Home > Belajar Islam > Pendidikan Anak > Anak-Anak Hasil Pendidikan Rabbani

Anak-Anak Hasil Pendidikan Rabbani

🌍 Belajar Islam
🎙 Ustadz Beni Sarbeni حفظه لله تعالى
📗 Pendidikan Anak
〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين أمَّا بعد

Para orang tua sekalian yang semoga diberkahi oleh Allah rabbul ‘alamin. Kali ini saya akan memberikan sebagian contoh diantara anak-anak hasil pendidikan rabbani:

Yang pertama, adalah seorang anak shahabat yang mulia Abdullah ibnu Zubair, seorang pemberani.

Abdullah bin Zubair dididik oleh bapaknya seorang Shahabat mulia yakni Zubair ibnu Awwam demikian ibunya Asma’, bahkan di bawah didikan bibinya yakni ‘Aisyah radiyallahu ta’ala anha ummul mu’minin, yang juga istri Rasulullahi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Begitu cintanya ‘Aisyah kepada keponakannya sampai-sampai dia membuat kun-yah untuk dirinya dengan sebutan Ummu Abdillah karena ‘Aisyah sendiri tidak dikaruniai anak.

Asma’ radiyallahu anha pernah berkata:

“Abdullah bin Zubair radiyallahu ta’ala anhu datang pada usia 7 atau 8 tahun kepada Rasulullahi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berbai’at kepadanya. Dan Zubairlah (bapaknya) yang memerintahkannya untuk hal itu,”

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum ketika melihat Abdullah datang, kemudian dia pun berbai’at kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Abdullah bin Zubair tidak diperdebatkan tentangnya dalam tiga perkara:

(1) Dalam keberaniannya, (2) Dalam ibadahnya, (3) Dalam kecakapannya berbahasa.

Abdullah ibnu Zubair seorang pemberani, karena ibunyapun adalah seorang pemberani. Dialah Asma’ binti Abi Bakrin seorang ibu yang mulia, seorang ibu yang pemberani.

Ketika anaknya itu wafat dibunuh oleh Al-Hajjaj, ‘Asma berkata:

وما يمنعني ، وقد أهدي رأس يحيى بن زكريا إلى بغي من بغايا بني إسرائيل

“Apa yang mencegahku, sementara kepala Yahyah bin Zakariya telah telah dihadiahkan kepada seorang dzalim diantara orang-orang dzalim dikalangan bani Israil.”

Dari kalimat diatas tampak jelas ketegaran dam keberanian seorang ibu. Terbunuhnya Abdullah ibnu Zubair tidak mengganggu hati sang pemberani yaitu Asma’ binti Abi Bakrin sebagai ibunya.

Bahkan ia merasa bangga, mati dijalan Allah subhanahu wa ta’ala,

“Jangankan putraku, seorang Nabi pun Yahaya ibnu Zakariya kepalanya itu dihadiahkan kepada seorang dzalim”

Inilah Abdullah ibnu Zubair, hasil pendidikan rabbani seorang ibu yang pemberani.

Yang kedua, adalah Umar bin Abdil Aziz, seorang khalifah yang dikenal dengan keshalihan dan keadilannya.

Umar bin Abdul Aziz adalah seorang khalifah yang adil, yang shalih. Lalu ada apa dibalik diri seorang Umar bin Abdul Aziz?

Ibunya adalah ummu ‘Asim binti ‘Asim, binti Umar Ibnu Khattab radiyallahu ta’ala anhu.

Jadi ibunya adalah ummu ‘Asim nama aslinya adalah Laila, putra dari ‘Asim. ‘Asim ini adalah putranya Umar ibnul Khattab.

Ketika Abdul Aziz bapaknya Umar ini hendak menikahi ummu ‘Asim atau Laila, dia berkata pada asistennya:

“Kumpulkan untukku uang sebanyak 400 dinar, dari harta yang baik yang aku miliki, karena aku akan menikahi wanita dari keluarga shalih.”

Lalu siapa Laila (ummu ‘Asim) ini?

Ummu ‘Asim adalah putranya ‘Asim, ibunya ummu Ammaroh, dialah si pemilik kisah tentang “penjual susu”.

Ummu Ammaroh ini (istrinya ‘Asim), adalah nenek dari Umar ibnu Abdil Aziz, dia adalah seorang penjual susu.

Dikisahkan pada masa Umar ibnul Khattab (ketika menjadi khalifah), sebagian para penjual susu itu biasa mencampur susunya dengan air agar menjadi lebih banyak.

Akhirnya kaum muslimin mengeluhkan hal itu, kemudian Umar bin Khattab radiyallahu ta’ala anhu mengutus seseorang agar memberikan maklumat.

“Wahai para penjual susu, janganlah kalian mencampur susu kalian dengan air, karena dengannya kalian telah menipu kaum muslimin. Dan barangsiapa melakukan hal itu, maka dia akan mendapatkan hukuman yang berat.”

Demikian maklumat Umar ibnu Khattab radiyallahu ta’ala.

Pada suatu malam Ummar bin Khattab seperti biasa, keluar bersama assistennya namanya Aslam untuk mencari tahu tentang keadaan kaum muslimin.

Ditengah perjalanan beliau istrahat sejenak dipinggir sebuah rumah, di balik bilik tiba-tiba beliau mendengar seorang wanita berkata:

“Anakku bangun dan campurlah susu itu dengan air!”

Lalu putrinya itu berkata:

“Wahai ibu tidakkah engkau tahu maklumat ketetapan amirul mukminin hari ini?”

Ibunya berkata:

“Apakah itu?”

Putrinya menjawab:

“Umar telah memerintahkan seseorang untuk mengumumkan bahwa tidak boleh mencampur air dengan susu.”

Lalu ibunya berkata:

“Wahai putriku, berdiri, bangun, campurkan susu itu dengan air, karena engkau ada ditempat yang tidak terlihat oleh Umar tidak pula oleh penyerunya Umar.”

Anak itu malah berkata:

“Demi Allah bagaimana aku menta’atinya (Umar) di depan khalayak ramai, sementara aku bermaksiat kepadanya ditempat tersembunyi. Seandainya Umar tidak melihat kita wahai ibuku, maka sungguh Tuhannya Umar, Tuhannya Amirul Mu’minin itu pasti melihat kita.”

Setelah mendengar hal itu, Umar yang ada di balik bilik itu merasa takjub dengan kewaraan anak tersebut, juga merasa takjub dengan rasa senantiasa diawasi oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Akhirnya Umar berkata:

“Wahai Aslam tandai pintu rumah ini dan kenali tempatnya!”, lalu pergilah Umar.

Dipagi hari Umar kembali berkata kepada Aslam:

“Wahai Aslam pergi ketempat itu, lihat siapa wanita itu dan anaknya, dan apakah wanita itu memiliki seorang suami?”

Akhirmya Aslam pergi ketempat tersebut, ia dapati wanita itu adalah wanita tua dengan putrinya Ummu Ammaroh namanya.

Tidak ada seorang lelaki pun bersama mereka berdua, artinya tidak punya seorang suami. Kemudian Aslam pun kembali mengabarkan kepada Umar akan hal itu.

Selanjutnya Umar memanggil putra-purtanya seraya berkata:

“Adakah diantara kalian yang membutuhkan seorang wanita agar aku menikahkannya?, seandainya bapakmu ada keinginan untuk menikah niscaya tidak akan ada seorangpun diantara kalian yang mendahului aku untuk menikahi wanita tersebut.”

Lalu putranya yaitu Abdullah bin Umar berkata:

“Aku sudah punya istri,”

Yang lain Abdurrahman pun berkata seperti yang dikataka oleh Abdullah ibnu Umar, kemudian anaknya yang ketiga namanya ‘Asim berkata:

“Wahai bapakku aku belum punya istri, maka nikahkanlah aku.”

Akhirnya Umar mengirim ‘Asim pada wanita itu, yaitu Ummu Ammaroh dan menikahkannya dengan ‘Asim. Dari pernikahan ‘Asim dengan ummu ‘Ammaroh ini, lahirlah seorang putri namanya Laila dan dari wanita itu lahirlah Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah yang adil yang shalih.

Para bapak dan ibu yang semoga dirahmati oleh Allah rabbul ‘alamin demikianlah sebagian kecil dari kisah pendidikan Rabban, dan pendidikan itu terkadang bukan hanya dengan kata-kata tapi dengan ke shalihan orang tua, dengan ke shalihan kita.

Semoga sedikit yang saya sampaikan ini menginspirasi kita dan memotivasi kita agar kita menjadi orang-orang yang shalih, orang tua yang shalih yang melahirkan anak-anak yang shalih.

Billahitaufik wal hidayah, hanya kepada Allah kita memohon taufik dan hidayah.

Akhukum fillah

Abu Sumayyah Beni Sarbeni

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *