Home > Belajar Islam > Pendidikan Anak > Tujuan Pendidikan Islam

Tujuan Pendidikan Islam

🌍 Belajar Islam
🎙 Ustadz Beni Sarbeni حفظه لله تعالى
📗 Pendidikan Anak
〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين أمَّا بعد

Saudara sekalian di grup Belajar Islam yang semoga diberkahi oleh Allah subhanahu wa ta’ala dimana saja berada, barokah artinya semakin hari semakin baik, semakin hari semakin dekat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, semakin hari semakin dimudahkan dalam segala urusan.

Berikut ini adalah materi pertama dari rangkaian materi-materi pendidikan yang akan saya sampaikan, harapan semoga materi ini memberikan tambahan ilmu bagi kita, dan kita pun mampu untuk mengamalkannya. Materi kali ini saya beri judul “Tujuan Pendidikan Islam”.

Secara umum ada dua hal yang akan saya jelaskan:

Pertama, penjelasan setiap kalimat dari judul di atas.

Kedua, jawaban atas sebuah pertanyaan, yakni “Apakah Tujuan Pendidikan Islam?”

Bagian pertama:

1. Tujuan, setiap program dan kegiatan mesti jelas tujuannya, karena tujuan tersebut mampu mengarahkan setiap langkah yang kita ayun, iapun merupakan pemicu sehingga kita memiliki tenaga kuat untuk melaksanakannya,

Kemudian setiap tujuan di dalam Islam mesti memiliki nilai Ubudiyyah (penghambaan kita kepada Allah). Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam kitabnya al-Fawaid1 :

وقوله وإن إلى ربك المنتهى متضمن لكنز عظيم وهو أن كل مراد إن لم يرد لأجله ويتصل به فهو مضمحل منقطع فإنه ليس إليه المنتهى

“Dan firman Allah (yang artinya): ‘Bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu)’, ayat tersebut mengandung simpanan yang sangat agung, yaitu bahwa segala capaian yang tidak ditujukan karena Allah, dan tidak dikaitkan kepada-Nya, makai pasti ia akan hancur dan terputus, karena ‘ia tidak dikembalikan kepada-Nya’.”

2. Pendidikan, yang dalam bahasa arab disebut Tarbiyah. Imam al-Baidhawi rahimahullah dalam tafsirnya ketika menjelaskan kata tarbiyah beliau berkata:

تبليغ الشيء إلى كماله شيئاً فشيئاً

“Mengantarkan sesuatu menuju kesempurnaanya sedikit demi sedikit”2

Dari definisi di atas bisa kita ambil faidah bahwa, pendidikan itu harus mengandung beberapa komponen:
1). Proses, karena itu beliau mengatakan تبليغ (mengantarkan)
2). Harus memiliki target karena itu beliau mengatakan إلى كماله menuju kesempurnaanya, yaitu menuju kesempurnaan manusia yang nisbi (terbatas).
3). Bahwa proses pendidikan harus dilakukan secara bertahap atau tadarruj (sediki-demi sedikit), karena itu beliau mengatakan شيئاً فشيئاً.

3. Islam, secara bahasa Islam itu adalah Istislam berserah diri, adapun secara istilah adalah sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Muhammad at-Tamimi dalam kitabnya Tsalatsatul Ushul:

الاستسلام لله بالتوحيد، والانقياد له بالطاعة، والبراءة من الشرك وأهله

“Berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan Allah, tunduk patuh kepada Allah dengan mentaati-Nya, dan berlepas diri dari kesyirikan juga pelakunya”.3

Jika kita perhatikan definisi Islam sebagaimana diungkapkan di atas, maka bisa kita fahami bahwa inti dari agama Islam adalah at-Tauhid.

Inilah bagian pertama yang ingin saya jelaskan, yaitu penjelasan terkait kata yang menjadi penyusun judul yang saya sampaikan ini. Yaitu terkait dengan kata Tujuan, kata Pendidikan juga terkait kata Islam.

Bagian kedua, Apakah Tujuan Pendidikan Islam ?

Saudara sekalian di grup whatsapp Belajar Islam yang semoga dimulyakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, secara umum tujuan Pendidikan Islam adalah mewujudkan penghambaan hanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala, karena ialah tujuan penciptaan manusia, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ

“Dan tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah (mengabdi) kepada-Ku”. (QS. Ad-Dzariyat [51]: 56).

Doktor Majid Arsan al-Kailany dalam kitabnya Tathawwur Mafhum at-Tarbiyyah berkata:

Bahwa, diantara tujuan Pendidikan Islam (bahkan tujuan pokok dalam pendidikan Islam) adalah: “Mengenalkan manusia akan penciptanya, dan membangun hubungan diantara keduanya di atas pondasi Rabbaniyyatul Khaliq dan Ubudiyyatul Makhluk”.4

Jadi tujuan dari pada pendidikan islam adalah menancapkan nilai-nilai Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah, walaupun pada dasarnya Tauhid Rububiyyah itu sudah ada dalam fitrah setiap manusia. Keyakinan bahwa Allah sebagai Rabb, sebagai yang memiliki Alam semesta, yang mengatur alam semesta, yang menciptakan alam semesta itu sudah ada dalam fitrah setiap manusia.

Kemudian diantara tujuannya sebagaimana dikatakan oleh beliau adalah: Menjalin hubungan antara manusia dengan Allah di atas dasar Ubudiyyatul Makhluk artinya makhluk hanya beribadah kepada Allah, ini tujuan paling penting dalam pendidikan Islam dan itulah Tauhid.

Kemudian beliau berkata:

“Dan untuk membangun hubungan tersebut di atas dasar Ubudiyyah yang tulus, maka segala tujuan (pendidikan) mesti diikat dengan niat karena Allah dalam setiap aktivitas yang dilakukannya”.

Kemudian beliau menjelaskan bahwa, untuk membangun hubungan tersebut yaitu hubungan Ubudiyatul makhluk dengan Khalik ini, maka setiap aktivitas yang dilakukan oleh seorang hamba harus di ikat dengan niat karena Allah subhanahu wa ta’ala, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ

“Setiap amal itu tergantung niat.”

Maka setiap aktivitas peserta didik, setiap aktivitas anak-anak kita harus di ikat dengan niat tersebut, bahwa tidaklah aku belajar kecuali karena Allah, tidaklah aku makan kecuali karena Allah, tidaklah aku minum kecuali karena Allah, kenapa? karena sesungguhnya aku diciptakan oleh Allah hanya untuk ibadah kepada-Nya.

Selanjutnya jika dirinci kembali maka Tujuan Pendidikan Islam itu bisa dibagi menjadi tiga5:

1) Membentuk Pribadi ideal dengan memperhatikan perkembangan jasmani, akal dan ruh.

Islam memandang manusia itu secara sempurna, bahwa manusia terdiri dari jasmani, terdiri dari akal, terdiri dari ruh.

oleh karena itu tujuan pendidikan Islam secara rincinya adalah membentuk pribadi ideal dengan memperhatikan perkembangan jasmani, jasmaninya harus sehat, berkembang dengan baik dan seterusnya, akalnya pun demikian harus diberikan nutrisi yang baik, ruh nya pun demikian, bahkan ruh ini sangat penting.

2) Mengembangkan kemampuan ilmiyah, yakni dengan menggali kemampuan anak, mengembangkan dan mengajarkan kepadanya ilmu yang cocok untuknya (karena kemapuan tiap anak itu beragam), terutama ilmu-ilmu agama dan ilmu lain yang menjadi kecenderungannya, tentunya yang bermanfaat bagi umat.

Tujuan pendidikan dalam Islam, mengembangkan kemampuan ilmiah para peserta didik, diantara kewajiban orang tua sebagai pendidik pertama dalam sebuah bangunan keluarga adalah menggali kemampuan anak karena setiap anak itu beragam kemampuannya. Kemudian ketika dia sudah mendapatinya, maka diantara kewajibannya adalah mengembangkan dan menyampaikan kepadanya ilmu yang cocok untuknya, terutama ilmu agama, demikian pula ilmu-ilmu lain yang jadi kecendrungannya, tapi syaratnya bermanfaat. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

“Sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat untuk yang lainnya.”

3) Membentuk umat Islam, yang saling memberikan nasihat juga membawa risalah Islam untuk seluruh alam.

Tujuan pendidikan Islam, adalah membentuk umat Islam yang saling tanasuh (memberikan nasehat) karena الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ, agama adalah nasihat, juga membawa risalah Islam untuk seluruh alam, kenapa? karena diantara kewajiban kita agar kita keluar dari kerugian adalah:

وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ

“Saling berwasiat dengan kebenaran”

Maka dari ayat ini setiap muslim mesti memiliki peran dalam berda’wah, sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

Saudara-saudara sekalian, demikianlah materi pertama yang bisa saya sampaikan, semoga apa yang saya sampaikan ini bisa dipahami dengan baik dan tentunya bermanfaat.

Akhukum fillah
Abu Sumayyah Beni Sarbeni
________________________________________
[1] Imam Ibnul Qayyim dalam al-Fawaid (Beirut, Darul Kutub al-Ilmiyyah, 1973 ), hal. 202
[2] Al-Baidhawi, An-Warut Tanzil wa Asrarul Ta’wil, (Beirut: Dar Ihyaut Turats al-Arabi, 1996), jilid 1, hal. 28
[3] Syaikh Muhammad at-Tamimi, Tsalatsul Ushul (KSA, Wizaratus Su’un al-Islamiyyah, 1999), hal. 14
[4] Majid arsan Kailani dalam Tathawwur Mafhum an-Nazhariyyah at-Tarbiyyah al-Islamiyyah (Beirut, Dar Ibni Katsir, 1985), hal. 34
[5] Tulisan Prof, Dr, Khalid bin Abdillah bin Abdil Aziz al-Qasim dengan sedkit perubahan, bisa dilihat dalam https://www.alukah.net/culture/0/18838/#_ftn5

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *