Home > Bimbingan Islam > Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār Wa Quratu ‘Uyūni Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhbār > Halaqah 030 | Hadits 28 – Islam Adalah Agama yang Mudah Bagian 1

Halaqah 030 | Hadits 28 – Islam Adalah Agama yang Mudah Bagian 1

🌍 BimbinganIslam.com
👤 Riki Kaptamto, Lc
📗 Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār Wa Quratu ‘Uyūni Akhyār fī Syarhi Jawāmi’ al Akhbār
(Mutiara Hikmah Penyejuk Hati, Syarah 99 Hadits Pilihan)
📝 Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa’dī

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله ربّ العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، اما بعد

Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh.

Ini adalah halaqah kita yang ke-30 dalam mengkaji kitāb: بهجة قلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار في شرح جوامع الأخبار (Bahjatu Qulūbil abrār wa Quratu ‘uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi’ al Akhbār), yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa’dī rahimahullāh.

Kita sudah sampai hadīts ke-28, yaitu:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (إن الدين يُسْر، ولن يَشادَّ الدينَ أحد إلا غلبه، فسَدِّدوا وقاربوا وأبشروا، واستعينوا بالغُدْوة والروحة، وشيء من الدُّلَجة) متفق عليه. وفي لفظ (والقصدَ القصدَ تَبْلُغوا).

Dari Abū Hurairah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu beliau mengatakan, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya agama ini mudah dan tidaklah ada seorang memaksa dirinya di dalam agama ini kecuali agama itu akan mempersulitnya, maka berusahalah semaksimal mungkin untuk mendekati kebenaran itu sendiri. Jikalau tidak bisa sampai pada yang sebenarnya dan bergembiralah. Dan manfaatkanlah waktu pagi dan waktu sore serta beberapa waktu di tengah malam.” (Hadīts ini riwayat Imām Bukhāri dan Muslim)

Dalam lafazh lain, Beliau bersabda: “Bersikaplah sederhana niscaya kalian akan sampai pada tujuan.”

Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa’dī rahimahullāh ketika menjelaskan hadīts ini mengatakan:

Sungguh betapa agungnya hadīts dan betapa kaya akan kebaikan dan wasiat serta prinsip-prinsip yang sangat penting. Di mana Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam di dalam hadīts ini telah meletakkan satu prinsip utama di dalam agama Islām yaitu bahwasanya agama ini mudah.

Syari’at-syari’at agama ini telah Allāh mudahkan bagi manusia, baik dalam aqidah maupun dalam amalan-amalab dan akhlaq yang diperintahkan di dalam syari’at.

Semua itu merupakan perkara-perkara yang mudah.

Perkara aqidah yang mengacu iman kepada Allāh, iman kepada malāikat, iman kepada kitāb, iman kepada rasūl, iman kepada hari akhir serta iman kepada takdir, semua itu merupakan aqidah-aqidah yang shahīhah (yang benar).

Yang akan menjadikan jiwa tentram dan merupakan aqidah yang sesuai dengan akal yang masih lurus, akal yang selamat dari kerancuan serta fithrah yang masih lurus pada jalannya yang mudah untuk dipahami.

Begitu juga amalan-amalan (ibadah-ibadah) dan akhlaq-akhlaq yang ada di dalam syari’at ini, semuanya mudah. Di mana setiap orang, dia akan merasa dirinya mampu untuk melaksanakannya. Melaksanakan ibadah tersebut.

Dan dia mampu untuk menghiasi dirinya dengan akhlaq-akhlaq tersebut (akhlaq mulia dan sempurna) yang dianjurkan di dalam syari’at Islām. Sehingga tidak ada seorang yang akan merasa bahwasanya dia adalah seorang yang tidak akan pernah mampu untuk melakukan syari’at. Tidak!

Setiap orang mampu untuk melakukannya sesuai dengan kondisi yang ada pada dirinya. Maka ini merupakan suatu prinsip utama yang ada dalam syari’at ini, yang telah dikabarkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

إن الدين يُسْر

“Sesungguhnya agama ini mudah.”

Sebagai contoh kemudahan yang Allāh berikan di dalam menjalankan syari’at ini adalah:

⑴ Masalah shalāt lima waktu

Shalāt lima waktu ini meskipun dilakukan setiap hari, namun waktu-waktunya telah Allāh sesuaikan dengan waktu-waktu yang di situ mampu dilalukan oleh setiap orang.

Di waktu-waktu yang telah Allāh tetapkan dengan adanya kelonggaran di waktu-waktunya selama tidak keluar dari waktu shalāt tersebut.

Selain itu, Allāh juga memberikan kemudahan di dalam melaksanakannya dengan cara menganjurkannya secara berjamā’ah.

Shalāt tersebut secara berjamā’ah dengan tujuan agar ketika seorang melakukan shalāt dia merasa bahwasanya ada teman yang sama-sama melakukan ibadah yang sama, sehingga dia tidak merasakan sendirian. Hal ini akan menimbulkan semangat dalam dirinya untuk melakukan ibadah shalāt tersebut.

Berbeda halnya bila dilakukan sendiri, dia akan ditimpa rasa malas dan dia ditimpa perasaan bahwasanya hanya dia yang dibebani kewajiban.

Berbeda halnya bila dia lakukan berjamā’ah, dengan merasa bahwasanya dia memiliki teman-teman yang menemani dia dalam menjalankan kewajiban tersebut, sehingga akan mudah dia lakukan.

Ini sebagai satu kemudahan dari satu sisi yang Allāh berikan dalam mensyariatkan shalāt berjamā’ah.

Di samping itu Allāh Subhānahu wa Ta’āla juga memberikan pahala yang besar di dalam ibadah shalāt tersebut. Sehingga dengan mengerjakan shalāt lima waktu pada setiap harinya in syā Allāh akan mendapatkan pahala yang besar di sisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan mendapatkan kebahagian di akhirat.

⑵ Zakāt

Contoh yang lain ada pada zakāt. Di mana kemudahan yang Allāh berikan di dalam masalah zakāt ini, bahwa kewajiban zakāt tidak diwajibkan pada setiap orang namun hanya diwajibkan bagi orang yang memiliki harta tertentu yang telah Allāh tetapkan apabila telah mencapai jumlah tertentu (nisab).

Dan yang dikeluarkan pun bukan jumlah yang sangat besar yang tidak sampai pada kerugian apabila dia keluarkan maka itu kemudahan yang Allāh berikan.

Di samping itu, menunaikan kewajiban zakāt itu akan mensucikan dirinya, menyempurnakan agamanya mensucikan akhlaqnya, membersihkan akhlaqnya dari akhlaq-akhlaq yang kotor, kebakhilan, ketidakpedulian dan merasa ingin memiliki sendiri harta yang Allāh karuniakan kepada dia. Serta akan menumbuhkan rasa cinta di antara sesama manusia dan menimbulkan kepedulian dia kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan.

Semua itu tidak lain dan tidak bukan, menunjukan kepada kita tentang kemudahan yang ada di dalam syari’at dan kemuliaan serta kesempurnaan yang ada di dalam syari’at ini.

⑶ Puasa

Contoh yang lain adalah puasa, yang hanya Allāh wajibkan sekali di dalam setahun yaitu selama satu bulan dan kewajiban ini berlaku umum untuk semua kaum muslimin. Sehingga ketika melakukan puasa, dia tidak sendiri (tidak merasa terbebani sendiri). Tapi ada teman-teman yang menemani dia untuk menahan syahwatnya, menemani dia untuk menjalankan ibadah puasa bersama yang nantinya ibadah itu akan memberikan pahala yang begitu besar kepada dirinya yang bisa menyelamatkan dia dari kesengsaraan yang abadi dan menimbulkan rasa taqwa di dalam dirinya.

Ini merupakan contoh kesempurnaan dan kemudahan di dalam ibadah puasa.

⑷ Haji

Dimana Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak mewajibkan kepada semua orang hanya wajib bagi orang yang telah memiliki kemampuan untuk melaksanakannya.

Dan itupun diwajibkan hanya satu kali seumur hidup. Dia tidak dibebani melakukan kedua kalinya kecuali hanya tathawu saja.

Serta dalam syari’at lainpun terdapat kemudahan yang apabila kita cermati merupakan penerapan (bukti) dari firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS Al Baqarah: 185)

Di samping asal syari’at-syari’at ini mudah, Allāh Subhānahu wa Ta’āla juga memberikan kemudahan bagi orang yang sedang dalam kondisi tidak mampu untuk melakukan ibadah secara normal. Seperti orang yang ditimpa sakit, atau dia dalam keadaan safar, maka Allāh memberikan keringanan di dalam menjalankan ibadah-ibadah. Baik ibadah tersebut dihapus secara total kewajibannya (tidak menjadi wajib lagi baginya) ketika dia dalam kondisi tersebut atau berupa keringanan yang ada pada cara melakukannya.

Contohnya:

√ Mengqashar shalāt ketika dalam keadaan safar.

√ Shalāt dalam keadaan duduk bagi orang yang sakit.

√ Dan contoh lainnya.

Apabila kita perhatikan apa yang dicontohkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam di dalam ibadah Beliau, di dalam keseharian-keseharian Beliau, maka itu terdapat kemudahan bagi umatnya.

Apabila kita mencontohnya maka kita akan mudah menjalankan ibadah.

Oleh karena itu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mewanti-wanti agar kita tidak memberatkan diri kita di dalam menjalankan agama dengan melakukan sesuatu yang tidak beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) lakukan karena itu akan memberatkan kita.

Maka Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

ولن يَشادَّ الدينَ أحد إلا غلبه

“Dan tidak ada seorang dia membebani dirinya dalam beragama melainkan dia (agama tersebut) akan menyulitkan.”

Maka barangsiapa dia memberatkan dirinya dengan melakukan atau tidak mencukupi dengan apa yang telah dilakukan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam maka berarti dia telah memberatkan dirinya sendiri dalam beragama yang nantinya kembali pada dirinya dalam bentuk kerugian.

Dia akan merasa letih, dia merasa kesusahan atas apa yang dilakukan sehingga dia tinggalkan sama sekali, dia akan kembali tidak melakukan ibadah tersebut.

Kemudian Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam di dalam hadīts ini juga memberikan satu motivasi di dalam menjalankan ibadah.

Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

، فسَدِّدوا وقاربوا وأبشروا، واستعينوا بالغُدْوة والروحة

“Maka berusahalah semaksimal mungkin untuk mencapai kesempurnaannya, dan berusahalah jikalau kalian tidak bisa secara sempurna maka berusahalah mendekati kesempurnaan dan berbahagialah.”

Maksudnya, berbahagia dengan pahala yang akan tetap tertulis bagi kalian meskipun kalian tidak sampai sempurna seratus persen.

Maka barangsiapa, dia telah berusaha semaksimal mungkin, dia bertaqwa kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla sesuai dengan apa yang dia mampu akan tetapi tidak akan bisa sampai seratus persen sempurna, maka setidaknya dia telah mendekati kesempurnaan telah berusaha mendekati kesempurnaan. Dengan itu telah tetap baginya pahala di sisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla .

Oleh karena itu Allāh Subhānahu wa Ta’āla menegaskan tentang bagaimana kita bertaqwa, di dalam firman-Nya.

فٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ

“Bertaqwalah kepada Allāh semampu kalian.” (QS At Taghābun: 16)

Kita diperintahkan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan kita untuk menjalankan ketaqwaan, meskipun tidak seratus persen sempurna. Kita tidak boleh mengabaikannya.

Karena Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga bersabda:

وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Apabila aku perintahkan suatu amalan, maka lakukanlah sesuai dengan kemampuan kalian.”

Maka ini merupakan suatu kaidah yang sangat agung di dalam agama ini yang menunjukkan bahwasanya amalan ibadah itu harus dilakukan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan.

Apabila tidak mampu, maka dilakukan dengan kondisi yang ada, bukan dengan cara meninggalkan ibadah-ibadah yang telah Allāh wajibkan tersebut.

Dan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga memberikan suatu nasehat atau saran agar kita bisa sempurna atau mendekati kesempurnaan di dalam menjalankan ketaqwaan.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mewasiatkan:

واستعينوا بالغُدْوة والروحة، وشيء من الدُّلَجة

“Dan mohonlah atau manfaatkanlah waktu pagi dan waktu sore serta beberapa waktu di waktu malam.”

Dimana kalau kita perhatikan, waktu-waktu ini adalah waktu yang paling mudah (ringan) ketika seorang melakukan safar.

Safar di waktu pagi akan terasa lebih ringan dibandingkan dia berjalan ditengah hari. Begitu juga di waktu sore. Begitu pula ketika malam, maka akan terasa lebih ringan perjalanan yang dilakukan.

Begitu juga di dalam menjalankan ibadah (ketaqwaan), maka waktu-waktu tersebut adalah waktu-waktu dimana semangat akan mudah untuk didapatkan.

Maka Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyarankan bagi kita untuk memanfaatkan waktu-waktu tersebut.

Ibarat seorang musafir, dia akan memanfaatkan waktu-waktu tersebut untuk melakukan perjalanan supaya dia cepat sampai tujuan.

Begitu juga seorang yang dia ingin mendapatkan ketaqwaan menggapai kebahagiaan di akhirat, maka dia bisa memanfaatkan waktu-waktu tersebut untuk menjalankan ibadah-ibadah yang dicontohkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Karena waktu waktu itu adalah waktu-waktu dimana semangat ibadah mudah untuk dilakukan yaitu di awal waktu pagi dan di akhir siang (sore), serta sebagian di waktu malam, dimana waktu-waktu tersebut adalah waktu-waktu yang memberikan kemudahan atau memberikan semangat di dalam menjalankan ibadah.

Maka, dari hadīts yang mulia ini bisa kita ambil beberapa faedah yang agung (kesimpulan) dari faedah-faedah yang kita sebutkan.

⑴ Syari’at ini adalah syari’at yang mudah di dalam segala sisi.

⑵ Kesulitan itu akan menjadi sebab untuk datangnya kemudahan di dalam menjalankan ibadah.

⑶ Apabila Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam memerintahkan sesuatu maka kita wajib untuk melaksanakannya sesuai dengan kemampuan kita.

⑷ Adanya motivasi bagi orang-orang yang ingin beramal serta hendaknya mereka berbahagia atas amalan yang mereka lakukan, karena adanya pahala yang akna Allāh tulis pada catatan amalan-amalan mereka.

⑸ Di dalam hadīts ini terdapat wasiat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tentang bagaimana kita menjalankan atau memanfaatkan waktu untuk bisa menjalankan ketaqwaan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Semoga apa yang kita kaji pada halaqah kali ini memberikan manfaat kepada kita dan memotivasi kita agar kita menjalankan ketaqwaan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, menjalankan agama Islām ini dengan semaksimal mungkin dan mencontoh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam serta tidak memberatkan diri kita dengan menambah atau melakukan sesuatu yang Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak menganjurkan kita, tidak mencontohkan kita melakukannya.

Karena pada diri Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah terdapat tauladan, apabila seseorang mengikutinya maka dia akan mendapatkan kemudahan di dalam menjalankan syari’at.

Demikian yang bisa kita kaji pada halaqah kita kali ini, kita lanjutkan pada halaqah yang mendatang (in syā Allāh).

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top