Halaqah 013 | Hadits 12 (2)

🌍 BimbinganIslam.com
👤 Riki Kaptamto, Lc
📗 Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār Wa Quratu ‘Uyūni Akhyār fī Syarhi Jawāmi’ al Akhbār
(Mutiara Hikmah Penyejuk Hati, Syarah 99 Hadits Pilihan)
📝 Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa’dī

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله ربّ العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، اما بعد

Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh.

Ini adalah halaqah kita yang ke-13 dalam mengkaji kitāb بهجة قلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار في شرح جوامع الأخبار (Bahjatu Qulūbil abrār wa Quratu ‘uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi’ al Akhyār) yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa’dī rahimahullāh.

Pada halaqah kita kali ini, kita masih berada pada penjelasan hadīts ke-12 yaitu hadīts dari Abū Hurairah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu.

Kita sudah sampai pada sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, di mana beliau mengatakan:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

“Bersemangatlah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”

Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa’dī rahimahullāh menjelaskan bahwa ungkapan di sini adalah ungkapan yang singkat namun maknanya begitu bermanfaat atau diistilahkan sebagai kalāmu jāmi’un.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyebutkan dalam ungkapan ini tiga hal yang itu merupakan sebab seorang bisa mendapatkan kebahagiaannya baik di dalam urusan dunia maupun di dalam urusan akhirat.

Tiga hal tersebut adalah:

⑴ Al hirsh (الحرص) memiliki semangat di dalam perkara-perkara yang dia lakukan, karena semangat adalah modal utama dia melangkahkan kakinya pada suatu amalan.

Adapun orang yang malas maka dia hanya akan menggantungkan dirinya terhadap hal-hal yang dia sendiri tidak berusaha untuk melakukannya.

Sehingga orang yang malas adalah orang yang tidak mungkin bisa mendapatkan kebahagiaan baik di dalam urusan dunia maupun urusan akhirat.

⑵ Al Istihadu fīmā yanfa, bersungguh-sungguh di dalam melakukan perkara yang bermanfaat.

Karena orang yang hanya bermodal semangat tetapi dia tidak merealisasikan semangatnya dengan upaya yang sungguh-sungguh maka tidak akan bisa mencapai apa yang dia inginkan, sehingga perlu hal yang kedua ini yaitu dia melakukan upaya.

Dan upaya ini harus pada hal-hal yang bermanfaat, karena kalau upaya yang dia lakukan pada perkara yang membahayakan, yang tidak ada manfaat maka semua itu akan menyia-nyiakan umurnya.

Dan hanya akan menjadikan dia ditimpa perkara-perkara yang merugikan dirinya sendiri.

⑶ Al Isti’ānatu billāh, dia iringi upaya tersebut dengan meminta pertolongan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla karena ini merupakan sebab dia bisa berhasil dalam apa yang dia inginkan.

Karena segala sesuatu berada di tangan Allāh Subhānahu wa Ta’āla, maka selain dia berupaya dia juga harus meminta kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla agar Allāh Subhānahu wa Ta’āla memudahkan urusannya, agar memudahkan dirinya dalam mengapai apa yang dia inginkan.

Tiga hal ini merupakan sebab kebahagiaan seorang dalam urusan dunia maupun urusan agamanya.

Kemudian beliau juga menyebutkan dalam penjelasan hadīts ini bahwa yang dimaksud hal yang bermanfaat di dalam sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tersebut mencakup hal-hal yang bermanfaat dalam urusan dunia maupun dalam urusan akhirat (agama).

Adapun hal-hal yang bermanfaat dalam urusan agama maka itu berupa dua hal, yaitu:

⑴ Ilmu yang bermanfaat, karena ilmu yang akan menjadikan dia mampu untuk membersihkan jiwanya.

Yang menjadikan dia mampu untuk mengenal kebaikan bagi dirinya, maka beliau contohkan di sini.

Beliau mencontohkan, mengapai ilmu yang bermanfaat adalah dia berusaha memulai dengan menghapal pelajaran-pelajaran dari mulai yang ringan hingga pelajaran-pelajaran yang lebih mendalam.

⑵ Hal yang bermanfaat dalam urusan agama adalah amal shālih, karena seorang berilmu tanpa beramal, maka sia-sia apa yang dia ketahui.

Dia butuh kepada amal shālih dan beliau sebutkan bahwa yang dimaksud dengan amal shālih adalah amal yang dibangun di atas keikhlāsan dan di atas mutāba’ah terhadap sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Mengikuti sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam di dalam bertaqarub kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ini adalah dua perkara yang merupakan hal bermanfaat di dalam urusan agama.

√ Ilmu yang bermanfaat
√ Amal yang shālih

Adapun perkara yang bermanfaat di dalam urusan dunia tidak boleh juga dia tinggalkan, dia harus berupaya menjalankannya, berupaya untuk mengapainya.

Karena sebagaimana manusia butuh kepada perkara akhirat, dia juga butuh kepada perkara-perkara dunia yang bisa menopang dirinya untuk menggapai kebahagiaannya.

Maka seorang harus berusaha, semangat mencari rejeki yang halal supaya bisa membantu dia dalam menjalankan ketaatan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dia berusaha untuk mencari jalan-jalan rejeki yang Allāh halalkan bukan hal-hal yang haram karena itu justru memudharatkan dirinya, bukan memanfaatkan dirinya.

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam di dalam hadīts tersebut menyebutkan bahwa seorang yang dia telah berusaha kemudian dia tidak berhasil atau dia ditimpa suatu yang tidak menyenangkan yang tidak diharapkan maka beliau berikan solusinya.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا . وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ ” .

“Dan jika engkau ditimpa sesuatu yang tidak engkau sukai, maka jangan engkau ucapkan, ‘Kalau seandainya saya melakukan demikian, niscaya hasilnya demikian, demikian’. Akan tetapi ucapkanlah Qadarallāh wa masyaa fa’ala (apa yang Allāh taqdirkan dan apa yang Allāh kehendaki pasti terjadi). Karena ucapan “seandainya dan senadainya” akan membuka celah bagi syaithān”.

Di sini Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwa apabila upaya telah dilakukan namun belum juga meraih apa yang diinginkan maka seorang tidak boleh dia mengucapkan ungkapan-ungkapan yang di situ menunjukkan ketidakridhāan dia terhadap taqdir.

Yaitu dengan kata lau (seandainya)….. “Seandainya dulu saya demikian maka pasti demikian”.

⇒ Karena ini merupakan ungkapan yang bisa membuka celah bagi syaithān.

Maksudnya dijelaskan oleh Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa’dī di sini, maksud ungkapan ini merupakan ungkapan yang bisa menjerumuskan seorang kepada ketidakridhāan terhadap taqdir, akan mengurangi keimanan dia terhadap taqdir dan juga ungkapan ini justru menambah kesedihan kepada dirinya, disamping kesedihan dia di dalam kegagalan atau perkara yang tidak menyenangkan yang dia hadapi.

Oleh karena itu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyarankan menngucapkan:

قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

“Apa yang telah Allāh taqdirkan pasti akan terjadi”.

⇒ Yaitu tidak akan mungkin bisa luput dari seorang hamba.

Demikian faedah yang bisa kita ambil dari hadīts yang mulia ini, in syā Allāh kita lanjutkan lagi pada halaqah berikutnya.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top