Home > Bimbingan Islam > Kitab AtTauhid > Halaqah 046: Pembahasan Dalil Hadīts Mu’ādz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu (Bagian 8)

Halaqah 046: Pembahasan Dalil Hadīts Mu’ādz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu (Bagian 8)

🌍 BimbinganIslam.com
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc حفظه لله تعالى
📗 Kitab At-Tauhid
〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ولاحول ولاقوة إلا بالله أما بعد

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam suatu ketika berada di masjid, kemudian ada seorang Arab gunung yang tiba-tiba kencing di salah satu sudut masjid. Kemudian para shahabat geger (ribut) bahkan di antara mereka ada yang hendak menyakiti Arab gunung tersebut.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

دعوه ولا تزرموه

“Biarkan dia kencing dan jangan kalian ganggu.”

Setelah Arab gunung ini selesai kencing kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam meminta salah seorang shahabat untuk mengambil satu ember air, kemudian air tersebut digunakan untuk menyiram di mana Arab gunung itu kencing.

Dan tentunya waktu itu (di zaman Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam) kondisi masjid masih berpasir.

Apa yang orang Arab gunung ini katakan?

Orang Arab gunung ini berkata:

اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي وَمُحَمَّدًا، وَلاَ تَرْحَمْ مَعَنَا أَحَدًا

“Yā Allāh rahmatilah kami dan rahmatilah Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, dan janganlah Engkau berikan rahmat kecuali kami berdua.”

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

لا تحجر واسعاً

“Jangan engkau membatasi rahmat Allāh yang sangat luas.”

Tentu hikmah besar, kenapa orang baduy yang kencing di dalam masjid tidak boleh diganggu. Kalau sekiranya diganggu maka air kencing itu akan kemana-mana, kemudian dia akan menahan kencingnya sehingga dapat menimbulkan penyakit lain.

مَا كَتَبَ ولا نفسه ووعدهم به من الثواب تَفَضُّلًا مِنْهُ وَإِحْسَانَا

Allāh Subhānahu wa Ta’āla menetapkan atas Diri-Nya bahkan memberikan janji kepada hamba-Nya berbagai macam pahala, sebagai bentuk keutamaan yang Allāh Subhānahu wa Ta’āla berikan kepada hamba-Nya dan Allāh berbuat baik untuk mereka.

Kita ini mendapatkan banyak nikmat, kita ini banyak mendapatkan karunia, maka jangan sampai nikmat dan karunia yang kita terima, kita balas dengan keburukan.

Dan Allāh menyebutkan:

هَلْ جَزَاءُ الإحْسَانِ إِلا الإحْسَانُ

“Bukankah kebaikan itu balasannya adalah kebaikan pula.”

(QS. Ar Rahman: 60)

Dan tidak ada satu nikmat tatkala kita berbicara karunia melainkan kita menjadi seorang yang muwahīd

Kenapa?

Begitu kita bertauhīd, maka kita meletakkan sesuatu pada tempatnya, karena disitulah hakikat ibadah.

Jika seorang hamba beribadah kepada Allāh, maka Allāh mewajibkan atas Diri-Nya apa yang semestinya di dapat oleh hamba.

Apa itu?

أن لا يعذب من لا يشركوا به شيئا

“Allāh tidak akan mengadzab siapa saja yang tidak menyekutukan Allāh.”

Salah satu yang diberitakan bahwasanya:

فبينله عن البي ان حق الله على عبده ان يسلخوا له

فبين له البي ان حق الله على عبده ان يخلصوا له العبدة ولا يشركوا معه احد فيها

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memberikan penjelasan bahwasanya apa yang menjadi kewajiban hamba kepada Allāh sekiranya mereka ikhlas dalam beribadah hanya untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla semata dan tidak menyekutukan kepada Allāh dengan suatu bentuk kemusyrikan apapun bentuknya di katakan:

فإذا فعلوا ذلك فأن جزاءهم أن يدخلهم الجنة

Sekiranya hamba itu mentauhīdkan Allāh (meng-Esa-kan Allāh) tidak menyekutukan Allāh maka balasan yang akan mereka terima, Allāh Subhānahu wa Ta’āla memasukan mereka ke dalam Surga

ولا يعذبهم بالنار

Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak akan mengadzab mereka dengan api neraka.

Disini Surga dan disana Neraka.

Jika dia bertauhīd maka surga akan diraih dan neraka akan dijauhkan

Sebagai seorang muslim seharusnya memahami bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla memiliki makhluk dan satu makhluknya adalah makhluk mulia yaitu surga.

Didalam surga orang akan memperoleh nikmat, Allāh Subhānahu wa Ta’āla menyebutkan:

فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍۢ

“Bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.”

(QS. At Tin: 6)

Nikmat tersebut: غَيْرُ مَمْنُونٍۢ.

para ulama menjelaskan: غَيْرُ مَمْنُونٍۢ adalah: غير مقطع , tidak akan terputus, semuanya adalah nikmat.

Allāh firmankan:

لا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًۭا وَلَا تَأْثِيمًا ۞ إِلَّا قِيلٗا سَلَٰمٗا سَلَٰمٗا

“Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa. Tetapi mereka mendengar ucapan salam.”

(QS. Al Waqi’ah: 25-26)

Dan nikmat surga Allāh menyebutkan:

وَدَانِيَةً عَلَيۡهِمۡ ظِلَٰلُهَا وَذُلِّلَتۡ قُطُوفُهَا تَذۡلِيلٗا

Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya.

(Al Insān: 14)

Diayat lain dikatakan:

قُطُوفُهَا دَانِيَةٌۭ

“Jika seseorang hendak mengambilnya maka sangat mudah (buah-buahnya mendekat).”

(QS. Al Haqqah: 23)

Allāh menyebutkan:

وَلَحْمِ طَيْرٍۢ مِّمَّا يَشْتَهُونَ

“Dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.”

(QS. Al Waqi’ah: 21)

Nikmat surga yaitu daging burung puyuh, tidak disebut “telo”, tidak disebut “gudeg”, tidak disebut “gaplek”, tidak disebut sagu, tidak disebut “sego”.

Kenapa?

“Mareki” (membuat kenyang).

Maka Allāh firmankan:

وَفَـٰكِهَةٍۢ كَثِيرَةٍۢ

“Nikmat surga, mereka akan mendapatkan buah-buahan yang banyak.”

(QS. Al Waqi’ah: 32)

Nataufīq bihadzal qadar, terima kasih atas segala perhatiannya ada hal yang kurang berkenan, mohon maaf yang sebesar-besarnya.

سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا الله، أستغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

________

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top