Home > Grup Islam Sunnah > Kitab Sifat Shalat Nabi ﷺ > Halaqah 139 – Redaksi Bacaan Tasyahud ~ Riwayat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu

Halaqah 139 – Redaksi Bacaan Tasyahud ~ Riwayat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu

🌍 Grup Islam Sunnah | GiS
🎙 Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny M.A.
📗 صفة صلاة النبي ﷺ من التكبير إلى التسليم كأنك تراها
📝 Syaikh Al-Albani رحمه الله
~~~•~~~•~~~•~~~•~~~

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ.
الْحَمْدُ لِلهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللّٰهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ.

Kaum muslimin dan kaum muslimat yang saya cintai karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama mengkaji sebuah kitab yang sangat bagus, kitab yang ditulis oleh Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu Ta’ala. Kitab tersebut adalah kitab Sifat Shalat Nabi atau sebagaimana judul aslinya Shifatu Shalatin Nabiyyi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Minattakbiri ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi ﷺ Mulai dari Takbir sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya).

Jamaah sekalian rahimani wa rahimakumullah,

Kita sampai kepada pembahasan tentang “Jenis-jenis / Macam-macam Redaksi Tasyahud”.

Redaksi tasyahud ini berbeda-beda. Banyak perbedaan pada redaksi tasyahud. Dan ini masuk dalam ranah _khilaf tanawwu’_.

Khilaf tanawwu’ adalah perbedaan yang merupakan variasi suatu amalan. Dan di dalam shalat banyak khilaf tanawwu’ ini. Berbeda-beda tapi semuanya boleh dilakukan. Karena itu hanya merupakan sebuah variasi di dalam melakukan ibadah shalat.

Di antara yang ada khilaf tanawwu’-nya adalah bacaan tasyahud. Di antara yang ada khilaf tanawwu’-nya adalah doa istiftah. Di sana ada macam-macam doa istiftah dan semuanya boleh untuk kita baca. Ada khilaf tanawwu’ juga dalam bacaan rukuk. Ada beberapa bacaan rukuk, kita bisa memilih. Ada khilaf tanawwu’ dalam bacaan i’tidal. Ada khilaf tanawwu’ dalam bacaan sujud. Ada khilaf tanawwu’ dalam meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri. Ada khilaf tanawwu’ dalam meletakkan tangan di atas paha ketika tasyahud atau ketika duduk; bisa di atas paha, bisa di atas lututnya. Ini khilaf tanawwu’, khilaf atau perbedaan yang merupakan variasi suatu amalan. Semuanya dibolehkan karena semuanya ada dalil shahih. Tasyahud juga demikian.

[ صِيَغُ التَّشَهُّدِ ]

– Redaksi-redaksi Tasyahud –

وَعَلَّمَهُمْ ﷺ أَنْوَاعًا مِنْ صِيَغِ التَّشَهُّدِ :

Dahulu Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada para sahabatnya bermacam-macam redaksi tasyahud:

Yang pertama yang disebutkan oleh Syaikh Albani rahimahullahu Ta’ala adalah:
1) Tasyahudnya Ibn Mas’ud radhiyallahu anhu.

Tasyahudnya Ibnu Mas’ud maksudnya adalah tasyahud yang riwayatnya datang dari sahabat Ibnu Mas’ud, bukan tasyahud yang dibuat oleh Ibnu Mas’ud.

Beliau mengatakan:

[ عَلَّمَنِي رَسُولُ اللهِ ﷺ التَّشَهُّدَ – [ وَ ] كَفِّي بَيْنَ كَفَّيْهِ – كَمَا يُعَلِّمُنِي السُّورَةَ مِنَ القُرْآنِ : ]

“Dahulu Rasulullah ﷺ telah mengajarkan kepada aku bacaan tasyahud, sementara telapak tanganku berada di antara kedua telapak tangan Beliau, sebagaimana Beliau mengajarkanku surat dari Al-Qur’an”

Jadi berarti beliau dalam keadaan bersalaman, karena tangannya Ibnu Mas’ud diapit oleh dua tangannya Rasulullah ﷺ. Beliau bersalaman dengan Rasulullah ﷺ.

Ini termasuk di antara cara Rasulullah ﷺ mengajarkan bacaan-bacaan. Sambil mengajarkan Beliau mengapit tangan orang yang diajari. Mungkin agar lebih memperhatikan. Ketika keadaannya demikian, seseorang akan lebih memperhatikan apa yang disampaikan kepada dia.

Bacaan dari tahiyyat tersebut adalah:

[ اَلتَّحِيَّاتُ لِله وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّباَتُ ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهاَ النَّبِيُّوَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَتُهُ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْناَ وَعَلَى عِباَدِاللهِ الصَّالِحِيْنَ ]

/At-tahiyyaatu lillaah, wash-sholawaatu wath-thoyyibaat. As-salaamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa rohmatullaahi wa barokaatuh. As-salaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish-shoolihiin/

[ فَاِنَّهُ إِذَا قَالَ ذَلِكَ؛ أَصَابَ كُلَّ عَبْدٍ صَالِحٍ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ]

“Apabila seseorang mengucapkan bacaan ini” yaitu

[ اَلسَّلاَمُ عَلَيْناَ وَعَلَى عِباَدِاللهِ الصَّالِحِيْنَ ]

/As-salaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish-shoolihiin/

“maka doa tersebut akan sampai kepada semua hamba Allah yang saleh baik di langit maupun di bumi.”

[ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ]

/Asyhadu al-laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rosuuluh/

[ وَهُوَ بَيْنَ ظَهْرَانِيْنَا، ]

“ketika itu Beliau berada di tengah-tengah kita”

[ فَلَمَّا قُبِضَ ]

“ketika Beliau diwafatkan,”

[ قُلْنَا : السَّلَامُ عَلَى النَّبِيِ ]

“maka kami mengganti bacaannya dengan bacaan: ‘assalaamu ‘alannabiyyi’ [ السَّلَامُ عَلَى النَّبِيِ ]”
bukan “assalaamu ‘alaika” [ السَّلَامُ عَلَيْكَ ].

Ini tasyahudnya Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu.

[ اَلتَّحِيَّاتُ لِله وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّباَتُ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهاَ النَّبِيُّوَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَتُهُ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْناَ وَعَلَى عِباَدِاللهِ الصَّالِحِيْنَ ]

Kemudian beliau mengatakan, “Ini ketika Beliau masih hidup. Ketika Beliau sudah wafat, kami membacanya”

[ السَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللّٰهِ الصَّالِحِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا اللهُ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ]

/As-salaamu ‘alanabiyyi wa rohmatullaahi wa barokaatuh, As-salaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish-shoolihiin, Asyhadu al-laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rosuuluh/

Agar kita tahu terjemahannya ya, dan kita bisa merenungi apa makna bacaan tahiyyat:

[ اَلتَّحِيَّاتُ لِلهِ ]

‘At-tahiyyaatu lillaah’ artinya adalah: “Segala ucapan penghormatan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala”.
Segala ucapan penghormatan atau semua ucapan penghormatan itu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

[ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ ]

‘wash-sholawaatu wath-thoyyibaat’:
“Doa-doa pengagungan dan untaian-untaian pujian yang baik hanyalah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Ada yang mengatakan  [ الصَّلَوَاتُ ] ‘as-sholawaatu’ di sini : “semua shalat itu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala”; shalat-shalat yang kita ketahui, ibadah.

Ada yang mengatakan sebagaimana di sini diterjemahkan: “doa-doa pengagungan”. [ الصَّلَوَاتُ ] ‘as-sholawaatu’ artinya “doa-doa pengagungan”.

[ وَالطَّيِّبَاتُ ]

‘wath-thoyyibaat’: “kalimat-kalimat yang baik itu hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala”.

[ اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ]

‘As-salaamu‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa rohmatullaahi wa barokaatuh’:
Ini artinya seperti salam kita,

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

“Semoga keselamatan, rahmat Allah dan keberkahan Allah Subhanahu wa Ta’ala terlimpahkan kepada engkau, wahai Nabi.”

[ اَلسَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ ]

“Semoga keselamatan terlimpahkan kepada kami dan kepada semua hamba Allah yang saleh.”

Makanya jadilah orang-orang yang saleh. Kalau kita jadi orang yang saleh, orang yang baik, orang yang taat, kita akan mendapatkan doanya semua orang yang shalat. Semua orang yang shalat pasti dia mendoakan hamba-hamba Allah yang saleh. Tugas kita adalah menjadikan diri kita sebagai hamba-hamba Allah yang saleh, agar masuk dalam doanya semua orang yang shalat.

Coba bayangkan, dalam sehari lima kali didoakan. Bahkan kalau tasyahudnya dua kali. Kalau tasyahudnya dua kali kita didoakan dalam satu shalat dua kali. Kalau kita menjadi orang-orang yang saleh, didoakan dengan doa keselamatan. Dan keselamatan di sini umum, keselamatan di dunia dan keselamatan akhirat.
“Semoga keselamatan selalu terlimpahkan kepada hamba-hamba Allah yang saleh.”
Semua hamba Allah yang saleh masuk di dalamnya.

[ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا اللهُ ]

‘Asyhadu al-laa ilaaha illallaah’:
“Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

[ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ]

‘wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rosuuluh’:
“Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Itulah arti dari bacaan tasyahud. Bagi yang belum hafal artinya, dihafalkan. Ini kita ulang-ulang. Kalau kita terus gunakan itu, lama-lama kita akan hafal dengan sangat kuat. Hafalan kita akan sangat kuat. Karena setiap membacanya kita merenungi artinya, merenungi terjemahannya.

Walaupun kita belum paham bahasa Arab, tapi kalau kita tahu, ‘at-tahiyyat’ itu artinya “semua kata penghormatan”; ‘lillahi’: “bagi Allah”.  Kita kalau hafal satu kalimat-satu kalimat terjemahannya, walaupun kita tidak tahu susunan bahasa Arab, kita akan mampu untuk memahami. Apalagi antara bahasa Indonesia dengan bahasa Arab itu dalam masalah susunan tidak ada perbedaan banyak. Makanya kalau kita terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia bisa runut. Sebagian besar kalimat dalam bahasa Arab kalau kita terjemahkan kata perkata masih bisa runut. Ya walaupun ada beberapa yang tidak bisa runut, tapi kebanyakan demikian.

Hafalkan satu-satu kata, misalkan satu hari ini coba hafalkan makna

[ اَلتَّحِيَّاتُ لِلهِ ]

‘attahiyyatulillah’ artinya itu “semua kata penghormatan itu hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala”.
Sudah, itu kita hafalkan. Misalnya hari ini satu kali.

Kemudian hari berikutnya hafalkan yang selanjutnya,

[ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ ]

‘wash-sholawaatu wath-thoyyibaat’ artinya: ash-shalawaat.
Ada yang mengatakan ‘shalawaat’ di sini adalah “semua shalat”; “semua ibadah shalat itu bagi Allah”. Ada yang mengatakan “kata-kata pengagungan”; “Kata-kata pengagungan itu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala”.

Sedangkan [ الطَّيِّبَاتُ ] ‘ath-thoyyibaat’
artinya adalah: ada yang mengatakan “Al kalimatut thayyibat itu bagi Allah”. Ada yang mengatakan: “Semua kata sanjungan, untaian-untaian pujian itu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala”.

Hari berikutnya, hafalkan makna yang berikutnya, makna kata yang berikutnya. Lama-kelamaan kalau kita punya perhatian dalam masalah ini kita akan bisa hafal semua bacaan di dalam shalat kita.

Al-Fatihah, kita baca terus Al-Fatihah dalam shalat kita. Kita hafalkan satu ayat-satu ayat setiap hari. Dalam tujuh hari kita akan bisa menghafalkan terjemahan Al-Fatihah dari awal sampai akhir. Sehingga ketika kita baca, kita bisa merenungi kandungan dari Al-Fatihah itu dengan baik. Kalau kita bisa merenungi, tentunya kita bisa khusyuk di dalam shalat kita.
Wallahu Ta’ala A’lam.

____

Demikianlah yang bisa kita kaji pada kesempatan kali ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan diberkahi oleh Allah Jalla wa ‘Ala.

Dan InsyaaAllah kita akan lanjutkan pada kesempatan yang akan datang.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ.

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top