Home > Bimbingan Islam > Panduan Lengkap Membenahi Aqidah > Halaqah 05 : Syirik Dalam Takut

Halaqah 05 : Syirik Dalam Takut

🎙 Ustadz Yusuf Abu Ubaidah As-Sidawi حفظه لله تعالى
📗 Kitāb Al-Irsyād ilā Shohīhil I’tīqod (الإرشاد إلى صحيح الإعتيقاد)
📝 Fadhillatus Syaikh Sholih bin Fauzan حفظه لله تعالى
〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله وصلاة وسلام على رسول الله نبينا محمّد وعلى آله وصحبه ومن والاه أما بعد

Sahabat BiAS yang semoga dirahmati dan diberkahi oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kita lanjutkan pembahasan kita tentang jenis-jenis syirik atau contoh-contoh syirik. Syirik kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla banyak sekali contohnya, banyak sekali fenomena- fenomenanya terutama di negeri kita ini. Tidak sulit untuk mencari contoh-contoh kesyirikan karena begitu banyak beredar di mana-mana.

Salah satu yang akan menjadi pembahasan kita adalah:

• Syirik Dalam Takut (الشرك في الخوف)

Kita tahu bahwasanya takut adalah salah satu ibadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman dalam surat Āli Imrān ayat 175:

فَلَا تَخَافُوهُمۡ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ

_”Janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang yang beriman.”_

Dan takut kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah salah satu sebab agar seorang hamba meraih surga Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh berfirman:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفْسَ عَنِ ٱلْهَوَىٰ فَإِنَّ ٱلْجَنَّةَ هِىَ ٱلْمَأْوَىٰ

_”Adapun orang yang takut kepada Rabb-Nya dan menahan hawa nafsunya sesungguhnya surga adalah tempat kembalinya.”_

(QS. An Nazi’at: 40)

Sahabat BiAS yang semoga dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ibadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dibangun di atas dua hal, yaitu:

⑴ Takut kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
⑵ Berharap kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dua hal ini harus ada pada seorang hamba manakala dia beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Takut agar kita tidak merasa aman menggampangkan dosa dan berharap agar kita tidak frustasi dari rahmat Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla mensifati para nabi dalam surat Al Anbiyya ayat 90:

إِنَّهُمۡ كَانُواْ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَيَدۡعُونَنَا رَغَبٗا وَرَهَبٗاۖ وَكَانُواْ لَنَا خَٰشِعِينَ

_”Sesungguhnya mereka itu adalah hamba-hamba yang bersegera dalam kebajikan dan berdoa kepada Kami (beribadah kepada Kami) dalam keadaan berharap dan takut. Dan mereka adalah hamba-hamba yang khusyu’ kepada Kami.”_

Dalam beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla harus dibangun di atas raja’ (berharap) dan rasa takut. Jangan hanya berharap saja tanpa diiringi rasa takut sehingga menjadikan kita menggampangkan maksiat dan dosa. Dan jangan juga takut saja tanpa diiringi dengan berharap, karena itu akan menjadikan kita pesimis, frustasi dari rahmat Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Dua hal ini harus ada pada seorang hamba tatkala dia beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Imam Ahmad pernah mengatakan:

“Takut dan raja’ bagaikan dua sayap burung, apabila salah satunya tidak ada maka burung tersebut tidak akan bisa terbang dengan benar.”

Dan takut kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla timbul karena tiga hal:

⑴ Kita mengetahui kejahatan dan keburukan suatu perbuatan tersebut.

Sehingga di sini penting bagi kita untuk mengetahui suatu dosa, bukan untuk kita lakukan tetapi agar kita mewaspadai dan meninggalkannya.

⑵ Kita yakin bahwa Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan memberikan hukuman bagi siapa pun yang melakukan kemaksiatan tersebut.

⑶ Kita khawatir kalau kita tidak bisa diberi kesempatan oleh Allāh untuk taubat dari kesalahan tersebut.

Sahabat BiAS yang semoga dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Takut dibagi oleh para ulama menjadi tiga, yaitu:

⑴ Khaufull sirr, takut yang sifatnya rahasia.

Yaitu takut kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla, baik itu kepada patung, kepada mayit yang sudah meninggal, kepada jin atau kepada pohon yang yang angker dan lain sebagainya. Maka ini adalah sebuah kesyirikan.

Jadi seorang yang takut, jika sesuatu tidak diberi tumbal maka akan terjadi bencana, kalau gunungnya tidak diberi sesajen maka jinnya akan ngamuk, maka ini adalah syirik kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ ٱلشَّيْطَٰنُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَآءَهُۥ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

_”Sesungguhnya setan itu menakut-nakuti para walinya. Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tapi takutlah hanya kepada-Ku saja, jika kalian benar-benar beriman.”_

(QS. Ali Imran: 175)

Seorang mukmin takut hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, bukan yang takut kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Ini sifat terpuji yang hendaknya dimiliki oleh seorang mukmin sejati.

⑵ Takut dengan meninggalkan kewajiban karena khawatir, takut, dari celaan manusia.

Dia mau shalat, takut, akhirnya tidak jadi shalat.

Kenapa? Karena takut dicela oleh orang.

Mau mempraktikkan sunnah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, berjenggot atau menggunakan jilbab, takut, khawatir nantinya dicemoohkan orang.

Ini hukumnya haram dan ini adalah syirik kecil. Dan ini adalah talbis (tipu daya iblis) kepada sebagian manusia agar mereka meninggalkan apa yang Allāh Subhānahu wa Ta’āla wajib kepada mereka.

Seorang mukmin seperti yang disifati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dalam surat At Taubah ayat 18:

إِنَّمَا يَعۡمُرُ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ

_”Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allāh hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allāh dan hari kemudian.”_

Iman kepada Allāh dan iman kepada hari akhir sering disebutkan, dalam hadīts-hadīts juga demikian.

Kenapa demikian? Karena iman kepada Allāh menjadikan kita termotivasi untuk melakukan perintah-perintahnya dan iman kepada hari akhir memotivasi kita untuk meninggalkan larangan-larangan Allāh Subhānahu wa Ta’āla

Kemudian kata Allāh:

وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَلَمۡ يَخۡشَ إِلَّا ٱللَّهَۖ

_”Menunaikan shalat dan mengeluarkan zakat dan dia tidak takut kecuali hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”_

⑶ Takut yang thabi’i, seperti takut kepada musuh atau takut kepada hewan buas dan lain sebagainya.

Takut seperti ini tidak tercela.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla menceritakan tentang nabi Musa alayhissallām dalam surat Al Qashshash ayat 21.

فَخَرَجَ مِنۡهَا خَآئِفٗا يَتَرَقَّبُۖ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ

_Nabi Musa keluar dalam keadaan takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa, “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zhalim itu.”_

Dan ini adalah takut yang thabi’i.

Misalkan pas malam-malam kita keluar malam dan kita takut karena sepi dan sebagainya itu adalah takut yang thabi’i (tabi’at) dan tidak tercela.

Sahabat BiAS yang semoga dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Takut adalah ibadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, maka hendaknya diperuntukkan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla saja, tidak boleh diperuntukkan kepada selain Allāh. Barangsiapa menyerahkan takut ibadah kepada selain Allāh maka dia telah terjatuh di dalam kesyirikan.

وصلى الله و سلم على نبينا محمّد و على آله وصحبه أجمعين
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

____________________

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top