Hadits Kedua | Penjelasan Tauhid Uluhiyyah (Bagian 02 dari 06)

🌍 BimbinganIslam.com
🎙 Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه لله تعالى
📗 Al ‘Arbain An Nawawiyyah
📝 Imām Nawawi ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ
~~~~~~~

بسم اللّه الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

​​​الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Pada kesempatan yang berbahagia ini, kita akan membahas tentang syirik akbar dan syirik ashghar
Kesyirikan ada dua, yaitu:
⑴ Syirik besar (syirik akbar)

⑵ Syirik kecil (syirik ashghar)

*• Syirik Akbar*
Barangsiapa yang terjerumus ke dalam syirik akbar maka dia keluar dari Islām.
Adapun barangsiapa yang terjerumus dalam syirik kecil maka hanya gugur amalan yang tercampur dengan syirik kecil tersebut. Dia tidak keluar dari Islām.
Adapun syirik akbar maka dia merupakan dosa terbesar, sebagaimana sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada para shahābatnya:

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟

_”Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang dosa terbesar dari dosa-dosa besar?”_

قُلْنَا: بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ

_Para shahābat berkata: “Tentu ya Rasūlullāh , apa itu dosa terbesar dari dosa-dosa besar?”_
Kemudian Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

اَلْإِشْرَاكُ بِاللهِ

_ “Dosa yang paling besar adalah berbuat kesyirikan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”_
(Diriwayatkan oleh

Al Bukhāri nomor 2654, 5976, 6273, 6274, 6919) dan dalam Al Adabul Mufrad nomor 15 dan Muslim nomor 87)
Dalam riwayat/hadits yang lain:

أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ

_”Engkau mengambil tandingan bagi Allāh padahal Allāh saja yang menciptakan engkau.”_
(Hadīts riwayat Bukhāri nomor 7520)
Inilah hakikat kesyirikan: Engkau mengambil tandingan bagi engkau (menggandengkan selain Allāh bersama Allāh), inilah kesyirikan. Padahal hanya Allāh yang menciptakan engkau.
Oleh karenanya ulamā sepakat bahwasannya dosa syirik lebih besar daripada berzina, lebih besar daripada membunuh orang lain, lebih besar daripada durhaka kepada orangtua, bahkan lebih besar daripada membunuh kedua orangtua. Dosa syirik lebih besar daripada itu semua.

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

_”Sesungguhnya mempersekutukan Allāh (kesyirikan) adalah benar-benar kezhāliman yang besar.”_
(QS Luqman: 13)
Kenapa bisa demikian?
Karena dosa-dosa selain kesyirikan berkaitan dengan hak-hak makhluk. Adapun syirik merupakan dosa yang berkaitan dengan hak istimewa Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Tidaklah Allāh menciptakan manusia kecuali untuk beribadah kepada Allāh. Ini tujuan utama (tujuan primer) kenapa Allāh menciptakan manusia.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

_”Tidaklah Aku menciptakan jinn dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu.”_
(QS Adz Dzāriyāt: 56)
Bukan untuk beribadah kepada yang lainnya.
√ Allāh menciptakan kita,

√ Allāh menghidupkan kita,

√ Allāh memberikan kita sarana dan prasarana,

√ Allāh memberikan kita anugerah,

√ Allāh memberikan kita kenikmatan,

Semua Allāh berikan agar kita beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
⇒ Ini hak paling utama, hak Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Tatkala seorang menyerahkan hak ini kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla maka dia telah melakukan dosa yang terbesar, yaitu kesyirikan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Pantas jika syirik lebih besar dosanya daripada membunuh orang lain, daripada berzina dengan orang lain, daripada durhaka kepada orangtua, daripada merampas/merampok harta orang lain, itu semuanya masih ringan dibandingkan dengan syirik, karena syirik berkaitan dengan hak istimewa Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Karenanya barangsiapa yang terjerumus dalam syirik akbar, maka dia akan mendapatkan banyak malapetaka.
• Malapetaka pertama | Jika dia terjerumus dalam syirik akbar, maka seluruh amalan yang dia lakukan akan gugur.
Jika selama ini dia beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla (20 tahun, misalnya). Kemudian dia berhaji berkali-kali, dia umrah berkali-kali, sedekah, ikut membangun masjid dan banyak amalan ibadah yang dia lakukan, kemudian sebelum dia meninggal, dia melakukan syirik akbar (terjerumus dalam syirik akbar) maka seluruh amalan yang dia lakukan selama ini gugur. Tidak ada nilainya disisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Dalīlnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ * بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ

_”Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, “Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allāh), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi._
_Karena itu, hendaklah Allāh saja yang engkau sembah dan hendaklah engkau termasuk orang yang bersyukur.”_
(QS Az Zumar: 65-66)
Di sini Allāh menegaskan: لَيَحْبَطَنَّ, ada lam taukid, ada nun taukid:
“(Sungguh-sungguh, benar-benar) akan gugur amalan mu, wahai Muhammad. Dan sungguh-sungguh, benar-benar engkau akan termasuk orang-orang yang merugi di akhirat.”
Ini diucapkan kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam meskipun Nabi tidak melakukan kesyirikan, tetapi Allāh mengatakan:
“Kalau engkau, wahai Muhammad, sementara kau manusia terbaik, sementara kau Nabi terbaik, sementara surga tidak akan terbuka kecuali kau yang mengetuknya, seandainya kau melakukan kesyirikan maka seluruh amalan akan gugur.’
Dalam ayat yang lain kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

وَلَوْ أَشْرَكُوا۟ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

_”Seandainya mereka mempersekutukan Allāh, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.”_
(QS Al An’ām: 88)
Setelah Allah menyebutkan tentang nama-nama para anbiyyā’, Allāh mengatakan:

وَلَوْ أَشْرَكُوا

_Kalau seandainya para nabi itu melakukan kesyirikan._
Maka sungguh akan gugur seluruh amalan yang mereka lakukan.
⇒ Dan ini merupakan malapetaka besar bagi seorang yang melakukan kesyirikan.
Bayangkan, dia 20 atau 30 tahun beribadah, kemudian dia terjerumus ke dalam syirik akbar, dia berdo’a kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Misalnya dia percaya kepada dukun kemudian dia terjerumus ke dalam syirik akbar.
Dia menyembelih kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla (misalnya), maka seluruh amalan dia akan gugur, tidak ada nilainya sama sekali.
Kecuali kalau dia bertaubat maka lain urusannya.
Kalau dia bertaubat, maka amalan-amalan yang dahulu dia lakukan yang merupakan kebaikan akan kembali.
Sebagaimana sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada Hakīm bin Hizām.
Hakīm min Hizām adalah seorang shahābat (radhiyallāhu ta’āla ‘anhu) yang waktu dia di zaman jāhilīyyah, dia sering beribadah, bahkan dia sering berinfāq.
Dia berinfāq 100 ekor unta, kemudian dia berinfāq harta, lalu dia masuk Islām, setelah dia masuk Islām, dia bertanya kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Dia bertanya:
“Bagaimana dengan amalan-amalan saya waktu saya masih jāhilīyyah kemudian masuk Islām ?”
Kemudian Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab:

أَسْلَمْتَ عَلَى مَا أَسْلَفْتَ لَكَ مِنْ الْخَيْرِ

_”Engkau masuk Islām dengan membawa kebaikan yang pernah engkau lakukan.”_
(Hadīts riwayat Muslim nomor 123)
Oleh karenanya Imām Ibnu Hazm rahimahullāh menyebutkan:
“Jika ada seorang murtad atau terjerumus dalam kesyirikan atau kekufuran sebelumnya orang ini pernah berhaji, maka gugur seluruh amalannya.
Tetapi jika kemudian dia sadar, maka kembali lagi seluruhnya dan dia tidak perlu mengulang berhaji lagi, karena waktu dia berhaji, dia dalam keadaan muslim.”
Dan ini pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh, oleh karenanya yang dimaksud seorang gugur amalannya jika dia terjerumus dalam kesyirikan dan dia tidak sempat bertaubat (tidak kembali kepada Islām), maka seluruh amalan yang dia lakukan selama ini akan gugur semuanya, (tidak bernilai).
• Malapetaka kedua | Dosa syirik tidak akan diampuni oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

_”Sesungguhnya Allāh tidak mengampuni dosa kesyirikan dan Allāh mengampuni dosa-dosa (selain) syirik bagi siapa yang Allāh kehendaki.”_
(QS An Nisa: 48)
Seorang kalau meninggal dalam keadaan musyrik, maka tidak akan diampuni dosa-dosanya.
Berbeda dengan orang yang meninggal dalam keadaan melakukan maksiat yang lain, selain kesyirikan, (misalnya) seseorang meninggal dalam keadaan su’ul khātimah.
Misalnya; sedang berzina kemudian meninggal, sedang minum bir kemudian meninggal, sedang durhaka kepada orangtua (misalnya membentak-bentak orangtua) kemudian dia keluar lalu tertabrak mobil dan akhirnya dia meninggal dunia.
Dia meninggal dunia dalam kondisi bermaksiat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Orang-orang seperti ini meninggal dalam keadaan su’ul khātimah, tanda bahwasannya dia masuk neraka jahannam, akan tetapi tidak bisa kita pastikan.
Karena selama dosa-dosa tersebut selain kesyirikan masih mungkin diampuni oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Dan tatkala Allāh menyatakan:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

_“Allāh tidak mengampuni dosa kesyirikan dan Allāh mengampuni dosa-dosa (selain) kesyirikan bagi yang Allāh kehendaki.”_
Maka pasti ada diantara hamba-hamba Allāh, yang diampuni dosa-dosanya dan ada yang tidak diampuni (selama dosa-dosa tersebut selain kesyirikan).
Tetapi kalau seseorang meninggal dalam keadaan berbuat musyrik, mustahil diampuni oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Selain kesyirikan masih mungkin diampuni, tetapi mungkin diadzāb dulu, jika sudah selesai adzābnya kemudian selesai dosa-dosanya.
• Malapetaka ketiga | Orang musyrik akan kekal dalam neraka jahannam selama-lamanya.
Kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla, setelah Allāh menyebutkan tentang orang-orang Nashrāni.
Allāh mengatakan:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

_”Sesungguhnya barangsiapa menpersekutukan Allāh, maka sungguh Allāh harāmkan surga baginya, dan tempatnya adalah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zhālim.”_
(QS Al Māidah: 72)
Barangsiapa yang melakukan kesyirikan Allāh harāmkan surga baginya (mustahil dia masuk surga), maka tempat kembalinya di neraka jahannam, dan tidak ada bagi orang-orang musyrikin (orang-orang yang zhālim) tidak ada penolong bagi mereka.
Mereka tidak akan masuk surga kecuali:

حَتَّىٰ يَلِجَ ٱلۡجَمَلُ فِى سَمِّ ٱلۡخِيَاطِ‌ۚ

_”Jika unta bisa dimasukkan dalam lubang jarum baru mereka bisa masuk surga.”_
⇒ Dan itu mustahil.
Inilah bahaya dosa-dosa kesyirikan, jangan sampai seorang meninggal dunia dalam keadaan berbuat syirik kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Barangsiapa yang terjerumus ke dalam syirik akbar kemudian meninggal dalam keadaan syirik akbar, maka dia telah mendapatkan banyak malapetaka.
Di antara malapetaka terbesar, dia akan kekal dalam neraka jahannam selama-lamanya dan tidak akan keluar dari neraka jahannam.
Adapun seorang muslim, yang melakukan kemaksiatan, kalau tidak diampuni oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kemudian diadzāb oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, maka ada kemungkinan suatu saat dia akan dikeluarkan dari neraka jahannam kemudian dimasukkan kedalam surga.
Kenapa?
Karena dia masih seorang muslim, dia masih ada ‘Lā ilāha illallāhnya, dia masih ada keimānannya meskipun sedikit.
Oleh karenanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

يُخْرَجُ مِنَ النَّارِ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنَ الإِيمَانِ

_”Akan dikeluarkan dari neraka jahannam, orang yang masih ada sedikit imānnya dalam hatinya.”_
(Hadīts riwayat At Tirmidzī nomor 2598)
Masih ada imānnya, sehingga suatu saat dia akan dikeluarkan dari neraka jahannam.
Demikianlah kajian kita pada kesempatan kali ini, besok in syā Allāh kita lanjutkan lagi biidzillāhi Ta’āla.

وبالله التوفيق و الهداية

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

🖋Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS

______________________