Home > Bimbingan Islam > Sirah Nabawiyyah > Bab 11 | Wafatnya Khadijah Radhiyallāhu ‘anhā Dan Abū Thalib (Bagian 2 dari 6)

Bab 11 | Wafatnya Khadijah Radhiyallāhu ‘anhā Dan Abū Thalib (Bagian 2 dari 6)

🌍 BimbinganIslam.com
🎙 Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه لله تعالى
📗 Sirah Nabawiyyah
~~~~~~~

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
​​​الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه

Sahabat BiAS yang semoga dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kisah berikutnya adalah kisah seseorang yang memiliki niat baik dan Allāh tunjukkan (beri petunjuk) kepada Islām.

Telah dijelaskan bahwasanya tuduhan kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah penyihir telah tersebar kemana-mana (seantero Jazirah Arab). Semuanya menuduh bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah seorang penyihir.

Tuduhan-tuduhan kepada Nabi adalah bahwa Nabi seorang dukun, Nabi seorang penyihir, Nabi adalah seorang penyair gila dan Nabi adalah tersihir.

إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا رَجُلًۭا مَّسْحُورًا

“Kamu tidak lain hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir.”

(QS Al Isrā’: 47)

Sampailah kepada seorang shahābat bernama Dhimād Al Azdi dimana dia mendengar bahwa di Mekkah ada seorang bernama Muhammad yang terkena sihir lalu dia menjadi gila.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما: أَنَّ ضِمَادًا قَدِمَ مَكَّةَ وكان مِنْ أَزْدِ شَنُوءَةَ، وكان يَرْقِي مِنْ هذه الرِّيحِ، فَسَمِعَ سُفَهَاءَ مِنْ أَهلِ مَكَّةَ يقولون: إِنَّ مُحَمَّدًا مَجْنُونٌ! فقال: لو أَنِّي رأَيْتُ هذا الرَّجُلَ، لَعَلَّ اللَّهَ يَشْفِيهِ عَلَى يَدَيَّ، قال: فَلَقِيَهُ فقال: يا مُحَمَّدُ، إِنِّي أَرْقِي مِنْ هذه الرِّيحِ، وإِنَّ اللَّهَ يَشْفِي على يَدِي مَنْ شَاءَ، فهل لك؟ فقال رسولُ اللَّه صلى الله عليه وسلم : «إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ ونَسْتَعِينُهُ، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فلا مُضِلَّ لهُ ، ومَنْ يُضْلِلْ فلا هَادِيَ لَه، وأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وحدهُ لا شريك له، وأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْدُ «قال فقال: أَعِدْ علَيَّ كلماتِكَ هولَاءِ، فأَعَادَهُنَّ عليه رَسولُ اللَّه صلى الله عليه وسلم ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، قال فقال: لقدْ سمِعْتُ قَوْلَ الْكَهَنَةِ، وقَوْلَ السَّحَرَةِ، وقَوْلَ الشُّعَرَاءِ، فما سَمِعْتُ مِثْلَ كَلِمَاتِكَ هؤلَاءِ، ولقد بَلَغْنَ نَاعُوسَ الْبَحْرِ، قال فقال: هاتِ يَدَكَ أُبَايِعْكَ عَلَى الْإِسْلَامِ، قَال: فَبَايَعَهُ

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā. Dia berkata:

Dhimād datang ke Mekkah dan dia adalah seorang yang bisa menyembuhkan penyakit gila. Maka dia mendengar penduduk kota Mekkah bahwa Muhammad gila.

Dia mempunyai niat baik, maka dia berkata:

“Semoga saya bertemu dengan Muhammad biar Allāh sembuhkan dia melalui saya.”

Maka Dhimād pun bertemu dengan Muhammad lalu berkata:

“Ya Muhammad, saya ini meruqyah orang gila dan sudah banyak orang sembuh karena saya. Maukah engkau aku obati ?”

( Itu riwayat Muslim, dalam riwayat Ahmad dari ibnu ‘Abbas:

فرأى رسول الله يَةِ وغلمان يتبعونه، فقال : يا محمد . إني أعالج من الجنون.

Maka dia melihat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan beberapa pemuda mengikuti Nabi, dia mengatakan:

“Wahai Muhammad, saya ini mengobati penyakit gila.” )

Maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

“Sesungguhnya segala puji adalah milik Allāh dan kami mohon pertolongan kepada Allāh, barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allāh maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allāh maka tidak ada yang bisa memberi petunjuk kepadanya. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Allāh saja, tidak ada sekutu baginya dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba-Nya dan RasulNya, kemudian daripada itu.”

(Nabi hanya menjawab dengan perkataan tersebut.)

Kata Dhimād:

“Yā Muhammad, ulangilah perkataanmu.”

Maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengulangi perkataan itu sampai 3 kali.

Maka dia berkata:

“Saya sudah mendengar perkataan para dukun, penyihir, penyair dan saya tidak pernah mendengar perkataan seperti perkataan engkau, wahai Muhammad.”

Kemudian dia (Dhimād) berkata:

“Mana tanganmu wahai Muhammad, saya akan bai’at engkau di atas Islām.”

Oleh karenanya terkadang perkara yang memberi kemudharatan menurut kita, ternyata dibalik itu ada manfaat.

Saya memiliki kisah nyata, ada seorang, dia sangat membenci dakwah sunnah karena mendengar berita yang tidak-tidak tentang sunnah, misal teroris dan lainnya.

Sampai-sampai dia mengumpulkan tanda tangan untuk menolak dakwah di suatu tempat, dan dia memiliki anak buah preman yang banyak, maka dakwah tidak bisa jalan karena semua ustadz dilarang oleh dia.

Suatu saat dia merobek iklan-iklan pengajian. Qaddarallāh dia melihat di robekan-robekan itu ada salah satu stasiun radio yang ada channelnya. Maka dia penasaran dan akhirnya mendengar sekali, dua kali, tiga kali. Dan sekarang malah dia yang mendukung dakwah sunnah sampai-sampai memberi makan seluruh yang hadir di kajian.

Kita jangan pesimis terhadap seseorang, bisa jadi Allāh membuka hatinya, yang awalnya menentang dakwah sekarang menjadi pendukung sunnah.

Sampai disini saja kajian kita, in syā Allāh besok kita lanjutkan yang benar datangnya dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan yang salah dari saya pribadi.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengampuni kita semua.

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

________

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *