Home > Bimbingan Islam > Kitab AtTauhid > Halaqah 048: Pembahasan Dalil Hadīts Mu’ādz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu (Bagian 10)

Halaqah 048: Pembahasan Dalil Hadīts Mu’ādz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu (Bagian 10)

🌍 BimbinganIslam.com
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc حفظه لله تعالى
📗 Kitab At-Tauhid
〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ولاحول ولاقوة إلا بالله أما بعد

Ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari hadīts ini, di antaranya adalah:

⑴ Tawadhunya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau mengendarai khimar (keledai), karena menurut sebagian orang Arab, khimar adalah binatang yang hina sehingga tidak boleh dijadikan sebagai binatang tunggangan.

⑵ Pentingnya tauhīd.

Pentingnya seseorang beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla semata dan wajibnya seseorang menjauhi semua bentuk kesyirikan (baik syirik kecil maupun syirik besar).

⑶ Balasan yang akan di dapat oleh seorang hamba sekiranya mereka ikhlas di dalam beribadah untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla semata.

Balasan yang Allāh janjian adalah: وهو دخل الجنة .

Yaitu dia akan memperoleh kesempatan besar untuk masuk ke dalam surga dan dia akan dijauhkan dari adzab neraka.

⑷ Barangsiapa menyekutukan Allāh dalam peribadatan, maka dia berhak untuk memperoleh balasan yaitu adzab api neraka (wal’iyadzubillāh).

⑸ Bolehnya seseorang menyembunyikan sebagian masalah terkait dengan ilmu.

Hal ini berlaku kepada siapa saja yang dikhawatirkan jika dia mengetahuinya maka akan menyepelekan, dalam rangka melakukan perkara-perkara yang fardhu (wajib) ataukah dia melakukan perkara-perkara yang di haramkan.

Bisa jadi dia akan berzinah.

“Koq minum khamr, sih mas?” “Ora popo seng penting ora syirik.”

“Koq mboten shalat tho bu?” “Ora popo timbangane aku syirik, seng penting aku ora syirik.”

Subhānallāh.

Maka disinilah sebagai seorang muslim, kita harus menjadi muslim yang ‘aqil, menjadi muslim yang munshif, menjadi muslim yang adil, mana yang bisa dia ajarkan maka dia ajarkan.

Sekiranya ada suatu ilmu dan ilmu tersebut akan menjadi fitnah bagi masyarakat tersebut
maka disinilah seorang ‘alim (ustd, da’i, syaikh) hendaknya berbuat arif sehingga dia bisa berbuat hikmah, agar apa yang dilakukan, apa yang dikerjakan mendapatkan keberkahan.

نكتفي بهذا القدر

Terima kasih atas segala perhatiannya ada hal yang kurang berkenan, mohon maaf yang sebesar-besarnya.

سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا الله، أستغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

________

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top