Home > Kajian Kitab > Kitab Awaa’iqu ath Thalab > Materi 14 ~ Penghalang Ketiga: Bersandar Hanya Kepada Kitab Tidak Belajar Kepada Ulama (1)

Materi 14 ~ Penghalang Ketiga: Bersandar Hanya Kepada Kitab Tidak Belajar Kepada Ulama (1)

🌍 Kajian Kitab
👤 Al-Ustadz Abu Haidar As-Sundawy حفظه الله
📗 Kitab Awaa’iqu ath Thalab (Kendala Bagi Para Penuntut Ilmu)
📝 as-Syaikh Abdussalam bin Barjas Alu Abdul Karim حفظه الله

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Kendala yang ketiga adalah bersandar hanya kepada kitab tidak belajar ke orang, tidak belajar ke para ulama, hanya otodidak, belajar sendiri menelaah buku bahkan juga kitab apalagi buku-buku terjemahan. Penerjemahannya pun belum tentu pas, bahkan belum tentu benar, bahkan juga belum tentu jujur. Banyak penerjemah yang tidak jujur yang menambah, mengurang bahkan merubah. Banyak juga penerjemah yang tidak jujur bahwa dirinya tidak memahami kalimat yang dia terjemahkan lalu dia buat-buat kalimat sendiri yang berbeda dengan maksud si penulis kitab aslinya. Ini berbahaya apabila seseorang membaca terjemahan. Jangankan terjemahan membaca kitab langsung asli tanpa panduan dari para ulama maka itupun berbahaya. Ini termasuk kendala ketiga.

Sebagian para penuntut ilmu menganggap dirinya punya kemampuan untuk mengambil ilmu langsung dari kitab tanpa merujuk kepada para ulama didalam menjelaskan berbagai macam ungkapan didalam kitab, didalam mencari solusi dari beberapa musykilah (perkara-perkara yang masih samar) bagi dirinya, dia langsung merujuk ke kitab tanpa bertanya kepada para ulama. Terlalu percaya diri terhadap kemampuan pribadinya. Belum memenuhi standar minimal dari ilmu yang dimiliki untuk langsung menelaah kitab itu. Dan ini penyakit berbahaya yang harus dijauhi betapa banyaknya kesalahan yang mereka perbuat, betapa jauhnya penyimpangan yang telah mereka lakukan, dan betapa buruknya kontradiksi dari pendapat-pendapat yang mereka dapatkan ketika menelaah. Kalau otodidak (langsung belajar ilmu syar’i kepada kitab tanpa bimbingan).

Berkata Al-Imam Syafi’i rahimahullah “Siapa orang yang bertafakkuh (memahami agama) min butunil kutub (langsung dari isi kitab) doyya’alahkam (dia akan banyak menyia-nyiakan hukum). Kenapa imam asy-syafi’i berkata demikian ? karena pengalaman dari penelaahan. Sebagian ulama lagi mengatakan “diantara bencana yang terbesar adalah para pembaca sok’ ke syaikh-syaikh-an (bahasa kitanya) apa maknanya ? yaitu orang-orang yang hanya belajar melalui suhuf (tulisan), melalui kitab, hanya baca-baca kemudian pahami dan dari bacaannya dia ajarkan dia share kepada banyak orang sekalipun bacaan yang dia baca kitab berbahasa arab dan dia memiliki kemampuan untuk menelaah dan memahaminya. Hal ini termasuk bencana terbesar kata para ulama.

Berkata Al faqih Sulaiman bin Musa rahimahullah “janganlah kalian mengambil Qur’an dari Mushafiyyin (orang-orang yang belajar Qur’an dari mushaf) bukan dari orang, bukan dari guru, tetapi dari mushaf. Dan jangan kalian mengambil ilmu dari Shohafiyyin (orang yang hanya belajar ilmu dari kitab tanpa berguru langsung kepada para ulama)”. Zaman dulu tulisan Qur’an itu arab gundul, tidak ada fathah, kasroh, dhomah, sukun itu tidak ada bahkan lebih dahulunya lagi titik pun tidak ada. Sehingga susah membedakan antara huruf ب (ba) ت (ta), ث (tsa), dan ن (nun) karena wadahnya sama dan yang membedakannya ialah titiknya. Kalau titik satu dibawah adalah ba, dua diatas ta, tiga diatas tsa, dan satu diatas adalah huruf nun. Kita bisa membedakan tetapi dahulu tidak ada titik yang membedakan. Kemudian setelah ada inisiatif membuat titik untuk membedakan antara ج (jim) ح (ha) dan خ (kha), antara ع (‘ain) dan غ (gin), antara ب (ba) ت (ta), ث (tsa), dan ن (nun) lalu agak mudah tetapi belum ada fathah, kasroh, dhomah, sukun. Jadi kalau orang tidak memahami benar masalah nahwu dan syorof akan salah baca atau bahkan tidak bisa baca. Maka bayangkan jikalau orang langsung belajar Qur’an, membaca Qur’an dari mushaf dalam keadaan dahulu alias gundul maka akan salah bacanya dan artinya juga bisa salah bahkan sekarang pun walaupun sudah ada tanda baca ada fathah, ada kasroh, orang bisa lancar membaca apakah pasti benar ? jawabannya adalah belum tentu tentang makhraj umpamanya. Kalau tidak mendengar dari guru, tidak dilihat mulut kita, lidah kita ketika mengucapkan huruf belum tentu benar. Itu jikalau tiadk langsung belajar dari guru bisa salah, lafadz bisa salah, tajwid dan makhraj bisa salah. Makanya jangan mengambil Al-Qur’an dari Mushafiyyin (orang yang hanya belajar Qur’an dari mushaf) dan jangan juga mengambil ilmu dari Shohafiyyin (orang-orang yang hanya belajar ilmu dari tulisan-tulisan kitab)

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *