Home > Bimbingan Islam > Panduan Lengkap Membenahi Aqidah > Halaqah 14 : Perdukunan (كَاهن)

Halaqah 14 : Perdukunan (كَاهن)

🎙 Ustadz Yusuf Abu Ubaidah As-Sidawi حفظه لله تعالى
📗 Kitāb Al-Irsyād ilā Shohīhil I’tīqod (الإرشاد إلى صحيح الإعتيقاد)
📝 Fadhillatus Syaikh Sholih bin Fauzan حفظه لله تعالى
〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله رب العالمين وبه نستعين على امور الدنيا والدين
وصلاة وسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين نبينا محمّد وعلى آله وصحبه أجمعين و من نهتدى بالهود و تبع فره إلى يوم الدين أما بعد

Sahabat BiAS yang semoga dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla senantiasa menambahkan ilmu yang bermanfaat untuk kita semua.

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً.

Kita akan lanjutkan pelajaran kita tentang tauhīd dan in syā Allāh ta’āla, pembahasan kita kali ini tentang:

▪︎ PERDUKUNAN (كَاهن)

Dukun adalah orang yang mengaku mengetahui ilmu ghaib, dia tahu apa yang akan terjadi dengan berkolaborasi dengan jin.

Kita semua tahu hanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla saja yang mengetahui ilmu ghaib. Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ٱلْغَيْبَ إِلَّا ٱللَّهُ

_Katakanlah, “Tidak ada yang di langit maupun yang di bumi yang mengetahui ilmu ghaib kecuali Allāh hanya Subhānahu wa Ta’āla.”_

(QS. An Naml: 65)

Oleh karenanya, siapa pun yang mengetahui ilmu ghaib atau mengaku-aku dia tahu ilmu ghaib (apa yang akan terjadi) pada hakikatnya dia telah menjadi sekutu Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Dia adalah pendusta, dia adalah dajjal yang tidak boleh bagi kita untuk membenarkannya

Oleh karena itu Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menegaskan larangan bagi kita untuk mendatangi para dukun.

Dalam sebuah hadīts dalam Shahīh Muslim, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ

_”Barangsiapa mendatangi peramal (dukun) lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu._

Bertanya saja, baik secara langsung atau secara online.

Apa kata Nabi?

لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

_”Tidak akan diterima shalatnya empat puluh malam.”_

(Hadīts riwayat Muslim nomor 2230).

Shalatnya tetap sah, tapi dia tidak berpahala.

Lebih tegas lagi Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam hadīts yang lain mengatakan:

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ

_Barangsiapa mendatangi dukun baik secara langsung maupun (bertanya) secara tidak langsung. Dan dia membenarkan apa yang dikatakan oleh dukun (peramal) tersebut._

Yang meramalkan nasib atau meramal bagaimana masa depan kita nanti, yang meramal hujan, yang meramal kiamat, yang meramal tentang pekerjaan kita, tentang umur kita dan kita membenarkan.

فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم

_Maka sungguh dia telah kufur dengan apa yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam._

Yaitu Al Qur’ān, karena Al Qur’ān menegaskan kepada kita bahwa yang tahu ilmu ghaib hanyalah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

(Hadīts riwayat Ahmad nomor 9532).

Bedanya hadīts yang pertama dengan hadīts yang kedua, kalau hadīts yang pertama hanya sekedar bertanya, tidak diterima shalatnya empat puluh hari, kalau yang kedua dia bertanya kepada dukun dan membenarkan (percaya).

Jadi sekedar kita bertanya walaupun tidak membenarkan itu tidak boleh, karena itu sarana. Bisa jadi awalnya hanya sekedar bertanya tapi suatu saat membenarkan, tertipu, tergoda dengan godaan-godaan iblis.

Dan perlu diketahui bahwa dukun dan peramal bisa saja berganti casing. Mungkin dia berlagak seperti ustadz, memakai jubah, membawa alat dzikir (tasbih) seakan-akan dia bisa mengobati ini dan itu. Atau dia akan menampakkan dirinya seperti seorang wali yang memiliki kedikdayaan, keanehan, keluar biasaan. Maka jangan tertipu dengan penampilan.

Para ulama kita mengatakan, “Yang menjadi patokan adalah hakikatnya buka nama.”

Nama bisa saja diganti-ganti, penampilan bisa saja dipoles. Tetapi kenyataan tidak bisa diubah, dukun tetap dukun walaupun memakai jubah, sehingga ada buku yang berjudul: Dukun Hitam Dukun Putih. Kalau dulu, dukun-dukun memakai hitam semuanya, kalau sekarang sebagian ada yang memakai jubah dan peci putih. Maka jangan tertipu.

Maka hendaknya bagi kita untuk bersama-sama jihad melawan perdukunan ini.

Caranya bagaimana?

Dengan semangat menyebarkan ilmu tauhīd kepada keluarga kita, menyampaikan fatwa-fatwa para ulama termasuk fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang telah mengeluarkan fatwa tentang haramnya perdukunan. Demikian juga mengadakan acara-acara seminar atau kajian kutbah yang bertemakan memberantas perdukunan dan sihir sehingga masyarakat memiliki bekal pengetahuan tentang bahaya sihir dan perdukunan ini.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan taufik kepada kita semua sehingga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan keistiqamahan kepada kita semua di atas tauhīd.

وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه اجمعين
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

____________________

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top