Home > Bimbingan Islam > Kitab AtTauhid > Halaqah 041: Pembahasan Dalil Hadīts Mu’ādz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu (Bagian 3)

Halaqah 041: Pembahasan Dalil Hadīts Mu’ādz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu (Bagian 3)

🌍 BimbinganIslam.com
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc حفظه لله تعالى
📗 Kitab At-Tauhid
〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ولاحول ولاقوة إلا بالله أما بعد

Ikhwah wa Akhawatiy Fīlllāh rahimakumullāh.

Maka Mu’ādz berkata (setela keduanya naik himār):

فَقَالَ لِي

Seketika itu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda kepadaku:

يَا مُعَاذُ

“Wahai Mu’ādz.”

Begitu sopan santunnya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam terhadap shahabat Beliau. Dimana Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memanggil Mu’ādz dengan panggilan yang baik.

Yang pertama diawali dengan panggilan: يا (wahai), menunjukan bagaimana Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam hendak memberikan sesuatu kepada Mu’ādz. Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memulai panggilan dengan mengatakan, “Wahai.”

Beliau tidak berkata, “Hai Mu’ādz.”

Beliau tidak memulai dengan mengatakan, “Wahai Adz.”

Tapi Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memanggil sahabatnya dengan panggilan sempurna: “يَا مُعَاذُ”.

Di negeri kita kadang orang bernama Budi, cuma dipanggil “Bud” kadang dipanggil “Di” namanya Abdullāh kadang dipanggil “Dullah”, kadang di panggil “Aab”, kadang dipanggil “Dul”.

Perhatikan! Orang-orang Arab memanggil saudaranya dengan panggilan penuh “Yā, Abdurrahman”, “Yā, Abdullāh”, “Yā, Abdul Azīz”, tidak dipanggil nama terakhir misalnya “Azīz” atau “Dul Azīz”.

Dan terkadang sebagian orang memanggil nama seseorang dengan julukan-julukan yang tidak semestinya diberikan.

فَقَالَ لِي يَا مُعَاذُ؟

Seketika itu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda kepadaku, “Wahai Mu’ādz.”

أَتَدْرِي مَا حَقُّ اَللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ، وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اَللَّهِ؟

“Tahukah engkau, apa yang menjadi hak Allāh kepada hamba dan apa yang menjadi kewajiban hamba terhadap Allāh?”

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, Beliau berbicara dan Beliau memberikan pertanyaan: أَتَدْرِي.

Di dalam Al Qur’ān banyak kita jumpai kata-kata: أَدْرَىٰ.

ٱلۡقَارِعَةُ ۞ مَا ٱلۡقَارِعَةُ ۞ وَمَاۤ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡقَارِعَةُ

Hari Kiamat. Apakah hari Kiamat itu? Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu?

إِنَّاۤ أَنزَلۡنَـٰهُ فِی لَیۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِ ۞ وَمَاۤ أَدۡرَىٰكَ مَا لَیۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?

وَٱلسَّمَاۤءِ وَٱلطَّارِقِ ۞ وَمَاۤ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلطَّارِقُ

Demi langit dan yang datang pada malam hari. Tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu?

Maka ketika orang ditanya, ada yang bisa menjawab ada yang tidak bisa menjawab.

Yang kedua jika seseorang hendak memberikan pengajaran, memberikan pengajaran banyak macam dan bentuknya. Ada yang sifatnya berita, “Sini tak kasih tahu,” itu adalah berita.

Ada uslub, ada suatu cara, dimana cara ini akan menghujam pada seseorang.

Kapan?

Tatkala dia ditanya, karena dengan pertanyaan tersebut akan senantiasa dia ingat.

أَتَدْرِي مَا حَقُّ اَللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ، وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اَللَّهِ؟

“Tahukah engkau, apa yang menjadi hak Allāh kepada hamba dan apa yang menjadi kewajiban hamba terhadap Allāh?”

Di sini Mu’ādz mengatakan:

قُلْتُ اَللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ

Aku katakan, “Allāh dan Rasūl-Nya lebih tahu.”

Di sini Mu’ādz berkata, “Aku katakan.”

Kepada siapa?

Kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Mu’ādz berkata:

اَللَّهُ وَرَسُولُهُ

“Allah dab Rasul-Nya.”

Karena di sini adalah perkara hebat (agung) dan Mu’ādz sangat sopan santun terhadap Rasūl-Nya.

Sekiranya beliau tahu, maka beliaupun akan diam, kenapa?

Barangkali Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam akan memberikan jawaban yang lain, apalagi kalau tidak tahu.

Dan banyak kejadian di mana Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bertanya kepada para shahabat, seperti ketika musim haji.

Ketika musim haji Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bertanya kepada para shahabat:

اي بلد هذا

“Negeri apakah ini?”

Padahal yang dimaksud adalah negeri Mekkah (negeri yang suci). Para shahabat tidak menjawabnya. Karena barangkali Rasūlullāh akan memberikan nama lain untuk kota Mekkah.

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata, “Bukankah ini tanah suci Mekkah?”

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bertanya, “Bulan apakah ini?”

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memberikan pertanyaan tersebut, Beliau ingin tahu, bagaimana para shahabat menjawab pertanyaan itu.

Para shahabat, mereka tahu jawaban pertanyaan dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam akan tetapi mereka tidak menjawabnya. Karena mereka berharap (mungkin) Rasūlullāh akan memberikan nama lain untuk nama bulan suci (bulan Dzulhijjah) karena waktu itu bertepatan dengan musim haji.

Di sini Mu’ādz berkata:

اَللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ

‘Allāh dan Rasūl Nya lebih tahu.”

Beliau tidak berkata, “Rasūluhu,” “Rasūlullāh,” atau “Anta wa Allāh lebih tahu,” tidak!

Yang dikatakan oleh Mu’ādz adalah:

اَللَّهُ وَرَسُولُهُ

Allāh dan Rasūl-Nya.

Perhatikan!

Bagaimanakah tauhīd yang dimiliki oleh Mu’ādz.

Dinisbatkan sesuatu kepada Dzat yang berhak untuk memiliki. Maka di sini Mu’ādz berkata Allāh.

Māsyā Allāh, perhatikan! Bagaimanakah pengagungan Mu’ādz kepada Allāh, kemudian berikutnya: وَرَسُولُهُ (Rasūl Nya).

Mu’ādz tidak berkata, “Allāh dan Muhammad lebih tahu.” Mu’ādz juga tidak berkata, “Allāh dan engkau,” tapi Mu’ādz berkata, “Allāh dan Rasūl-Nya (itsbat).”

√ Mu’ādz menetapkan bahwasanya yang berada di depannya adalah utusan Allāh.

Subhānallāh demikianlah para shahabat, mereka sangat menghormati Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

‘Aisyah sangat hormat kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, begitu pula istri-istri Beliau yang lain, semua menghormati Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Bahkan Fathimah pun sangat hormat kepada ayahnya, “Ya Rasūlullāh (Wahai utusan Allāh),” luar biasa.

Bagaimanakah mereka memberikan pengagungan kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Berikutnya: أَعْلَمُ

Kata: علم , memiliki arti mengetahui. Begitu: أعلم , maksudnya adalah “Dzat Yang Maha Mengetahui”.

Di dalam Al Qur’ān dikatakan Allāh adalah Dzat yang Maha Agung:

سَبِّحِ ٱسۡمَ رَبِّكَ ٱلۡأَعۡلَى

“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi.”

(QS Al A’la :1)

Subhānallāh.

Tidak di katakan: على, artinya tinggi.

Al A’la ( ٱلۡأَعۡلَى ) adalah Dzat Yang Maha Tinggi.

Di sini Mu’ādz berkata:

اَللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ

Dalam artian, tidak ada di dunia ini yang memiliki ilmu melebihi ilmunya Allāh dan ilmunya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Demikian semoga bermanfaat.

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد إن لا إله إلا أنت استغفرك وأتوب إليك
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

____________

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *