Home > Bimbingan Islam > Bekal Bulan Ramadhan > Halaqah 30 : Penghujung Bulan Ramadhān

Halaqah 30 : Penghujung Bulan Ramadhān

🎙 Ustadz Abul Aswad Al-Bayaty, BA حفظه لله تعالى
📗 Kitāb Majalis Syahri Ramadhān (مجالس شهر رمضان)
📝 Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin حفظه لله تعالى
〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Kaum muslimin wa muslimat di manapun Anda berada.

Yang harus kita perhatikan:

• Pertama| Ramadhān kali ini ,menurut sebagian orang, mereka menganggap Ramadhān yang tidak biasa.

Sebagian mengatakan, kalau kita melakukan shalat Tarawih di rumah akan terasa berat. Amal ibadah pun tidak bersemangat karena tidak bisa berkumpul dengan jama’ah yang lain.

Maka kita perlu introspeksi diri!

Kita beribadah untuk siapa?

Kita beribadah karena apa?

Kalau kita beribadah untuk Allāh, kita beribadah karena Allāh, ada manusia ataupun tidak ada manusia, selayaknya kita tetap semangat beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Itu yang pertama, kemudian yang kedua:

• Kedua | Beribadah di masa-masa sulit, di masa-masa kesendirian, di masa-masa kita mengisolasi diri, adalah beribadah yang insyā Allāh nilai pahalanya jauh lebih tinggi.

Para ulama kita mengatakan:

من أعلى درجات الإيمان إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ في شدة البرد

_”Termasuk derajat keimanan yang tertinggi adalah menyempurnakan wudhu’ tatkala musim dingin yang sangat menyayat.”_

Di saat-saat sulit kita tetap istiqamah, beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, maka itu di antara derajat keimanan yang tertinggi di sisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Biasanya, di akhir Ramadhān kita sudah mulai berpikir untuk berhari raya. Kita mulai berpikir untuk bercengkrama dengan sanak kerabat, sahabat, tetangga dan seterusnya.

Sehingga malam-malam terakhir bulan Ramadhān yang justru itu menjadi peluang besar kita mendapatkan banyak kebaikan, terlewatkan begitu saja. Karena kita lebih mengutamakan untuk berbicara, ngobrol ke sana ke sini, tukar pikiran, membicarakan rencana besok yang akan kita lakukan di hari raya.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

إنما الأعمال بالخواتيم

_”Sesungguhnya amal itu diukur dari penutupannya.”_

Maka kita berharap Ramadhān tahun ini penutupannya menjadi penutup yang wangi.

خِتَٰمُهُۥ مِسۡكٞۚ وَفِي ذَٰلِكَ فَلۡيَتَنَافَسِ ٱلۡمُتَنَٰفِسُونَ

_”Penutupnya adalah wewangi, oleh karena itu hendaknya orang-orang beriman (mereka) saling berlomba untuk melakukan kebaikan.”_

(QS Al Mutaffifin: 26)

Di malam-malam terakhir Ramadhān ini, kita tetap membaca Al Qur’ān, kita tetap melalukan shalat Tarawih, kita tetap membaca dzikir pagi petang dan kita tetap beribadah melakukan amalan-amalan sunnah, agar Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan Ramadhān kita lebih berarti dan bermakna.

Dan kelak kita akan mendapatkan manfaatnya. Pada hari di mana harta, anak-anak tidak lagi berguna kecuali orang yang datang kepada Allāh dengan membawa amal shalih, membawa bacaan Al Qur’ān, membawa shalat malam, membawa dzikir dan membawa amal shalih yang lainnya.

Wallāhu Ta’āla A’lam Bishawāb

____________________

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top