Home > Grup Islam Sunnah > Kitab Sifat Shalat Nabi ﷺ > Halaqah 12 – Menghadap Kiblat Pada Sholat Sunnah Bag 02

Halaqah 12 – Menghadap Kiblat Pada Sholat Sunnah Bag 02

🌍 Grup Islam Sunnah | GiS
🎙 Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny M.A.
📗 صفة صلاة النبي ﷺ من التكبير إلى التسليم كأنك تراها
📝 Syaikh Al-Albani رحمه الله
~~~•~~~•~~~•~~~•~~~

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله و صحبه و من تبع هداه

Kaum muslimin dan muslimat yang saya cintai karena Allah, khususnya anggota GiS atau Grup Islam Sunnah yang semoga dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama mengkaji sebuah kitab yang sangat bagus yang ditulis oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah, yakni kitab Sifat Shalat Nabi atau sebagaimana judul aslinya Shifatu Shalatin Nabiyyi Shallallahu ‘Alaihi sa Sallam Minattakbiri ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi Mulai dari takbir sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya).

Baiklah kita lanjutkan kajian kita.

Para ulama mensyaratkan shalat di atas kendaraan adalah shalat sunnah bukan shalat fardhu, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Dan di antara salat sunnah tersebut adalah shalat witir karena rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa shalat witir diatas kendaraan. Ini menunjukan bahwa shalat witir seperti shalat-shalat sunnah yang lainnya, walaupun shalat witir ini adalah shalat sunnah yang mu’akkadah (sunnah kuat).

Mengenai hal itu turunlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا۟ فَثَمَّ وَجْهُ ٱللّهِ ۚ

Kemanapun kamu menghadap disanalah Wajah Allah.

(QS Al Baqarah: 115)

Ini dalil bahwa kita shalat sunnah boleh menghadap kemanapun ketika di atas kendaraan. Jangan sampai nanti keluar dari masjid ini kemudian shalatnya menghadap kebanyak arah, karena di sini kita harus melihat yang sesuai dengan haditsnya. Kalau kita shalat di tempat, bukan di atas kendaraannya, walaupun shalat sunnah kita harus menghadap ke kiblat. Kalau di atas kendaraan baru bisa mengamalkan hadits tersebut, shalat sunnah yang di atas kendaraan.

Yang diperselisihkan oleh para ulama, apakah di atas kendaraannya harus shafar?

Shafar di sini apakah harus perjalanan panjang?

Ataukah perjalanan pendek juga boleh?

Ini yang diperselisihkan oleh para ulama.

Kenapa mereka berbeda pendapat?

Karena haditsnya mengatakan shafar.

Yang mengatakan tidak harus shafar, mereka mengambil dalil di dalam ayat-Nya :

فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا۟ فَثَمَّ وَجْهُ ٱللّهِ

Kemanapun kamu menghadap disanalah wajah Allah.

Ayatnya umum, sedangkan di haditsnya ada ta’qid (pembatasan) yaitu shafar. Karena inilah para ulama berbeda pendapat.

Yang lebih kuat dan dirajihkan oleh banyak ulama kontemporer saat ini adalah dibolehkan kita menghadap ke manapun ketika shalat sunnah di atas kendaraan, walaupun kita tidak sedang dalam keadaan shafar. Dibolehkan karena ayat-Nya:

فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا۟ فَثَمَّ وَجْهُ ٱللّهِ

Kemanapun kamu menghadap disanalah Wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maksudnya Wajah Allah di sini adalah arah Allah Subhanahu wa Ta’ala, arah yang di dibolehkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan kata-kata wajah Allah di sini menunjukkan bahwa Allah punya Wajah. Adapun bagaimana Wajah-Nya maka ini tidak ada keterangan sedikitpun. Sehingga kita harus berhenti di sana.

Ini adalah sesuatu yang ghaib, harus berdasarkan dalil. Ketika dalil menetapkannya maka kita tetapkan. Sedangkan bagaimana hakikat dari sifat tersebut maka kita tidak boleh mereka-rekanya.
Seperti misalnya Allah berada di atas Arsy, kita tetapkan sebagaimana ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hakekatnya memang demikian, Allah berada di atas Arys. Bagaimana hakikat Allah berada diatas Arsy, Allah tidak mengabarkan kepada kita, Rasulullah tidak mengabarkan kepada kita. Sehingga kita berhenti di sana. Inilah keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah (ahli salaf). Orang-orang yang mengikuti para shahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam keyakinannya demikian.

Mereka menetapkan apapun yang ditetapkan oleh Allah dan rasul-Nya, tanpa mentakwilnya. Kecuali jika ada dalil untuk ditakwilkan
Tetapi kalau tidak ada dalil, maka kita tetapkan dengan apa adanya, dengan tetap menjaga kemuliaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjaga kesucian-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala punya Wajah, kita punya wajah, tapi wajah kita jauh dengan
Wajah Allah. Allah jauh lebih mulia, jauh lebih suci, jauh lebih sempurna.

Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala mendengar, kita juga mendengar tapi pendengaran kita jauh dibanding pendengaran Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pendengaran Allah jauh lebih sempurna, pendengaran Allah lebih suci, pendengaran Allah lebih tinggi. Berbeda dengan pendengaran kita yang terbatas.

Begitu pula Allah melihat kita, dua-duanya sama-sama melihat tapi ini bukan menyamakan antara Allah dengan makhluk-Nya karena kita masih membedakan bahwa penglihatan Allah jauh lebih sempurna, jauh lebih kuat daripada penglihatan makhluk-Nya.

Makanya Allah melihat apapun yang ada di muka bumi ini, apapun yang ada di alam semesta, walaupun gelap, walaupun kecil, walaupun tertimbun, Allah melihat semuanya.

Berbeda dengan penglihatan makhluk-Nya, penglihatan makhluk sangat terbatas. Kalau tidak ada cahaya tidak bisa melihat. Inilah aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah dalam memahami sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Intinya ketika kita shalat sunah di atas kendaraan kita boleh menghadap ke manapun kendaraan menuju dan ini adalah kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini bentuk ringannya syariat Islam sehingga kita bisa shalat di atas kendaraan. Karena shalat ini ibadah yang sangat dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika kita ingin shalat misalnya di dalam kemacetan kita ingat shalat sunnah.

Misalnya kita di dalam kemacetan sudah berangkat sebelum waktu Dhuha masuk di dalam kemacetan kita perkirakan kemacetan kita akan keluar dari kemacetan setelah shalat duha waktu shalat dhuha selesai. Kita shalat dhuha di atas kendaraan. Tidak hanya shalat dhuha saja, shalat-shalat sunnah mutlak bisa dilakukan di atas kendaraan tanpa harus menghadap ke kiblat dahulu. Kalau bisa menghadap kiblat dahulu itu lebih lebih baik.

Demikianlah yang bisa kita kaji pada kesempatan kali ini semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan diberkahi oleh Allah Jalla wa ‘Ala. InsyaaAllah kita akan lanjutkan pada kesempatan yang akan datang.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top