Halaqah 169 | Ahlus Sunnah Meyakini Bahwa Wali Tidak Lebih Afdhol Daripada Nabi

Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-169 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.

Beliau mengatakan raḥimahullāh

وَلَا نُفَضِّلُ أَحَدًا مِنَ الأَوْلِيَاءِ عَلَىٰ أَحَدٍ مِنَ الأَنْبِيَاءِ [عَلَيْهِمُ السَّلَامُ]

Kami Ahlus Sunnah tidak mendahulukan seseorang dari kalangan wali-wali Allāh di atas salah seorang di antara nabi-nabi Allāh.

Kami Ahlus Sunnah wal Jamāʿah, di antara keyakinan kami tentang masalah wali dan nabi: meyakini bahwasanya nabi itu lebih afdhal daripada wali. Nabi adalah makhluk yang paling mulia di sisi Allāh. Mereka adalah orang-orang pilihan.

اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ

Allāh ﷻ memilih dari kalangan malaikat para rasul dan juga dari kalangan manusia. (QS. Al-Ḥajj: 75)

Manusia yang paling afdhal adalah para anbiyāʾ, dan di antara para nabi yang paling afdhal adalah yang berpredikat rasul. Mereka adalah afdhalun-nās karena mereka adalah orang-orang pilihan. Tidak ada manusia yang lebih afdhal daripada para nabi ʿalaihimus-salām.

Adapun yang dimaksud dengan wali adalah yang benar-benar mengikuti nabi, beriman kepada Allāh, bertakwa, mengikuti para nabi, maka jadilah dia wali di antara wali-wali Allāh. Yang dimaksud dengan wali secara bahasa adalah orang yang dicintai oleh Allāh, orang yang ditolong oleh Allāh. Wali Allāh artinya adalah orang yang dicintai oleh Allāh dan ditolong oleh Allāh. Kenapa mereka dicintai? Karena mereka mengikuti nabi. Kalau mereka tidak mengikuti nabi, maka mereka tidak akan jadi wali.

Allāh ﷻ mengatakan:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ، الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allāh itu tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih. Mereka adalah orang-orang yang beriman dan mereka senantiasa bertakwa. (QS. Yūnus: 62–63)

Ketahuilah bahwasanya wali-wali Allāh tidak ada ketakutan pada mereka dan mereka tidak bersedih. Keadaan mereka tidak takut dan tidak sedih. Apa sifatnya?

الَّذِينَ آمَنُوا

Mereka adalah orang-orang yang beriman. Datang nabi kepada mereka, kemudian mereka beriman dengan nabi tersebut dan apa yang dia bawa.

وَكَانُوا يَتَّقُونَ

Dan mereka bertakwa kepada Allāh, takut kepada Allāh, menjadikan mereka beramal shalih dan menjauhi larangan Allāh.

Berarti wali mendapatkan keutamaan karena dia mengikuti nabi. Kenapa dia dicintai oleh Allāh? Karena dia mengikuti nabi.

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

Katakanlah: Jika kalian benar-benar mencintai Allāh, maka ikutilah aku, niscaya Allāh akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. (QS. Āli ʿImrān: 31)

Kalau mengikuti nabi, maka yuḥbibkumullāh, Allāh akan mencintai kalian. Allāh akan menjadikan kalian sebagai wali Allāh, karena wali Allāh adalah orang yang dicintai oleh Allāh. Karena wali ini adalah mengikuti dan dia mendapatkan keutamaan walāyah karena dia mengikuti nabi.

Jadi jelas bahwasanya para nabi ini lebih utama dan lebih afdhal daripada wali. Sehingga keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamāʿah: kita tidak mendahulukan, mengutamakan seorang wali di atas seorang nabi, meskipun nabinya tidak terkenal seperti Nabi Mūsā misalnya, tidak terkenal seperti Nabi Nūḥ. Di sana ada mungkin seorang nabi yang tidak diketahui namanya, diutus kepada kaum yang di pedalaman misalnya, jauh dari keramaian, jauh dari kota. Kemudian di sini ada seorang wali yang terkenal, tetap nabi tersebut lebih utama daripada wali tadi.

Para nabi, tidaklah mereka menyandang predikat tadi kecuali Allāh ﷻ lebih mengetahui bahwasanya dia adalah orang yang memang berhak menyandang sebagai seorang Nabiyyullāh. Mereka adalah orang-orang pilihan Allāh.

Kenapa di sini boleh datangkan? Karena sebagian orang yang sesat meyakini bahwasanya wali itu lebih afdhal daripada nabi. Berarti ini sudah ada sejak zaman dahulu, dan di zaman sekarang juga ada. Ketika mereka berlebihan terhadap seorang wali, seorang syekh, atau seorang sunan. Tiap hari mereka mendengarkan tentang manāqib mereka, tentang keutamaan-keutamaan mereka, sampai dibisik oleh syaitan bahwasanya wali ini lebih afdhal daripada nabi.

Tentunya ini adalah sebuah kesesatan. Meyakini bahwasanya seorang wali di antara wali-wali Allāh ini lebih utama daripada nabi di antara nabi-nabi Allāh.

Orang-orang ṣūfī yang mengatakan demikian, yang mengatakan bahwasanya wali itu lebih afdhal daripada seorang nabi, sehingga ada di antara mereka yang mengatakan:

مَقَامُ النُّبُوَّةِ بِمَنْزِلَةِ فُوَيْقَ الرَّسُولِ وَدُونَ الْوَلِيِّ

Kedudukan seorang nabi itu adalah di atas rasul, di bawah wali. Jadi rasul, atasnya nabi, kemudian atasnya lagi wali. Wali lebih afdhal daripada nabi dan rasul.

Sehingga tidak heran kalau mereka meremehkan Sunnah Nabi. Kan yang penting mereka mengikuti seorang wali. Ucapan wali tersebut didahulukan daripada ucapan nabi. Ini bahaya sekali yang demikian. Kalau sampai meyakini bahwasanya wali lebih afdhal daripada nabi, ya sudah, berarti ajaran nabi diremehkan, dikesampingkan. Yang dipakai aturan, ajaran yang diajarkan oleh yang dianggap wali tadi. Karena kebanyakan yang dianggap wali itu bukan wali.

Kalau kita melihat sifat-sifat wali Allāh, mereka adalah orang yang beriman dan bertakwa. Ini tidak, jauh dari keimanan, jauh dari ketakwaan. Syirik jalan, bidʿah jalan, maʿṣiat juga demikian. Jadi mereka salah dua kali: salah dalam menganggap itu wali—menganggap itu wali padahal bukan wali—kemudian yang kedua, meyakini bahwasanya wali itu lebih afdhal daripada nabi.

وَنَقُولُ: نَبِيٌّ وَاحِدٌ أَفْضَلُ مِنْ جَمِيعِ الأَوْلِيَاءِ

Kami mengatakan, yaitu Ahlus Sunnah, bahwasanya seorang nabi itu lebih afdhal daripada seluruh wali.

Jadi, seandainya seluruh wali itu dikumpulkan dari awal sampai akhir, maka itu tidak bisa menandingi seorang nabi. Tetap nabi itu lebih afdhal. Dari sini kita mengetahui tentang kedudukan para anbiyāʾ.

Ini sekali lagi, al-awliyāʾ di sini adalah wali-wali yang memang benar-benar wali. Seandainya itu adalah benar-benar wali, dikumpulkan semuanya, maka tetap nabi yang satu itu lebih afdhal daripada mereka.

Lalu bagaimana dengan wali-wali yang hanya dianggap wali, tapi dia bukan wali? Jadi ini bukan perbandingan lagi tentunya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top