Home > Bimbingan Islam > Panduan Lengkap Membenahi Aqidah > Halaqah 12 : Hukum Tabbaruk

Halaqah 12 : Hukum Tabbaruk

🎙 Ustadz Yusuf Abu Ubaidah As-Sidawi حفظه لله تعالى
📗 Kitāb Al-Irsyād ilā Shohīhil I’tīqod (الإرشاد إلى صحيح الإعتيقاد)
📝 Fadhillatus Syaikh Sholih bin Fauzan حفظه لله تعالى
〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله وصلاة وسلام على رسول الله نبينا محمّد وعلى آله وصحبه ومن والاه أما بعد

Sahabat BiAS yang semoga dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Pada pertemuan kali ini, in syā Allāh ta’āla kita akan membahas tentang:

▪︎ Hukum Tabbaruk

Hukum tabarruk atau mencari berkah atau ngalab berkah dengan selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Sahabat BiAS yang semoga dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Keberkahan artinya الخير كثير kebaikan yang banyak, melimpah dan terus menerus. Dan semua kita pasti menginginkan keberkahan. Keberkahan pada harta kita, keberkahan pada keluarga kita, keberkahan pada ilmu kita dan lain sebagainya.

Makanya sering dalam doa-doa dianjurkan untuk mendoakan keberkahan.

Contoh (misalkan): Salam.

Kita dianjurkan untuk mengucapkannya ketika bertemu dengan saudara-saudara kita.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

“Semoga keselamatan rahmat Allāh dan keberkahan untuk kalian.”

Ketika ada yang menikah kita dianjurkan mengucapkan:

بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

“Semoga Allāh memberkahimu di waktu bahagia dan memberkahimu di waktu susah, serta semoga Allāh mempersatukan kalian berdua dalam kebaikan”

(Hadīts riwayat Abu Dawud no. 2130)

Kita semua membutuhkan keberkahan dan mencari berkah hanya diperuntukkan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla saja, karena yang mendatangkan keberkahan hanya Allāh bukan umat.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

البركات من الله

“Keberkahan itu dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla”.

Yang memberikan kita barakah hanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla bukan selainnya.

Bagaimana kalau kita tabarruk kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla?

Perlu diketahui bahwa tabarruk ada dua macam, ada tabarruk yang masyru’ (disyariatkan) yaitu kita mencari keberkahan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, minta kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan hal-hal yang memang itu ada dalīlnya bisa mendatangkan keberkahan.

Contoh (misalkan):

• Al-Qur’ān

Kita membaca Al-Qur’ān, itu keberkahan mendatangkan keberkahan untuk kita.

Allāh berfirman:

كِتَـٰبٌ أَنزَلْنَـٰهُ إِلَيْكَ مُبَـٰرَكٌۭ ……..

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan keberkahan……” (QS. Shad: 29)

Inilah Al-Qur’ān yang kami turunkan dengan penuh keberkan, makanya dengan membaca Al-Qur’ān setiap satu huruf dilipat gandakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla sepuluh kali lipat, itu termasuk keberkahan Al-Qur’ān.

Contoh yang lain (misalkan):

• Meminum air Zam-zam

Karena air zam-zam adalah air yang berbarakah

Kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

إنه ماء زمزم مبارك

“Sesungguhnya air zam-zam itu adalah air yang berbarakah.”

إِنَّهَا طَعَامُ طُعْمٍ وَشِفَاءٌ مِنَ السُّقْمِ

“Sesungguhnya dia adalah makanan yang mengenyangkan dan obat dari penyakit-penyakit.”

Jadi disebut oleh Nabi bahwa air zam-zam adalah air yang berbarakah, maka ini disyariatkan bagi kita untuk mencari keberkahan dengan hal-hal yang disyariatkan oleh Allāh, karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengabarkan melalui lisan Rasul-Nya bahwa itu bisa mendapatkan keberkahan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

▪︎ Ngalab Berkah Yang Mamnu’ (Dilarang)

Ketika seorang mencari keberkah kepada selain Allāh, misalkan ada seorang yang mencari keberkahan kepada kuburan, pohon atau batu. Maka ini adalah kesyirikan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Karena yang mendatangkan keberkahan hanyalah Allāh, ketika kita minta kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla maka itu adalah kesyirikan dan ini terlarang bahkan merupakan syirik besar.

Atau yang terlarang juga kita ngalab berkah dengan hal-hal yang tidak ada dalīlnya bahwa itu bisa mendatangkan keberkahan dan ini banyak. Ada yang dengan mengusap-usap kuburan dengan keyakinan yang dia lakukan bisa mendatangkan keberkahan, atau dengan kotoran hewan (Na’ūdzubillāh) dianggap itu bisa mendatangkan keberkahan atau dengan batu ajaib menganggap batu itu bisa mendatangkan keberkahan.

Semua itu terlarang walaupun mintanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla mencari barakahnya dari Allāh, itu tidak diperkenankan karena tidak ada dalīlnya. Bahwasanya mengusap-usap kuburan bisa mendatangkan keberkahan atau dengan batu atau dengan pohon dan sebagainya. Itu tidak ada dalīlnya, bahkan itu haram.

Umar bin Khaththāb ketika beliau mencium hajar Aswad, beliau mengatakan:

أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَأَنَّكَ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ

“Saya tahu bahwa kamu hanyalah sebuah batu yang tidak mendatangkan manfaat atau menolak mudharat.

وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَبَّلَكَ مَا قَبَّلْتُكَ

Andaikan aku tidak melihat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menciummu, saya tidak akan menciummu.”

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 1270)

Bayangkan! Ini batu hajar Aswad yang turun dari Surga, itu saja tidak bisa mendatangkan manfaat atau menolak mudharat, apalagi benda-benda lain. Batu-batu lain entah itu batu akik atau batu ajaib dan sebagainya itu tidak ada dalīlnya.

Demikian juga di antara dalīl yang menyebutkan hal ini yaitu hadīts Abu Wāqid Al-Laitsi di mana dulu pernah berperang bersama Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam perang Hunain, di mana sebagian sahabat baru masuk Islām. Mereka meniru orang-orang musyrik yang menggantungkan senjata-senjata mereka kepada sebuah pohon yang disebut Dzātu Anwāth (ذَاتُ أَنْوَاطٍ).

Maka para sahabat mengatakan:

يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ

“Wahai Rasūlullāh! Buatkan untuk kami pohon Dzātu Anwāth untuk menggantungkan senjata-senjata kami supaya kami menang melawan musuh, sebagaimana mereka memiliki Dzātu Anwāth.”

Maka Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam marah, beliau mengatakan:

اللهُ أَكْبَرُ إِنَّهَا السُّنَنُ، قُلْتُمْ وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ كَمَا قَالَتْ بَنُو إِسْرَائِيْلَ

“Allāh Maha Besar, sesungguhnya itu adalah jejak. Demi dzat yang jiwaku berada di tangannya ini seperti ucapan Bani Israil dahulu kalian hanya meniru-niru saja (mengikuti jejak mereka).

Dahulu Bani Israil mengatakan kepada Musa

اجْعَل لَّنَا إِلَـٰهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

Wahai Musa jadikan kepada kami Tuhan sebagaimana mereka memiliki Tuhan. Nabi Musa mengatakan, “Sesungguhnya kalian adalah kaum yang Jahil”.

لِمُوْسَى  لَتَرْكَبُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

Nabi Musa mengatakan, “Kalian akan mengikuti jejak orang-orang sebelum kalian.”

Jadi Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengingkari permintaan sebagian sahabat yang baru masuk Islām yang mereka ingin tabarruk atau ngalab berkah dengan sebuah pohon kemudian Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam marah dengan tegas, karena itu adalah termasuk kesyirikan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Maka tidak boleh bagi kita untuk tabarruk kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla atau tabarruk kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla tapi dengan cara yang tidak berdasarkan dalīl bahwa itu bisa mendatangkan keberkahan.

Kita harus yakin bahwa yang bisa mendatangkan keberkahan hanyalah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Demikian yang bisa disampaikan tentang tabarruk.

صلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه اجمعين

____________________

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top