Home > Kelas UFA > Silsilah Amalan Hati dan Penyakit Hati > Materi 26 – Riya’ Terselubung (2)

Materi 26 – Riya’ Terselubung (2)

🌍 Kelas UFA
🎙 Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه لله تعالى
📗 Silsilah Amalan Hati dan Penyakit Hati
〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, bapak-bapak dan ibu-ibu yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Di antara bentuk riya‘ yang terselubung, di antara bentuk kreatif untuk bisa riya’ tapi tidak kelihatan adalah:

*4. Menunjukkan dirinya low profile (tawadhu)*

Seorang menunjukkan dirinya low profile. Seakan-akan dia tawadhu, dia tunjukkan tawadhunya. Mungkin dia cerita begini-begini atau dia menampakkah bagaimana tawadhunya, tapi ternyata dibalik tawadhu tersebut dia ingin pencitraan. Dan ini terselubung tapi tidak terlalu terselubung. Apalagi zaman sekarang, zaman pencitraan. Orang bisa kadang-kadang mengerti bahkan kita su’udzan. Tapi saya ingatkan, jangan su’udzan sama orang. Kita bicara tentang diri kita.

Ini namanya merendahkan diri untuk meninggikan mutu. Hati-hati! Jangan sampai kita berlagak tawadhu ternyata tujuan kita adalah agar orang memuji kita bahwasanya kita adalah orang yang tawadhu.

Kalau kita tawadhu, maka itu sungguh baik. Tetapi Nabi mengatakan:

مَنْ تَوَاضَعَ لِلَّهِ

“Barangsiapa yang tawadhu karena Allah,” bukan karena pencitraan, bukan karena ingin dipuji.

*5. Menceritakan kegembiraan tersebarnya Islam dan sunnah*

Di antara bentuk riya’ terselubung adalah misalnya yang berkaitan dengan Dai atau dengan panitia misalnya, kemudian dia ingin menyampaikan kebahagiaan karena Alhamdulillah dakwah rame, pengujian tadi rame, yang hadir banyak. Dan itu suatu kegembiraan. Kita gembira tatkala sunnah tersebar, tatkala dakwah tersebar. Dan ternyata dibalik itu dia ingin memuji dirinya sendiri. Seakan akan karena saya lah ustadznya, maka rame. Atau karena saya lah panitianya, maka rame.

Hati-hati! Sekali lagi selalu saya ingatkan bahwa jangan nuduh orang. Kita bicara tentang diri kita. Hati-hati kita cerita (misalnya) saya berdakwah ke sana, saya pergi ke papua misalnya, saya pergi ke Eropa, yang hadir rame, dan macam-macam. Hal ini kita sampaikan dalam bentuk kita tersebarnya Islam, tapi ternyata dibalik itu kita ingin dipuji, seakan-akan karena saya lah maka orang datang, karena saya lah rame di kampung-kampung.

Hati-hati, ini adalah riya’ yang terselubung.

*6. Menceritakan orang lain yang celaka karena menyelisihi kita*

Di antara riya’ terselubung yang disebutkan juga oleh sebagian ulama, kalau tidak salah disebutkan oleh Munawi dalam Faidhul Qadir tentang seseorang yang menceritakan ketika ada orang menyelisihi dia, maka akan celaka. Dia mengatakan: “Si Fulan menyelisihi saya, dia menjelek-jelekkan saya, akhirnya Allah berikan musibah. Lihat, dia celaka.”

Kita katakan bahwasanya tidak perlu lah kita begitu. Kita tidak tahu dia terkena musibah karena (gara-gara) mencela kita atau tidak, kita tidak tahu. Sampai ketika itu sang ulama, Al-Munawi Rahimahullahu Ta’ala berkata: “Dia tidak tahu bahwasanya betapa banyak orang yang ingin bunuh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ternyata mendapat hidayah.” Khalid bin Walid dulu ingin membunuh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ternyata mendapat hidayah. Yang memaki-maki Nabi juga banyak.

Kita tidak tahu. Apakah kita bisa memastikan bahwa karena kita menyelisihi kita, (sedangkan) kita wali, kemudian dia salah? Bukankah Allah berfirman:

غُلِبَتِ الرُّومُ ﴿٢﴾ فِي أَدْنَى الْأَرْضِ وَهُم مِّن بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ ﴿٣﴾

Allah berfirman dalam surat Ar-Rum tentang ketika peperangan antara Persia dengan Romawi. Pertama Romawi kalah kemudian Romawi menang. Kaum mukminin ketika itu gembira karena Romawi menang mengalahkan Persia. Terus apakah berarti Romawi adalah wali-wali Allah? (Jawabnya) tidak ya. Terkadang kita mungkin didzalimi kemudian dia dicelakakan oleh Allah, padahal belum tentu juga kita adalah wali Allah, mungkin saja kedzaliman dia lebih besar daripada kedzaliman kita sehingga dia dikalahkan. Sebagaimana Persia dikalahkan oleh Romawi padahal satunya penyembah api dan satunya penyembah Nabi, sama-sama musyrik.

Tapi intinya jangan kita kemudian cerita seperti itu, “ada orang celaka gara-gara menyelisihi kita”. Seharusnya kita sedih kalau ada orang menyelisihi kita kemudian dia meninggal, kita berkata: “Semoga Allah mengampuni dia, dia tidak mengerti,” ini sama orang muslim. Bukan malah kita bangga orang itu celaka.

*7. Pamer istri*

Di antara riya’ terselubung, ini sebenarnya tidak terselubung, tapi bisa dianggap terselubung. Seperti sebagian orang yang kemana-mana pamer istrinya 4.

Saya pernah bertemu seseorang, (dia mengucapkan salam): “Assalamualaikum..” Saya jawab: “Wa ‘alaikumussalam, dari mana akh?” Dia mengatakan: “Alhamdulillah istri saya 4.” Saya mau bertanya: “Siapa?” Siapa yang nanya maksudnya.

Untuk apa kita cerita sana-sini istri kita 4? Mungkin ada yang bertanya: “Ustadz, saya niatnya kan untuk syiar agar orang mau poligami.” Saya katakan, coba cek lah dirimu baik-baik. Kamu mengatakan demikian untuk syiar, memotivasi atau ternyata dalam dirimu ingin pamer. Karena kita tahu poligami adalalah ibadah, bisa jadi bahan untuk riya’, ujub dan yang lainnya.

Maka seorang waspada! Dan tentu kita tahu kreativitas iblis/setan untuk menjerumuskan orang dalam berbagai macam riya’ terselubung sangat banyak.

Ini hanya sekedar contoh agar kita waspada. Sekali lagi saya ingatkan, bukan dalam rangka untuk menuduh orang. Kita tidak boleh masuk urusan niat orang lainnya. Nabi saja tidak berbicara tentang niat orang-orang munafik. Seperti dikatakan bahwasanya:

أحكم بالظاهر, والله يتولى السرائر

“Hukumlah seorang dengan dzahirnya, dan serahkan rahasia niatnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjauhkan kita dari penyakit riya’.

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top