Home > Bimbingan Islam > Tematik > Faedah Surat Al-Kahfi (Bagian 05 dari 09)

Faedah Surat Al-Kahfi (Bagian 05 dari 09)

🌍 BimbinganIslam.com
🎙 Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه لله تعالى
📗 Tafsir | Faedah Surat Al-Kahfi
~~~~~~~

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

In syā Allāh pada kesempatan kali ini kita akan bersama-sama berusaha untuk mengambil faedah-faedah dari surat Al Kahfi.

Kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

فَضَرَبْنَا عَلَىٰ آذَانِهِمْ فِي الْكَهْفِ سِنِينَ عَدَدًا

“Maka kami tutup telingga mereka beberapa tahun dalam gua itu.”

(QS Al Kahfi: 11)

Para ulamā mengatakan bahwa ini menunjukkan mereka tidur pulas.

Kenapa?

Telingga mereka benar-benar ditutup. Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla menggunakan kalimat: فَضَرَبْنَا , yang artinya benar-benar ditutup telingga mereka sehingga tidak ada suara kecilpun yang mereka dengar.

Kalau orang tertidur dan masih mendengar sesuatu, berarti masih belum pulas tidurnya.

Oleh karenanya disebutkan dalam sebuah hadīts para shahābat menunggu Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam terlalu lama sampai terdengar suara dengkuran tidur mereka, kemudian mereka mengerjakan shalāt tanpa berwudhū.

Yang menunjukkan kepulasan tidur seseorang tidak ditunjukkan dengan dengkuran, akan tetapi ditunjukkan dengan tidak sadarnya dengan kondisi sekitarnya.

Sehingga para ulamā mengatakan, “Kalau seseorang memegang sesuatu, lalu sesuatu itu jatuh dan dia (orang tersebut) tidak mendengar berarti tidur yang membatalkan wudhū.”

Jadi Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan disini:

فَضَرَبْنَا عَلَىٰ آذَانِهِمْ

“Maka kami tutup telingga mereka.”

Jadi mereka benar-benar tertidur pulas dan tidak ada suarapun yang mereka dengar.

ثُمَّ بَعَثْنَاهُمْ لِنَعْلَمَ أَيُّ الْحِزْبَيْنِ أَحْصَىٰ لِمَا لَبِثُوا أَمَدًا

“Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lama mereka tinggal (dalam gua itu).”

(QS Al Kahfi: 12)

⇒Al hizbaiyn ( الْحِزْبَيْنِ ), dua golongan ini, ada khilāf diantara para ulamā.

Ada yang mengatakan:

1. Al hizbaiyn (dua kelompok) ini adalah diantara ashābul kahfi tersebut, karena waktu mereka bangun ada khilāf di antara mereka ketika ditanya berapa lama mereka tertidur.

⇒Ada yang mengatakan mereka tidur sehari ada yang mengatakan mereka tidur setengah hari.

2. Al hizbaiyn (dua kelompok) ini maksudnya ada perdebatan antara ashābul kahfi dengan penduduk negeri.

⇒Penduduk negeri mengatakan kalian tidur sudah lama sedangkan ashābul Kahfi mengatakan mereka tidur hanya sehari.

Intinya ada perdebatan di antara dua kelompok dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla membangunkan mereka agar mereka tahu, mana yang lebih tepat berapa lama mereka tidur.

Kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla :

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang berimān kepada Rabb mereka dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.”

(QS Al Kahfi: 13)

Ibnu Katsīr rahimahullāh menyebutkan bahwa ini adalah dalīl bahwasanya:

√ Para pemuda lebih mudah menerima petunjuk.
√ Para pemuda lebih mudah menerima dakwah.

Berbeda dengan orang-orang tua, mereka lebih keras kepala, angkuh, merasa sudah banyak makan garam. Sedang para pemuda tidak ada keangkuhannya.

Oleh karenanya Ibnu Katsīr menyebutkan:

“Lihatlah bagaimana Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tatkala beliau di Mekkah dakwah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang menerima adalah anak-anak muda seumuran Nabi atau lebih muda dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.”

Lihatlah!

⑴ Abū Bakar lebih muda daripada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

⑵ ‘Umar, ‘Utsman, Ibnu Mas’ud semuanya lebih muda daripada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Yang tua-tua kepala batu (angkuh) seperti: Abū Jahal, Abū Lahab, ‘Umayyah bin Khalaf.

Mengapa mereka angkuh?

Karena mereka merasa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam lebih muda (anak kemarin sore) dan ingin mendakwahi mereka.

Ini kenyataan yang berlaku setiap zaman. Kebanyakan dakwah diterima oleh anak-anak muda.

Karenanya, ikhwāniy fīllāh, berbeda ketika di Madīnah. Tatkala di Madīnah perkaranya sebaliknya, semua para pembesar dikota Madīnah sudah lebih dahulu meninggal dunia dalam perang Bu’ats (sekitar 617M) yang tersisa hanya ‘Abdullāh bin Ubay bin Salul dan dialah yang menjadi gembongnya orang-orang munāfiq di kota Madīnah.

Sedangkan kaum Anshār, Khazraj dan kaum Aus rata-rata mereka adalah anak-anak muda, sehingga Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam cukup mengutus Mūsā bin Umair untuk mendakwahi mereka dan mereka mendapatkan hidayah.

Oleh karenanya sering Ikhwān-Ikhwān tatkala mereka berdakwah, Alhamdulillāh, mereka berhasil. Tatkala orang-orang tua tidak mau menetlerima dakwah, mereka membuat sekolah (TPA) anak-anak kecil.

Yang di sekolah mereka belajar mengaji. Anak-anak kecil yang mereka perhatikan. Karena yang muda-muda ini yang akan melanjutkan dakwah.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَٰهًا ۖ لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا

“Dan Kami meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.”

(QS Al Kahfi: 14)

⇒”Kami meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri,” banyak ahli tafsir menyatakan tatkala mereka dipanggil oleh sang raja dan disuruh untuk kembali kepada agama nenek moyang mereka. Kalau tidak, mereka ada dirajam sampai mati.

Ini dalīl bahwasanya bila seseorang akan mencari kebenaran maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan sabarkan dia.

Seperti:

⑴ Kisah ibunya Nabi Mūsā ‘alayhissalām.

Ketika Mūsā kecil, tatkala dilepaskan di sungai Nil, kemudian diambil oleh Fir’aun, ibunya ingin mengatakan bahwa itu anaknya. Namun Allāh Subhānahu wa Ta’āla sabarkan dirinya sehingga dia (ibu Nabi Mūsā) bisa bertahan.

⑵ Tatkala kaum mukminin saat berperang dalam perang Badar. b

Bayangkan 300 orang kaum mukminin melawan 1000 orang, ini merupakan ujian yang berat.

Demikian juga ujian yang dihadapi para pemuda ini, mereka menghadapi ujian yang berat, diantaranya:

⑴ Para pemuda itu merupakan anak-anak orang kaya.

⑵ Para pemuda itu harus hidup miskin karena diusir dari negeri mereka dan ini merupakan kesulitan bagi mereka karena mereka biasa hidup mewah dan harus menanggalkan kemewahan tersebut demi menegakkan tauhīd Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

⑶ Para pemuda itu harus berdiam diri di dalam gua yang tidak ada makan dan minuman.

Para pemuda itu biasanya tidur di atas kasur dan tatkala di dalam gua harus tidur beralaskan tanah.

Jika Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak sabarkan mereka, mereka tidak akan mampu karena ada kondisi di mana seorang yang mustahil bisa bersabar. Namun Allāh Subhānahu wa Ta’āla sabarkan dia, kenapa?

Karena dia ingin bertauhīd kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

⑷ Para pemuda itu harus menyelisihi seluruh penduduk penduduk negeri yang semua adalah musyrikin (seluruh keluarga mereka, orang tua mereka semua musyrikin). Hanya 7 pemuda ini yang bukan musyrikin.

Ini berat, menyelisihi masyarakat yang terjerumus ke dalam kemaksiatan, kesyirikan. Mereka mencerca, mereka menghina 7 pemuda itu (ini butuh kesabaran).

Oleh karenanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan:

وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ

“Kami kokohkan hati mereka (agar mereka bersabar).”

Yaitu tatkala mereka ditantang (diancam) oleh sang raja agar mereka kembali kepada kesyirikan atau bila mereka tidak mau mereka akan dirajam.

Lalu dengan berani para pemuda itu mengatakan:

“Kami tidak akan berbuat kesyirikan, wahai raja dan kami tidak menyembah kecuali kepada pencipta langit dan bumi.”

“Dan kami tidak akan berdo’a kecuali kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan jika kami sampai berdo’a kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla maka kami telah melenceng jauh dari kebenaran.”

Demikianlah kajian kita pada kesempatan kali ini.

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Bersambung ke bagian 06, in syā Allāh
________

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top