Halaqah 01: Hukum Asal Jual Beli Boleh Dan Halal

🎙 Ustadz Muhammad Ihsan, M.HI حفظه لله تعالى
📗 Kitāb Qawā’du Fīl Buyū’ (قواعد في البيوع)
📝 Fadhillatus Syaikh Sulaiman bin Salim Ar-Ruhaili حفظه لله تعالى
〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله الذي علَّمَ القرآن و علَّم الإنسانَ ما لم يعلَم
وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم عدد من تعلم و علم اما بعد

Ikhwātil Kirām A’ādzakumullāh.

In syā Allāh dalam sepuluh pertemuan ini kita akan membahas beberapa hal yang berkaitan dengan Fiqih Mu’āmalah Al-Māliyyah (فقة المعاملة المالية). Fiqih mu’amalah yang berkaitan dengan harta atau yang dikenal dengan Fiqih Jual Beli.

Dan in syā Allāh ada dua pembahasan yang akan kita bahas dalam sepuluh pertemuan ini.

⑴ Pembahasan yang berkaitan dengan kaidah-kaidah fiqih jual beli secara umum.
⑵ Di akhir pertemuan (tiga atau empat pertemuan terakhir) in syā Allāh kita akan membahas secara khusus kaidah atau hal yang berkaitan dengan riba.

Pembahasan ini Ana rangkum dari kitab Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili Hafizhahullāhu Ta’āla yaitu -قواعد المتعلقة بالبيوع- (kaidah-kaidah yang berkaitan dengan jual beli) dengan beberapa pengurangan dan beberapa tambahan yang juga Ana dapatkan dari tulisan Ustadz kita DR. Muhammad Arifin Baderi Hafizhahullāhu Ta’āla.

Pada pertemuan pertama ini, in syā Allāh kita akan membahas tentang kaidah pertama yang berkaitan dengan jual beli.

Kaidah pertama yang harus diketahui bagi setiap orang yang terjun atau yang melakukan transaksi jual beli adalah:

الأصل في البيوع الإباحة

▪︎ Hukum Asal Jual Beli

Hukum asal jual beli boleh dan halal.

Hukum asal jual beli itu dibolehkan.

Apa maksudnya?

Maksudnya adalah segala bentuk akad jual beli pada asalnya dibolehkan, kecuali ada alasan syar’i atau dalīl yang menjadikan akad tersebut terlarang.

Apa dalīl yang menunjukkan bahwasanya hukum jual beli itu dibolehkan?

Firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا …….

_”Dia-lah (Allāh) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untuk kalian…..”_ (QS. Al-Baqarah: 29)

Dari sini para ulama mengambil kaidah lain yaitu -الأصل في الأشياء نافعة الإباحة- Hukum asal sesuatu yang bermanfaat dibolehkan. Dan jual beli adalah sesuatu yang bermanfaat, maka jual beli hukumnya adalah halal.

Kemudian firman Allāh:

وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰاْۚ ……..

_”Allāh telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”_(QS. Al-Baqarah: 275)

Dalam ayat ini jelas bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan bahwasannya jual beli dihalalkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kemudian juga yang bisa kita jadikan dalīl yang menunjukkan bahwasanya hukum asal jual beli dibolehkan adalah perbuatan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, muamalah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan para sahabat dahulu.

Yang mana beliau alayhishshallatu wassalām dan para sahabat radhiyallāhu ‘anhum sudah biasa melakukan interaksi jual beli dan para sahabat tidak menanyakan kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tiap akad (transaksi) yang mereka kerjakan.

Ini menunjukkan bahwasanya mereka paham asal jual beli itu dibolehkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla sampai datang dalīl (Al-Qur’ān dan Sunnah), yang menunjukkan akad tersebut dilarang dalam Islām. Dan ini telah disepakati oleh para ulama.

Oleh karenanya ketika seseorang melakukan transaksi jual beli lalu datang orang yang mengatakan jual beli ini haram. Maka orang yang mengatakan haram yang harus mendatangkan dalīl.

Orang yang mengatakan jual beli tersebut haram yang harus mendatangkan dalīl, tidak bisa seorang datang kepada seorang penjual lalu bertanya: “Apakah jualan ini dibolehkan atau tidak?”

Lalu penjualnya mengatakan: “Menjual ini dibolehkan”.

Lalu kita bertanya kepada penjual: “Mana dalīl yang membolehkannya?”

Karena asal jual beli itu dibolehkan. Maka yang harus mendatangkan dalīl adalah orang yang menyelisihi hukum asal.

Di antara sebab-sebab terlarang sebuah akad jual beli, kita katakan di awal bahwasanya hukum asal jual beli dibolehkan. Maka ketika ada dalīl yang menunjukkan bahwasanya jual beli tersebut terlarang, maka berubahlah hukum jual beli tadi dari boleh menjadi terlarang.

Diantara sebab-sebab terlarangnya sebuah akad jual beli adalah:

⑴ Apabila objek yang diperjual belikan haram dalam syari’at.

Seperti (misalkan):

‌Seorang menjual seekor babi.
‌Seorang menjual khamr.
‌Seorang menjual alat-alat musik.

Maka dalam hal ini jual belinya terlarang.

Dalīlnya apa?

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى إِذَا حَرَّمَ شَيْئًا حَرَّمَ ثَمَنَهُ

_”Allāh Subhānahu wa Ta’āla ketika melarang (mengharamkan) hambanya ketika memakan sesuatu, maka Allāh mengharamkan harganya (jual belinya).”_

(HR. Ad Daruquthni 3: 7 dan Ibnu Hibban 11: 312. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Ini menunjukkan bahwasanya tidak boleh untuk memperjual-belikan barang yang haram.

⑵ Riba

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰاْۚ

_”Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”_ (QS. Al-Baqarah: 275)

Yang mana nanti (in syā Allāh) kita akan membahas masalah riba secara khusus.

⑶ Apabila akad tersebut membawakan kepada perselisihan.

Pada asalnya semua akad yang membawa kepada perselisihan tidak boleh untuk dilakukan, seperti misalnya gharar.

نَهَى رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ عن بَيْعِ الغَرَرِ.

_”Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam melarang dari jual beli gharar.”_

(HR Muslim, Kitab Al-Buyu, Bab: Buthlaan Bai Al-Hashah wal Bai Alladzi Fihi Gharar, 1513)

Jual beli gharar yaitu jual beli yang tidak jelas, kenapa? karena hal ini bisa menyebabkan perselisihan nantinya.

Seorang mengatakan (misalkan):

“Saya beli mobilmu dengan harga sesuai dengan harta saya yang ada di bank”.

Penjual tidak tahu berapa uang yang dia (si pembeli) miliki di bank. Maka ini jatuh kepada gharar (tidak jelas berapa hartanya). Jual beli seperti ini akan menimbulkan perselisihan. Maka pada asalnya tidak diperbolehkan jual beli seperti ini dan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam melarang hal tersebut.

⑷ Akad yang mengandung kemudharatan

Ketika akad tersebut mengandung kemudharatan maka tidak boleh dilakukan jual beli.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

 لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

_”Tidak boleh menyebabkan kemudharatan untuk diri sendiri dan untuk orang lain.”_

⑸ Waktu transaksi

Waktu akad transaksi tersebut dilakukan, yaitu kapan? ketika shalat Jum’at.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْا۟ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُوا۟ ٱلْبَيْعَ

_”Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allāh dan tinggalkanlah jual beli.”_ (QS. Jumu’ah: 9)

Waktu transaksi bisa menyebabkan terlarangnya jual beli.

⑹ Tempat Transaksi

Tidak boleh seseorang melakukan transaksi jual beli di masjid.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِي الْمَسْجِدِ فَقُولُوا لاَ أَرْبَحَ اللَّهُ تِجَارَتَكَ

_”Apabila kalian melihat seseorang menjual atau membeli di masjid maka katakan kepadanya ‘Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak memberikan keuntungan kepadamu.”_

(Hadīts shahīh riwayat At-Tirmidzi nomor 1321)

Begitu juga diriwayatkan dari Atha bin Yassar rahimahullāh ketika dia melihat seseorang melakukan transaksi jual beli maka beliau berkata kepada orang tersebut:

عليك بسوق الدنيا وإنما هذا سوق الآخرة

_”Jika kamu ingin jual beli pergilah ke pasar dunia karena sesungguhnya tempat ini (masjid) adalah pasar untuk mencari akhirat.”_

⑺ Saddu Dzari’ah

Saddu Dzari’ah adalah menutup jalan kepada sesuatu yang haram.

Terlarangnya jual beli disebabkan ketika transaksi tersebut membawa kepada sesuatu yang haram maka ini tidak boleh kita lakukan.

Seperti misalkan:

‌Menjual angur kepada orang yang membuat khamr.
‌Menjual pisau kepada orang yang kita lihat ingin membunuh seseorang.

Maka jual beli kala itu tidak diperbolehkan, karena untuk menutup celah kemaksiatan atau untuk menutup jalan menuju sesuatu yang haram.

Wallāhu Ta’āla A’lam.

Kita cukupkan sampai di sini, in syā Allāh kita lanjutkan pada pertemuan selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمّد وعلى آله وصحبه و سلم
ثم و السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

____________________