Home > Bimbingan Islam > Kitab AtTauhid > Halaqah 040: Pembahasan Dalil Hadīts Mu’ādz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu (Bagian 2)

Halaqah 040: Pembahasan Dalil Hadīts Mu’ādz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu (Bagian 2)

🌍 BimbinganIslam.com
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc حفظه لله تعالى
📗 Kitab At-Tauhid
〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ولاحول ولاقوة إلا بالله أما بعد

Ikhwah wa Akhawatiy Fīlllāh rahimakumullāh.

Perhatikan!

Apa kata Mu’ādz bin Jabal?

كُنْتُ رَدِيفَ اَلنَّبِيِّ صَلَّى اَللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حِمَارٍ

“Suatu saat aku pernah dibonceng oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam di atas seekor keledai.”

Pelajaran besar yang bisa kita petik adalah bagaimanakah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam naik (mengendarai) keledai (himār/حِمَارٍ).

Unta dan kuda adalah tunggangan orang-orang Arab. Zaman dahulu mereka (orang-orang Arab) mengendari unta atau kuda, dan ini adalah suatu kehormatan bagi mereka dan menurut sebagian dari mereka, mengendarai seekor keledai adalah suatu kehinaan.

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memberikan bantahan bahwasanya naik (mengendarai) keledai bukanlah sesuatu yang hina.

Lihat! Bagaimana tawadhunya Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam (Beliau mengendarai keledai).

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memiliki keledai yang bernama ‘Ufair dan unta yang bernama Al Qashwa.

كُنْتُ رَدِيفَ اَلنَّبِيِّ صَلَّى اَللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Dahulu aku pernah dibonceng oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.”

Ini juga menunjukkan dekatnya Mu’ādz dengan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, begitupun sebaliknya, māsyā Allāh.

Dan seseorang yang membonceng maka dia akan duduk berdekatan, menunjukkan bagaimanakah dekatnya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan Mu’ādz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu.

Beliau hendak menyampaikan sesuatu kepada Mu’ādz.

Oleh karenanya hal yang baik bagi kita, apabila kita memiliki masalah dengan teman, maka ajaklah teman itu pergi.

Juga barangkali kita mempunyai anak dan kita ingin memberi nasihat, ajaklah anak kita pergi berdua.

Karena sesungguhnya orang yang dalam keadaan bepergian jika diberi nasehat, maka nasehat tersebut adalah menghujam di dalam sanubari mereka.

Orang yang bepergian berdua kemudian mereka ada masalah, diharapkan mereka bisa saling terbuka, karena dengan mereka berdua mungkin akan ada unsur keterbukaan.

Sebagian orang memberikan nasehat di depan khalayak sehingga orang pun sulit untuk menerimanya.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam hendak memberikan sesuatu hal (nasehat) yang menghujam di dalam dada (sanubari) Mu’ādz bin Jabal.

Apakah yang dikatakan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam?

فَقَالَ لِي يَا مُعَاذُ؟

Rasulullah bertanya, “Wahai Mu’ādz.”

Faqāla lī (فَقَالَ لِي) di dalam bahasa Arab, apabila ada ungkapan tsuma (ثم) menunjukkan apa yang diucapkan memiliki waktu jeda.

Contoh:

Siswa masuk kelas (دخل الطلاب الفصل فدخل المدرس)
Siswa masuk kelas—> فدخل المدرس
Maka tidak lama sesudah itu langsung masuk seorang pengajar.
Jika disini ada ungkapan ف menunjukkan tidak ada jeda.

Jika diungkapkan dengan ثم,

دخل المدرس الفصل، ثم دخل التلامِيْذ

Guru itu masuk kelas, kemudian (mungkin dua menit mungkin tiga menit) baru masuk siswa.

Dan ini yang kadang terjadi di zaman sekarang, kalau dahulu guru selalu ditunggu kehadirannya dan siswa masuk ke dalam kelas sebelum guru datang.

Di zaman sekarang kita kadang sedih, guru sudah masuk kelas, kadang siswa masih ogah-ogahan, dan ini adalah musibah dalam dunia pendidikan.

Musibah lagi di sebagian kampus, ketika guru menyampaikan materi sementara mahasiswanya main HP, tidak memberikan perhatian yang semestinya dia lakukan sebagai seorang siswa, sebagai seorang mahasiswa atau mahasiswi.

Demikian semoga bermanfaat.

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد إن لا إله إلا أنت استغفرك وأتوب إليك
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
______

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *