Home > Kajian Kitab > Kitab Awaa’iqu ath Thalab > Materi 08 ~ Mencari Ilmu Bukan Karena Allah (7) – Bantahan terhadap pendapat “amal itu mendatangkan ilmu tanpa harus belajar”

Materi 08 ~ Mencari Ilmu Bukan Karena Allah (7) – Bantahan terhadap pendapat “amal itu mendatangkan ilmu tanpa harus belajar”

🌍 Kajian Kitab
👤 Al-Ustadz Abu Haidar As-Sundawy حفظه الله
📗 Kitab Awaa’iqu ath Thalab (Kendala Bagi Para Penuntut Ilmu)
📝 as-Syaikh Abdussalam bin Barjas Alu Abdul Karim حفظه الله

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ada satu point yang harus diwaspadai karena banyak orang yang salah paham dan salah aplikasi. Sebagian orang ada yang meyakini bahwa beramal bisa melahirkan ilmu tanpa harus belajar. Dan mereka berhujjah dengan ayat al-Qur’an, salah satu ayat yang mereka gunakan yakni surat Al-Baqarah : 282.

… يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ

“Hai orang-orang yang beriman apabila kalian saling pinjam meminjam maka tulislah. …”

Di akhir ayat itu Allah menyatakan,

… وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ

“Bertaqwalah kamu kepada Allah, maka Allah akan mengajarkan ilmu kepada kalian”.

Jadi kalau ingin kita diberi ilmu, diajari ilmu oleh Allah maka taqwa. Tingkatkan ibadah dan jauhi maksiat, perbanyak dzikir dan perbanyak berdo’a dan taqwa meningkat maka Allah akan mengajarkan ilmu tanpa harus belajar sehingga dikenal di dunia sufi disebut ilmu ladunni. Dan ini memang dinukil didalam kitab-kitab tasawuf, disebutkan dalam tafsir Al-Manar (susunan syaikh Muhammad Rasyid Ridho rahimahullahuta’ala), “Telah mahsyur/populer melalui lisan-lisan orang-orang yang mempelajari tasawuf tentang makna dua kalimat ini, pertama dan bertaqwalah kalian kepada Allah, kedua maka Allah akan mengajarkan ilmu kepada kalian. Kata mereka dua kalimat ini maknanya bahwa taqwa sebagai sebab teraihnya ilmu, lalu mereka menyatakan bahwa tariqot yang mereka lakukan dan riyadhoh yang mereka upayakan latihan psikis dalam bentuk ibadah intensif kepada Allah dengan membaca wirid-wirid yang mereka buat sendiri, sebuah ibadah pendekatan, sholawat-sholawat yang mereka buat bakal mewariskan kepada mereka ilmu-ilmu ilahi bidunni ta’alum tanpa harus belajar”. Makannya mereka tidak belajar terus saja dzikir sekian ribu kali dalam semalam dan kuat. Mereka meyakini dengan cara seperti itu ilmu bisa diperoleh dan itu yang disebut ilmu ladunni. Maka ayat yang disebutkan tadi benar atau salah ? semua ayat pastilah benar tidak ada ayat yang salah, hadits yang shahih pastilah benar tidak ada yang salah. Jadi, apanya yang salah ? yakni interpretasi terhadap ayat itu dan istidlal mereka dengan ayat tadi. Istidlal itu penerapan dalil tentang ayat tadi dibantah oleh para ulama dengan dua jenis bantahan yakni aspek nahwu dan aspek fiqih atau ushul fiqh.

Pertama bahwa sibiwah (Ulama ahli nahwu) itu tidak membenarkan pemahaman seperti itu. Nahwu itu Gramer dalam bahasa Arab dan dia benar dalam hal ini karena apa ? yakni huruf athof dalam ayat وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ “dan bertaqwalah kalian kepada Allah” وَ disini disebut dengan huruf athof, يُعَلِّمُكُمُ ini di athofkan kepada اتَّقُوا اللَّهَ dan makna dari huruf athof yakni meniadakan makna balasan, jadi ini bukan balasan “bertaqwalah kamu kepada Allah” sebagai balasannya nanti Allah akan mengajarkan ilmu kepada kalian (hal ini makna yang dipahami oleh mereka) dan ini tidak boleh huruf وَ (Athof) disini maknanya bukan balasan, bukan sebab akibat, karena taqwa lalu tiba-tiba berilmu tanpa harus belajar ini secara Nahwu keliru besar kenapa demikian ? karena fungsi huruf athof itu memberi makna mughoyaroh. Mughoyaroh itu berbeda dan tidak ada hubungannya. Bukan hubungan sebab akibat.

Kedua bahwa ungkapan itu adalah logika yang terbalik mereka menjadikan akibat sebagai sebab, menjadikan cabang sebagai batang yang pokok. Ilmu melahirkan sikap taqwa bukan sebaliknya taqwa melahirkan ilmu. Allah berfirman didalam Al-Qur’an yang sudah kita jelaskan,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (Al-Fathir: 28)

Sikap takut kepada Allah adalah salah satu unsur taqwa, dan ketaqwaan itu terlahir karena ilmu. Berkata Abu Darda “Kamu tidak bisa menjadi orang yang bertaqwa sebelum kamu berilmu”. Kembali ke definisi taqwa, apa taqwa itu intinya melaksanakan seluruh perintah dan menjauhi semua larangan.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *