Home > Silsilah Aqidah > Wasiat Perpisahan Rasūlullāh ﷺ > Wasiat Perpisahan Rasūlullāh ﷺ (Bagian 01)

Wasiat Perpisahan Rasūlullāh ﷺ (Bagian 01)

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Wasiat Perpisahan Rasūlullāh ﷺ

============================

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله, الحمد لله الذي هدانا لهذا وما كنا لنهتدي لولا أن هدانا الله, أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله. اللهم صلى و سلم و بارك على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

Ikhwāh sekalian dan juga akhawāt rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Materi yang akan kita sampaikan adalah penjelasan dari sebuah hadīts yang agung diantara hadīts-hadīts Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, dan hadīts ini disebutkan oleh Al-Imam An-Nawawi rahimahullāh di dalam kitāb beliau Al-‘Arbai’in An-Nawawiyah, sebuah kitāb yang masyhur dikarang oleh Al-Imam An-Nawawi yang berisi tentang 42 hadīts yang merupakan pokok-pokok ajaran agama Islām.

Dan disebutkan hadīts ini pada hadīts ke 28 dan ini menunjukkan tentang kedudukan hadīts ini di mata para ulama Ahlus Sunnah wal Jamā’ah, karena didalamnya disebutkan tentang pokok ajaran agama Islām.

Dan senantiasa para ulama, mereka terus menggali dan mendalami hadīts-hadīts Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang merupakan wahyu yang Allāh turunkan sebagaimana firman Allāh ‘Azza wa Jalla:

وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلْهَوَىٰٓ ۞ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْىٌ يُوحَىٰ ۞

“Dan tidaklah Muhammad berbicara dari hawa nafsunya, apa yang dia ucapkan adalah wahyu yang diwahyukan kepada Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam”

(QS. An-Najm : 3-4)

Sehingga para ulama terus menggali apa yang diucapkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, mengambil faedah, merenungi apa yang diucapkan oleh Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan (in syā Allāh) apa yang akan kita sampaikan ini adalah bagian dari usaha kita menyebarkan sunnah dan mengenalkan hadīts-hadīts Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada ummat.

Ikhwāh sekalian yang dimuliakan oleh Allāh ‘Azza wa Jalla.

Beliau rahimahullāh mengatakan;

الحديث الثامن والعشرون

“Hadits yang ke 28”

Kemudian beliau (rahimahullāh) mengatakan:

عَن أَبي نَجِيحٍ العربَاضِ بنِ سَاريَةَ رضي الله عنه

Dari Abū Najih, ini adalah kunyah dari sahabat ‘Irbad ibn Sariyah, seorang sahabat yang mulia (semoga Allāh meridhai beliau).

Beliau menceritakan:

قَالَ: وَعَظَنا رَسُولُ اللهِ صلى اللّٰه عليه وسلم مَوعِظَةً وَجِلَت مِنهَا القُلُوبُ وَذَرَفَت مِنهَا العُيون

Beliau mengatakan:

“Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah memberikan mau’izhah (memberikan nasehat)”

Kemudian disifati nasehat yang disebutkan atau yang dilakukan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan dua sifat.

Yang pertama:

وَجِلَت مِنهَا القُلُوبُ

“Nasehat tersebut menjadikan hati-hati kami bergetar, menjadikan hati-hati kami takut”

وَذَرَفَت مِنهَا العُيون

“Dan menjadikan mata kami berlinang air mata”

Yang dimaksud dengan mau’izhah (مَوعِظَةً) didalam bahasa arab adalah nasehat yang isinya adalah dorongan untuk melakukan sesuatu. Dinamakan dengan targhib (ترغيب) atau didalamnya ada usaha untuk menakut-nakuti dari sesuatu.

Disebutkan (misalnya) pahala yang besar, dinamakan dengan targhib (ترغيب) atau didalamnya ada tarhib (ترهيب) yaitu menakut-nakuti dari sesuatu, disebutkan tentang ancaman didunia atau ancaman di neraka, maka ini dinamakan dengan mau’izhah (مَوعِظَةً)

Dahulu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam jarang melakukan mau’izhah (artinya) beliau tidak melakukan mau’izhah ini setiap hari.

Mau’izhah yang isinya dorongan dan juga nasehat (menakut-nakuti) supaya manusia takut dengan maksiat, takut dengan neraka dan seterusnya, ini dilakukan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak setiap hari.

Disebutkan didalam hadīts:

كان يتخولها

“Dahulu Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjarangkannya”

Kenapa demikian?

Karena yang namanya hati bisa bosan, apabila setiap hari diberikan mau’izhah maka hati akan bosan. Sehingga hikmah dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam memberikan nasehat ini (mau’izhah ini) kepada para sahabatnya secara jarang.

Dan sebagian sahabat dahulu memberikan mau’izhah sepekan sekali.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mensifati mau’izhah disini dengan 2 sifat,

• Sifat yang pertama:

وَجِلَت مِنهَا القُلُوبُ

“Mau’izhah tersebut menjadikan hati kami menjadi takut”.

Jadi apa yang disampaikan oleh Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam tadi masuk ke dalam hati para sahabat radhiyallāhu ‘anhum sehingga hati-hati mereka benar-benar terpengaruh dan menjadikan hati mereka takut kepada Allāh (takut dengan adzab-Nya).

• Sifat yang kedua:

وَذَرَفَت مِنهَا العُيون

“Nasehat tersebut menjadikan air mata kami berlinang”

Menunjukkan bahwasanya mau’izhah yang disampaikan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tadi adalah nasehat yang dalam.

Disebutkan didalam sebuah riwayat:

موعظة بليغة

“Nasehat yang sangat dalam”

Dan nasehat yang baligh (بليغة) maksudnya adalah nasehat yang disitu penasehatnya menggunakan kata-kata yang fasih, kata-kata yang ringkas, kata-kata yang singkat tetapi mengena pada hati manusia.

Oleh karena itu seseorang apabila ingin menasehati dengan makna yang tadi kita sebutkan, diutamakan dia memilih kata-kata yang bisa mengena dan bisa mempengaruhi orang yang mendengarkannya. Sebagaimana ini dilakukan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Dan ini menunjukkan tentang bagaimana lembutnya hati para sahabat radhiyallāhu ‘anhum sehingga hati mereka mudah bergetar ketika mendengarkan nasehat dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan mudah mata mareka menangis ketika mendengarkan nasehat dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Dan Allāh telah memuji di dalam Al-Qur’ān orang-orang yang beriman dimana mereka apabila mendengar ayat-ayat Allāh Subhānahu wa Ta’āla hati mereka bergetar.

Sebagaimana firman Allāh ‘Azza wa Jalla:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allāh maka takut hati mereka”

وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا

“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allāh Subhānahu wa Ta’āla maka ayat-ayat tersebut menambah keimanan didalam hati mereka”

(QS. Al-Anfāl: 2)

Dan Allāh juga menceritakan sebagian orang beriman yang lain, yang apabila mereka mendengar apa yang telah diturunkan oleh Allāh kepada Nabi-Nya mereka menangis.

Sebagaimana firman Allāh:

وَإِذَا سَمِعُوا۟ مَآ أُنزِلَ إِلَى ٱلرَّسُولِ تَرَىٰٓ أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ ٱلدَّمْعِ

“Engkau melihat mata-mata mereka mengalir air mata (yaitu) apabila mereka mendengar apa yang Allāh turunkan kepada rasul-Nya maka engkau melihat bahwasanya mata mereka mengalir dengan air mata”

(QS. Al-Maidāh: 83)

Maka ini menunjukkan bagaimana para sahabat radhiyallāhu ‘anhum memiliki hati yang lembut.

Dan hati yang keras adalah orang yang susah untuk menangis karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Apabila seseorang susah untuk menangis karena Allāh dan susah hatinya bergetar ketika mendengar nasehat, maka hendaklah dia segera mengoreksi hatinya, memperbanyak istighfar dan hendaklah dia sadar bahwasanya ini semua tidak terjadi kecuali karena banyaknya dosa yang dia lakukan.

Kemudian,

فَقُلْنَا

Ketika mendengar nasehat ini, maka kami berkata:

يَارَسُولَ اللهِ كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ

“Yā Rasūlullāh sepertinya nasehat ini adalah nasehat seorang yang ingin berpisah”

Ketika mereka mendengar nasehat ini dan didalam nasehat tersebut Beliau mengucapkan nasehat yang dalam seakan-akan Beliau sebentar lagi akan meninggalkan para sahabat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Sehingga sebagian mereka mengatakan, “Yā Rasūlullāh, seakan-akan ini adalah nasehat orang yang akan berpisah”

فَأَوصِنَا

“Maka berikanlah nasehat kepada kami”

Tentunya ini adalah perkiraan sahabat ketika melihat kata-kata yang digunakan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Kemudian mereka mengatakan,

فَأَوصِنَا

“Berikanlah nasehat kepada kami”

Yang dimaksud dengan wasiat adalah nasehat yang dikuatkan bukan nasehat yang biasa.

Kenapa mereka meminta wasiat?

Karena mereka melihat kata-kata yang digunakan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, mereka mengira bahwasanya Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam sebentar lagi akan meninggalkan para sahabat radhiyallāhu ‘anhum.

Dan biasanya orang yang akan berpisah, dia akan berwasiat dengan wasiat-wasiat yang agung, karena dia tahu setelah ini dia tidak akan bisa memberikan wasiat lagi.

Tidak bisa memberikan nasehat, maka dia memilih wasiat-wasiat yang paling penting bagi orang-orang yang dia cintai, yang sebentar lagi akan ditinggalkan.

Maka fiqih para sahabat disini, ketika mereka melihat dan mengira kata-kata tersebut adalah kata-kata orang yang akan berpisah, kemudian
mereka meminta wasiat kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Baik mungkin itu yang bisa kita sampaikan.

Wallāhu Ta’āla A’lam

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
______________

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *