Home > Silsilah Aqidah > Fadhlul Islām > Halaqah 99 | Pembahasan Dalil Terakhir Atsar Ibnu Mas’ud

Halaqah 99 | Pembahasan Dalil Terakhir Atsar Ibnu Mas’ud

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Kitāb Fadhlul Islām
🖊 Ilmiyyah.com
〰〰〰〰〰〰〰

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-99 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Atsar yang terakhir yang disebutkan oleh beliau didalam bab ini, dan ini adalah atsar yang terakhir dalam kitab ini yaitu atsar dari Abdullah bin Mas’ud

وَقَالَ الدَّارِمِيُّ

Berkata ad-Darimiy yaitu didalam sunannya

أَخْبَرَنَا الحَكَمُ بْنُ المُبَارَكِ، أَنبَأَنَا عَمْرُو بْنُ يَحْيَى، قَالَ: سَمِعْتُ أَبِي، يُحَدِّثُ، عَنْ أَبِيهِ

Berkata ad-Darimiy, telah mengabarkan kepada kami Al-Hakam ibnul mubarok, telah mengabarkan kepada kami ‘Amr ibn Yahya, beliau mengatakan aku mendengar bapakku menceritakan dari bapaknya, berarti kakek dari ‘Amr ibn Yahya. Ini adalah lafadz yang disebutkan oleh ad-Darimiy.

Kemudian beliau mengatakan

قَالَ: كُنَّا نَجْلِسُ عَلَى بَابِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
قَالَ: كُنَّا نَجْلِسُ

Beliau menceritakan kami sedang duduk

عَلَى بَابِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

kami sedang duduk di depan pintunya Abdullah bin Mas’ud, berati bukan hanya sendiri saat itu, dia dan juga para thullabul ‘ilm yang lain duduk bersama di depan pintunya Abdullah bin Mas’ud

قَبْلَ صَلَاةِ الغَدَاةِ

yaitu sebelum datangnya waktu shalat subuh, sebelum shalat subuh mereka sudah menunggu di depan rumahnya Abdullah bin Mas’ud ingin mengambil faedah dari perjalanan beliau dari rumahnya menuju ke masjid

فَإِذَا خَرَجَ؛ مَشَيْنَا مَعَهُ إِلَى المَسْجِدِ

Apabila beliau keluar maka kami biasanya berjalan bersama beliu menuju ke masjid, tentunya dengan dhawabit yang disebutkan Syaikh Sholeh al-Ushaimi hafidzahullāhu ta’ala, jangan sampai kita mentaḥrij beliau sehingga justru malah menyusahkan beliu dalam berjalan, seharusnya bisa berjalan lancar dengan cepat justru karena saling berdesak-desakan malah justru bukan menghormati beliau tapi menghinakan ‘alim tersebut, sendalnya copot misalnya, sampai jatuh, kesandung-sandung, ini bukan ihtirām tapi justru ihana kepada ‘alim tersebut

فَجَاءَنَا أَبُو مُوسَى الأَشْعَرِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

kemudian ketika kami dalam keadaan seperti itu datanglah Abu Musa Al Asy’ari, dan Abu Musa Al Asy’ari saat itu adalah sebagai Hakim, beliau sebagai Amir dan Abdullah bin Mas’ud sebagai ‘ālimnya, muftinya, dua-duanya adalah dua sahabat Nabi ﷺ, di kufah maka Abu Musa sebagai amirnya dan Abdullah bin Mas’ud di sini sebagai Muftinya.

Datang amir ini, gubernurnya datang sebelum subuh ke rumah Abdullah bin Mas’ud kemudian dia bertanya

فَقَالَ: أَخَرَجَ إِلَيْكُمْ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ؟

Apakah Abu ‘Abdurrahmān sudah keluar kepada kalian, berarti Abu Musa Al Asy’ari tahu kebiasaan murid-muridnya Abdullah bin Mas’ud di waktu tersebut, yaitu menunggu keluarnya Abdullah bin Mas’ud dan ini menunjukkan bahwasanya Amir tadi juga bangun sebelum subuh, ini zaman yang penuh dengan kebaikan saat itu, baik hukkamnya mahkumnya semuanya di atas ketakwaan kepada Allāh ﷻ

قُلْنَا: لَا

kami mengatakan belum keluar

فَجَلَسَ مَعَنَا

maka Abu Musa Al Asy’ari ikut duduk bersama kami, bukan terus misalnya gedor pintu karena beliau adalah gubernur kemudian semaunya saja membangunkan orang atau menyuruh orang lain keluar, tidak. Tawadhu’nya beliau, beliau juga ikut menunggu bersama murid-muridnya Abdullah bin Mas’ud

فَجَلَسَ مَعَنَا

beliau pun duduk bersama kami menunjukkan keutamaan Abu Musa Al Asy’ari

فَلَمَّا خَرَجَ؛ قُمْنَا إِلَيْهِ جَمِيعًا

maka ketika beliau keluar akhirnya kami menyambut beliau semuanya, قُمْنَا إِلَيْهِ maksudnya berdiri kepada beliau, berarti berjalan menuju beliau, ini tidak masalah, yang dilarang kalau sampai alqiyāmu lahu, berdiri karena beliau.

Misalnya ada orang berjalan, dianggap dia adalah orang yang terhormat, sebelumnya kita duduk kemudian kita berdiri lahu ini tidak boleh, tapi kalau alqiyamu ilaihi, bangun ilaihi maksudnya menyambut beliau tidak masalah, kita sedang duduk di rumah kalau ada tamu kita berdiri menyambut beliau di pintu tidak masalah.

Mereka akhirnya berdiri ilaihi, yaitu bangun menuju kepada Abdullah bin Mas’ud

فَقَالَ لَهُ أَبُو مُوسَى

maka berkata kepadanya Abu Musa

يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ! إِنِّي رَأَيْتُ فِي المَسْجِدِ آنِفًا أَمْرًا أَنْكَرْتُهُ

Wahai Abu Abdurrahman, kunyah dari Abdullah bin Mas’ud, sesungguhnya aku baru saja melihat di masjid, berarti sebelumnya Abu Musa Al Asy’ari seorang gubernur di waktu tersebut berada di dalam masjid, aku melihat di sana ada sebuah perkara yang aku ingkari, maksudnya adalah tidak pernah aku melihatnya baik bersama Rasulullāh ﷺ, bersama kalian wahai para sahabat, أَنْكَرْتُهُ aku tidak pernah melihat yang demikian

وَلَمْ أَرَ – وَالحَمْدُ لِلَّهِ – إِلَّا خَيْرًا

dan Alhamdulillah aku tidak melihat kecuali kebaikan, Abu Musa Al Asy’ari tidak ada melihat di sana orang yang main musik atau orang yang minum-minuman keras di waktu sebelum subuh tadi tapi mereka di dalam mesdjid dalam keadaan beribadah, ini menunjukkan bagaimana kesungguhan diwaktu seperti itu mungkin jam 2, jam 1, mereka dalam keadaan berkumpul di mesjid melakukan ibadah tadi

قَالَ: فَمَا هُوَ؟

Abdullah bin Mas’ud mengatakan فَمَا هُوَ apa yang engkau lihat tadi

فَقَالَ: إِنْ عِشْتَ فَسَتَرَاهُ

Abu Musa mengatakan kalau engkau masih hidup niscaya engkau akan melihat yang demikian, ini menunjukkan bagaimana ketergantungan para sahabat Nabi ﷺ sampai perjalanan dari rumah menuju mesjid tidak yakin kalau itu mereka masih bisa hidup sampai sana, sehingga mengatakan إِنْ عِشْتَ kalau engkau masih hidup engkau akan melihatnya. Bagaimana mereka terus memikirkan al-maut sehingga tidak yakin bahwa dia akan masih dalam keadaan hidup meskipun hanya jaraknya dekat antara rumah dengan masjid.

قَالَ: رَأَيْتُ فِي المَسْجِدِ قَوْمًا حِلَقًا جُلُوسًا

Maksud ucapan beliau ini إِنْ عِشْتَ فَسَتَرَاهُ maksudnya engkau akan melihat sendiri bagaimana hakikatnya, hakikat dari apa yang aku lihat tadi, kemudian beliau menceritakan gambaran, inilah yang aku lihat tadi

رَأَيْتُ فِي المَسْجِدِ قَوْمًا حِلَقًا جُلُوسًا

Aku melihat di dalam mesjid sebuah kaum yang mereka membuat halaqah-halaqah, lingkaran-lingkaran جُلُوسًا mereka membuat lingkaran dalam keadaan mereka duduk, bukan dalam keadaan berdiri tapi dalam keadaan duduk dan melingkar dan itu ada beberapa halaqah

يَنْتَظِرُونَ الصَّلَاةَ

mereka dalam keadaan menunggu shalat (subuh)

فِي كُلِّ حَلْقَةٍ رَجُل

di dalam setiap halaqah tadi ada seseorang laki-laki, dianggap dia adalah sebagai pemimpinya

وَفِي أَيْدِيهِمْ حصًا

dan di dalam tangan-tangan mereka ada kerikil-kerikil

فَيَقُولُ

kemudian laki-laki yang ada di dalam setiap halaqah tadi yang di jadikan pemimpin dia mengatakan

كَبِّرُوا مِائَةً

Hendaklah kalian bertakbir 100 kali

فَيُكَبِّرُونَ مِائَةً

akhirnya yang lain yang ada di halaqah tadi mengucapkan takbir 100 kali sesuai dengan aba-aba yang diucapkan oleh laki-laki tadi dan mereka menghitungnya dengan kerikil-kerikil tadi, Allāhu Akbar Allāhu Akbar Allāhu Akbar Allāhu Akbar Allāhu Akbar dan seterusnya masing-masing sudah punya hitungan sendiri-sendiri

فَيَقُولُ: هَلِّلُوا مِائَةً

kemudian dia mengatakan هَلِّلُوا مِائَةً hendaklah kalian bertahlil 100 kali

فَيُهَلِّلُونَ مِائَةً

kemudian mereka mengucapkan lāilāhaillallāh 100 kali

وَيَقُولُ: سَبِّحُوا مِائَةً

kemudian dia mengatakan hendaklah kalian bertasbih 100 kali

فَيُسَبِّحُونَ مِائَةً

kemudian mereka bertasbih 100 kali

قَالَ: «فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ؟

Ketika mendengar kisah ini maka Abdullah bin Mas’ud bertanya kepada Abu Musa, karena beliau yang melihat dan beliau sebagai Amir kūfah

فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ؟

Apa yang engkau ucapkan kepada mereka, sebagai seorang Amir sebagai seorang pemimpin

قَالَ: مَا قُلْتُ لَهُمْ شَيْئًا انْتِظَارَ رَأْيِكَ

Aku tidak mengucapkan bagi mereka sesuatu apapun karena menunggu pendapatmu, ini menunjukkan kehati-hatian Abu Musa Al Asy’ari, karena beliau melihat di situ tahlil takbir tasbih, mereka bukan main musik di masjid bukan minum minuman keras tapi mereka melakukan ibadah maka beliau menunggu pendapat dari Abdullah bin Mas’ud.

Yang menjadi sesuatu yang sangat disayangkan di sini, lihat bagaimana meremehkannya mereka terhadap sahabat Nabi ﷺ, di situ ada Abu Musa Al Asy’ari, orang yang pernah bertemu dengan Rasulullāh ﷺ, ada di masjid tersebut dan mereka berani untuk membuat bid’ah di dalam agama, kenapa mereka tidak bertanya kepada Abu Musa apakah demikian dulu Nabi ﷺ, apakah demikian dulu para sahabat Nabi ﷺ, ini menunjukkan di dalam hati mereka ada marādh (penyakit), menganggap remeh para sahabat Nabi ﷺ, nanti akan sampai bagaimana akibat dari bid’ah yang kecil ini

قَالَ: «أَفَلَا أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمْ

Apakah engkau tidak memerintahkan mereka untuk menghitung saja kejelekan-kejelekan mereka, daripada mereka melakukan amalan-amalan tadi menghitung tasbih 100 kali takbir 100 kali tahlil 100 kali kenapa tidak ditunjukkan kepada sesuatu yang bermanfaat bagi mereka, yaitu muhasabah diri mereka, menghitung kejelekan-kejelekan mereka, menghitung dosa-dosa

وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِهِمْ

Dan engkau menjamin bagi mereka bahwasanya tidak akan hilang kebaikan mereka sekecil apapun. Seandainya antum tidak menghitung shalat fardu yang selama ini antum lakukan dari semenjak baligh sampai sekarang, antum lupa berapa kali antum shalat fardhu, seandainya antum lupa berapa kali antum mengucapkan lailahaillallāh sejak pertama kali antum mengucapkan sampai sekarang, hilang tidak pahalanya, tidak.

Kalau kita tidak menghitung kebaikan-kebaikan tersebut jangan khawatir itu tidak akan disia-siakan oleh Allāh ﷻ tidak akan dihilangkan oleh Allāh ﷻ, makanya di sini disebutkan

وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِهِمْ

seandainya kita tidak menghitung 100, 1000 atau berapa kali kita melakukan amal shaleh tersebut jangan khawatir, Allāh ﷻ tidak akan menghilangkan, tidak akan menyia-nyiakan amal shaleh tersebut. Ini lebih bermanfaat, jadi yang lebih bermanfaat seseorang adalah memuhasabah, menghitung kejelekan-kejelekan yang sudah dia lakukan, berapa kali ana melakukan dosa ini sehingga dengan dia mengingat dosanya dan semakin banyak dia mengingat dosanya semakin dia merasa takut, semakin dia memperbanyak istighfar, ini yang bermanfaat bagi seseorang, bukan dengan menghitung kebaikan-kebaikan tadi.

Ini menunjukkan fiqh dari Abdullah bin Mas’ud, yang lebih bermanfaat bagi mereka yaitu memuhasabah diri menghitung dosa-dosanya, adapun kebaikan-kebaikan tadi maka jangan khawatir itu tidak akan disia-siakan oleh Allāh ﷻ

ثُمَّ مَضَى

akhirnya beliau berjalan menuju ke masjid

وَمَضَيْنَا مَعَهُ

Dan kamipun berjalan bersama beliau, ingin tahu apa yang akan terjadi, apa yang akan dilakukan oleh ālim kūfah kepada orang-orang tadi, ini diantara faedah melazimi seorang ālim, dia tahu apa yang terjadi, coba seandainya dia tidur di rumahnya tidak tahu apa yang terjadi, dan dia bisa mengambil faedah apa yang terjadi pada Abu Musa Al Asy’ari, tawadhu’nya beliau dan apa ucapan atau percakapan antara Abu Musa Al Asy’ari dengan Abdullah bin Mas’ud dan apa yang terjadi sebelum subuh, ini menunjukkan berkahnya waktu tersebut sehingga bisa disampaikan kisah ini kepada kita, seandainya Amr bin Salamah dan juga yang lain ini mereka dalam keadaan terlelap dengan selimutnya maka mungkin kisah ini tidak akan sampai kepada kita, tapi mereka adalah kaum yang memang Allāh ﷻ berikan kepada mereka keutamaan yang besar dan keutamaan yang banyak.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *