Halaqah 020 | Hadits 19

🌍 BimbinganIslam.com
👤 Riki Kaptamto, Lc
📗 Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār Wa Quratu ‘Uyūni Akhyār fī Syarhi Jawāmi’ al Akhbār
(Mutiara Hikmah Penyejuk Hati, Syarah 99 Hadits Pilihan)
📝 Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa’dī

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله ربّ العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، اما بعد

Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh.

Ini adalah halaqah kita yang ke-20 dalam mengkaji kitāb بهجة قلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار في شرح جوامع الأخبار (Bahjatu Qulūbil abrār wa Quratu ‘uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi’ al Akhyār) yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa’dī rahimahullāh.

Kita sudah sampai pada hadīts yang ke-19 yang diriwayatkan oleh Abū Hurairah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هو أَسفَل مِنْكُمْ وَلا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوقَكُم؛ فهُوَ أَجْدَرُ أَن لا تَزْدَرُوا نعمةَ اللَّه عَلَيْكُمْ (متفقٌ عَلَيْهِ)

“Lihatlah kepada orang yang keadaannya berada dibawahmu dan janganlah engkau melihat kepada orang yang keadaannya di atasmu. Karena yang demikian itu akan lebih menjadikan kalian untuk tidak meremehkan nikmat yang Allāh Subhānahu wa Ta’āla berikan kepada kalian.” (Muttafaqun ‘alayh) (Hadīts riwayat Imām Bukhāri dan Muslim)

Hadīts ini merupakan hadīts yang berisi tentang wasiat yang bermanfaat dan ungkapan yang menjadi obat atau solusi di dalam memandang segala nikmat yang beraneka ragam yang Allāh berikan kepada manusia.

Sebagaimana hadīts ini juga menunjukkan atau berisi anjuran untuk senantiasa bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, karena mensyukuri nikmat yang Allāh berikan merupakan ra’sul ibadah (penuntun seorang ke dalam ibadah) dan juga azas dari segala kebaikan serta bersyukur itu wajib dilakukan oleh seorang hamba, karena nikmat yang diberikan kepada mereka sangatlah banyak.

Baik nikmat yang zhahir maupun nikmat yang bathin serta nikmat yang umum maupun nikmat yang khusus yang hanya Allāh berikan kepadanya atau orang-orang semisalnya.

Semua itu datang dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan semua itu wajib untuk disyukuri dengan cara mengakui, meyakini bahwasanya semua nikmat tersebut semata-mata datang hanya dari sisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla serta dengan menggunakan nikmat tersebut di dalam menjalankan ketaatan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Di dalam hadīts ini Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memberikan suatu arahan, yang menjadi suatu obat yang sangat mujarab ketika seorang dia merasa nikmat yang Allāh berikan kepadanya sedikit.

Yaitu dengan cara dia melihat kepada orang yang keadaannya dalam sisi nikmat-nikmat itu lebih sedikit dibandingkan nikmat yang Allāh berikan kepadanya.

Maka apabila dia terus memandang dengan cara pandangan yang seperti itu, maka dia akan tahu bahwasanya nikmat yang Allāh berikan kepada dirinya lebih dibandingkan nikmat yang Allāh berikan kepada orang lain yang begitu banyak yang semuanya tidak sama bahkan kurang dari nikmat yang dia dapatkan.

Maka dia akan merasakan, dia akan terbuka hatinya untuk mensyukuri nikmat tersebut karena ternyata nikmat yang sudah dia dapatkan itu lebih baik dibandingkan kondisi orang lain yang mereka kurang dalam segi kenikmatan yang mereka dapatkan.

Baik kenikmatan akal, kenikmatan harta, kenikmatan dalam segi kesehatan atau hal lain dimana begitu banyak orang lain yang akalnya mungkin kurang dibandingkan akal yang dia miliki.

Begitu juga banyak orang yang dalam harta mereka tidak seperti apa yang Allāh berikan kepada dirinya atau kesehatan di mana Allāh memberikan kepada dirinya nikmat sehat namun banyak orang yang tidak Allāh karuniakan nikmat tersebut kepada mereka.

Maka dengan cara pandang yang demikian, dia akan merasa bahwasanya nikmat Allāh sudah begitu besar.

Juga dengan cara menutup pandangan dari orang-orang yang kondisi atau keadaan mereka lebih baik dibandingkan dirinya dalam segi nikmat-nikmat tersebut.

Dalam segi nikmat-nikmat duniawi, karena dengan memandang kepada mereka hanya akan menimbulkan kesedihan, menimbulkan kesempitan hatinya dan akan menjadikan dia memandang bahwasanya nikmat yang Allāh berikan kepada dirinya sedikit dibandingkan orang lain.

Maka dia akan senantiasa berada di dalam kesempitan, berada dalam kesusahan, tidak memiliki kelapangan dada karena dia selalu dihantui perasaan ingin mendapatkan nikmat seperti yang didapatkan orang lain.

Maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menganjurkan agar kita melihat kepada orang yang kondisi dia berada di bawah kita dan tidak memandang kepada orang yang kondisinya berada di atas kita dalam segi nikmat-nikmat duniawi.

Karena yang demikian itu kata beliau akan lebih menjadikan kalian untuk tidak meremehkan nikmat yang telah Allāh Subhānahu wa Ta’āla berikan.

Dikarenakan pentingnya rasa syukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang itu merupakan azas dari segala kebaikan maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah memberikan suatu wasiat kepada seorang shahābat yang bernama Mu’ādz bin Jabbal Radhiyallāhu ta’āla ‘anhu.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda kepada Mu’ādz.

يَا مُعَاذُ، إِنِّي لَأُحِبُّكَ، فلَا تَدَعَنَّ أَنْ تَقُولَ دُبُر كُلِّ صَلَاةٍ مقتوبة : اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Wahai Mu’ādz, sesungguhnya aku mencintaimu. Maka janganlah engkau tinggalkan do’a setiap akhir shalāt, “Allāhuma a’iniy alā dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibādatik (Yā Allāh, tolonglah aku untuk mengingatmu dan bersyukur kepadamu serta memperbaiki ibadahku kepadamu). ”

Ini adalah suatu ibadah yang diajarkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam agar meminta untuk ditolong oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla di dalam mensyukuri nikmat-nikmat yang telah Allāh berikan.

Begitu juga Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa’dī rahimahullāh di sini membawakan, do’a lain yang disebutkan didalam hadīts yang lain dimana lafadz do’a tersebut,

Adalah:

اللهم اجْعَلْنِي لَكَ شَكَّارًا لَكَ ذَكَّارًا
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي أُعَظِّمُ شُكْرَكَ وَأُكْثِرُ ذِكْرَكَ وَأَتَّبِعُ نَصِيحَتَكَ وَأَحْفَظُ وَصِيَّتَكَ

“Yā Allāh, jadikanlah aku termasuk hamba yang bersyukur kepada Mu, yang senantiasa mengingat Mu.”

“Yā Allāh, jadikanlah aku mengagungkan rasa syukur kepada Mu dan memperbanyak dzikir kepada Mu, serta mengikuti nasehat yang engkau berikan, serta menjaga wasiat-wasiat yang engkau wasiatkan.”

Maka dari semua ini kita mengetahui, bahwasanya bersyukur kepada Allāh adalah suatu yang wajib dilakukan oleh seorang hamba.

Dan bagaimana caranya agar dia bersyukur?

Caranya dengan apa yang dianjurkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam hadīts ini.

Yaitu memandang kepada orang yang berada di bawah kita, dalam segi kenikmatan-kenikmatan duniawi dan tidak memandang kepada orang-orang yang berada di atas kita dalam segi kenikmatan-kenikmatan tersebut.

Demikian yang bisa kita kaji pada halaqah kita kali ini dan in syā Allāh akan kita lanjutkan lagi pada hadīts berikutnya di halaqah mendatang.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top