Home > Bimbingan Islam > Tematik > Menggapai Kekhusyuan Di Dalam Shalat

Menggapai Kekhusyuan Di Dalam Shalat

🌍 BimbinganIslam.com
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc
📗 Kajian Tematik | Bulan Dzulhijjah
〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة أما بعد

Sahabat Bimbingan Islām, rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Tidak terasa sebentar lagi kita akan memasuki bulan Dzulhijjah, salah satu dari bulan haram, salah satu dari bulan yang Allāh muliakan, yang mana amal shālih pada bulan tersebut akan dilipat-gandakan.

Bahkan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah bersumpah, tidak ada amal shālih yang lebih dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang melebihi cinta Allāh kepada amal shālih yang dilakukan pada sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah ini.

Para sahabat pun bertanya,

وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ

“Wahai Rasūlullāh, termasuk lebih utama dari jihād fīsabilillāh?”

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Termasuk jihād fī sabilillāh tidak bisa menandingi amalan yang dilakukan di sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah”.

Kemudian Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengecualikan satu, yaitu :

إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

“Kecuali orang yang keluar berjihad di jalan Allāh, dengan membawa jiwa dan hartanya, dan tidak ada sedikitpun yang kembali (mati syahid).”

(Hadīts riwayat Al-Bukhāri)

Hanya orang yang berjihād kemudian mati syahid yang tidak bisa ditandingi dengan amalan-amalan bulan ini, artinya amalan-amalan bulan ini sangat istimewa, sangat besar sekali pahalanya.

Dan salah satu amalan yang sering kita lakukan setiap harinya adalah shalāt lima waktu.

Sahabat Bimbingan Islām, rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Syaikh Muhammad bin Shālih Al-‘Utsaimin pernah menyatakan bahwa hal terpenting setelah seorang mencontoh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam shalātnya adalah seorang bisa fokus (khusyuk) dalam shalātnya.

Ketika dia shalāt, dia berpikir bahwa dia benar-benar sedang shalāt, pikirannya tidak pergi kemana-mana. Saat dia berdo’a, dia paham (dia sedang berdo’a apa), saat dia membaca bacaan shalāt dia paham bacaan apa yang sedang dia baca, saat dia rukuk dia paham kalau dirinya sedang rukuk, ini yang terpenting yaitu khusyuk.

Salah satu cara untuk mengetes kekhusyukan shalāt kita adalah dengan instropeksi diri, apakah kita sadar dengan do’a-do’a yang kita panjatkan saat duduk di antara dua sujud.

Saat duduk di antara dua sujud kita berdo’a:

رَبِّ اغْفِرْ لِي ، وَارْحَمْنِي ، وَاجْبُرْنِي ، وَارْفَعْنِي، وَاهْدِنِي، وَعَافِنِي ، وَارْزُقْنِي

“Yā Allāh ampunilah aku, rahmatilah aku, tutuplah kekuranganku, tinggikanlah derajatku, berilah hidayah (petunjuk) untukku, berilah keselamatan pada diriku, hartaku, badanku, baik dunia maupun akhirat, dan berikanlah kesehatan kepadaku, dan berikanlah rezeki kepadaku.”

Tapi pernahkah kita sadar, setiap kali kita selesai shalāt, kita sudah meminta tujuh hal tersebut kepada Allāh dan minimalnya sudah 17 kali dalam sehari kita berdo’a seperti itu.

Sahabat Bimbingan Islām, rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Saya pribadi mengajak diri pribadi, begitu juga sahabat semuanya untuk instropeksi diri. Di sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah ini, coba kita tes seberapa besar kekhusyukan kita, seberapa paham kita dengan do’a-do’a yang kita panjatkan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dalam shalāt.

Mungkin kita sudah banyak berdo’a seperti tadi (meminta rezeki, meminta rahmat, meminta ampunan) mungkin do’a kita belum di ijabah oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Urusan kita masih susah, bisa jadi karena kita berdo’a tetapi kita tidak menghadirkan hati.

Dan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah menyatakan,

إنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

“Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak akan mengijabah do’a dari hati yang lalai dan bermain-main.”

(Hadīts riwayat At-Tirmidzī nomor 3479)

Sekali lagi, saya mengajak diri saya pribadi begitu juga kepada teman-teman semua sahabat Bimbingan Islām untuk instropeksi diri.

Sudahkah kita khusyuk dalam shalāt kita dan kita lihat dari do’a duduk di antara dua sujud.

Sudahkah kita paham dan saat selesai shalāt, sudahkah kita merasa berdo’a hal-hal tersebut kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Semoga di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini, di waktu yang mulia ini, di saat amalan-amalan sangat utama tidak bisa dikalahkan kecuali dengan jihād kemudian orangnya mati syahid.

Apakah kita berhasil untuk menjadikan shalāt kita, shalāt yang khusyuk?

Mari kita jadikan shalāt kita menjadi shalāt yang khusyuk tentu dengan memperbanyak do’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Karena diri kita lemah dan Allāh lah yang Maha Mampu.

Maka kita berdo’a,

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

”Yā Allāh, tolong aku untuk menyebut nama-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah yang baik untuk-Mu.”

Semoga kita semua diberikan taufīq dan dimudahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Wallāhu Ta’āla A’lam Bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
________

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *