Home > Grup Islam Sunnah > Kitab Sifat Shalat Nabi ﷺ > Halaqah 107 – Sujud Bag 09 ~ Macam Bacaan Dzikir dalam Sujud Bag 04

Halaqah 107 – Sujud Bag 09 ~ Macam Bacaan Dzikir dalam Sujud Bag 04

🌍 Grup Islam Sunnah | GiS
🎙 Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny M.A.
📗 صفة صلاة النبي ﷺ من التكبير إلى التسليم كأنك تراها
📝 Syaikh Al-Albani رحمه الله
~~~•~~~•~~~•~~~•~~~

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ.
الْحَمْدُ لِلهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللّٰهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ.

Kaum muslimin dan kaum muslimat yang saya cintai karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama mengkaji sebuah kitab yang sangat bagus, kitab yang ditulis oleh Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu Ta’ala. Kitab tersebut adalah kitab Sifat Shalat Nabi atau sebagaimana judul aslinya Shifatu Shalatin Nabiyyi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Minattakbiri ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi ﷺ Mulai dari Takbir sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya).
(Kita sampai pada, -ed) pembahasan masalah dzikir-dzikir yang disyariatkan untuk dibaca ketika sujud.

Dzikir-dzikir yang dibaca ketika sujud ini sangat banyak.

5) Bacaan sujud yang kelima yang shahih dari Nabi kita Muhammad ﷺ adalah:

❲ اَللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، [ وَأَنْتَ رَبِّي] ، سَجَدَ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ خَلَقَهُ وَ صَوَّرَهُ، [ فَأَحْسَنَ صُوَرَهُ ] ، وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، [ فَـ ] تَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَ ❳

_Allaahumma laka sajadtu, wa bika aamantu, wa laka aslamtu, (wa anta robbii), sajada wajhiya lilladzii kholaqohu wa showwarohu, (fa-ahsana shuwarohu), wa syaqqo sam’ahu wa bashorohu, fa tabaarokallaahu ahsanul khooliqiin._

Ini bacaan yang lumayan panjang.

“Ya Allah, hanya kepada-Mu aku bersujud, aku beriman kepada-Mu, berserah diri kepada-Mu, Engkaulah Rabbku. Wajahku bersujud kepada Dzat yang menciptakan dan membentuknya, lalu membaguskan bentuknya, yang membuka pendengaran dan penglihatannya. Maka Maha Suci Engkau ya Allah sebaik-baik Pencipta.”

Ini juga tidak ada batasan berapa kali. Berarti bisa kita baca sekali, bisa kita baca lebih dari itu. Apalagi kalau kita ingin memperlama sujud kita.

6) Kemudian bacaan yang keenam:

❲ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ ، دِقَّهُ وجِلَّهُ ، وأَوَّلَهُ وآخِرَهُ ، وعَلَا نِيَتَهُ وسِرَّهُ ❳

Ini juga tanpa ada batasan bilangan. Bisa sekali, bisa lebih dari itu.

Artinya:  “Ya Allah ampunilah semua dosaku, dosa yang kecil (atau tidak tampak) atau dosa yang besar. Dosa yang aku lakukan dahulu dan yang akan datang. Dosa yang aku lakukan saat bersama-sama maupun dosa yang aku lakukan saat sendiri.”

Di sini saya ingin memberikan sedikit faidah ya. Di sini kita disyariatkan/dituntunkan oleh Nabi kita Muhammad ﷺ untuk meminta ampun kepada Allah dari dosa-dosa yang kita lakukan secara terang-terangan, dengan dosa-dosa yang kita lakukan secara diam-diam.

Lebih besar mana dosa yang dilakukan secara terang-terangan dengan dosa yang dilakukan secara sendiri-sendiri? Pada asalnya dosa yang dilakukan terang-terangan itu lebih besar dosanya.

Dalilnya adalah hadist Nabi Muhammad ﷺ :

( كُلُّ أُمَّةِ مُعَافَةٌ إِلَّا الْمُجَاهِرِيْنَ )

Semua umatku itu mempunyai potensi untuk dimaafkan dosanya kecuali mereka yang melakukan dosa secara terang-terangan.

Jadi misalnya ada orang yang melakukan mabuk-mabukan, minum-minuman keras, sama-sama minum-minuman keras, dosa besar. Ketika dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, dengan ketika dilakukan secara terang-terangan, maka yang melakukannya secara terang-terangan itu lebih besar dosanya. Kita ketika membandingkan itu harus sama-sama ya. Maksudnya sama-sama itu bagaimana? Sama-sama keadaannya. Jadi yang terang-terangan tersebut misalnya dia merasa berdosa tapi dia ingin terang-terangan. Yang sembunyi-sembunyi dia merasa berdosa tapi dia lakukan secara sembunyi-sembunyi.

Inilah kalau kita membandingkan seperti ini. Ini pembandingan yang adil. Kalau perbandingannya, yang terang-terangan dia merasa berdosa; yang sendiri-sendiri dia tidak merasa berdosa; sama-sama minum-minuman keras, maka ini perbandingan yang tidak sebanding. Kita tidak adil kalau membandingkan sesuatu yang tidak sama. Kalau sama-sama keadaannya, perasaannya merasa bersalah, tapi yang satu dilakukan secara terang-terangan, yang satu dilakukan secara sembunyi-sembunyi, maka yang terang-terangan lebih parah, lebih besar dosanya.

Akan tetapi, dosa ketika sendiri bisa lebih parah, bisa lebih besar, apabila ada tambahan keadaan yang memperburuknya, seperti misalnya menyepelekan dosa itu. Ketika kita sedang sendiri melakukan dosa dan kita sepelekan, itu berarti secara tidak langsung kita menyepelekan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang selalu mengawasi kita. Makanya ini dosanya menjadi sangat besar.

Ada sebuah hadist yang menjelaskan masalah ini. Di hari kiamat nanti akan ada orang yang membawa pahala yang sangat banyak. Dijelaskan dalam hadist tersebut pahalanya sampai sebesar gunung Tihamah. Gunung Tihamah ini gunung yang sangat besar di negeri Yaman. Tapi Allah jadikan hilang sama sekali. Kenapa demikian? Karena orang tersebut ketika bersama dengan yang lain kelihatannya baik, tapi ketika dia sendiri, dia lakukan kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kata para ulama ini bukan dosa biasa, tapi karena dia menyepelekan dosa saat sedang sendiri.

Makanya kita harus tetap bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala saat sedang sendiri. Ini sangat berbahaya. Bahkan Ibnu Rojab rahimahullahu Ta’ala ketika menafsiri hadits:

( وإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيْمَا يَبْدُوْ لِلنَّاسِ وإِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ )

“Sungguh ada orang yang kelihatannya selalu melakukan amalan-amalannya ahli surga, tetapi sungguh dia itu jadi ahli neraka.”

Ibnu Rajab mengatakan, kenapa demikian? Kata Ibnu Rajab, kata-kata Rasulullah ﷺ :

[ فِيْمَا يَبْدُوْ لِلنَّاسِ ]

Kelihatannya melakukan amalan-amalan ahli surga, itu berarti yang batin/yang tidak terlihat tidak demikian. Ketika sendiri, dia tidak seperti itu, sehingga menjadikan dia su’ul khotimah dan akhirnya masuk neraka. Na’udzubillahi mindzalik.

Makanya ini menunjukkan betapa berbahayanya maksiat-maksiat yang dilakukan saat sendiri. Jangan kita sepelekan. Jangan menyepelekan kemaksiatan-kemaksiatan yang kita lakukan saat kita sedang sendiri. Bisa jadi itu menjadi sebab su’ul khotimah, -naudzubillahimindzalik- sebagaimana dikatakan oleh para ulama.

Oleh karenanya, ketika sedang sendiri takutlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalaupun akhirnya kita kalah dengan hawa nafsu kita, kita kalah dengan syaitan kita, jangan menyepelekan. Tetaplah merasa berdosa. Sehingga akhirnya kita punya keinginan yang kuat untuk meminta ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, untuk bertobat kepada-Nya.

Makanya di dalam shalat kita, kita pun diperintahkan atau dituntunkan oleh Rasulullah ﷺ untuk membaca doa yang seperti ini: “Ya Allah ampunilah dosa-dosaku, dosa yang aku lakukan saat bersama, maupun dosa yang aku lakukan saat sendiri.”

_____

Demikianlah yang bisa kita kaji pada kesempatan kali ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan diberkahi oleh Allah Jalla wa ‘Ala.

InsyaaAllah kita akan lanjutkan pada kesempatan yang akan datang.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top