Kajian 049 | Waktu-Waktu Yang Dilarang Untuk Melaksanakan Shalat (Bagian 1)


🌍 BimbinganIslam.com
👤 Ustadz Fauzan ST, MA
📗 Matan Abu Syuja
📝 Ahmad bin Al-Husain bin Ahmad Al-Asfahāniy (Imam Abū Syujā’)

〰〰〰〰〰〰〰
MATAN KITAB

(فصل) وخمسة أوقات لا يصلى فيها إلا صلاة لها سبب: بعد صلاة الصبح حتى تطلع الشمس وعند طلوعها حتى تتكامل وترتفع قدر رمح وإذا استوت حتى تزول وبعد صلاة العصر حتى تغرب الشمس وعند الغروب حتى يتكامل غروبها.

Ada lima waktu yang tidak boleh melakukan shalat kecuali shalat yang memiliki sebab yaitu setelah shalat subuh sampai terbit matahari; saat terbit matahari sampai sempurna terbitnya dan naik setinggi ujung tombak; saat matahari tepat diatas kepala sampai tergelincir; setelah shalāt Ashar sampai tenggelamnya matahari; tatkala mulai tenggelam matahari sampai sempurna tenggelamnya.

➖➖➖➖➖➖➖

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله أما بعد

Para Shahābat BiAS yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita lanjutkan halaqah yang ke-49, dan kita masuk pada pembahasan tentang “Waktu-waktu yang dilarang untuk melaksanakan shalāt bagian pertama ”

قال المصنف:

Berkata penulis rahimahullāh :

وخمسة أوقات لا يصلى فيها

“Dan ada 5 waktu yang tidak boleh shalāt didalamnya”.

⇒ Larangan shalāt disini adalah larangan untuk shalāt sunnah mutlak.
⇒ Larangan di lima waktu berlaku untuk semua tempat kecuali Harām Mekkah.

Apa Hukum shalāt sunnah mutlak di Harām Mekkah?

▪ Disana ada 2 (dua) pendapat

⑴ Syāfi’iyah

Pendapat Syāfi’iyah dalam masalah ini adalah membolehkan shalāt diwaktu yang terlarang jika dilakukan di Harām Mekkah, bahkan tidak terbatas pada masjidnya namun meliputi tanah Harām seluruhnya (Boleh shalāt di waktu yang terlarang).

Berdasarkan hadīts Jabir bin Muth’im dalam sunan Tirmidzi dan lainnya.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

 يا بني عبد مناف، لا تمنعوا أحدا طاف بهذا البيت وصلى أية ساعة شاء من ليل أو نهار

“Wahai bani Abdi Manaf, janganlah kalian melarang siapapun yang hendak thawāf di rumah ini (Ka’bah) dan shalāt kapan saja di malam ataupun di siang hari.”

(HR Tirmidzi)

⑵ Jumhūr ulamā

Adapun pendapat jumhūr ulamā (mayoritas ulamā) bahwasanya hadīts tersebut maksudnya adalah hanya khusus shalāt thawāf 2 (dua) rakaat saja (shalāt sunnah thawāf).

⇒ Pendapat jumhūr dalam masalah ini lebih kuat daripada pendapat yang lainnya.

Berkata penulis :

 إلا صلاة لها سبب

“Kecuali shalāt yang memiliki sebab”

⇒ Madzhab Syāfi’iyah dan juga jumhūr membolehkan seluruh shalāt yang memiliki sebab dalam waktu yang terlarang, baik shalāt sunnah ataupun shalāt wajib, ini adalah pendapat yang lebih kuat (rajih).

Disana ada yang mengatakan bahwasanya shalāt sunnah tidak boleh dilakukan pada saat waktu yang terlarang.

· Shalāt yang memiliki waktu sebab diantaranya adalah :

√ Shalāt wajib
√ Shalāt sunnah tahiyyatul masjid
√ Shalāt sunnah wudhu
√ Dan shalāt-shalāt sunnah yang lainnya yang dia memiliki sebab.

Hal ini berdasarkan hadīts Anas, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ نَسِيَ صَلَاةً فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا

“Barangsiapa yang lupa untuk shalāt (shalāt apa saja), maka hendaknya dia shalāt tatkala dia ingat”

(HR Imam yang lima /Al khamsah)

Disini disebutkan bahwasanya dia shalāt pada saat dia ingat (pada saat kapan saja dia ingat) maka dia shalāt.

Dan disini bisa lebih jelas yaitu hadits Ummu Salamah beliau berkata:

“Manakala Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam shalāt dua raka’at setelah Ashar, maka Ummu Salamah pun bertanya akan hal itu, maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam  menjawab :

يَا بِنْتَ أَبِي أُمَيَّةَ سَأَلْتِ عَنِ الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعَصْرِ، إِنَّهُ أَتَانِي نَاسٌ مِنْ عَبْدِ الْقَيْسِ بِالْإِسْلَامِ مِنْ قَوْمِهِمْ، فَشَغَلُونِي عَنِ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ، فَهُمَا هَاتَانِ»

Wahai anak Abū Umayyah (Ummu Salamah), kamu menanyakan dua raka’at setelah shalāt Ashar ? orang-orang dari kabilah Abdil Qais, mereka mendatangiku untuk masuk Islam dari kaumnya, maka hal itu membuatku sibuk dari dua raka’at/sibuk untuk mengerjakan shalāt dua raka’at setelah dhuhur, maka dua raka’at tadi penggantinya”

(HR Bukhāri dan Muslim I/571)

Jadi Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengganti (mengqadha) shalāt ba’diyah dhuhur dilakukan pada waktu shalāt Ashar.

⇒ Begitu juga shalāt tahiyatul masjid diperintahkan untuk shalāt tatkala masuk masjid kapan saja, berdasarkan hadīts Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam :

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ المَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ

“Apabila  salah seorang dari kalian masuk masjid, maka shalātlah dua raka’at sebelum duduk”

(HR Bukhari I/96 dan Muslim)

⇒ Jadi shalāt dua raka’at dikaitkan dengan masuk dalam masjid waktunya kapan saja.
⇒ Jadi waktu-waktu yang terlarang tersebut terkait dengan shalāt sunnah muthlak.

Apa itu shalāt sunnah muthlak?

Shalāt sunah mutlak adalah semua shalāt sunah yang dilakukan,

√ Tanpa terikat waktu
√ Tanpa sebab tertentu
√ Jumlah raka’at tertentu

Sehingga boleh dilakukan kapan saja, di mana saja, dengan jumlah (raka’at) berapa saja, selama tidak dilakukan di waktu atau ditempat yang terlarang untuk shalāt

(al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 27:154)

Demikian yang bisa disampaikan, semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 __________________________________




Kajian 048 | Sujud Sahwi (Bagian 2)


🌍 BimbinganIslam.com
👤 Ustadz Fauzan ST, MA
📗 Matan Abu Syuja
📝 Ahmad bin Al-Husain bin Ahmad Al-Asfahāniy (Imam Abū Syujā’)

〰〰〰〰〰〰〰

MATAN KITAB

والمتروك من الصلاة ثلاثة أشياء فرض وسنة وهيئة فالفرض لا ينوب عنه سجود السهو بل إن ذكره والزمان قريب أتى به وبنى عليه وسجد للسهو والسنة لا يعود إليها بعد التلبس بالفرض لكنه يسجد للسهو عنها والهيئة لا يعود إليها بعد تركها ولا يسجد للسهو عنها وإذا شك في عدد ما أتى به من الركعات بنى على اليقين وهو الأقل وسجد للسه وسجود السهو سنة ومحله قبل السلام

Dan perkara-perkara yang ditinggalkan didalam shalāt ada tiga macam jenisnya, Fardu, Sunnah-Sunnah dan Haiat.

Adapun perkara yang wajib, maka tidak bisa digantikan dengan sujud sahwi. Apabila dia ingat dan waktunya masih pendek atau masih dekat, maka kewajiban yang ditinggalkannya tadi dikerjakan pada saat dia ingat, dan dilanjutkan serta kemudian sujud sahwi setelahnya.

Adapun sunnah-sunnah shalāt maka tidak diulang dan tidak perlu kembali untuk melakukannya apabila telah melakukan gerakan lain yang merupakan wajib didalam shalāt akan tetapi tetap perlu melakukan sujud sahwi karena lupa melakukannya.

Adapun sunnah Haiat maka tidak perlu kembali untuk melakukannya dan tidak perlu melakukan sujud sahwi karena meninggalkannya.
〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله و بعد

Para sahabat BiAS yang dirahmati oleh  Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita lanjutkan halaqah yang ke-48 masuk pada fasal tentang “Sujud sahwi bagian ke-2”

قال المصنف

Penulis melanjutkan,

((فالفرض لا ينوب عنه سجود السهو بل إن ذكره والزمان قريب أتى به وبنى عليه وسجد للسهو))

Kata beliau, adapun perkara yang faraid (rukun), maka tidak bisa digantikan dengan sujud sahwi.

Apabila dia ingat (kalau dia meninggalkan rukun) dan waktunya masih pendek atau masih dekat (belum lama), maka rukun yang ditinggalkannya tadi segera dikerjakan pada saat dia ingat, dan dilanjutkan (gerakan shalāt setelahnya) (yakni) tidak perlu diulang dari awal (shalāt) lalu kemudian sujud sahwi setelahnya (maksudnya) sebelum salam.

Faraid atau rukun shalāt, apabila ditinggalkan maka harus (kembali) untuk dikerjakan.

Ada beberapa keadaan:

⑴ Apabila dia ingat (rukun yg ditinggalkan) dan masih dalam keadaan shalāt, maka wajib kembali mengulang mulai dari rukun yang ditinggalkan, lalu sujud sahwi. Adapun gerakan sebelum rukun yang lupa tadi tidak perlu diulang.

Jadi apabila ingat dan masih dalam keadaan shalāt, maka wajib untuk kembali kepada shalāt yang ditinggalkan dan tidak perlu mengulangi dari awal, kemudian sujud sahwi.

(2) Apabila dia ingat setelah salam (selesai shalāt), namun belum lama jeda waktunya, maka segera kembali mulai dari al fard (rukun) yang ditinggalkan tadi dan gerakan setelahnya dan tidak perlu mengulang dari awal .

(3) Apabila dia ingat setelah salam (setelah selesai shalāt), namun ada jeda cukup panjang maka dia wajib mengulangi shalāt tersebut dari awal.

Hal ini berlaku bagi imam maupun orang yang  shalāt munfarid (shalāt sendirian).

Adapun makmum, maka apabila dia lupa maka dia tidak melakukan sujud sahwi dan imam menanggung apa yang dilupakan oleh makmumnya.

Kemudian penulis melanjutkan,

((والسنة لا يعود إليها بعد التلبس بالفرض لكنه يسجد للسهو عنها))

“Adapun sunnah-sunnah shalāt maka tidak perlu mengulang kembali untuk melakukannya. ”

Jika dia telah melakukan gerakan lain yang merupakan perkara faraid (rukun) di dalam shalāt. Tetapi tetap perlu melakukan sujud sahwi karena lupa melakukan perkara yg termasuk wajib shalāt.

~~~
Catatan: Diibaratkan dalam matan dengan sunnah maksudnya adalah perkara yg termasuk wajib dalam shalāt. Dan disebutkan alfaraid maksudnya adalah rukun shalāt.

Hal ini karena perbedaan pembagian dalam madzhab syafii di dalam shalāt hanya ada wajib shalāt dan sunnah shalāt. Wajib shalāt yg diistilahkan rukun shalāt pada madzhab lain, dan sunnah shalāt yg meliputi wajib shalāt dan sunnah shalāt dalam istilah madzhab lainnya.

Dalam madzhab lain dibagi menjadi rukun shalāt, wajib shalāt dan  sunnah shalāt.
 ~~~

Sunnah-sunnah didalam shalāt terbagi menjadi 2 (dua) (dalam istilah madzhab syafii demikan) yaitu :

1. Al ib’adh, yaitu sunnah shalāt) yang apabila ditinggalkan dilakukan sujud sahwi (catatan: dalam madzhab lain dimasukkan dalam kategori wajib dalam shalāt).

2. Haiat, yaitu sunnah shalāt yang tidak ada pengaruhnya apabila ditinggalkan (catatan:  dalam madzhab lain diistilahkan sebagai sunnah-sunnah dalam shalāt).

Sunnah al ib’adh (atau diistilahkan dalam madzhab lain sebagai wajib-wajib dalam shalāt), seperti:

Tasyahud awwal
Duduk tasyahhud
Shalawat atas nabi dalam tasyahhud, dan lain-lain.

Sunnah al ib’adh apabila tertinggal maka dilakukan sujud sahwi, misalnya:

▪Seseorang lupa tasyahud awal, kemudian dia berdiri. Tasyahhud awwal merupakan sunnah ib’adh (termasuk wajib shalāt, sedangkan berdiri adalah termasuk al fard (rukun). Maka tatkala dia sudah berdiri kemudian ingat bahwasanya dia belum tasyahud awal, maka tidak diperkenankan untuk kembali duduk pada tasyahud awal (karena dia telah terlanjur melakukan kewajiban (rukun) shalāt yang lainnya) oleh karena itu langsung dia melanjutkan shalāt tersebut dan nanti diganti dengan sujud sahwi sebelum salam.

Hal ini berdasarkan hadīts yang diriwayatkan oleh Abdullāh bin Buhinah,

عن عبدِ اللهِ بنِ بُحينةَ، أنه قال: ((صلَّى لنا رسولُ اللهِ صلَّى الله عليه وسلَّمَ ركعتينِ، ثم قام فلمْ يجلِسْ، فقام الناسُ معه، فلمَّا قضى صلاتَه وانتظَرْنا التسليمَ كبَّر، فسجَدَ سجدتينِ وهو جالسٌ قبل التَّسليمِ، ثم سلَّمَ صلَّى الله عليه وسلَّمَ )) رواه المسلم

“Bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam shalāt 2 (dua) raka’at kemudian beliau berdiri dan tidak duduk, maksudnya tidak duduk tasyahud awal maka orang-orang pun berdiri mengikuti beliau, setelah beliau selesai shalātnya dan kami menunggu beliau untuk salam, maka beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bertakbir dan sujud dengan dua kali sujud dan dia dalam keadaan duduk sebelum salam, kemudian setelah itu beliau salam”

(Hadīts riwayat Muslim)

Kemudian penulis melanjutkan,

((والهيئة لا يعود إليها بعد تركها ولا يسجد للسهو عنها))

Adapun sunnah Haiat maka tidak perlu kembali untuk melakukannya dan tidak perlu melakukan sujud sahwi karena meninggalkannya.

Sunnah Haiat adalah sunnah yang tidak berpengaruh jika dilakukan. (Catatan: dalam madzhab lain dikategorikan dalam istilah sunnah-sunnah dalam shalāt).

Sunnah Haiat seperti :

√ Membaca tasbih
√ Membaca takbir tatkala perpindahan gerak
√ Membaca taawwudz, dll

Apabila ditinggalkan baik sengaja ataupun lupa maka tidak perlu sujud sahwi.

Kemudian penulis melanjutkan,

((وإذا شك في عدد ما أتى به من الركعات بنى على اليقين وهو الأقل وسجد للسه))

Apabila  ragu terhadap jumlah bilangan raka’at yang dikerjakan maka ambilah patokan sesuatu yang yakin, yaitu dengan mengambil jumlah raka’at yang paling sedikit, kemudian setelah itu sujud sahwi.

Disini jika seseorang ragu maka dia berpatokan kepada sesuatu yang yakin, namun apabila dia tetap ragu, maka ambilah jumlah bilangan raka’at yang terkecil, karena itu lebih yakin daripada raka’at yang lebih besar.

Apabila seseorang lupa apakah dia shalāt 2 (dua) atau 3 (tiga) raka’at, dia yakin kalau 2 (dua) pasti, maka tinggalkan dia kembali untuk menghitung raka’at nya menjadi raka’at yang 2 (dua)

((وسجود السهو سنة ومحله قبل السلام))

Sujud sahwi hukumnya adalah sunnah dan dilakukan sebelum salam.

Masalah ini sudah dibahas diawal yang merupakan mahzhab dari Imām Syāfi’ī bahwasanya hukumnya sunnah dan dilakukan sebelum salam, ini yang afdhal.

Demikian yang bisa disampaikan, semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

~~~

▪Tentang istilah pembagian gerakan atau bacaan dalam sholat

Dalam madzhab Syafi’i
▪Al Fard ( Wajib2 dalam sholat) ➡ ini diistilahkan rukun sholat dalam madzhab lain

▪Sunnah
      Sunnah ib’adh (dalam madzhab lain diistilahkan wajib-wajib shalāt)
      Sunnah haiat (dalam madzhab lain diistilahkan sunnah-sunnah sholat)

____________




Kajian 047 | Sujud Sahwi (Bagian 1)


🌍 BimbinganIslam.com
👤 Ustadz Fauzan ST, MA
📗 Matan Abu Syuja
📝 Ahmad bin Al-Husain bin Ahmad Al-Asfahāniy (Imam Abū Syujā’)

〰〰〰〰〰〰〰

MATAN KITAB

والمتروك من الصلاة ثلاثة أشياء فرض وسنة وهيئة فالفرض لا ينوب عنه سجود السهو بل إن ذكره والزمان قريب أتى به وبنى عليه وسجد للسهو والسنة لا يعود إليها بعد التلبس بالفرض لكنه يسجد للسهو عنها والهيئة لا يعود إليها بعد تركها ولا يسجد للسهو عنها وإذا شك في عدد ما أتى به من الركعات بنى على اليقين وهو الأقل وسجد للسه وسجود السهو سنة ومحله قبل السلام

Dan perkara-perkara yang ditinggalkan didalam shalāt ada tiga macam jenisnya, Fardu, Sunnah-Sunnah dan Haiat.

Adapun perkara yang wajib, maka tidak bisa digantikan dengan sujud sahwi. Apabila dia ingat dan waktunya masih pendek atau masih dekat, maka kewajiban yang ditinggalkannya tadi dikerjakan pada saat dia ingat, dan dilanjutkan serta kemudian sujud sahwi setelahnya.

Adapun sunnah-sunnah shalāt maka tidak diulang dan tidak perlu kembali untuk melakukannya apabila telah melakukan gerakan lain yang merupakan wajib didalam shalāt akan tetapi tetap perlu melakukan sujud sahwi karena lupa melakukannya.

Adapun sunnah Haiat maka tidak perlu kembali untuk melakukannya dan tidak perlu melakukan sujud sahwi karena meninggalkannya.
〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله و بعد

Para sahabat BiAS yang dirahmati oleh  Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita lanjutkan halaqah yang ke-47, masuk pada fasal tentang (Sujud sahwi).

Sebelum membahas matan Abū Syujā’, ada beberapa hal yang perlu ditambahkan dalam pengantar masalah sujud sahwi.

Sujud sahwi adalah salah satu nikmat yang besar dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang  harus kita syukuri, karena dia  merupakan salah satu jalan keluar bagi manusia yang secara tabi’at mudah lupa.

Adapun pengertian sujud sahwi maka dijelaskan oleh para ulama

سجدتان يسجدهما المصلِّي قبل السَّلام أو بعده لِجَبْرِ خلَلٍ في صلاته.

Sujud sahwi adalah dua sujud yang dilakukan oleh orang yang shalāt, baik sebelum salam atau pun sesudahnya dengan tujuan untuk menutupi kekeliruan di dalam shalātnya.

▪Hukum Sujud Sahwi

Mengenai hukum sujud sahwi para ulama sepakat bahwa hukumnya masyru’ atau disyariatkan.

Adapun tingkatnya:
🔗 Menurut Hanafiyyah hukumnya adalah wajib, dan orang yang meninggalkannya berdosa akan tetapi tidak membatalkan shalāt.

🔗 Menurut jumhur, maka hukumnya adalah sunnah.

Sebab-sebab disunnahkannya sujud sahwi ada 3 hal yang disebutkan para ulama, yaitu :

⑴ Adanya penambahan ( الزيادة)
⑵ Adanya kekurangan ( والنقص)
⑶ Adanya keraguan pada orang yang shalāt ( والشك)

Hadits-hadits yang terkait dalam sujud sahwi secara umum ada 6 buah hadīts, yang merupakan sumber dari permasalahan sujud sahwi (menjadi rujukan didalam masalah sujud sahwi)

▪Waktu Sujud Sahwi

Waktu dilakukannya sujud sahwi, disana ada khilaf diantara para ulama tentang afdaliyyah, apakah sebelum salam ataukah setelah salam.

Namun pada hakikatnya, tidak ada perbedaan pendapat tentang bolehnya melakukan sujud sahwi baik sebelum salam atau setelah salam.

Perbedaan pendapat adalah seputar mana yang lebih utama atau lebih sunnah antara sujud sahwi sebelum salam dan sujud sahwi setelah salam. 

▪Berkata kalangan

🔗 Kalangan Hanafiyyah

Bahwasanya yang lebih utama dilakukan setelah salam, baik pada perkara adanya tambahan ataupun adanya kekurangan.

🔗 Kalangan Mālikiyyah

Jika yang terlupa padahal adanya kekurangan, maka dilakukan sebelum salam, namun jika disana, shalāt nya ada tambahan maka dilakukan setelah salam

🔗 Kalangan Syāfi’iyah

Mereka mengatakan lebih utama dilakukan sebelum salam, baik pada perkara tambahan atau adanya kekurangan di dalam shalāt

🔗 Kalangan Hanābilah

Adapun Hanābilah, mereka mempersilahkan karena kedua-duanya adalah sama. Apakah ingin sebelum salam atau setelah salam keduanya utama (sesuai dengan sunnah)

▪Tata Cara Sujud Sahwi

Imām Nawawi berkata:

“Sujud sahwi adalah dua sujud dengan duduk diantara keduanya, dan disunnahkan duduk iftirasy (seperti duduk diantara dua sujud) dan setelah sujud kedua duduk tawarruk (duduk seperti akhir shalāt) sampai salam. dan tata cara sujud sahwi  serta tata cara berdzikirnya sama dengan sujud tatkala shalāt”, Wallāhu a’lam.

Adapun mengucapkan takbir didalam sujud adalah  disunnahkan berdasarkan hadīts yang tertera didalam shahihain.

▪▪Kita masuk didalam matan Abū Syujā’.

قال المصنف
Penulis berkata, Rahimahullāh

((والمتروك من الصلاة ثلاثة أشياء))

((Dan perkara-perkara yang ditinggalkan didalam shalāt ada tiga macam jenisnya.))

((فرض وسنة وهيئة))

① Fardhu didalam shalāt/perkara yang wajib didalam shalāt.
② Sunnah-sunnah didalam shalāt (sunnatul ab’adh).
③ Haiat  yaitu shalāt yang tidak berpengaruh jika ditinggalkan.

Sujud sahwi disyariatkan baik pada shalāt fardhu maupun shalāt sunnah.

Dan ketentuan sujud sahwi adalah apabila melakukan perkara-perkara yang dilarang seperti :

√ Menambah rakaat
√ Menambah ruku’ atau
√ Menambah sujud

Maka diperintahkan untuk sujud sahwi.

Atau juga meninggalkan perkara yang diperintahkan seperti :

√ Meninggalkan rakaat.
√ Meninggalak ruku’ ataupun.
√ Meninggalkan sujud.

Maka diperintahkan untuk sujud sahwi.

Dan sudah dijelaskan sebabnya ada 3 (tiga) yaitu :

⑴ Adanya penambahan
⑵ Adanya pengurangan dan
⑶ Adanya keraguan

Dan terjadi pada 3 hal yaitu :

⑴ Wajib shalāt.
⑵ Sunnah-sunnah shalāt.
⑶ Haiat shalāt.

Dalilnya yang menjadi pegangan di dalam sujud sahwi adalah hadīts yang diriwayatkan Imām Muslim dan senada dengan itu juga hadīts dalam Bukhāri, bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ، فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلَاثًا أَمْ أَرْبَعًا، فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ، ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ، فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْسًا شَفَعْنَ لَهُ صَلَاتَهُ، وَإِنْ كَانَ صَلَّى إِتْمَامًا لِأَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ

“Apabila kalian ragu didalam shalāt dan tidak tahu apakah shalāt 3 (tiga) raka’at atau 4 (empat) raka’at dalam keadaan ragu, maka buanglah rasa ragu dan berpeganglah pada yang yakin, kemudian sujud 2 (dua) kali sujud sebelum salam, jika ternyata dia shalāt 5 (lima) raka’at maka sujud itu menggenapkan jumlahnya, namun apabila ternyata shalāt sempurna 4 (empat) raka’at, maka sujud tadi (sujud sahwi) sebagai penghinaan bagi syaithān”.

(Hadīts riwayat Muslim I/400)

Demikan yang bisa disampaikan, semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
____________