Home > Bimbingan Islam > Kitab AtTauhid > Halaqah 007: Pengertian Ibadah

Halaqah 007: Pengertian Ibadah


🌍 BimbinganIslam.com
👤 Abdussalam Busyro, Lc
📗 Kitab At-Tauhid

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن والاه ولا حول ولاقوة إلا بالله
رضيت بالله ربا وبالإسلام دينا وبمحمد نبيا و رسولاً
رب زدني علما وارزقني فهما

Sahabat BiAS yang kami muliakan.

Pengertian ibadah adalah: Segala sesuatu yang mencakup hal-hal yang Allāh Subhānahu wa Ta’āla cinta dengannya dan ridhā dengannya baik berupa perkataan maupun perbuatan.

Perkataan yang baik jauh lebih mulia dibandingkan seseorang bersedekah kemudian sedekah tersebut diikuti dengan penyebutan dan sebutan.

Kemudian, Allāh Subhānahu wa Ta’āla menyebutkan: “Siapakah yang disembah?”

Yang disembah tiada lain kecuali Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Nabi Ibrāhīm alayhissallām pernah berkata:

وَٱجْنُبْنِى وَبَنِىَّ أَن نَّعْبُدَ ٱلْأَصْنَامَ

_”Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.”_

(QS. Ibrāhīm: 35)

Dalam bahasa Arab ada istilah: صنم , artinya “berhala”. Berhala yang berbentuk manusia, hewan atau makhluk hidup lainnya.

Berbeda dengan: وثن , artinya berhala yang diagungkan (disembah) dan berhala tersebut tidak berupa makhluk hidup (misalnya pohon, kuburan).

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah bersabda:

اللَّهُمَّ لا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ

_”Yā Allahu, janganlah engkau menjadikan kuburanku berhala yang diibadahi.”_

Subhānallāh,

Apa yang dikhawatirkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam luar biasa!

Beliau khawatir kuburannya dijadikan oleh orang-orang untuk tempat beribadah dan di zaman sekarang kita jumpai ada sebagian kuburan yang didatangi banyak orang, sehingga terkadang terjadi kesyirikan (hal-hal yang Allāh tidak ridha) dengannya.

Kenapa ?

Karena sebagian orang sering kali datang ke kuburan bahkan menyembahnya. Kalau sekedar datang ke kuburan tidak masalah. Orang datang ke kuburan, boleh! Sebagaimana disebutkan di dalam hadīts.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ، أَلا فَزُورُوهَا، فَإِنَّهُ يَرِقُّ الْقَلْبَ، وَتَدْمَعُ الْعَيْنَ، وَتُذَكِّرُ الآخِرَةَ، وَلا تَقُولُوا هَجْرًا

_”Dulu aku pernah melarang kalian untuk berziarah-kubur. Namun sekarang ketahuilah, hendaknya kalian berziarah kubur. Karena ia dapat melembutkan hati, membuat air mata berlinang, dan mengingatkan kalian akan akhirat. Namun jangan kalian mengatakan perkataan yang tidak layak (qaulul hujr), ketika berziarah.”_

(Hadīts riwayat Al Hākim no.1393, dishahīhkan Al Albāniy dalam Shahīh Al Jāmi’, 7584)

⇒ Ini menunjukkan bolehnya ziarah kubur.

Tetapi Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لَعَنَ اللَّه زَوَّارَات الْقُبُور

_”Allāh melaknat wanita yang sering berziarah kubur.”_

(Hadīts riwayat At Tirmidzī nomor 1056, komentar At Tirmidzī : “Hadīts ini hasan shahīh.”)

Disebutkan di dalam hadīts lain bahwasanya di antara fungsi ziarah kubur adalah mengingatkan seseorang akan kematian.

Tetapi di zaman sekarang, kita jumpai adanya sebagian orang yang berziarah kubur tidak untuk mengingat kematian tetapi untuk mengingat kehidupan.

Bagaimana ziarah kubur mengingatkan kehidupan?

Tadi disebutkan asal muasal ziarah kubur diperbolehkan untuk mengingat kematian. Ingat suatu saat nanti setiap manusia akan meninggal dunia.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

كُلُّ نَفْسٍۢ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ

_”Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.”_

قُلْ إِنَّ ٱلْمَوْتَ ٱلَّذِى تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُۥ مُلَـٰقِيكُمْ ۖ

_Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu.”_

(QS. Al Jumu’ah: 8)

Di sini, manfaat ziarah kubur adalah untuk mengingat kematian.

Tadi kita katakan adanya sebagian orang ziarah kubur untuk mengingat kehidupan, bagaimana bentuknya?

Sahabat BiAS yang kami muliakan.

Ada sebagian orang begitu akan pergi untuk ziarah kubur, mereka menyiapkan makanan, minuman dengan dalih apa yang menjadi kebiasaan (kesukaan) yang meninggal sewaktu masih hidup, itu yang mereka bawa.

Kalau yang meninggal dulunya (misalnya, ayahnya) suka kopi maka mereka membawakan kopi kekuburan. Ketika masih hidup dahulu si mayit suka pisang goreng atau bakwan maka dia membawakan pisang goreng atau bakwan tersebut.

Di sinilah sebagian orang ziarah kubur untuk mengingat kehidupan, mengingat apa yang menjadi kesukaan si mayat waktu masih hidup, itulah yang dibawa.

Sahabat BiAS yang kami muliakan.

Suatu saat ada seseorang pernah berkata kepada kami:

“Ustadz, saya pernah datang ke kuburan dengan kerabat saya dan waktu itu kami datang ke sana dengan membawa apa yang menjadi kesukaan ayah saya waktu beliau masih hidup yaitu teh pahit, karena acara di sana lama sekali sehingga saya haus kemudian saya minum teh pahit tersebut, semua saudara saya melihat ke arah saya dengan pandangan yang tidak menyenangkan karena saya telah meminum teh pahit yang seharusnya diberikan kepada ayah saya.”

Kemudian saya mengatakan kepada mereka, “Nanti kalau ayah bertanya: Siapa yang minum teh pahitnya? Katakan: Saya yang minum teh beliau.”

Sahabat BiAS yang kami muliakan.

Jadi, ada sebagian orang datang ke kuburan dalam rangka mengingat kehidupan. Oleh karena itu seorang mukmin hendaknya sebelum melakukan sesuatu harus berilmu.

Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَـٰتٍۢ ۚ

_”Allāh akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”_

(QS. Al Mujadilah: 11)

Demikian kajian kita pada kesempatan kali ini. Jika ada yang kurang berkenan, mohon maaf yang sebesar-besarnya. Terima kasih kami ucapkan kepada sahahat BiAS semoga lain waktu kita bisa bersua kembali.

سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا الله، أستغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top