Halaqah 09: Hukum Orang Awwam Menafsirkan Al-Qurān

🎙 Ustadz Setiawan Tugiyono, M.HI حفظه لله تعالى
📗 Kitāb Al-Qawā’id Al-Ushūliyyah wa Al-Fiqhiyyah Al-Muta’alliqah bil Muslim Ghairil Mujtahid (القواعد الأصولية و الفقهيه المتعلقة بالمسلم غير المجتهد)
〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمدلله رب الـعـالـمـيـن و الصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين أمام بعد

Masih kita membahas kaidah-kaidah ushul dan kaidah-kaidah fiqih yang berkaitan dengan orang awwam, pembahasan atau tema yang perlu diketahui oleh orang awwam.

Masih bersama buku karangan Prof Dr Sa’ad Nashir bin Abdil Aziz Asy-Syatsri hafizhahullāhu ta’āla, mantan anggota Hay’at Kibar Al-‘Ulama ( هيئة كبار العلماء) di Kerajaan Saudi Arabia.

Tema yang akan kita angkat pada pertemuan yang kesembilan pada kajian sepuluh ini, adalah:

تفسير العامي للقرآن

*▪︎ Hukum Orang Awwam Menafsirkan Al-Qurān*

Hukum orang awwam menafsirkan Al-Qurān atau hukum orang awwam memahami (menafsirkan) Hadīts.

*Bagaimana hukum orang awwam menafsirkan Al-Qurān dan Hadīts?*

Dikatakan di sini :

لكون العامي لا يملك الآلة التي يستطيع بها تفسير كلام الله عز وجل حرم عليه أن يفسر القرآن

Kita tahu bahwa orang awwam tidak memiliki perangkat (ilmu alat) untuk menyimpulkan hukum. Sebagaimana pembahasan yang lalu bahwa orang itu terbagi menjadi dua, ada mujtahid dan muqallid.

• _Mujtahid, berarti dia mempunyai perangkat ilmu alat dan yang lainnya, untuk menyimpulkan hukum secara sendiri._

• _Muqallid (orang awwam) dia tidak mempunyai alat, tidak mempunyai perangkat sehingga untuk mengetahui hukum syar’i dia harus bertanya kepada orang lain._

*Sebagian ulama membaginya menjadi tiga tingkatan, yaitu:*

⑴ Mujtahid.
⑵ Muqallid.
⑶ Muttabi’ (tingkatan antara mujtahid dan muqallid)

• _Muttabi’ adalah orang yang sejatinya, levelnya orang awwam tetapi dia mengikuti pendapat seorang ulama dan dia tahu dalīl yang digunakan_.

Thayyib, kembali ke masalah orang awwam, kita paham bahwa orang awwam, dia tidak mempunyai ilmu alat yang dengannya dia bisa memahami atau menafsirkan firman Allāh (Al-Qurān).

Dia tidak mempunyai ilmu, kalau dia tidak mempunyai ilmu dan tidak mempunyai alat maka haram baginya untuk menafsirkan Al-Qur’an.

برأيه بلا مستند شرعي

Haram atau terlarang baginya untuk menafsirkan Al-Qurān dengan akalnya, dengan pendapatnya sendiri, dengan logikanya tanpa menyandarkan dengan dalīl syar’i.

*Penjelasan ulama seperti apa?*
*Penjelasan hadīts bagaimana?*
*Penjelasan sahabat seperti apa?*

Tidak boleh dia membawa ayat Al-Qurān kemudian dia tafsirkan sendiri.

Menafsirkan firman Allāh sendiri tanpa kaidah-kaidah syar’i, ini bagian berkata-kata tentang Allāh pada permasalahan yang tidak didasari ilmu. Berstatement tapi tidak ada landasan ilmunya, tidak ada argumen yang dibenarkan secara syari’at, yang demikian haram hukumnya.

Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ {الأعراف: ٣٣}

_Wahai Muhammad, katakanlah, “Tuhanku (Allāh Subhānahu wa Ta’āla) mengharamkan segala perbuatan yang keji (الْفَوَاحِشَ) yang terlihat maupun yang tersembunyi, juga mengharamkan perbuatan dosa, Allāh mengharamkan perbuatan zhalim tanpa ada alasan yang benar, dan mengharamkan orang-orang yang menyekutukan Allāh dengan sesuatu, sedangkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak menurunkan alasan untuk itu, dan Allāh mengharamkan kamu berkata-kata tentang Allāh apa yang tidak kamu ketahui.”_

(QS. Al-Ar’āf : 33)

Berkata-kata atau berbicara tentang Allāh masuk di sini menafsirkan ayat-ayat Al-Qurān.

Contoh (misalnya):

Allāh memaksudkan satu ayat Al-Qurān adalah perkara A atau B, kemudian orang yang tidak mempunyai ilmu menafsirkan perkara C.

Maka orang ini sama saja dengan -أَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ – kalian berkata-kata (berbicara) tentang Allāh, padahal kalian tidak mengetahuinya.

Juga dalam sebuah hadīts, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

_”Barangsiapa yang berkata-kata yang berkaitan dengan Al-Qurān (menafsirkan Al-Qurān) tanpa ilmu, maka hendaklah dia duduk di neraka.”_

(Hadīts riwayat Imam Ahmad 1/233 hal 2069)

Di dalam hadits lain Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَن قَالَ في القُرآنِ برَأيِه فأَصَابَ فَقَد أَخْطَأ

_”Barangsiapa yang berkata-kata (menafsirkan Al-Qurān) dengan logikanya sendiri, walau tafsirannya benar, maka dia telah sesat.”_

(Hadīts riwayat Imam An-Nassā’i dalam kitab Al-Kubra 5/ 31 hal 886)

Walau pun menafsirkan ayat tersebut benar, tapi jika landasan penafsirannya adalah akalnya sendiri, maka dia tetap keliru karena dia tidak menggunakan kaidah yang benar.

Jadi teman-teman sekalian.

Kita yang tidak mempunyai latar belakang ilmu tafsir ‘Ulumul Qur’ān, kita orang awwam dalam tema ini. Maka tidak boleh kita sembarangan menafsirkan ayat Al-Qur’ān dan juga masuk pada tema ini adalah menafsirkan hadīts (mensyarah hadīts) tanpa kita tahu apa sababun wurudnya atau apa maksudnya.

*Maka yang lebih selamat bagaimana?*

Yang lebih selamat adalah, jika kita ingin menyampaikan makna dari Al-Qurān, kita baca tafsir Al-Qurān saja.

Banyak tafsir ringkas, ada kitab Tafsir Muyassar (terjemahannya sudah banyak) Mukhtashar Tafsir (ringkasan tafsir) terjemahannya sudah ada, atau buku-buku tafsir ringkas yang lain (tafsir jalalain) dan yang lainnya, atau buku-buku tafsir yang sudah banyak beredar (tafsir Ibnu Katsir, tafsir Al-Baghawi dan yang lainnya).

Misalnya ingin menyampaikan makna dari suatu ayat, maka kutiplah penjelasan dari ulama tafsir yang sudah kompeten dibidangnya, jangan dipahami sendiri dan jangan pula ditafsirkan sendiri.

Bagi yang demikian maka dia diancam dengan ancaman, nanti akan disediakan tempat duduknya di neraka. Wal-‘Iyadzubillāh

Mungkin itu yang bisa kita sampaikan.

Wallāhu Ta’āla A’lam Bishawab.

____________________