Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-86 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.
Beliau mengatakan rahimahullāh:
وَعَلَىٰ العَبْدِ
Dan wajib bagi seorang hamba, setelah itu semuanya
أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ اللهَ تَعَالَى قَدْ سَبَقَ عِلْمُهُ فِي كُلِّ كَائِنٍ مِنْ خَلْقِهِ
kewajiban seorang hamba adalah meyakini bahwasanya Allāh ﷻ telah mendahului ilmu-Nya di dalam segala sesuatu yang terjadi di antara apa yang Allāh ciptakan.
Berkaitan dengan ‘ilmullāh, berarti ini martabah yang pertama, hendaklah dia mengetahui bahasanya ilmu Allāh itu mendahului segala sesuatu yang terjadi di dunia. Tidak mungkin terjadi sesuatu kemudian baru di situ dibarengi dengan ilmu Allāh, atau terjadi sesuatu setelahnya baru Allāh ﷻ mengetahui. Ini keyakinan yang bathil.
Yang benar, bahwasanya sebelum terjadi segala sesuatu Allāh ﷻ telah mengetahui sesuatu tersebut. Tidak mungkin Allāh ﷻ dalam keadaan tidak tahu apa yang akan terjadi, berdasarkan Firman Allāh ﷻ
إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
(QS. Al-Baqarah: 282)
Sesungguhnya Allāh ﷻ Dialah yang mengetahui segala sesuatu, segala sesuatu mencakup yang belum terjadi, maupun yang sedang terjadi, maupun yang akan terjadi.
فَقَدَّرَ ذَلِكَ بِمَشِيئَتِهِ تَقْدِيرًا مُحْكَمًا مُبْرَمًا
Maka Allāh ﷻ mentakdirkan itu semuanya dengan kehendak Allāh ﷻ, dengan takdir yang kokoh, mubraman ini maknanya hampir sama dengan kokoh, dan ini menunjukkan martabah yang ketiga yaitu bahwasanya segala sesuatu terjadi dengan masyīʾatullāh.
Jadi Allāh ﷻ mengetahui, Allāh ﷻ menulis, dan Allāh ﷻ menjadikan sesuatu tadi dengan kehendak-Nya, dan itu semuanya ditakdirkan oleh Allāh ﷻ dengan takdir yang kokoh, yang muhkam, yang mubram, dengan sedetail-detailnya dan terjadi di waktu sesuai dengan apa yang Allāh ﷻ tulis.
Tidak ada yang meleset meskipun hanya setitik pun. Ini namanya takdiran muhkanan mubraman, dia adalah takdir yang kokoh yang tidak meleset sedikitpun. Semuanya persis dengan apa yang sudah Allāh ﷻ tulis, seperti yang Allāh ﷻ ketahui, seperti yang Allāh ﷻ tulis dan terjadi dengan masyīʾatullāh.
إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
(QS. Yā-Sīn: 82)
Semuanya dengan masyīʾatullāh, Sesungguhnya urusan Allāh ﷻ apabila menghendaki sesuatu maka tinggal mengatakan ‘كُنْ’ terjadilah apa yang diinginkan oleh Allāh ﷻ.
لَيْسَ فِيهِ نَاقِضٌ
Tidak ada di dalam apa yang sudah Allāh ﷻ takdirkan sebelumnya, nāqidun yang membatalkan, tidak ada yang bisa membatalkan.
وَلَا مُعَقِّبٌ
tidak ada yang bisa menentang, tidak ada yang bisa membatalkan, tidak ada yang bisa menentangnya
وَلَا مُزِيلٌ
tidak ada yang bisa menghilangkannya,
وَلَا مُغَيِّرٌ
tidak ada yang bisa merubahnya
وَلَامُحَوِّلٌ
tidak ada yang bisa memindahnya
وَلَا زَائِدٌ وَلَا نَاقِصٌ
tidak ada yang bisa menambahnya dan tidak ada yang bisa menguranginya.
Semuanya sudah ditulis oleh Allāh ﷻ, semuanya sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ dengan takdir yang kokoh, tidak ada yang bisa merubahnya
مِنْ خَلْقِهِ فِي سَمَاوَاتِهِ وَأَرْضِهِ
tidak ada yang bisa melakukan itu semuanya—membatalkan, menghilangkan, merubah, memindahkan, menambah, mengurangi—di antara hamba-hamba-Nya. Tidak ada yang bisa melakukannya baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi, sampai malaikat sekalipun tidak ada yang bisa merubahnya. Sampai Nabi yang diutus tidak ada yang bisa merubahnya. Itu semuanya sudah ditetapkan oleh Allāh ﷻ. La tabdīl, tidak ada perubahan di dalam apa yang sudah Allāh ﷻ tulis.
وَذَلِكَ مِنْ عَقْدِ الإِيمَانِ وَأُصُولِ المَعْرِفَةِ
Dan yang demikian adalah termasuk aqdil (ikatan) iman dan ini adalah termasuk pondasi mengenal, ini adalah termasuk pondasi keimanan, yaitu tentang masalah beriman dengan takdir. Ini termasuk aqidah iman, ini termasuk pondasi, harus ada di dalam diri kita keimanan dengan takdir dengan cara yang sudah kita sebutkan: beriman dengan ilmu Allāh, beriman dengan apa yang sudah Allāh ﷻ tulis, beriman dengan masyīʾatullāh.
Karena ini semua adalah termasuk pondasi keimanan, makanya beriman dengan takdir adalah termasuk arkanul iman, yang dimaksud dengan arkan adalah bagian yang paling penting dari sesuatu. Di antara sekian puluh cabang keimanan, maka iman dengan takdir Allāh ﷻ ini adalah termasuk cabang yang paling tinggi karena dia masuk arkanul iman. Makanya disifati di sini dengan
عَقْدِ الإِيمَانِ وَأُصُولِ المَعْرِفَةِ
ini adalah termasuk pondasi-pondasi dalam mengenal, yaitu dalam beriman.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

