Home > Silsilah Aqidah > Menyambut Ramadhan Dengan Ilmu > Halaqah 03 | Bagaimana Kita Menyambut Bulan Ramadhān

Halaqah 03 | Bagaimana Kita Menyambut Bulan Ramadhān

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Menyambut Ramadhan Dengan Ilmu

════ ❁✿❁ ════

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Ikhwāniy Fīdīn wa Akhawātiy Fīllāh A’ādzaniyallāh wa Iyyakum.

Poin yang ketiga adalah bagaimana cara kita menyambut bulan Ramadhān.

Ada beberapa cara dan amalan yang dilakukan oleh seseorang untuk menyambut bulan yang mulia ini.

Setelah kita mengetahui bagaimana keutamaan bulan tersebut dan ini adalah musim kebaikan, dan belum tentu kita bisa menemui bulan Ramadhān pada tahun yang akan datang. Maka marilah kita sambut bulan ini dengan sambutan yang baik.

Di antaranya caranya adalah :

⑴ Kita bergembira dan bahagia ketika menyambut bulan ini.

Camkan di dalam diri kita dan masukan di dalam hati kita kegembiraan, dan kita berikan kabar gembira kepada orang lain, berikan kepada mereka semangat dan motivasi untuk bisa bersama-sama untuk mendapatkan bulan ini.

⑵ Berdo’a kepada Allāh Azza wa Jalla

Meminta kepada Allāh supaya bisa disampaikan kepada bulan mulia ini. Disebutkan bahwasanya dahulu para salaf 6 (enam) bulan sebelum datangnya bulan Ramadhān, mereka sudah berdo’a kepada Allāh meminta disampaikan pada bulan Ramadhān.

Setelah bulan Ramadhān 6 (enam) bulan mereka meminta kepada Allāh supaya diterima seluruh amalan yang mereka lakukan selama Ramadhān. Dan 6 bulan sebelum Ramadhan mereka meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala supaya disampaikan pada bulan ini.

⑶ Kita melihat apakah bulan Ramadhān yang telah lalu masih ada di sana hutang atau tidak?

Kita mengingatkan orang lain terutama keluarga kita, karena menunaikan hutang puasa di bulan Ramadhān adalah sebuah kewajiban, sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍۢ فَعِدَّةٌۭ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ

“Maka barangsiapa di antara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 184)

Mengganti hari-hari yang lain sebelum datangnya bulan Ramadhān tahun berikutnya, barangsiapa yang mengganti hari-hari yang ditinggalkan pada Ramadhān yang lalu, setelah melewati bulan Ramadhān berikutnya maka harus membayar fidyah.

Apabila dia adalah orang yang tidak mempunyai udzur, jika selama 11 bulan kemarin dia mampu mengganti hari-hari tersebut dia punya kesempatan dan dia orang yang sehat (hanya dia menunda) sehingga datang bulan Ramadhān berikutnya dan dia belum mengganti puasanya.

Maka orang yang demikian, dia harus membayar fidyah sebanyak hari yang ditinggalkan (tidak berpuasa) ditambah lagi dia harus tetap membayar hutang puasa tersebut. Ini apabila tidak memiliki udzur

Adapun bagi yang memiliki udzur, misalnya seorang wanita yang sedang hamil kemudian menyusui kemudian hamil lagi, wanita ini belum bisa berpuasa dan belum bisa mengganti puasa pada tahun tersebut, karena dia memiliki udzur maka dia tidak diwajibkan untuk membayar fidyah karena sebab dia menunda menunaikan atau mengganti puasa tersebut.

(4) Memiliki azam (tekad, semangat, rencana) untuk bisa mengambil faedah di bulan Ramadhān tahun ini.

Kita harus memiliki jadwal, apa yang akan kita lakukan di bulan Ramadhān ini?

Banyak manusia untuk urusan dunia, apalagi urusan dunia tersebut sesuatu yang tidak terulang dan hanya terjadi beberapa hari, mereka sudah merencanakan jauh-jauh hari, saya akan demikian dan demikian, karena di sana hanya dua-tiga hari, maka tidak ingin terlewatkan satu menit pun untuk bisa menikmati.

Ini dalam urusan dunia, banyak di antara manusia yang sudah membuat jadwal dan merencanakannya. Maka hendaklah seseorang di dalam urusan akhirat dia lebih memperhatikan.

Bulan Ramadhān hanya datang sebentar (hanya satu bulan), hendaklah dari sekarang dia sudah mempersiapkanya, dia sudah rencanakan, apa yang akan dia lakukan selama bulan Ramadhān?

Kita harus memiliki target, memilik jadwal, memiliki rencana yang sudah tersusun rapih, sehingga ketika datang bulan Ramadhān dia sudah tahu apa yang akan dia lakukan.

Misalnya:

√ Setiap hari membaca berapa juz, targetnya selama satu bulan khatam sekali atau dua kali.
√ Setiap hari shadaqah, berapa yang akan dia keluarkan.
√ Rencana akan i’tikaf di mana.

Harus mengusahakan Ramadhān tahun ini lebih baik daripada tahun yang lalu.

Dari awal kita harus sudah rencanakan apa yang akan kita lalukan pada bulan Ramadhān ini, karena kita tidak akan terasa melewati bulan Ramadhān ini, tiba-tiba kita berada di hari-hari terakhir bulan Ramadhān.

Maka ini di antara bagaimana cara kita menyambut bulan Ramadhān.

(5) Seseorang menyiapkan diri dengan ilmu.

Menyambut bulan Ramadhān dengan membekali diri dengan ilmu agama, khususnya yang berkaitan dengan bulan Ramadhān.

Usahakan tahun ini kita bersungguh-sungguh masuk bulan Ramadhān dan kita sudah menguasai hukum-hukum dan fiqih yang berkaitan dengan puasa. Jangan kita memasuki bulan Ramadhān, sementara kita belum menguasai ilmu tersebut.

Yang harus kita pelajari yang berkaitan dengan Ramadhān, di antaranya adalah:

√ Ayat-ayat yang berkaitan dengan puasa (kita baca kembali).

√ Hadīts-hadīts Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang berkaitan dengan puasa Ramadhān.

Dan di sana ada kitāb-kitāb yang mengumpulkan hadīts-hadīts tersebut seperti Bulughul Maram karya Ibnu Hajar.

Maka kita baca hadits-hadits berkaitan dengan Ramadhān ini, berkaitan dengan keutamaan puasa, perkara-perkara yang disunnahkan selama bulan puasa, misalnya:
√ Mengakhirkan sahur
√ Mendahulukan buka
√ Memperbanyak membaca Al-Qur’ān
√ Melakukan shalāt tarawih.

Kemudian hal-hal yang berkaitan dengan hal-hal yang membatalkan atau merusak puasa seseorang.

Ilmu-ilmu seperti ini sebelum kita memasuki bulan Ramadhān hendaklah kita mempelajarinya, usahakan sebelum masuk bulan Ramadhān kita sudah mengulang kembali.

Tentunya sangat kekurangan sekali, dan sangat aib rasanya, apabila seorang muslim atau muslimah dia tidak mengetahui hukum-hukum yang berkaitan dengan puasa Ramadhān.

Berbeda dengan masalah haji, jika dia tidak mengetahui masalah haji tidak mengapa karena haji dilakukan sekali seumur hidup, sedangkan puasa setiap tahun kita lakukan.

Maka sudah sepantasnya lah sebelum memasuki bulan Ramadhān kita sudah membaca kembali (mempelajari) hukum-hukum yang berkaitan dengan puasa Ramadhān dan menghadiri majelis ilmu yang di situ disampaikan materi mengenai hukum dan fiqih puasa.

Mungkin ini yang bisa disampaikan terkait apa yang kita lakukan sebelum datangnya bulan Ramadhān dan kita berdo’a kepada Allāh Azza wa Jalla.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan kita termasuk orang yang diberikan taufīq:

√ Bisa mendapatkan bulan tersebut dan bisa memanfaatkan bulan Ramadhān tersebut untuk memperbaiki diri kita.

√ Bertaubat kepada Allāh, memperbanyak amal shālih.
√ Membuka lembaran yang baru lembaran yang bersih, kehidupan yang penuh dengan ketaatan kepada Allāh dan juga Rasūl Nya, kehidupan yang jauh dari kemaksiatan kepada Allāh dan juga Rasūl Nya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, semoga yang sedikit ini bermanfaat.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

‘Abdullāh Roy
Di kota Jember

Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy
_________

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *