Home > Grup Islam Sunnah > Kitab Sifat Shalat Nabi ﷺ > Halaqah 111 – Memanjangkan Sujud

Halaqah 111 – Memanjangkan Sujud

🌍 Grup Islam Sunnah | GiS
🎙 Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny M.A.
📗 صفة صلاة النبي ﷺ من التكبير إلى التسليم كأنك تراها
📝 Syaikh Al-Albani رحمه الله
~~~•~~~•~~~•~~~•~~~

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ.
الْحَمْدُ لِلهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللّٰهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ.

Kaum muslimin dan kaum muslimat yang saya cintai karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama mengkaji sebuah kitab yang sangat bagus, kitab yang ditulis oleh Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu Ta’ala. Kitab tersebut adalah kitab Sifat Shalat Nabi atau sebagaimana judul aslinya Shifatu Shalatin Nabiyyi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Minattakbiri ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi ﷺ Mulai dari Takbir sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya).

Syaikh Albani rahimahullahu Ta’ala membahas tentang memanjangkan sujud.

Maksudnya adalah anjuran dari Nabi kita Muhammad ﷺ agar kita memanjangkan sujud kita.

وَكَانَ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْعَلُ سُجُوْدَهُ قَرِيْبًا مِنَ الرُّكُوْعِ فِي الطُّوْلِ ،

Dan dahulu Rasulullah ﷺ ketika shalat, Beliau menjadikan sujudnya panjang seperti panjangnya rukuknya.

Beliau ketika rukuk, rukuk dengan waktu yang lama, begitu pula ketika sujudnya.

وَرُبَّمَا بَالَغَ فِي الْإِطَالَة لِأَمْرٍ عَارِضٍ ،

Kadang-kadang Beliau sangat memanjangkan sekali sujudnya, karena ada suatu kondisi yang khusus.

Kadang-kadang Beliau sangat lama dalam sujudnya.

كَمَا قَالَ بَعْضُ الصَّحَابَةِ :

Sebagaimana disebutkan oleh sebagian sahabat Beliau,

❲ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي إِحْدَى صَلَاتَي الْعَشِي ـ [ الظُّهْرِ أَوِ الْعَصْرِ ] وَهُوَ حَامِلٌ حَسَنًا اًوْ حُسَيْنًا، ❳

Suatu ketika Rasulullah ﷺ pernah keluar untuk menjadi imam kami di salah satu shalat siang, shalat itu antara shalat Dzuhur dan shalat Ashar (dua kemungkinan, kalau tidak shalat Dzuhur ya shalat Ashar, salah satu dari shalat siang), dan ketika itu Beliau membawa Hasan atau Husain (ini juga ragu apakah Hasan ataukah Husain radhiallahu anhuma)

❲ فَتَقَدَّمَ النَّبِيُّ ﷺ فَوَضَعَهُ [ عِنْدَ قَدَمِهِ الْيُمْنَى ] ،❳

Maka Rasulullah ﷺ maju (maksudnya menjadi imam) dan Beliau meletakkan cucunya di samping kaki kanannya.

❲ ثُمَّ كَبَّرَ لِلصَّلَاةِ فَصَلَّى، ❳

Kemudian Rasulullah ﷺ bertakbir dan Beliau pun mulai shalatnya.

❲ فَسَجَدَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِهِ سَجْدَةً أَطَالَهَا، ❳

Di tengah shalat ini, Rasulullah ﷺ bersujud dengan sujud yang sangat lama.

❲ فَرَفَعْتُ رَأْسِيْ [ مِنْ بَيْنِ النَّاسِ ] ❳

Maka aku pun (perawi mengatakan) aku pun mengangkat kepalaku, sedangkan manusia/makmum yang lain mereka sujud mengikuti sujudnya Rasulullah ﷺ , sedangkan aku mengangkat kepalaku.

❲ فَإْذَا الصَّبِيُّ عَلَى ظَهْرِ رَسُوْلِ اللهِ ﷺ وهُوَ سَاجِدٌ، فَرَجَعْتُ إِلَى سُجُوْدِيْ، ❳

Ternyata ada anak kecil yang berada di punggung Rasulullah ﷺ dan Beliau ketika itu dalam keadaan sujud (jadi Rasulullah ﷺ  sujud, Hasan atau Husain itu main-main di punggung Rasulullah ﷺ ), maka aku pun akhirnya sujud kembali.

❲ فَلَمَّا قَضَى رَسُوْلُ اللهِ ﷺ الصَّلَاةُ، قَالَ النَّاسُ : ❳

Maka ketika Rasulullah ﷺ selesai dari shalatnya, orang-orang berkata kepada Rasulullah ﷺ :

❲ يَا رَسُوْلَ الله! إِنَّكَ سَجَدْتَ بَيْنَ ظَهرَانَيّ صَلَاتِكَ [ هَذِهِ ] سَجْدَةً أَطَلْتَهَا، ❳

Wahai Rasulullah ﷺ, di shalat ini engkau melakukan sujud yang sangat lama sekali.

❲ حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ قَدْ حَدَثَ أَمْرٌ ، أَوْ أَنَّهُ يُوْحَى إِلَيْكَ ! ❳

Sampai-sampai kami mengira ada sesuatu yang terjadi (ada sesuatu yang tidak wajar yang terjadi), atau ada wahyu yang turun kepadamu.

قَالَ :

Maka Rasulullah ﷺ mengatakan,

( كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُن ،)

Dua hal itu semuanya tidak terjadi.

-> Jadi tidak ada sesuatu yang istimewa yang terjadi. Sesuatu yang tidak wajar terjadi, tidak. Tidak juga turun wahyu kepadaku.

( وَلَكِنَّ ابْنِيْ إِرْتَحَلَنِيْ )

Akan tetapi anakku ini menunggangiku.

Di sini Rasulullah ﷺ menyebut cucu sebagai anak, dan ini boleh dalam bahasa Arab. Jadi cucu bisa disebut sebagai anak dalam bahasa Arab. Makanya kalau ada orang berwasiat dalam bahasa Arab, “aku berwasiat untuk anak-anakku”, misalnya mereka berwasiat “kepada anak-anakku”, mereka harus yang melakukan ini dan itu, ternyata tidak punya anak. Maka wasiat tersebut harus dijalankan oleh cucu. Karena ya dalam bahasa Arab cucu bisa disebut juga sebagai anak.

Sebagaimana Rasulullah ﷺ mengatakan

وَلَكِنَّ ابْنِيْ إِرْتَحَلَنِيْ

(akan tetapi anakku menunggangiku)

( فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ )

Sehingga aku tidak ingin mempercepat untuk mengangkat kepalaku, sampai anakku ini puas dengan keinginannya.

______

Demikianlah yang bisa kita kaji pada kesempatan kali ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan diberkahi oleh Allah Jalla wa ‘Ala.

InsyaaAllah kita akan lanjutkan pada kesempatan yang akan datang.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top