Home > Grup Islam Sunnah > Kitab Sifat Shalat Nabi ﷺ > Halaqah 30 – Pembahasan Sutrah Dalam Sholat Bag 04

Halaqah 30 – Pembahasan Sutrah Dalam Sholat Bag 04

🌍 Grup Islam Sunnah | GiS
🎙 Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny M.A.
📗 صفة صلاة النبي ﷺ من التكبير إلى التسليم كأنك تراها
📝 Syaikh Al-Albani رحمه الله
~~~•~~~•~~~•~~~•~~~

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه

Kaum muslimin dan muslimat yang saya cintai karena Allah, khususnya anggota GiS atau Grup Islam Sunnah yang semoga dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’Ala.

Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama mengkaji sebuah kitab yang sangat bagus yang ditulis oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah, yakni kitab Sifat Shalat Nabi atau sebagaimana judul aslinya Shifatu Shalatin Nabiyyi Shallallahu ‘Alaihi sa Sallam Minattakbiri ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi Mulai dari Takbir sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya).

Baiklah, kita lanjutkan kajian kita.

Pada kesempatan kali ini adalah pembahasan tentang masalah sutrah.

Beliau juga pernah bersabda tentang masalah sutrah ini. Dan ini menunjukkan bahwa orang yang berjalan di depan orang yang shalat maka dia berdosa.

Rasulullah bersabda,

لو يعلم المار بين يدي المصلي ماذا عليه; لكان أن يقف أربعين خيرا له من أن يمر بين يديه

Seandainya orang yang berjalan di depan orang yang shalat tahu dosanya, maka dia lebih memilih untuk untuk berhenti selama 40 (ada riwayat yang mengatakan 40 tahun) daripada dia harus berjalan di depan orang yang shalat.

Ini menunjukkan bahwa berjalan di depan orang yang shalat itu perbuatan dosa. Oleh karenanya, kalau dia tahu bahwa hal tersebut dosa dan dosanya besar, maka harusnya dia memilih berhenti walaupun sampai 40 tahun daripada dia harus berjalan di depan orang yang shalat.

Ustadz, kalau keadaanya darurat bagaimana Ustadz? Sudah kebelet, kalau tidak maka akan ada mudhorat yang lebih besar, masjidnya jadi najis. Kalau demikian, kita perintahkan orang yang shalat untuk maju ke depan. Kalau dia tidak mau bagaimana Ustadz? Belum sampai ilmunya, dorong aja ke depan, didorong ke depan kemudian kita lewat.

Bagaimana dengan sutrah-sutrah yang dibuat di masjid-masjid sekarang, ada beberapa masjid yang memberikan atau membuat sutrah-sutrah agar dipakai untuk orang-orang yang ingin mengambil sutrah di dalam shalatnya?

Ada beberapa fatwa dari para Masyaikh yang membid’ahkan hal tersebut. Bahwa perbuatan membuat sutrah atau menyediakan sutrah di masjid, itu adalah perbuatan bid’ah. Dengan alasan bahwa di zaman-zaman dahulu tidak ditemukan praktek-praktek seperti itu. Dan ini masalah ibadah, sehingga apabila di zaman dahulu tidak ada dan sekarang ada maka itu adalah bid’ah.

Dan ini merupakan tindakan takalluf (memberat-beratkan diri dalam masalah ibadah).

Namun ada sebagian ulama yang mengatakan itu bukan bid’ah. Dan ini pendapat yang saya lihat lebih kuat.
Pendapat yang mengatakan bahwa pembuatan sutrah-sutrah tersebut di masjid-masjid bukanlah bid’ah. Karena pembuatan sutrah tersebut adalah usaha untuk menyediakan sarana bagi orang yang ingin menjalankan sunnah.

Dan ini banyak terjadi pada selain sutrah, dan sama sekali bukan takalluf atau memberat-beratkan diri. Karena hal tersebut sangat mudah bagi orang sekarang.

Hal ini seperti adanya banyak mikrofon di dalam masjid. Di zaman dahulu tidak ada, dan di zaman sekarang banyak. Walaupun bisa dijawab, (bahwa) di zaman dahulu kan tidak bisa Ustadz orang bikin mikrofon. Kita katakan lagi, kalau seperti itu berarti bisa disamakan dengan rak-rak untuk tempat (misalnya) mushaf. Di zaman dahulu tidak ada rak-rak tersebut.
Ustadz, di zaman dulu mungkin ada. Kita katakan, masih ada banyak hal-hal yang demikian. Seperti misalnya kotak amal. Kotak amal di dalam masjid di zaman dahulu kita tidak lihat, tapi di zaman sekarang banyak.

Kalau ditanya misalnya, di zaman Nabi adakah kotak amal? Orang akan mengatakan tidak ada. Di zaman para sahabat juga demikian. Tapi sekarang ada. Kotak amal ini juga sarana untuk beramal. Pembuatan sarana agar kaum muslimin lebih mudah ketika ingin berinfak untuk masjid. Sehingga pembuatan sarana seperti ini bukanlah bid’ah.

Ini bukan bid’ah, ini sarana untuk melakukan amalan-amalan yang mulia, yang disunnahkan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Dan ini tidak takalluf.

Seperti misalnya, pembuatan meja-meja untuk orang-orang yang ingin ngaji di masjid. Di zaman dahulu juga tidak kita temukan. Sekarang banyak meja-meja kecil yang (digunakan) untuk kita membaca Al-Qur’an. Ini juga sarana. Padahal membaca juga bisa dengan tangan, tapi disediakan meja-meja seperti itu. Ada yang bentuknya silang sehingga mudah untuk dilipat, ada yang benar-benar bentuknya seperti meja dan bisa dilipat juga. Di zaman dahulu juga jarang ada, di zaman sekarang banyak terjadi. Dan ini sarana untuk memudahkan seseorang dalam beribadah, sehingga tidak masuk dalam kategori bid’ah.

Bahkan di zaman dahulu banyak orang yang tidak tahu masalah sutrah ini sama sekali, tahunya ketika ada sutrah-sutrah yang dibuat tersebut. Sehingga kurang tepat apabila sutrah ini dikategorikan sebagai bid’ah. Dan juga kurang tepat apabila sutrah dimasukkan dalam bab takalluf (memberat beratkan diri dalam melakukan amalan ibadah).

Ini tidak berat sama sekali. Siapa yang merasa keberatan untuk membuat sutrah? Orang-orang sekarang sangat mudah membuat sutrah. Yang lebih berat dari sutrah saja mereka buat dan tidak dikatakan takalluf sama sekali. Seperti membuat meja untuk membaca Al-Qur’an, ini lebih berat, lebih susah dibuat daripada membuat sutrah, tapi tidak dikatakan takalluf.

Kotak amal, yang berkeliling di masjid-masjid sekarang, ini lebih susah membuatnya daripada sutrah. Tapi tidak dikatakan takalluf, karena itu memang sarana yang diberikan oleh sebagian kaum muslimin untuk melakukan amalan-amalan ibadah, tindakan untuk memudahkan seseorang untuk beribadah.

Dan biasanya bid’ah itu memberatkan, bukan malah memudahkan. Bid’ah itu biasanya memberatkan, kalau ini malah memudahkan, sehingga saya lebih condong pendapat sebagian ulama yang mengatakan bahwa pembuatan sutrah tersebut bukanlah bid’ah.

Demikian yang bisa Ana sampaikan pada kesempatan kali ini. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semuanya.

Mudah-mudahan diberkahi oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan mudah-mudahan bisa kita terapkan dalam kehidupan kita.

Wallahu ta’ala a’lam

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين ..

والْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته


image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top