Home > Bimbingan Islam > Kitab Syamail Muhammadiyah > Halaqah 29 | Hadits Uban Rasūlullāh ﷺ Bagian 2

Halaqah 29 | Hadits Uban Rasūlullāh ﷺ Bagian 2


🌍 BimbinganIslam.com
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamail Muhammadiyah (Sifat dan Akhlak yang dimiliki Nabi Muhammad ﷺ)
📝 Imām Abū Īsā At Tirmidzī

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَالْأَخْلَاقَ وَالْأَرْزَاقَ وَالْأَفْعَالَ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلَى إِسْبَاغِ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ بِالْإِفْضَالِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ الْمُخْتَصِّ بِحُسْنِ الشَّمَائِلِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَوْصُوفِينَ بِالْفَوَاضِلِ وَالْفَضَائِلِ، وَعَلَى أَتْبَاعِهِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ بِمَا ثَبَتَ عَنْهُ بِالدَّلَائِلِ. أما بعد

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Alhamdulilāh, Allāh masih memberikan kesempatan kepada kita semua untuk kembali mengkaji hadīts-hadīts yang berkaitan dengan sifat-sifat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam Kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah, karya Imām Abū Īsā At Tirmidzī rahimahullāhu ta’āla.

Alhamdulillāh, pada pertemuan kali ini, (pertemuan ke-29) kita masih melanjutkan pembahasan uban Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam (Hadīts no 41-42)

Yang mana telah kita simpulkan bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak memiliki banyak uban. Uban Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) hanya sekitar 14 hingga 20 helai saja (sebagaimana riwayat-riwayat yang telah berlalu), sehingga apabila Beliau meminyaki rambutnya uban-uban tersebut seakan-akan tidak ada.

Dan perlu dicatat bahwa uban-uban Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) muncul bukan karena memikirkan urusan dunia, akan tetapi karena ayat-ayat Al Qurān yang menggambarkan akan kengerian hari kiamat yang Beliau dengar dan tadabburi.

Al Imām At Tirmidzī berkata dalam hadīts nomor 41:

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ [161 هـ – 248 هـ وهو من أحد الشيوخ الذي أخذ منه أصحاب كتب الستة] قَالَ: حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ هِشَامٍ، عَنْ شَيْبَانَ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ عِكْرِمَةَ [مولى ابن عباس، من كبار التالعين، وكان يفتي الناس، وقبل ذلك قد تعلم العلم أربعين سنة، وكان يفتي بالباب وابن عباس يفي في الدار]، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ [بحر الأمة] قَالَ: قَالَ أَبُو بَكْرٍ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَدْ شِبْتَ، قَالَ: «شَيَّبَتْنِي هُودٌ، وَالْوَاقِعَةُ، وَالْمُرْسَلَاتُ، وَعَمَّ يَتَسَاءَلُونَ، وَإِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ» [صححه الألباني 34]

_Abū Kurayb Muhammad Ibnu Al ‘Alā’ (beliau lahir pada tahun 161 Hijriyyah dan meninggal pada tahun 248 Hijriyyah), beliau adalah guru dari ulamā yang meriwayatkan enam kitāb._

( Yaitu:
⑴ Imām Bukhāri
⑵ Imām Muslim
⑶ Imām Abī Dāwūd
⑷ Imām An Nassā’i
⑸ Imām Ibnu Mājah
⑹ Imām At Tirmidzī )

_Beliau mengatakan dari Abī Ishāq, dari ‘Ikrimah (maula/budaknya Ibnu Abbās) dan Ikrimah termasuk kibar at tābi’in, dan Imām Adz Dzahabi menyebutkan bahwa beliau ini adalah seorang yang memberikan fatwa di pintu._

(Jadi ada rumah di situ ada pintunya dan di dalam ada Ibnu Abbās, dan ‘Ikrimah ini adalah seorang yang berfatwa di pintu sedangkan Ibnu Abbās berfatwa di dalam rumah, (maksudnya) adalah jika ada seorang yang datang ke rumah Ibnu Abbās maka yang pertama kali ditanya adalah ‘Ikrimah dan jika ‘Ikrimah bisa menjawab maka tidak perlu bertanya kepada Ibnu Abbās dan ketika ‘Ikrimah tidak bisa menjawab maka bertanya kepada Ibnu Abbās.

Dan dikatakan dalam riwayat beliau bahwasanya beliau belajar selama 40 tahun dan beliau disini meriwayatkan dari Ibnu Abbās radhiyallāhu ta’āla ‘anhumā seorang shahābat yang mendapatkan do’a dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam agar difaqihkan dalam agama dan diberikan ilmu tafsir Al Qurān).

Shahābat Ibnu Abbās bercerita, bahwa Abū Bakar Ash-Shiddīq pernah berkata kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

“Wahai Rasūlullāh, engkau telah beruban.”

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pun menjawab:

“Telah membuatku beruban surah Hūd, Al Wāqi’ah, Al Mursalāt, (عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ) An Nabā’ dan (إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ) At-Takwīr, surat-surat itulah yang telah membuatku beruban.” (Hadīts ini dishahīhkan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh)

Kemudian Imām At Tirmidzī membawakan hadīts yang semakna, yaitu hadīts nomor 42, yang merupakan hadīts keenam dalam bab ini.

Beliau berkata:

حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ وَكِيعٍ [قال الذهبي : الحافظ بن الحافظ، لكن ابتلي بوراق سوء، وأفسد حديثه] قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ صَالِحٍ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ: قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، نَرَاكَ قَدْ شِبْتَ، قَالَ: «قَدْ شَيَّبَتْنِي هُودٌ وَأَخَوَاتُهَا»

_Sufyān Ibnu Wakī’ adalah anak dari Wakī’ Ibnu Zārah seorang ulamā (ahli hadīts), Imām Adz Dzahabi mengatakan Al Hāfizh Ibnu Hāfidz (anak yang hāfizh dari seorang yang hāfizz) hanya saja Sufyān Ibnu Wakī’ ini memiliki seorang sekretaris (bahasa kita) yang menulis hadīts-hadītsnya tidak amanah, sehingga orang tersebut merusak keabsahan hadītsnya._

Sufyān Ibnu Wakī’ mengatakan, dari Abī Ishāq dari Abī Juhaifah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu. Beliau mengatakan:_

Bahwasanya dahulu shahābat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah menyampaikan kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

“Wahai Rasūlullāh, kami melihat engkau telah mulai beruban.”

Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) menjawab:

“Yang telah membuatku beruban adalah surah Hūd dan teman-temannya.”

(Hadīts ini dishahīhkan oleh Syaikh Albāniy radhiyallāhu ta’āla ‘anhu di dalam Mukhtshar Asy Syamāil dengan nomor 35)

Dan maksud dari saudara-saudara surah Hūd adalah surat-surat yang menceritakan tentang kengerian hari kiamat, sebagaimana dikatakan oleh Al Manawiy dalam kitāb Faidhul Qadīr.

Dan Ibnu Hajar Al Haitami rahimahullāh, ketika ditanya surat apa saja yang termasuk saudara-saudara Hūd?

Maka beliau menyebutkan beberapa surat dengan membawakan dalīl dan perkataan ulamā tentangnya.

Di antara yang beliau sebutkan, dalam kitāb beliau yang bernama Al Fatāwa Al Hadītsiyyah adalah :

⑴ Surat 56 (Al Wāqi’ah)
⑵ Surat 77 (Al Mursalāt)
⑶ Surat 78 (An Nabā’)
⑷ Surat 81 (At Takwīr)
⑸ Surat 69 (Al Hāqqah)
⑹ Surat 88 (Al Ghāsyiyah)
⑺ Surat 101 (Al Qāri’ah)
⑻ Surat 70 (Al Ma’ārij)
⑼ Surat 54 (Al Qamar)

Pelajaran yang bisa kita ambil dari hadīts-hadīts di atas, adalah :

√ Bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam beruban bukan karena urusan dunia.

√ Yang membuat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam beruban adalah kabar tentang kengerian dan kesusahan pada hari kiamat yang Beliau renungkan dari surat-surat Al Qurān (semisal) surat Hūd, surat An Nabā’, surat Al Wāqi’ah dan yang semisalnya.

Dan yang perlu dipahami, bahwa isi surat-surat tadilah yang membuat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam beruban, bukan berarti orang yang membaca surat tersebut akan beruban, karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam beruban karena mentadaburi isi surat-surat tersebut. Karena kengerian yang ada dalam surat tersebut, bukan hanya sekedar membaca saja tanpa tadabur dan penghayatan.

√ Bahwa Al Qurān itu memberikan efek yang sangat besar sekali bagi seorang bisa yang mentadabur inya, bisamemahami maknanya, bisa mengetahui maksud-maksudnya.

Seorang yang bisa seperti itu, maka Al Qurān akan memberikan efek yang sangat besar bagi kebaikan, keshālihan, kesucian jiwa, dan kebahagian di dunia maupun di ākhirat.

Inilah pembahasan kita pada pertemuan ini, semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta’āla A’lam Bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد
image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top