Halaqah 14 : Buah Iman kepada Rasul dan Bantahan bagi yang Mengingkarinya
🌍 BimbinganIslam.com
🎙 Ustadz Afifi Abdul Wadud, BA حفظه لله تعالى
📗 Kitāb Syarhu Ushul Iman Nubdzah Fīl ‘Aqīdah (شرح أصول الإيمان نبذة في العقيدة)
📝 Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ
〰〰〰〰〰〰〰
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إن الحمد الله وصلاة وسلام على رسول الله وعلى آله واصحابه و من والاه، و لا حول ولا قوة إلا بالله اما بعد
Sahabat BiAS, kaum muslimin rahīmani wa rahīmakumullāh.
In syā Allāh kita melanjutkan pembahasan dari Risalah Syarah Ushul Iman Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullāhu ta’āla.
Dan kita In syā Allāh masuk pada pembahasan, beriman Kepada Rasul dan kita sampai pada pembahasan beberapa kriteria rasul yang kita sebutkan.
Beriman kepada rasul, meliputi empat perkara yang wajib kita imani, yaitu:
الإيمان بأن رسالتهم حق من الله تعالى
⑴ Beriman bahwa risalah para rasul haq (benar-benar) datang dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Sehingga barangsiapa yang dia mengingkari satu risalah maka sama dengan mengingkari semuanya.
Mengingkari satu rasul sama dengan mengingkari semuanya, karena semua rasul datang dari Allāh, membawa risalah dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan para rasul saling membenarkan satu dengan yang lain. Sehingga mendustakan satu rasul sama dengan mendustakan rasul-rasul yang lain.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla ketika mensifati kaumnya nabiyullāh Nuh.
Allāh mengungkapkan dengan kalimat :
كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوحٍ ٱلْمُرْسَلِينَ
_”Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.”_
(QS. Asy-Syu’ara: 105)
Kaumnya Nuh telah mendustakan ٱلْمُرْسَلِينَ (para utusan) yang didustakan oleh kaumnya Nuh, sesungguhnya satu yaitu nabiyullāh Nuh.
Tetapi Allāh bahasakan dengan ungkapan, “Kaumnya Nuh telah mendustakan semua para utusan”, sehingga Allāh jadikan pendustaan mereka kepada seorang rasul sama dengan pendustaan kepada semua para rasul yang lainnya.
Demikian pula orang yang mereka merasa mengimani nabiyullāh Isa alayhishshalātu wa salām, tetapi tidak mengimani Rasūlullāh Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Maka mereka dianggap telah mendustakan semua para rasul yang lainnya. Ini yang pertama.
الإيمان بمن علمنا اسمه منهم باسمه
⑵ Mengimani rasul-rasul yang namanya disebutkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla
Seperti rincian nama; Muhammad, Ibrahim, Musa, Isa, Nuh alayhishshalātu wassalām, ini semua nama-nama rasul dan masuk pada kelompok ulul azmi. Dan nama-nama ini wajib kita imani, karena Allāh telah menyebutkan sendiri berkaitan dengan nama-nama tersebut.
Sebagaimana disebutkan di dalam ayat, Allāh katakan:
وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ مِيثَـٰقَهُمْ وَمِنكَ وَمِن نُّوحٍۢ وَإِبْرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَى ٱبْنِ مَرْيَمَ ۖ وَأَخَذْنَا مِنْهُم مِّيثَـٰقًا غَلِيظًۭا
_”Dan ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh.”_
(QS. Al-Ahzab: 7)
Allāh mengambil dari mereka perjanjian dan Allāh sebutkan namanya (Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad).
Demikian pula Allāh sebutkan di dalam ayat yang lain, nama-nama tersebut. Sehingga apa yang Allāh sebutkan tentang namanya wajib kita imani.
Adapun apabila kita tidak mengetahui namanya, sedangkan jumlah rasul itu banyak, ada nama yang Allāh sebutkan dan ada yang tidak Allāh sebutkan namanya. Yang Allāh sebutkan namanya wajib kita imani secara terperinci sesuai dengan nama-nama yang Allāh sebutkan.
Adapun rasul yang tidak disebutkan namanya, maka kita mengimaninya dengan اِجْمَالاً (secara global)
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًۭا مِّن قَبْلِكَ مِنْهُم مَّن قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُم مَّن لَّمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ
_”Sungguh telah Kami utus beberapa rasul sebelumnya engkau ya Muhammad, sebagian dari mereka (utusan) ada yang Kami ceritakan kepadamu dan sebagian lagi tidak Kami ceritakan kepadamu.”_
(QS. Ghāfir: 78)
Sehingga rasul-rasul yang Allāh ceritakan disebutkan nama-namanya dengan rinci adapun yang Allāh tidak sebutkan namanya maka kita mengimaninya secara global.
تصديق ما صح عنهم من أخبارهم
⑶ Beriman kepada rasul itu wajib membenarkan khabar-khabar yang datang dari para nabi dan para rasul.
Apa yang disampaikan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan shahīh (wajib syarat riwayat itu shahīh) karena di zaman kita ini banyak riwayat hadīts yang maudhu (palsu) karena banyaknya para zindiq (para pemalsu hadīts, pemalsu riwayat), sehingga jihadnya para ulama adalah memisahkan riwayat yang shahīh, riwayat yang dhaif atau bahkan palsu.
Ketika riwayat itu telah shahīh dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam maka wajib bagi kita membenarkan, baik akal kita bisa menerima atau belum bisa menerima. Wajib kita membenarkan karena khabar itu datang dari orang yang paling jujur yang diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Dan Abū Bakar Ash-Shidiq, dikatakan ash-shidiq karena beliau senantiasa تصدق membenarkan khabar dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tanpa ada keraguan.
العمل بشريعة من أرسل إلينا
⑷ Kewajiban mengimani rasul itu meliputi mengamalkan syariat rasul yang diutus oleh Allāh kepada kita.
Kalau kerasulan kita adalah Rasūlullāh Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, Allāh mengutus Muhammad untuk semua manusia, maka wajib setiap kita untuk tunduk dan patuh kepada risalah yang dibawa oleh beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Jika tidak ada ketundukan, tidak ada kepatuhan kita kepada risalah yang beliau bawa, maka kita dianggap kafir atau munafik karena kita tidak mengimani atau tidak ada kepatuhan kepada risalah yang diajarkan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Ketika Allāh mensifati sifat orang-orang mukmin.
Allāh berfirman:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ
_”Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim dalam seluruh urusan kehidupan mereka”_
Kesiapan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjadi hakim untuk memutuskan perkara
ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًۭا مِّمَّا قَضَيْتَ
_”Lalu ketika mereka telah mendapatkan keputusan dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, mereka tidak merasa keberatan terhadap putusan yang telah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam berikan”_
وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًۭا
_”Dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”_
(QS. An-Nissā: 65)
Kemudian setelah kita mengenal nama-nama nabi dan rasul (ada nama nabi atau rasul yang tidak disebutkan) kemudian kisah-kisah mereka, bagaimana mereka betul-betul mengemban tugas, mengemban amanah risalah Allāh.
Maka dengan mengimani para rasul ini akan membuahkan satu ilmu pengetahuan untuk kita.
العلم برحمة الله تعالي وعنايته بعباده
① Dengan mengimani para rasul, kita akan mengetahui tentang rahmat Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan pertolongan Allāh kepada hamba-Nya
Dengan diutusnya rasul, yang membawa risalah, menjelaskan risalah, menjadi teladan sehingga para rasul ini betul-betul membimbing kita kepada jalan yang lurus. Kemudian menjelaskan bagaimana cara kita beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Karena akal kita tidak akan sanggup untuk merumuskan bagaimana cara kita beribadah kepada Allāh dengan benar.
② Ketika kita mengetahui tentang kehadiran Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, ini merupakan nikmat yang luar biasa yang akan mendorong kita untuk mensyukuri nikmat tersebut.
Apalagi kedatangan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah nikmat di atas segala nikmat. Nikmat itu jenisnya banyak tetapi nikmat risalah ini adalah nikmat di atas segala nikmat.
Sehingga Allāh mengatakan:
لَقَدْ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًۭا
_”Sungguh Allāh telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allāh mengutus di antara mereka seorang rasul.”_
(QS. Āli-Imrān: 164)
Sehingga kedatangan rasul ini merupakan sebuah kenikmatan khusus yang menjadikan kita betul-betul terbimbing, bagaimana hidup dengan benar.
③ Ketika kita mengetahui rasul, baik dari sifatnya, perjuangannya, dakwahnya, sepak terjangnya, maka akan tumbuh kecintaan kita kepada diri rasul tersebut.
Karena mereka adalah orang-orang yang telah sempurna melakukan penghambaan kepada Allāh dan memberikan perhatian yang besar kepada kita, menjelaskan risalah, memberikan teladan, bersabar dengan semua kesulitan yang mereka alami. Dalam rangka, agar kita mendapatkan hidayah Allāh Subhānahu wa Ta’āla, maka ini adalah yang akan tumbuh.
Sebagian orang yang menentang para rasul, mereka menyangka bahwa tidak layak kalau rasul itu dari kalangan manusia padahal yang paling layak, rasul itu dari kalangan manusia sehingga bahasanya dipahami, sifat karakternya bisa diikuti, dan tidak ada alasan untuk tidak bisa menghidupkan risalah mereka.
Maka Allah batalkan orang-orang yang mereka beranggapan bahwa rasul itu tidak layak dari kalangan manusia. Allāh lebih mengetahui, apa yang paling baik untuk kita sehingga rasul pun diutus dari kalangan manusia.
Seandainya di muka bumi ini ada malaikat yang berjalan pasti Allāh akan mengutus rasul dari kalangan malaikat. Tetapi penduduk di muka bumi ini adalah manusia, maka yang Allāh turunkan (utus) manusia untuk menjadi rasul, membimbing manusia.
Demikian semoga bermanfaat.
و صلى الله عليه وسلم الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
________________