Halaqah 08 : Iman dengan Nama dan Sifat Allāh ﷻ
🌍 BimbinganIslam.com
🎙 Ustadz Afifi Abdul Wadud, BA حفظه لله تعالى
📗 Kitāb Syarhu Ushul Iman Nubdzah Fīl ‘Aqīdah (شرح أصول الإيمان نبذة في العقيدة)
📝 Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ
〰〰〰〰〰〰〰
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إن الحمد الله وصلاة وسلام على رسول الله وعلى آله واصحابه و من والاه، و لا حول ولا قوة إلا بالله اما بعد
Alhamdulillāh, sahabat BiAS, kaum muslimin rahīmani wa rahīmakumullāh.
In syā Allāh, kita kembali melanjutkan pembahasan dari Risalah Syarah Ushul Iman Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullāhu ta’āla.
Kita kemarin telah sampai pada pembahasan tentang tauhīd atau mengimani Allāh Subhānahu wa Ta’āla (beriman kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla).
Mengimani Allāh meliputi:
√ Iman kepada wujud Allāh.
√ Iman kepada Rububiyyah Allāh.
√ Iman kepada Uluhiyyah Allāh
Dan kita sudah sampai pada tiga poin ini, dan in syā Allāh kita masuk pada pembahasan berikutnya, yaitu :
▪︎ Beriman Dengan Nama dan Sifat Allāh
Yang dimaksud dengan mengimani nama dan sifat Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah bahwasanya Al-Qur’ān menyebutkan tentang nama-nama dan sifat Allāh. Demikian pula dalam Hadīts nabi, juga menyebutkan tentang nama dan sifat Allāh Ta’āla.
Sehingga mengimani nama dan sifat Allāh artinya kita menetapkan dan mengimani semua nama-nama dan sifat-sifat yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’ān dan dijelaskan dalam hadīts Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam sesuai dengan keagungan Allāh Subhānahu wa Ta’āla, tanpa melakukan tamtsīl atau tasybih, menyerupakan Allāh dengan makhluk.
Karena memang Allāh لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌۭ (Allāh tidak serupa dengan sesuatu apapun) tanpa melakukan tahrīf, tanpa melakukan penyimpangan-penyimpangan makna.
Karena berarti ini dia sok lebih tahu dibandingkan dengan Allāh, seakan-akan Allāh bicara tidak sebagaimana hakikatnya. Sehingga perlu ditahrīf, ini adalah sebuah penyimpangan.
Dan tanpa melakukan ta’thīl yaitu penolakan terhadap nama dan sifat Allāh, karena bagaimana Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjelaskan, menetapkan nama dan sifat-Nya, lalu kita tolak?
Dan tanpa melakukan taqyīf yaitu memvisualisasikan (menggambarkan) bagaimananya, karena untuk menggambarkan bagaimananya, mesti kita melihat barangnya atau melihat yang serupa, untuk mendapatkan info yang akurat yang berkaitan dengan bagaimananya dzat tersebut.
Sedangkan Allāh, kita tidak melihat yang serupa dan tidak pula mendapatkan penjelasan tentang bagaimananya dzat Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Maka sekali lagi, bahwa mengimani nama dan sifat Allāh artinya kita menetapkan dan mengimani semua nama dan sifat yang telah Allāh sebutkan di dalam Al-Qur’ān dan Sunnah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
√Tanpa melakukan tasybih atau tamsīl.
√ Tanpa melakukan tahrīf.
√ Tanpa melakukan taqyīf.
√ Tanpa melakukan ta’thīl.
Inilah cara Ahlus Sunnah, para sahabat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, rasul dan para sahabat-Nya dan para ulama Salaf, mereka mengimani nama dan sifat Allāh Subhānahu wa Ta’āla
Dasar kita dalam mengimani nama dan sifat Allāh, tercantum dalam surat Al-A’rāf ayat 180.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:
وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ وَذَرُواْ ٱلَّذِينَ يُلۡحِدُونَ فِيٓ أَسۡمَٰٓئِهِۦۚ سَيُجۡزَوۡنَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ
_”Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla memiliki nama-nama yang indah, nama-nama indah itu artinya semua nama Allāh menunjukkan keindahan”_
(QS. Al-A’raf: 180)
Semua nama Allāh adalah indah, karena nama-nama itu adalah nama pilihan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Kemudian dikatakan husnā (حُسۡنَىٰ) jika setiap nama itu sekaligus mengandung sifat. Nama yang tidak mengandung sifat maka tidak dikatakan husnā.
Dan husnā adalah ta’nits dari ahsan (أحسن) yaitu di puncak keindahannya, di puncak kesempurnaan, ini sifatnya. Dan dikatakan husnā (حُسۡنَىٰ) apabila sifat itu menunjukkan tentang kesempurnaannya.
Sehingga apabila Allāh Subhānahu wa Ta’āla, memiliki nama الله yakni Al-Hayyu (الحيّ) dan sifat yang terkandung adalah Allāh Dzat yang Maha Hidup.
Dan kehidupan Allāh adalah kehidupan yang sempurna, kehidupan yang tidak mengenal kematian, kehidupan yang tidak berawal dari tidak ada, kehidupan yang kekal. Ini adalah kehidupan Allāh yang tidak dihinggapi rasa kantuk apalagi tidur. Ini adalah kesempurnaan sifat Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Allāh memiliki nama-nama dan sifat-sifat.
Kemudian, berapa jumlah nama dan sifat Allāh Subhānahu wa Ta’āla?
Di dalam hadīts Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyebutkan:
إِنَّ للهِ تِسْعَةُ وَ تِسْعِيْنَ اسْمًا
_”Allāh memiliki 99 (sembilan puluh sembilan) nama”_
مَنْ أحْصَاهَا دَخَلَ الجَنَّة
_’Barangsiapa yang mengihshā maka dia akan masuk surga”_
[Dikeluarkan Imam Bukhari, Kitabusy Syuruth, bab maa yajuuzu minasy syuruth …: 2376, dan Muslim Kitabudz Dzikri wad Du’a, bab asma` illah Ta’ala wa tadhlu man ahshaha: 2677]
Mengihshā (أحصا) artinya:
⑴ Dia mengetahui bahwa itu nama Allāh Ta’āla.
⑵ Dia paham makna nama Allāh tersebut yang mengandung sifat-sifat Allāh yang sempurna.
⑶ Dia beribadah kepada Allāh sesuai dengan kandungan nama tersebut.
Contoh (umpamanya):
Allāh memiliki nama Ar-Rahman (الرحمن), Ar-Rahman adalah nama Allāh Ta’āla. Kita tahu makna Ar-Rahman adalah Dzat yang Maha Pemurah. Dalam nama Allāh Ar-Rahman ini, mengandung sifat Allāh, Dzu Ar-Rahmah Al-Wāsi’ah (ذو الرحمة الواسعة) memiliki rahmat yang luas. Pemilik rahmat yang luas yang tanpa batas
Bagaimana ibadah kita kepada Allāh dengan nama Ar-Rahman yang sifatnya ذو الرحمة الواسعة tersebut?
⑴ Kita mencintai Allāh karena rahmat Allāh, meliputi semua hamba.
⑵ Kita tidak boleh putus asa dari rahmat Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Karena luasnya rahmat Allāh Ta’āla dan Allāh perintahkan demikian. Allāh melarang kita untuk tidak putus asa dari rahmat Allāh Subhānahu wa Ta’āla
Para pemirsa.
Maka orang yang melakukan tiga hal inilah yang dikatakan Man Ashā hā (من أحصاها) barang siapa yang mengihsā. Allāh memiliki 99 nama, barangsiapa dia mengihsā nama-nama tersebut maka akan masuk ke dalam surga.
Akan tetapi 99 nama ini bukanlah batasan jumlah nama dan sifat Allāh Ta’āla.
Kenapa, darimana kita tahu?
Dari sebuah hadīts Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, yang Nabi mengatakan dalam doanya.
اللهمّ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ
_”Ya Allāh, aku meminta kepada-Mu dengan seluruh nama yang Engkau miliki, nama-nama yang Engkau namai diri-Mu dengan nama-nama itu. Nama-nama yang Engkau ajarkan kepada salah seorang di antara hamba-Mu, nama yang Engkau turunkan di dalam kitāb-Mu atau nama yang Engkau simpan di ilmu ghaib-Mu.”_
(HR. Ahmad 6/247, di shahihkan oleh syekh Al Bani)
Nama yang Allāh simpan di ilmu ghaib-Nya kita tidak mengetahui, sehingga para ulama menjelaskan bahwa nama-nama Allāh dan sifat-sifat Allāh tidak terbatas, hanya Allāh yang mengetahuinya.
Sembilan puluh sembilan yang Allāh jelaskan itu terikat dengan kalimat tadi من أحصاها barangsiapa yang dia mengihsā, oleh karena itu jumlah nama-nama Allāh, kita kembalikan kepada Allāh, karena Allāh yang lebih tahu. Tetapi 99 nama itu bukanlah pembatasan jumlah daripada nama dan sifat Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan kita dengan nama-nama tersebut,
فَادْعُوهُ بِهَا
_”Berdoalah kepada Allāh dengan nama-nama Allāh Ta’āla”_
(QS. Al-A’raf: 180)
Berdoa kepada Allāh dengan nama-nama itu maksudnya,
⑴ Supaya kita bertawassul sebelum kita meminta kepada Allāh, hendaklah kita mengawali dengan menyebut nama-nama Allāh Ta’āla.
Ya Rahman, ya Rahīm, ya Ghafar, ya Tawwab dan seterusnya.
Baru kita mengajukan permintaan kepada Allāh Ta’āla.
⑵ Makna فَادْعُوهُ بِهَا, supaya kita beribadah kepada Allāh dengan kandungan nama tersebut.
Contoh di antaranya:
Ar-Rahman (الرحمن) bagaimana ibadah kita kepada Allāh, rahman?
Kita tidak boleh putus asa dari luasnya rahmat Allāh Ta’āla, sehingga bagaimana pun kita telah bergelimang dalam dosa dan maksiat, hendaklah kita tidak putus asa, hendaklah kita bertaubat kepada Allāh. Pasti Allāh akan mengampunkan kita.
Itulah makna Allāh memiliki nama-nama dan sifat yang kita diperintahkan berdoa kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Semoga bermanfaat.
و صلى الله عليه وسلم الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
________________