Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Fadhlul Islām > Halaqah 121 | Pembahasan Dalil Pertama Hadits Irbadh Bag 07

Halaqah 121 | Pembahasan Dalil Pertama Hadits Irbadh Bag 07

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Kitāb Fadhlul Islām
🖊 Ilmiyyah.com
〰〰〰〰〰〰〰

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-121 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan (Rahimahullahu Ta’ala)

بَابُ التَّحْذِيرِ مِنَ البِدَعِ

Bab tahdzir, peringatan, dari bid’ah-bid’ah.

‘Irbād ibn Sāriyah mengatakan Rasulullāh ﷺ telah memberikan مَوْعِظَة kepada kami, Nabi ﷺ memberikan wasiat

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي

Maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku

وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ المَهْدِيِّينَ

sunnah para khulafā’ yang mereka disifati, yang pertama rāsyidīn maksudnya adalah orang yang berilmu lurus dengan sebab ilmu yang mereka miliki, kemudian al-mahdiyyīn mereka adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.

Ilmu yang mereka miliki mengantarkan mereka untuk mengamalkan, oleh karena itu khulafā’ ar rāsyidīn al-mahdiyyīn terkumpul di dalam diri mereka ilmu dan juga amalan dan ini adalah sesuatu yang jarang. Jarang seorang pemimpin dia sekaligus sebagai seorang yang ‘alim dan sekaligus dia adalah seorang yang ‘āmil ini adalah perkara yang jarang, biasanya seorang pemimpin sibuk dengan dunianya, tidak memiliki ilmu atau memiliki ilmu sedikit, mengamalkan juga seadanya, sibuk dengan urusan dunianya.

Tapi kalau seorang pemimpin sampai terkumpul di dalamnya ilmu yang luar biasa dan juga mereka adalah orang yang sangat mengamalkan ilmunya maka inilah orang-orang yang pilihan, dan demikian sifat para khulafā’ur rāsyidīn al-mahdiyyīn, mereka adalah Abu bakar, Umar, Utsman, dan juga Ali. Kalau kita kembali kepada sirah mereka kita, dapatkan tentang ilmu mereka yang dalam di dalam masalah agama dan amal juga demikian.

Maka kita disuruh untuk berpegang teguh dengan sunnah mereka, sunnah mereka adalah supaya kita berpegang teguh dengan sunnah Rasulullāh ﷺ. Itulah jalan hidup para khulafā’ur rāsyidīn, jalan hidup mereka adalah bagaimana mengikuti sunnah Rasulullāh ﷺ. Jangan dipahami bahwasanya mereka punya sunnah sendiri selain dari sunnah Nabi ﷺ, bahkan sunnah mereka adalah bagaimana mengikuti sunnah Rasulullāh ﷺ.

Kemudian Beliau ﷺ mengatakan sama aku lihat lah

تَمَسَّكُوا بِهَا

Hendaklah kalian berpegang teguh dengannya, تَمَسَّك yaitu dengan tangan kalian

وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

dan gigitlah sunnahku tadi dengan gigi geraham kalian. تَمَسَّكُوا kita disuruh untuk memegang, tidak melepaskannya, ditambah lagi lebih menguatkan bukan hanya sekedar dipegang tapi juga digigit dan digigitnya bukan dengan sembarang giginya tapi dengan gigi geraham.

Maka ini adalah penguatan setelah penguatan, disuruh kita untuk berpegang teguh dengan sunnah Nabi ﷺ dan ini adalah bisa kita pahami dari perintah untuk berpegang teguh dengan sunnah, peringatan dari melakukan bid’ah. Kita harus pegang, kita harus gigit jangan sampai kita berpaling kemudian kita lepaskan dan lebih kita memilih melakukan bid’ah di dalam agama, kita harus kuat didalam memegang sunnah ini.

Kemudian yang kedua

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ

dan hati-hati kalian dari perkara-perkara yang diada-adakan, dan kalimat wa iyyākum maknanya adalah tahdzir, hati-hati, menunjukkan bahwasanya perkara yang setelahnya adalah perkara yang jelek yang bisa membahayakan kita, sehingga Nabi ﷺ mengatakan wa iyyākum, hati-hati kalian, waspadalah kalian dari perkara-perkara yang diada-adakan, yaitu perkara yang baru, tidak ada di dalam sunnah Nabi ﷺ itu namanya مُحْدَثَات

Disana ada agama Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ, disana ada perkara yang baru yang datang setelah agama Islam tadi, dinamakan dengan مُحْدَثَات الأُمُور. Beliau ﷺ mengatakan wa iyyākum, hati-hati, ini adalah segi yang kedua menunjukkan tentang tahdzir dari bid’ah, peringatan dari bid’ah itu sendiri.

فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ

Karena sesungguhnya setiap sesuatu yang baru, yang tidak diajarkan oleh Nabi ﷺ, tidak dilakukan oleh para Khulafaur Rasyidin maka itu dinamakan dengan bid’ah, segala sesuatu yang baru yang tidak diajarkan oleh Nabi ﷺ dan juga para sahabatnya khususnya para Khulafaur Rasyidin maka itu dinamakan dengan bid’ah

وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

dan setiap bid’ah maka itu adalah sesat dan di dalam riwayat yang lain wa kulla dholālatin finnār dan setiap yang sesat itu tempat kembalinya di neraka, tentunya ini adalah juga tahdzir dari bid’ah.

Segi yang ketiga karena Nabi ﷺ mensifati bid’ah ini adalah sebuah kesesatan, berarti dari tiga sisi, minimal pertama dari sabda Beliau ﷺ

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي

kemudian yang kedua adalah dari ucapan Beliau ﷺ

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ

kemudian dari ucapan Beliau ﷺ

وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

semuanya adalah ta’kid diatas ta’kid, penguatan dan penguatan selanjutnya tentang peringatan dari bid’ah, dan mungkin saja bisa dimasukkan di dalam kalimat

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ

hendaklah kalian bertakwa kepada Allāh ﷻ, masuk di dalamnya adalah menjauhi bid’ah.

Hadits ini diriwayatkan oleh Tirmidzi

وَقَالَ التِّرْمِذِيُّ: «هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

dan di sana ada imam-imam yang lain juga yang meriwayatkan hadits ini, dan termasuk diantaranya adalah Abu Daud, Tirmidzi dan juga Ibnu Majah

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Leave a Comment

Your email address will not be published.