Home > Grup Islam Sunnah > Kitab Sifat Shalat Nabi ﷺ > Halaqah 140 – Redaksi Bacaan Tasyahud ~ Riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu

Halaqah 140 – Redaksi Bacaan Tasyahud ~ Riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu

🌍 Grup Islam Sunnah | GiS
🎙 Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny M.A.
📗 صفة صلاة النبي ﷺ من التكبير إلى التسليم كأنك تراها
📝 Syaikh Al-Albani رحمه الله
~~~•~~~•~~~•~~~•~~~

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ.
الْحَمْدُ لِلهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللّٰهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ.

Kaum muslimin dan kaum muslimat yang saya cintai karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama mengkaji sebuah kitab yang sangat bagus, kitab yang ditulis oleh Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu Ta’ala. Kitab tersebut adalah kitab Sifat Shalat Nabi atau sebagaimana judul aslinya Shifatu Shalatin Nabiyyi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Minattakbiri ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi ﷺ Mulai dari Takbir sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya).

Jamaah sekalian rahimani wa rahimakumullah,

Kita sampai kepada pembahasan tentang “Jenis-jenis / Macam-macam Redaksi Tasyahud”.

Redaksi tasyahud ini berbeda-beda. Banyak perbedaan pada redaksi tasyahud.

2) Tasyahudnya Ibnu Abbas

Tasyahudnya Ibnu Abbas berarti tasyahud yang riwayatnya datang dari sabahat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma.

كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يُعَلِّمُنَا التَّشَهُّدُ كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّوْرَةَ مِنَ الْقُرْآنِ ، فَكَانَ يَقُوْلُ :

Ibnu Abbas juga mengatakan,
“Dahulu Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kami bacaan tasyahud seperti Beliau mengajarkan kepada kami satu surat dari Al-Qur’an.”

Ini sama dengan perkataan Ibnu Mas’ud yang sebelumnya.

Beliau mengatakan, dahulu Rasulullah ﷺ membaca,

[ التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلهِ ]

/At-tahiyyaatul mubaarokaatush-sholawaatuth-thoyyibaatu lillaah/

Di sini kalau antum sudah hafal terjemahan dari tasyahudnya Ibnu Abbas, di sini hanya ada tambahan [ الْمُبَارَكَاتُ ] ‘al-mubaarokatu’.
Tahiyyat artinya “Semua kata penghormatan bagi Allah”.
Dalam kata-katanya atau redaksinya Ibnu Mas’ud seperti ini, ‘at-tahiyyatul lillah’: “Semua kata penghormatan itu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala”.

Kalau di sini, [ التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ ] ‘At-tahiyyaatul mubaarokaat’ hanya ada tambahan sifat yang diberkahi. Semua kata penghormatan yang diberkahi/yang berkah itu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Semua kata penghormatan yang diberkahi itu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala”. Begitu pula shalawat dan kalimat-kalimat yang thayyibah, kalimat-kalimat yang baik, pujian-pujian bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang baik itu hanya bagi Allah.

[ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ ]

/As-salaamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa rohmatullaahi wa barokaatuh. As-salaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish-shoolihiin. Asyhadu al-laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadar-rosuulullaah/

Dalam riwayat lain,

[ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ] /wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rosuuluh/

Ada perbedaan sedikit saja.
Di sini, di tasyahudnya Ibnu Abbas tidak dikatakan “Dahulu kami membaca [ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ ] ‘as-salaamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu’ saat Rasulullah masih hidup; sedangkan saat Rasulullah ﷺ sudah wafat maka kami membaca [ السَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ ] ‘assalaamu ‘alannabiyyi’.”

Tidak dikatakan demikian di dalam riwayat Ibnu Abbas ini -radhiyallahu anhu-. Ini menunjukkan bahwa beliau membacanya secara umum, baik ketika Rasulullah ﷺ masih hidup ataupun saat Rasulullah ﷺ sudah wafat. Bacaannya sama.

Makanya para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini.
Apakah kita dianjurkan untuk mengganti

[ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ]

‘as-salaamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu’
dengan [ السَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ ] ‘assalaamu ‘alannabiyyi’,
ataukah tidak dianjurkan untuk mengganti?

Syaikh Albani rahimahullahu Ta’ala memilih pendapat yang dianjurkan untuk diganti. Jadi ketika kita membaca salam kepada Rasulullah ﷺ , tidak memakai kata ganti “kamu”, kata ganti _mukhatab_, kata ganti kedua. “Kamu” itu kata ganti kedua. Kalau dalam bahasa Arab istilahnya “mukhatab”; kalau dalam bahasa Indonesia mungkin “kata ganti orang kedua”, diganti dengan tanpa ada dhomirnya, tanpa ada kata gantinya, langsung, “Semoga keselamatan terlimpahkan kepada Nabi.”

Syaikh Albani memilih pendapat ini. Dan ini pendapatnya Ibnu Mas’ud. Seperti ini ya perbedaan pendapat. Beliau berpegang dengan riwayatnya Ibnu Mas’ud dan riwayatnya shahih.

Adapun jumhur ulama mengatakan tidak dianjurkan untuk diganti. Mereka memilih jalan _tarjih_. Cara mentarjihnya adalah dengan mengatakan, ada perbedaan di kalangan para sahabat dalam masalah ini, sehingga tidaklah perkataan sahabat yang satu berhak untuk didahulukan atas perkataan sahabat yang lainnya.

Maksudnya, perkataan sahabat di sini tidak bisa dijadikan sebagai dalil. Sehingga kita kembali kepada hadits. Haditsnya bagaimana? Haditsnya Rasulullah ﷺ mengajarkan salamnya dengan dhomir mukhatab, dengan kata ganti orang kedua. Sehingga kita tetap membaca,

[ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ]

/As-salaamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa rohmatullaahi wa barokaatuh/

Kalau ada yang bertanya, mana dalil yang menunjukkan bahwa para sahabat berbeda pendapat di sini?
Dalilnya adalah riwayat dari sahabat Umar Ibnu Khattab radhiyallahu anhu. Di sini disebutkan di bacaan yang kelima, redaksi tasyahud yang kelima.
Di situ dikatakan,

كَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يُعَلِّمُ النَّاسَ التَّشَهُّدَ، وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ.

“Dahulu sabahat Umar Ibnu Khattab radhiyallahu anhu, mengajarkan tasyahud kepada orang-orang dan ketika itu beliau di atas mimbar.”

Ini menunjukkan bahwa sahabat Umar Ibnu Khattab mengajarkan tasyahud saat Rasulullah ﷺ sudah wafat. Mana dalil yang menunjukkan Rasulullah sudah wafat ketika itu? Karena beliau mengajarkannya di atas mimbar. Kalau Rasulullah ﷺ masih hidup, tidak akan sahabat Umar Ibnu Khattab berani mengajarkan tasyahud ini kepada orang-orang di atas mimbarnya Rasulullah ﷺ. Ini menunjukkan bahwa beliau mengajarkan tasyahud ini setelah Rasulullah ﷺ wafat.

Dan lihat bagaimana redaksi tasyahud sahabat Umar Ibnu Khattab,

[ التَّحِيَّاتُ للهِ ، الزَّاكِيَاتُ للهِ ، الطَّيِّبَاتُ للهِ ، السَّلَامُ عَلَيْكَ…
السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ]

/At-tahiyyaatu lillaah, az-zaakiyaatu lillaah, ath-thoyyibaatu lillaah, as-salaamu ‘alaika… As-salaamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa rohmatullaahi wa barokaatuh. As-salaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish-shoolihiin. Asyhadu al-laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rosuuluh/

Di sini jelas disebutkan,

[ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ]

/As-salaamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa rohmatullaahi wa barokaatuh/

Padahal Rasulullah sudah wafat. Sehingga perkataan Ibnu Mas’ud yang mengatakan,
“Dahulu kami ketika Rasulullah masih hidup membacanya,
‘As-salaamu ‘alaika’ [ السَّلَامُ عَلَيْكَ ] setelah Rasulullah wafat, kami membacanya,
“[ السَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ ] ‘Assalaamu ‘alannabiyyi’
Itu hanya sebagian sahabat.

Sahabat yang lainnya tetap pada pendirian sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah. Sehingga di sini kita mengambil kesimpulan, para sahabat di sini berbeda pendapat. Ketika para sahabat berbeda pendapat, kita tidak bisa menjadikannya sebagai dalil. Perkataan sahabat yang satu bukanlah dalil atas perkataan sahabat yang lainnya. Sehingga kita kembalikan kepada apa yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ ketika Beliau masih hidup.

Dan ketika Beliau masih hidup, Beliau tidak mengatakan, nanti kalau saya sudah wafat ganti bacaannya. Sehingga itu menunjukkan keumuman. Bacaan tersebut dibaca ketika Beliau masih hidup dan disyariatkan untuk dibaca ketika Beliau sudah wafat.
Wallahu Ta’ala A’lam.

____

Demikianlah yang bisa kita kaji pada kesempatan kali ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan diberkahi oleh Allah Jalla wa ‘Ala.

Dan InsyaaAllah kita akan lanjutkan pada kesempatan yang akan datang.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top