Halaqah 157 | Masyīah Allāh ﷻ Mengalahkan Seluruh Masyīah

Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-157 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.

Beliau mengatakan raḥimahullāh

غَلَبَتْ مَشيئتُهُ المَشِيئَاتِ كُلَّهَا

Maka masyīah Allāh itu mengalahkan seluruh masyīah.

Allāh ﷻ memiliki masyīah, dan Allāh menciptakan di dalam diri kita masyīah. Bahkan hewan juga memiliki masyīah, jinn juga memiliki masyīah, memiliki kehendak. Allāh ﷻ jadikan di dalam diri mereka kehendak, kehendak untuk makan, kehendak untuk bertobat, kehendak untuk memperbaiki diri, kehendak untuk berjalan, dan seterusnya. Allāh ﷻ ciptakan di dalam diri mereka kehendak, tapi kehendak Allāh ﷻ itulah yang mengalahkan seluruh kehendak tadi. Seandainya mereka menghendaki sesuatu dan Allāh ﷻ menghendaki sesuatu yang lain, kehendak mereka kalah.

Dan ini sudah berlalu, pembahasan bahwasanya masyīatullāh itu nāfidhah—kehendak Allāh ﷻ itu terlaksana. Dan masyīah di sini adalah nama lain dari irādah kawniyyah:

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Sungguhnya perkara Allāh apabila menghendaki sesuatu tinggal mengatakan: “Jadilah!”, maka terjadilah. (QS. Yāsīn: 82)

Dan sudah berlalu ucapan Imām Asy-Syāfiʿī:

مَا شِئْتَ كَانَ وَإِنْ لَمْ أَشَأْ، وَمَا شِئْتُ إِنْ لَمْ تَشَأْ لَمْ يَكُنْ

Apa yang Engkau kehendaki Ya Allāh , maka pasti terjadi meskipun aku tidak menghendakinya. Dan apa yang aku kehendaki Ya Allāh, jika Engkau tidak menghendakinya, maka tidak akan terjadi.

Maknanya, masyīatullāh itu mengalahkan segalanya. Maka kita harus ingat, dengan demikian banyak keinginan kita itu tidak terpenuhi. Kita ingin memiliki jabatan, itu keinginan kita. Kita ingin untuk menjadi orang yang memiliki harta yang banyak, itu keinginan kita. Kita ingin dalam keadaan sehat terus, itu keinginan kita. Tapi keinginan kita — kita adalah makhluk, kita adalah hamba. Di sana ada Allāh ﷻ, Rabbul-ʿĀlamīn, Rabb kita. Kehendak kita di bawah kehendak Allāh ﷻ.

Kita ingin sehat, tapi Allāh ﷻ menghendaki kita sakit. Kita ingin keluasan dalam masalah harta, tapi Allāh ﷻ menghendaki kita tidak luas dalam masalah harta. Itulah keadaan kita. Memang kita adalah seorang makhluk yang lemah. Tapi kita punya keyakinan bahwasanya Allāh ﷻ dalam melakukan segala sesuatu, pasti di sana ada ḥikmahnya, dan Allāh ﷻ tidak mendzalimi hamba-Nya. Allāh ﷻ adalah Ar-Raḥmān, Ar-Raḥīm, Dia adalah Yang Maha Penyayang. Melakukan sesuatu, pasti di sana ada ḥikmah di balik itu. Allāh ﷻ menginginkan kebaikan di balik itu.

Mungkin seseorang ketika diluaskan hartanya, dia akan berlebihan. Sebagaimana banyak orang yang ketika dia mendapatkan harta, beda pikirannya. Dia ingin berbuat maksiat. Dia ingin, “Ana sudah punya segalanya, maka ana bisa melakukan apa saja yang ana inginkan.” Akhirnya dia jauh dari Allāh ﷻ, dia sudah merasa cukup. Tapi ketika seseorang dalam keadaan dia pas dengan apa yang dia butuhkan, maka dia terus berdoa kepada Allāh ﷻ, dan terus merasa bergantung kepada Allāh ﷻ, dan merasakan bahwasanya mungkin ini adalah karena kemaksiatan saya dan dosa saya. Maka saya harus terus mendekat kepada Allāh ﷻ.

Berarti kalau kita pikir, justru ini menunjukkan kasih sayang Allāh ﷻ kepada kita semuanya. Bukan karena Allāh ﷻ ingin menyusahkan kita, atau ingin membuat kita ini sempit. Tidak. Allāh ﷻ ingin kita ini bahagia di dunia maupun di akhirat. Allāh ﷻ tahu ada di antara kita yang kalau dia memiliki sesuatu yang banyak, justru malah akan menjauh dan lalai dari Allāh ﷻ.

Kemudian beliau mengatakan raḥimahullāh

وَغَلَبَ قَضَاؤُهُ الحِيَلَ كُلَّهَا

Keputusan Allāh ﷻ—apa yang Allāh ﷻ jadikan—mengalahkan seluruh al-ḥiyal, seluruh usaha.

Semua orang berusaha demikian, demikian, demikian—yang ini dengan kepandaiannya, ini dengan kekayaannya, ini dengan jabatannya, dan seterusnya. Tapi itu semua akan tetap kalah dengan apa yang Allāh ﷻ tetapkan. Bagaimanapun kita mengerahkan seluruh al-ḥiyal, seluruh usaha yang kita miliki:

وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَىٰ أَمْرِهِ

Dan Allāh Mahakuasa atas urusan-Nya. (QS. Yūsuf: 21)

Ini harus kita pahami. Makanya, kalau demikian, seorang hamba terus dia bergantung kepada Allāh ﷻ dalam seluruh keadaan. Karena masyīatullāh itu mengalahkan semuanya.

Orang-orang yang sesat, masyīah mereka—mereka ingin kita ini dakwahnya hancur, kita ini dakwahnya segera hilang. Tapi itu masyīah mereka. Siapa yang mengalahkan? Allāh ﷻ. Dialah yang memiliki masyīah. Kita bergantung kepada Allāh ﷻ. Mereka ingin untuk memudharati kita, tapi ingat: mereka makhluk, punya usaha untuk menghalangi kita, menghalangi dakwah kita. Tapi Allāh ﷻ adalah yang menentukan segalanya. Sehingga yang demikian menjadikan seorang hamba terus dia bergantung kepada Allāh ﷻ.

Ini juga mengingatkan kita, bagaimanapun kita berusaha dalam masalah rezeki, kita berusaha bekerja. Dalam masalah belajar, kita juga berusaha bersungguh-sungguh, siang dan malam belajar. Tapi semuanya kembali kepada qaḍāʾullāh, kembali kepada apa yang sudah Allāh ﷻ tetapkan. Kalau demikian, jangan lupa: ketika kita bekerja, ketika kita belajar, ketika kita berdakwah—terus kita sama-sama bergantung kepada Allāh ﷻ. Tidak mungkin murid-murid kita paham kalau Allāh ﷻ tidak menghendaki mereka paham. Meskipun kita sudah berusaha menjelaskan.

Demikian pula seorang yang belajar, tidak mungkin dia bisa memahami pelajaran dan ilmu yang disampaikan kecuali apabila Allāh ﷻ memberikan taufīq-Nya. Orang yang bekerja juga demikian. Bagaimanapun dia berusaha bekerja dari pagi sampai sore, dilanjutkan malam—kalau Allāh ﷻ tidak memudahkan dia mendapatkan rezeki, dia tidak akan bisa. Silakan kita berusaha, tapi terus kita bergantung kepada Allāh ﷻ, Rabbul-ʿĀlamīn.

Kemudian beliau mengatakan raḥimahullāh

يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ

Allāh ﷻ melakukan apa yang Dia kehendaki.

Yafʿalu mā yurīd, Allāh ﷻ melakukan apa yang Dia kehendaki. Yafʿalu Allāhu mā yashāʾ, Allāh ﷻ melakukan apa yang Dia kehendaki. Dan kita yakin, bahwasanya Allāh ﷻ—Dia-lah al-Ḥakīm. Memang Allāh ﷻ: faʿʿālun limā yurīd—Allāh ﷻ melakukan apa yang Dia kehendaki

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Tetapi Allāh ﷻ memiliki sifat al-ḥikmah—Allāh Mahabijaksana. Meskipun Allāh ﷻ melakukan apa yang Dia kehendaki, jangan kita berpikir bahwasanya Allāh ﷻ melakukan itu tanpa ḥikmah. Allāh ﷻ melakukan sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya, tapi dengan ḥikmah.

Ketika Allāh ﷻ memberikan hidayah kepada seseorang, itu dengan ḥikmah. Allāh ﷻ tahu memang orang ini pantas untuk mendapatkan hidayah. Ketika Allāh ﷻ menyesatkan seseorang, ketika Allāh ﷻ memasukkan seseorang ke dalam Neraka, maka Allāh ﷻ mengetahui bahwasanya orang ini memang berhak untuk disesatkan, dan orang ini berhak untuk masuk ke dalam Neraka. Itu dengan ḥikmah Allāh ﷻ.

وَهُوَ غَيْرُ ظَالِمٍ أَبَدًا

Allāh ﷻ melakukan apa yang Dia kehendaki, dan Allāh ﷻ tidak dzalim selama-lamanya.

Jadi meskipun Allāh ﷻ faʿʿālun limā yurīd, tapi tidak ada sedikitpun dari perbuatan Allāh ﷻ yang itu adalah kedzaliman bagi hamba. Allāh ﷻ mengatakan:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ

Sungguhnya Allāh tidak mendzalimi meskipun hanya seberat semut yang kecil. (QS. An-Nisāʾ: 40)

Dan Allāh ﷻ mengatakan:

وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

Dan tidaklah Rabbmu mendzalimi hamba-hamba-Nya. (QS. Fuṣṣilat: 46)

Dan dalam Hadits Qudsī, Allāh ﷻ mengatakan:

يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا

Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kedzaliman atas diri-Ku sendiri, maka janganlah kalian saling mendzalimi.

Allāh ﷻ tidak mendzalimi sedikitpun.

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

Allāh ﷻ tidak ditanya tentang apa yang Dia kerjakan, sedangkan mereka lah yang akan ditanya. (QS. Al-Anbiyāʾ: 23)

Karena apa yang Allāh ﷻ kerjakan itu pasti ada ḥikmah. Maka Allāh ﷻ tidak ditanya tentang apa yang Dia kerjakan, karena yang Allāh ﷻ kerjakan pasti ada ḥikmah. Adapun kita sebagai makhluk, ini yang akan ditanya. Karena tidak semua yang kita kerjakan itu ada ḥikmahnya, sehingga kita akan ditanya, “Kenapa aku melakukan ini? Kenapa aku melakukan ini? Apakah ada dasarnya atau tidak?” Kita lah yang akan ditanya.

Adapun Allāh ﷻ, karena seluruh apa yang dilakukan oleh Allāh ﷻ itu adalah pasti ada ḥikmahnya, dan Allāh ﷻ menempatkan sesuatu pada tempatnya, maka Allāh ﷻ tidak ditanya tentang apa yang Dia lakukan.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top