Materi 07 | Kewajiban Mengamalkan Ilmu

🌍 Tarbiyah Sunnah Learning
🎙 Ustadz Abu Yahya Badrusalam حفظه لله تعالى
📗 Al-Ushulu Ats-Tsalasah
📝 Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ
〰〰〰〰〰〰〰

Ketahuilah oleh kalian bahwa wajib atas kita mempelajari 4 perkara dan mengamalkannya, yaitu

1. Berilmu
Tentang mengenal Allah ﷻ, tentang mengenal islam dan dalil-dalilnya dan tentang mengenal nabi Muhammad ﷺ .

2. Mengamalkan ilmu
Kalau kita sudah belajar, amalkan ilmu. Setiap ilmu itu akan ditanya oleh Allah ﷻ . Kita ini ilmunya masih di dalam dada, belum teraplikasi. Kita tahu bahwa tersenyum itu sedekah, tapi terkadang mau tersenyum sama orang saja susah, bisanya cemberut. Itu berati ilmu kita masih di dada kita tidak teraplikasikan dalam kehidupan kita. Sementara ilmu itu harus kita amalkan. Menebarkan salam, kita sudah tahu dalilnya, tapi untuk mengaplikasikannya susah, mengucapkan assalamualaikum itu susah. Kita tahu ghibah itu nggak boleh, nggak boleh ngomongin orang. Tapi kenapa kita terkadang masih ngomongin orang, bahkan kadang yang diomongin bukan cuma orang, ustadznyapun diomongin, padahal dia menuntut ilmu dari ustadznya. Tidakkah mereka takut pada firman Allah ﷻ “Hai orang-orang yang beriman mengapa kamu mengucapkan apa yang kamu tidak amalkan. Sungguh besar kemurkaan Allah ﷻ, kamu mengucapkan apa yang kamu tidak amalkan” (QS. Asshof : 3).

Padahal ilmu itu akan ditanya oleh Allah ﷻ pada hari kiamat. Jangan sampai ilmu menjadi bumerang untuk kita. Makanya Rasulullah bersabda “Alqur’an menjadi hujjah yang akan membela kamu pada hari kiamat atau alqur’an akan menjerumuskan kamu kedalam api neraka“. Kalo begitu saya takut, mending saya tidak menuntut ilmu. Saya takut nanti kalo saya nggak ngamalin ilmu, saya dosa. Mendingan saya ngga tahu jadi saya nggak dosa. Kalau begitu caranya, kenapa Allah ﷻ turunkan Alqur’an. Kalau begitu caranya kenapa Allah ﷻ turunkan nabi dan rasul, kenapa tidak Allah ﷻ biarkan manusia bodoh agar Allah ﷻ maafkan semua? Tidak, tetap kita diharuskan menuntut ilmu. Karena menuntut ilmu dan berilmu itu lebih jauh besar maslahatnya daripada kita jadi orang bodoh. Sebab kalau kita bodoh, kita sama dengan binatang ternak. Tapi dengan ilmu seorang hamba akan sampai kepada kemuliaannya apabila dia mengamalkan ilmunya tersebut. Ilmu bukan untuk disombongkan, bukan untuk dibanggakan. Janganlah seseorang mengatakan, saya kan sudah menuntut ilmu 10 tahun, 20 tahun. Bukan, bukan itu tujuan menuntut ilmu. Tujuan menuntut ilmu adalah untuk menambah rasa takut kita kepada Allah ﷻ. Tujuan menuntut ilmu adalah untuk menambah kita tawaddu’.

Sufyan Attsauri mengatakan “orang yang pertama kali menuntut ilmu akan sombong, kalau ilmunya mulai dalam, merunduk dia, tawaddu’, kalau dia melihat dan mengetahui betapa luasnya ilmu dan saking dalamnya ilmunya, dia merasa tidak punya apa apa“. Orang yang sombong itu menunjukkan ilmunya dangkal. Ilmu bukan untuk disombongkan, tapi untuk diamalkan. Anda sudah menuntut ilmu, tapi malah membuat anda merasa lebih hebat dari yang lainnya, berarti ilmu belum kita amalkan. Buktinya kita tahu ujub itu tidak boleh, tapi kita malah ujub, kita merasa bangga dengan banyaknya ilmu, merasa bangga dengan lamanya ngaji. Segera amalkan ilmu kita, aplikasikan dalam kehidupan. Sudahkah kita tawaddu’ dihadapan manusia. Maka dari itu yang kedua ilmu itu diamalkan.