Home > Silsilah Aqidah > Fadhlul Islām > Halaqah 97 | Pembahasan Dalil Pertama Hadits Irbadh Bag 02

Halaqah 97 | Pembahasan Dalil Pertama Hadits Irbadh Bag 02

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Kitāb Fadhlul Islām
🖊 Ilmiyyah.com
〰〰〰〰〰〰〰

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-97 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Kemudian setelah itu Beliau ﷺ mengatakan

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي

maka sesungguhnya orang yang hidup di antara kalian akan melihat perselisihan yang banyak, ini adalah kabar dari Nabi ﷺ tentang ilmu yang ghaib, menunjukkan tentang tanda kenabian Beliau ﷺ, akan terjadi perselisihan, tafarruq, perpecahan umat, dan perpecahan di sini bukan perpecahan yang qalīlan tapi disifati oleh Beliau ﷺ dengan ikhtilāfan katsīran, banyak sekali perselisihan yang membingungkan manusia, semakin banyak perselisihan semakin membuat mereka bingung.

Yang ini mengajak, yang itu menyuruh, yang ini mengiming-imingi, di kelompok ini ada si fulan dan mereka adalah orang-orang yang dikenal dan dia tahu, dalam keadaan dia bingung, tidak tahu mana yang harus dipilih dan apa yang harus dilakukan, tapi Nabi ﷺ memberikan petunjuk, bagaimanapun banyak perselisihan tadi tenang, karena Beliau ﷺ memberikan petunjuknya dan itu adalah jalan keselamatan yang kita yakini dengan seyakin-yakinnya. Beliau ﷺ mengatakan

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي

Maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku, ini adalah jalan keluar, kalau terjadi perselisihan yang banyak maka tidak usah kita ke mana-mana jalan keluarnya adalah dengan berpegang teguh dengan sunnah Rasulullāh ﷺ, dan sunnah Beliau ﷺ maksudnya adalah agama Beliau ﷺ yaitu berpegang teguh dengan Islam yang murni yang dibawa oleh Nabi ﷺ.

Maka inilah jalan keluar, bukan jalan keluarnya seperti dilakukan oleh sebagian mengatakan bahwasanya semua jalan-jalan tadi adalah benar, silakan antum mau mengambil yang ini atau yang itu semuanya adalah benar, atau jalan keluarnya kita saling memberikan udzur satu dengan yang lain di dalam apa yang kita perselisihkan, tidak usah mengatakan bahwasanya itu adalah aliran sesat, tidak usah mengingatkan manusia bahwasanya ini adalah aliran yang tidak benar, sudahlah kita saling memberikan unsur satu dengan yang lain, dengan demikian kita akan bersatu. Ini seakan-akan adalah solusi banyak orang yang tertipu dengan kalimat persaudaraan, tertipu dengan kalimat persamaan, dan itu ternyata bukan bukan solusi.

Kalau demikian caranya, termasuk diantaranya adalah presidensial kita antara muwahhidin dengan musyrikin, antara ahlus sunnah dengan ahlul bid’ah, dibiarkan dan didiamkan, maka ini yang pertama kita meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar, dan tentunya ini adalah menyelisihi apa yang diperintahkan di dalam Al-Quran maupun di dalam as-sunnah. Kalau kita diam membiarkan kesyirikan, membiarkan kebid’ahan maka berarti kita meninggalkan apa yang diperintahkan oleh Allāh ﷻ dan Rasul-Nya yang menyuruh kita untuk beramar ma’ruf nahi mungkar.

Dan dengan amar ma’ruf nahi mungkar kita menjadi umat yang terbaik,

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ

dan dengannya kita selamat

إِلَّا قَلِيلٗا مِّمَّنۡ أَنجَيۡنَا مِنۡهُمۡۗ

dan dengannya seseorang mendapatkan al-falah di dunia maupun di akhirat

وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ١٠٤
[Aali Imrān: 104]

Dan merekalah orang-orang yang beruntung. Dan ini adalah sifat orang-orang yang beriman sebagaimana dalam Al-Quran

وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ [ التوبة:71

Ketika didiamkan kebid’ahan tadi, kesyirikan tadi berarti dia memadamkan syiar amar ma’ruf nahi mungkar, dan ini adalah sebab turunnya laknat Allāh ﷻ

لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبۡنِ مَرۡيَمَۚ ذَٰلِكَ
بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعۡتَدُونَ ٧٨كَانُواْ لَا يَتَنَاهَوۡنَ عَن مُّنكَرٖ فَعَلُوهُۚ
[Al-Maidah 78-79]

Mereka dahulu tidak saling melarang dari kemungkaran.

Bukan itu cara penyelesaiannya dan bukan itu cara menyatukan umat. Caranya adalah dengan yang ditunjukkan oleh Nabi ﷺ di sini, kalau memang terjadi perselisihan ayo kita

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي

Tidak usah berselisih, kita semuanya kembali kepada sunnah Rasulullāh ﷺ, berpegang dengan Islam yang murni yang dibawa oleh Beliau ﷺ. Inilah cara untuk mengatasi perselisihan tadi, kita kembali kepada jalan yang sudah ditempuh oleh Nabi ﷺ. Yang melenceng ke kanan kembali ke tengah, yang melenceng ke kiri kembali ke tengah, dengan demikian kita akan berkumpul dan bersatu di tengah, di jalan Nabi ﷺ kemudian kita jalan bareng, itulah cara bersatu yang benar.

Ada pun membiarkan mereka diatas subul (jalannya) masing-masing maka ini membiarkan mereka di atas kesesatan, mendiamkan kemungkaran yang ada pada diri mereka. Ini bukan penyelesaian, bahkan dengan sebab ini mereka akan mendapatkan kehinaan, musuh akan menganggap remeh mereka.

Disebutkan dalam hadits, apabila kalian sudah saling berjual beli dengan ‘inah, salah satu jenis jual beli riba, dan kalian mulai memegang ekor-ekor sapi, maksudnya adalah sibuk dengan dunia kalian, dan kalian meninggalkan jihad fīsabilillāh, termasuk diantara jihad adalah jihad bil ‘ilm (dengan cara dakwah), maka ini adalah sebab Allāh ﷻ akan menjadikan, menguasakan kepada kalian dzullan, yaitu kehinaan, karena tidak ada amar ma’ruf nahi mungkar.

Maka kita akan diliputi oleh kehinaan, kerendahan, dan Allāh ﷻ tidak akan mengangkat kerendahan dan kehinaan tadi sampai kalian kembali kepada agama kalian, kembali setelah sebelumnya kalian menjauh dari jalan yang lurus yang ditempuh oleh Nabi ﷺ, kembali kepada jalan yang lurus, kembali kepada Islam yang murni, itulah cara bersatu

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي

Maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku

وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ المَهْدِيِّينَ

sunnah para khulafā’ yang mereka disifati, yang pertama rāsyidīn maksudnya adalah orang yang berilmu lurus dengan sebab ilmu yang mereka miliki, kemudian al-mahdiyyīn mereka adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.

Ilmu yang mereka miliki mengantarkan mereka untuk mengamalkan, oleh karena itu khulafā’ ar rāsyidīn al-mahdiyyīn terkumpul di dalam diri mereka ilmu dan juga amalan dan ini adalah sesuatu yang jarang. Jarang seorang pemimpin dia sekaligus sebagai seorang yang ‘alim dan sekaligus dia adalah seorang yang ‘āmil ini adalah perkara yang jarang, biasanya seorang pemimpin sibuk dengan dunianya, tidak memiliki ilmu atau memiliki ilmu sedikit, mengamalkan juga seadanya, sibuk dengan urusan dunianya.

Tapi kalau seorang pemimpin sampai terkumpul di dalamnya ilmu yang luar biasa dan juga mereka adalah orang yang sangat mengamalkan ilmunya maka inilah orang-orang yang pilihan, dan demikian sifat para khulafā’ur rāsyidīn al-mahdiyyīn, mereka adalah Abu bakar, Umar, Utsman, dan juga Ali. Kalau kita kembali kepada sirah mereka kita, dapatkan tentang ilmu mereka yang dalam di dalam masalah agama dan amal juga demikian.

Maka kita disuruh untuk berpegang teguh dengan sunnah mereka, sunnah mereka adalah supaya kita berpegang teguh dengan sunnah Rasulullāh ﷺ. Itulah jalan hidup para khulafā’ur rāsyidīn, jalan hidup mereka adalah bagaimana mengikuti sunnah Rasulullāh ﷺ. Jangan dipahami bahwasanya mereka punya sunnah sendiri selain dari sunnah Nabi ﷺ, bahkan sunnah mereka adalah bagaimana mengikuti sunnah Rasulullāh ﷺ.

Kemudian Beliau ﷺ mengatakan sama aku lihat lah

تَمَسَّكُوا بِهَا

Hendaklah kalian berpegang teguh dengannya, تَمَسَّك yaitu dengan tangan kalian

وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

dan gigitlah sunnahku tadi dengan gigi geraham kalian. تَمَسَّكُوا kita disuruh untuk memegang, tidak melepaskannya, ditambah lagi lebih menguatkan bukan hanya sekedar dipegang tapi juga digigit dan digigitnya bukan dengan sembarang giginya tapi dengan gigi geraham.

Maka ini adalah penguatan setelah penguatan, disuruh kita untuk berpegang teguh dengan sunnah Nabi ﷺ dan ini adalah bisa kita pahami dari perintah untuk berpegang teguh dengan sunnah, peringatan dari melakukan bid’ah. Kita harus pegang, kita harus gigit jangan sampai kita berpaling kemudian kita lepaskan dan lebih kita memilih melakukan bid’ah di dalam agama, kita harus kuat didalam memegang sunnah ini.

Kemudian yang kedua

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ

dan hati-hati kalian dari perkara-perkara yang diada-adakan, dan kalimat wa iyyākum maknanya adalah tahdzir, hati-hati, menunjukkan bahwasanya perkara yang setelahnya adalah perkara yang jelek yang bisa membahayakan kita, sehingga Nabi ﷺ mengatakan wa iyyākum, hati-hati kalian, waspadalah kalian dari perkara-perkara yang diada-adakan, yaitu perkara yang baru, tidak ada di dalam sunnah Nabi ﷺ itu namanya مُحْدَثَات

Disana ada agama Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ, disana ada perkara yang baru yang datang setelah agama Islam tadi, dinamakan dengan مُحْدَثَات الأُمُور. Beliau ﷺ mengatakan wa iyyākum, hati-hati, ini adalah segi yang kedua menunjukkan tentang tahdzir dari bid’ah, peringatan dari bid’ah itu sendiri.

فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ

Karena sesungguhnya setiap sesuatu yang baru, yang tidak diajarkan oleh Nabi ﷺ, tidak dilakukan oleh para Khulafaur Rasyidin maka itu dinamakan dengan bid’ah, segala sesuatu yang baru yang tidak diajarkan oleh Nabi ﷺ dan juga para sahabatnya khususnya para Khulafaur Rasyidin maka itu dinamakan dengan bid’ah

وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

dan setiap bid’ah maka itu adalah sesat dan di dalam riwayat yang lain wa kulla dholālatin finnār dan setiap yang sesat itu tempat kembalinya di neraka, tentunya ini adalah juga tahdzir dari bid’ah.

Segi yang ketiga karena Nabi ﷺ mensifati bid’ah ini adalah sebuah kesesatan, berarti dari tiga sisi, minimal pertama dari sabda Beliau ﷺ

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي

kemudian yang kedua adalah dari ucapan Beliau ﷺ

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ

kemudian dari ucapan Beliau ﷺ

وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

semuanya adalah ta’kid diatas ta’kid, penguatan dan penguatan selanjutnya tentang peringatan dari bid’ah, dan mungkin saja bisa dimasukkan di dalam kalimat

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ

hendaklah kalian bertakwa kepada Allāh ﷻ, masuk di dalamnya adalah menjauhi bid’ah.

Hadits ini diriwayatkan oleh Tirmidzi

وَقَالَ التِّرْمِذِيُّ: «هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

dan di sana ada imam-imam yang lain juga yang meriwayatkan hadits ini, dan termasuk diantaranya adalah Abu Daud, Tirmidzi dan juga Ibnu Majah

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *