. Mereka tidak mendengar dan asalnya. Tapi dalam satu keadaan, keadaan tertentu, bisa mendengar dengan kehendak Allāh. Tapi keadaan yang lain, maka asalnya mereka tidak mendengar.

Baik, seandainya mereka bisa mendengar, apakah mereka bisa mengijabahi doa orang yang meminta kepadanya? Jawabannya, mereka tidak akan mengijabahi dan tidak akan bisa mengijabahi untuk kalian. Orang yang sudah meninggal dunia sudah terputus amalannya.

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila seorang anak Adam meninggal dunia, maka terputus darinya amalan, kecuali dari tiga perkara. Tiga perkara ini saja, yang lainnya terputus. Jadi dia tidak bisa shalat, tidak bisa istighfar, apalagi mengabulkan doa orang. Dia tidak akan bisa mengijabahi untuk kalian.

Lalu untuk apa seseorang berdoa kepada orang yang sudah meninggal dunia? Meskipun dia dikatakan wali, dikatakan sebagai sunan, dikatakan sebagai orang shalih. Dia tidak mendengar, dan seandainya mendengar, dia tidak akan bisa mengijabahi.

Kemudian lebih parah lagi,

وَيَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ

dan di hari kiamat mereka akan kufur, akan mengingkari kesyirikan kalian. Mereka tidak ridha. Kalau mereka adalah orang-orang yang shalih, para nabi, para wali, yang mereka senangnya adalah tauhid. Kalau ada manusia yang menyembah kepada mereka, mereka tidak akan ridha.

وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ

dan tidak mengabarkan kepadamu seperti Khabīr, yaitu Allāh. Yaitu tidak ada yang mengabarkan kabar yang detail yang demikian, sampai ke dalam-dalamnya, seperti Allāh ﷻ.

Artinya hanya Allāh saja yang bisa mengabarkan seperti ini, Dia-lah yang Khabīr, yang mengetahui perkara-perkara yang detail. Dia-lah al-Khabīr, di antara nama Allāh ﷻ adalah Al-Khabīr.

Maka ayat yang pertama dan juga ayat yang kedua ini menunjukkan tentang lemahnya segala sesuatu yang disembah selain Allāh ﷻ. Maka jangan sampai kita, hati kita tergantung dengan sesembahan selain Allāh.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

image_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top