Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Al-'Aqīdah Al-Wāsithiyyah > Halaqah 108 | Ijma Salaf Tentang Sifat Ketinggian Bagi Allāh ﷻ

Halaqah 108 | Ijma Salaf Tentang Sifat Ketinggian Bagi Allāh ﷻ

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah
🖊 Ilmiyyah.com
〰〰〰〰〰〰〰

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-108 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Beliau mengatakan

وَقَدْ دَخَلَ فِيمَا ذَكَرْنَاهُ مِنَ الإِيمَانِ بِاللهِ الإِيمَانُ بِمَا أَخْبَرَ اللهُ بِهِ فِي كِتَابِهِ، وَتَوَاتَرَ عَن رَّسُولِهِ، وَأَجْمَعَ عَلَيْهِ سَلَفُ الأُمَّةِ

Masuk di dalam apa yang kita sebutkan tentang iman kepada Allāh ﷻ, karena disini beliu sedang berbicara tentang iman kepada Allāh ﷻ, diawal beliau sudah menyebutkan bahwasanya aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah intinya adalah tentang rukun iman yang enam, kemudian satu persatu beliau sebutkan, yang pertama adalah tentang iman kepada Allāh ﷻ dan termasuk iman kepada Allāh ﷻ adalah masalah nama dan juga sifat Allāh ﷻ, berarti di sini beliau sedang berbicara tentang iman kepada Allāh ﷻ.

Diantara iman kita kepada Allāh ﷻ beriman dengan apa yang Allāh ﷻ kabarkan dengannya di dalam Kitab-Nya dan yang mutawatir dari Rasulullāh ﷺ dan para salaful ummah telah bersepakat, berarti di sini dalil dari Al-Qur’an banyak, dan ternyata hadits-hadits yang berkaitan dengan ini adalah mutawatir tidak ada alasan bagi seseorang untuk menolaknya, kemudian yang ketiga dalil dari ijma’ (kesepakatan) para salaf, para salaf tidak ada yang menyelisihi aqidah ini, yaitu

مِنْ أَنَّهُ سُبْحَانَهُ فَوْقَ سَمَاوَاتِهِ، عَلَى عَرْشِهِ

bahwasanya Allāh ﷻ Dia berada diatas langit-langit yang Dia ciptakan, di atas ‘Arsy, ini dalam Al-Qur’an banyak dalilnya didalam hadits dia mutawatir dan ini adalah kesepakatan para salaful Ummah, jadi bukan hanya Qur’an dan Hadits tapi adalah kesepakatan, maka jangan sampai seseorang menyelisihi Al-Qur’an dan Hadist dan juga Ijma’.

Banyak orang yang mengaku mengikuti ijma’ tapi banyak ijma’ yang mereka selisihi termasuk diantaranya adalah keyakinan bahwasanya Allāh ﷻ berada di atas ‘arsy, ini adalah ijma’ para salaful Ummah.

عَلِيٌّ عَلَى خَلْقِهِ

Allāh ﷻ Maha Tinggi di atas makhluk-Nya, dalil dari Al-Qur’an dan juga hadits sudah berlalu disebutkan oleh beliau, dan ini diulang oleh beliau kembali karena pentingnya perkara ini. Ingat Aqidah Wasithiyah ditulis oleh Syaikhul Islam karena permintaan, dan mungkin beliau mendengar dari cerita orang tadi tentang penyimpangan-penyimpangan yang ada di daerahnya termasuk diantaranya masalah dimana Allāh ﷻ sehingga selain beliau menyebutkan dalil-dalilnya kembali kuatkan dengan pernyataan beliau ini, ini adalah sesuai dengan Quran, Hadits yang mutawatir dan kesepakatan para salaf.

Jangan ada yang mengatakan kalau madzhab Hanafi tidak kalau mazhab maliki tidak, ini adalah kesepakatan para salaful Ummah, Allāh ﷻ Maha Tinggi di atas makhluk-Nya, diantara nama Allāh ﷻ adalah Al-‘Alī sebagaimana sudah kita bahas dalam penjelasan Ayat Kursiy

وَهُوَ سُبْحَانَهُ مَعَهُمْ أَيْنَمَا كَانُوا

dan Dia (Allāh ﷻ) bersama mereka dimanapun mereka berada, berarti di sini menyebutkan sifat ‘Uluw bagi Allāh ﷻ dan juga bahwasanya Allāh ﷻ bersama mereka, ini ada dalam Qur’an dan dalam Hadits juga banyak berkaitan dengan ma’iyyah. Kemudian

يَعْلَمُ مَا هُمْ عَامِلُونَ

Allāh ﷻ mengetahui apa yang mereka kerjakan, ini menjelaskan bahwasanya ma’iyyah yang dimaksud adalah ma’iyyatul ‘ilm (kebersamaan ilmu Allāh ﷻ), Allāh ﷻ mengetahui apa yang mereka kerjakan dan Allāh ﷻ berada di atas ‘Arsy dan Allāh ﷻ bersama mereka mengetahui apa yang mereka kerjakan, ini penjelasan dari ma’iyyatullāh dan ini adalah ma’iyyah yang umum.

كَمَا جَمَعَ بَيْنَ ذَلِكَ في َقَوْلِهِ:  هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ السَّمَاء وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Sebagaimana hal ini digabungkan oleh Allāh ﷻ dalam Firman-Nya, ayat ini dan juga ayat yang ada dalam Al-Mujādilah sudah kita bahas sudah kita sebutkan maknanya. Digabungkan di sini antara ketinggian Allāh ﷻ dengan ma’iyyatullāh

ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ = ketinggian Allāh ﷻ

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ = ma’iyyatullāh

Yang dimaksud dengan ma’iyyah disini disebutkan sebelumnya

يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ السَّمَاء وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا

dan setelahnya Allāh ﷻ mengatakan

وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

ditafsirkan oleh para ulama salaf dengan ma’iyyatul ‘ilm, berarti tingginya Allāh ﷻ bukan berarti Allāh ﷻ tidak tahu tentang apa yang ada di bumi ini, Allāh ﷻ lebih tahu tentang apa yang ada di bumi daripada kita yang dekat ini, Allāh ﷻ di atas ‘arsy dan Dia Maha Mengetahui apa yang terjadi.

وَلَيْسَ مَعْنَى قَوْلِهِ:  وَهُوَ مَعَكُمْ  أَنَّهُ مُخْتَلِطٌ بِالْخَلْقِ

Dan bukan makna Firman Allāh ﷻ dan Dia bersama kalian bukanlah maknanya campur dengan makhluk, mereka mengatakan bahwa وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ bahwasanya Allāh ﷻ dimana-mana karena bersama itu berarti campur bersama-sama, maka Syaikhul Islam mengatakan bukan maknanya demikian, bukan maknanya bahwasanya Allāh ﷻ campur dengan makhluk

فَإِنَّ هَذَا لاَ تُوجِبُهُ، اللُّغَةُ

karena yang demikian tidak diwajibkan oleh bahasa, artinya dalam bahasa itu tidak harus yang namanya ma’akum atau kalimat ma’iyyah (kebersamaan) itu berarti harus campur, memang ada tapi tidak harus seperti itu.

Misalnya datangkan aku air bersama susu, maksudnya adalah dicampur antara air dengan susu, itu memang benar bersama di sini artinya campur antara air dengan susu, tapi ini tidak diwajibkan oleh bahasa, dalam kesempatan yang lain mereka menggunakan bersama tapi maknanya bukan campur contoh misalnya disini.

وهو خلاف ما أجمع عليه سلف الأمة

Dan yang demikian (yang meyakini bahwasanya ma’iyyah pasti campur) ini selain tidak diwajibkan oleh bahasa ini juga menyelisihi apa yang menjadi kesepakatan para Salaf, para Salaf mengatakan bahwasanya Allāh ﷻ diatas ‘arsy bukan dimana-mana.

وخلاف ما فطر الله عليه الخلق

Dan ini bertentangan dengan apa yang Allāh ﷻ fitrahkan kepada makhluk, fitrah makhluk bahwasanya Allāh ﷻ di atas, Allāh ﷻ jadikan fitrah manusia dan makhluk yang lain bahwasanya Allāh ﷻ di atas, kemudian baliau menjelaskan contoh misalnya penggunaan secara bahasa bersama tapi tidak harus campur

بَلِ الْقَمَرُ آيَةٌ مِنْ آيَاتِ اللهِ

bahkan yang namanya Bulan itu adalah tanda diantara tanda-tanda kekuasaan Allāh ﷻ

مِنْ أَصْغَرِ مَخْلُوقَاتِهِ

dia adalah termasuk makhluk yang paling kecil, itu kalau kita bandingkan dengan benda-benda langit yang lain bulan termasuk yang kecil

وَهُوَ مَوْضُوعٌ فِي السَّمَاءِ

dan dia diletakkan oleh Allāh ﷻ berada di atas, disini menggunakan permisalan bulan karena dia berada di atas, sekarang beliau ingin menjelaskan kepada kita bahwasanya ma’iyyah ini tidak harus campur

وَهُوَ مَعَ الْمُسَافِرِ أَيْنَمَا كَانَ

dan dia bersama orang yang safar dimanapun dia berada, seorang musafir yang berjalan di malam bulan purnama misalnya ketika dia di atas gunung maka dia mengatakan saya bersama bulan, ketika dia di gurun pasir dia mengatakan saya bersama bulan sehingga mereka mengatakan kami berjalan malam dan bulan bersama kami.

Apa yang dipahami oleh teman-temannya ketika mendengar itu? apakah mereka memahami bahwasanya bulan itu digendong terus dan dibawa terus kemana-mana, tidak, tapi mereka memahami berjalan ke mana-mana ada bulan, ada sinar bulan, itu bulan yang dia adalah makhluk kecil tapi dia memiliki sinar yang sampai ke bumi mereka mengatakan ma’a (dia bersama)

وَهُوَ سُبْحَانَهُ فَوْقَ عَرْشِهِ

Sedangkan Allāh ﷻ berada diatas ‘arsy

رَقِيبٌ عَلَى خَلْقِهِ

dan Allāh ﷻ mengetahui hamba-Nya, Allāh ﷻ yang mengawasi hamba-Nya

مُهَيْمِنٌ عَلَيْهِمْ

dan Allāh ﷻ yang menguasai hamba-Nya, Allāh ﷻ yang menggerakkan Allāh ﷻ yang menghidupkan Allāh ﷻ yang memberikan rezeki mematikan meluaskan rezeki kepada Si Fulan memberikan musibah kepada si fulan semua mereka diatur, luar dalam mereka diatur, Allāh ﷻ mengawasi mereka dan Allāh ﷻ menguasai mereka

مُطَّلِعٌ عَلَيْهِم

Allāh ﷻ melihat kepada mereka

إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِن مَّعَانِي رُبُوبِيَّتِهِ

dan yang lainnya yang merupakan makna rububiyah Allāh ﷻ, Allāh ﷻ adalah Rabb kita yang mengatur kita memelihara kita sampai yang sedetail-detailnya.

Sehingga kalau demikian maka benar bahwasanya oleh itu bersama kita, kita berada di rumah kita berada di kantor kita berada di studio kita berada di kuliah Allāh ﷻ yang mengatur urusan kita, darah yang menggerakkan adalah Allāh ﷻ jantung yang menggerakkan adalah Allāh ﷻ udara yang masuk kedalam tubuh kita juga Allāh ﷻ yang menggerakkan, berarti Allāh ﷻ Maha Mengetahui apa yang terjadi bahkan lebih mengetahui tentang diri kita daripada kita sendiri, sehingga dikatakan bahwasanya Allāh ﷻ bersama kita yaitu dengan ilmunya.

وَكُلُّ هَذَا الْكَلامِ الَّذِي ذَكَرَهُ اللهُ ـ مِنْ أَنَّهُ فَوْقَ الْعَرْشِ وَأَنَّهُ مَعَنَا ـ حَقٌّ عَلَى حَقِيقَتِهِ، لاَ يَحْتَاجُ إَلَى تَحْرِيفٍ، وَلَكِنْ يُصَانُ عَنِ الظُّنُونِ الْكَاذِبَةِ

Dan ucapan-ucapan ini semuanya, yang disebutkan oleh Allāh ﷻ bahwasanya Allāh ﷻ diatas ‘Arsy dan bahwasanya Allāh ﷻ bersama kita itu adalah benar sesuai dengan hakekatnya tidak ada majas disini, Allāh ﷻ diatas ‘Arsy dan Allāh ﷻ bersama kita semuanya masing-masing hakekat dan tidak perlu ditahrif tidak perlu dita’wil, misalnya istawa maksudnya adalah istawla atau ditakwil ma’anā disini adalah dimana-mana

وَلَكِنْ يُصَانُ عَنِ الظُّنُونِ الْكَاذِبَةِ

akan tetapi dijaga dari persangkaan yang tidak benar.

Kita menjelaskan bahwasanya Allāh ﷻ berada di atas ‘arsy dan bahwasanya Allāh ﷻ bersama kita yaitu dengan ilmu-Nya, kalau misalnya di sana ada persangkaan-persangkaan yang dusta maka kita jaga dan kita Jelaskan.

Seperti misalnya orang yang menyangka bahwasanya keyakinan ahlussunnah Allāh ﷻ fis sama’ maksudnya adalah Allāh ﷻ yang berada di langit (Allāh ﷻ diliputi oleh langit), ini adalah persangkaan yang dusta kita tidak meyakini demikian, fis sama’ sudah kita terangkan maknanya (‘alāssamā’ atau fil ‘uluw) maka ini perlu di jelaskan yang demikian. Kemudian

وَقَد دَّخَلَ فِي ذَلِكَ الإِيمَانُ بِأَنَّهُ قَرِيبٌ مِن خَلْقِهِ

Dan masuk didalamnya (iman kepada Allāh ﷻ) yaitu beriman bahwasanya Allāh ﷻ itu dekat dengan makhluk-Nya

كَمَا جَمَعَ بينَ ذَلِكَ في قَوْلِهِ:  وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لِي وَلۡيُؤۡمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُونَ  ١٨٦

Dan apabila hamba hamba-Ku bertanya kepadamu tentang diri-Ku maka Aku adalah sangat dekat Aku mengabulkan doanya orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku maka hendaklah mereka mengijabahi untuk diri-Ku dan beriman dengan-Ku semoga mereka mendapatkan petunjuk (mendapatkan kelurusan).

Allāh ﷻ mengatakan disini Aku dekat menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat dekat dan dekatnya Allāh ﷻ di sini tidak sama dengan ma’iyyah, kalau ma’iyyah ada ma’iyyah umum dan ada ma’iyyah khusus, ma’iyyah umum untuk seluruh makhluk ma’iyyah khusus ini untuk orang-orang yang beriman wali-wali Allāh ﷻ.

Adapun sifat Qurb maka pendapat yang benar sifat Qurb ini untuk hamba-hamba Allāh ﷻ yang beriman saja, makanya dikatakan di sini

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ

ini adalah untuk hamba-hamba Allāh ﷻ yang beriman, berarti dia adalah qurb yang khusus untuk orang-orang yang beriman saja dan tidak ada di sana qurb umum

وَقَوْلِهِ صلى الله عليه وسلم : ((إِنَّ الَّذِي تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُم مِّن عُنقِ رَاحِلَتِهِ))

Dan ucapan Nabi ﷺ sesungguhnya yang kalian berdoa kepadanya ini lebih dekat kepada salah seorang diantara kalian dari daripada leher ontanya.

Ini sudah berlalu haditsnya dan ini menunjukkan tentang sifat Qurb bagi Allāh ﷻ. Kemudian beliau mengatakan

وَمَا ذُكِرَ فِي الْكِتِابِ وَالسُّنَّةِ مِنْ قُرْبِهِ وَمَعِيَّتِهِ لاَ يُنَافِي مَا ذُكِرَ مِنْ عُلُوِّهِ وَفَوْقِيَّتِهِ؛ فَإِنَّهُ سُبْحَانَهُ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فِي جَمِيعِ نُعُوتِهِ، وَهُوَ عَلِيٌّ فِي دُنُوِّه، قَرِيبٌ فِي عُلُوِّهِ

Maka apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah dari dekatnya Allāh ﷻ dan kebersamaan Allāh ﷻ ini tidak bertentangan dengan apa yang disebutkan di dalam al-Qur’an dan Sunnah berupa tingginya Allāh ﷻ, ‘uluw dan fauqiyyah hampir sama makna ini tidak bertentangan, maka Allāh ﷻ tidak ada yang serupa dengan Dia dalam setiap sifat sifat-Nya.

Kalau kita memang iya, kalau kita tinggi kita tidak bisa melihat yang dibawah, kalau kita di bawah kita rendah tapi kita bisa melihat, itu kita keadaannya, tapi Allāh ﷻ tidak ada yang serupa dengan Dia didalam seluruh sifat sifat-Nya, Allāh ﷻ Dia-lah yang berada di atas ‘arsy dan Allāh ﷻ Maha Melihat segala sesuatu, beda dengan manusia.

وَهُوَ عَلِيٌّ فِي دُنُوِّه

maka Dia-lah Allāh ﷻ Yang Maha Tinggi di dalam kedekatan-Nya, jadi Allāh ﷻ Dia-lah yang Maha Tinggi dan dia sangat dekat

قَرِيبٌ فِي عُلُوِّهِ

dan Allāh ﷻ itu sangat dekat dengan kita padahal Allāh ﷻ berada di atas.

Jadi Allāh ﷻ Maha Tinggi dan sangat dekat dengan kita, dan Allāh ﷻ sangat dekat dengan kita padahal Allāh ﷻ berada di atas.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top