Home > Bimbingan Islam > Kitab Al ‘Aqidah Al-Wāsithiyyah > Halaqah 003| Muqaddimah – Gambaran Isi Kitab Secara Umum

Halaqah 003| Muqaddimah – Gambaran Isi Kitab Secara Umum

🌍 BimbinganIslam.com
👤 Ustadz Rizqo Kamil Ibrahim, Lc
📗 Kitab Al ‘Aqidah Al-Wāsithiyyah

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليك ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، اما بعد

Sahabat BiAS yang dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Alhamdulilāh, kita kembali lagi pada kajian kitāb “Al ‘Aqidah Al Wāsithiyah” (العقيدة الواسطية) yang sekarang memasuki halaqah ke-3.

Pada halaqah pertama kita menjelaskan pentingnya menuntut ilmu dan pada halaqah sebelumnya sedikit kita singgung biografi dari Ibnu Taimiyyah rahimahullāh yang mengarang kitāb ini (العقيدة الواسطية).

Pada halaqah kali ini kita akan melihat ‘Aqidah Wāsithiyah secara global (umum).

√ Apa yang dibahas di dalam kitāb ini (العقيدة الواسطية) ?
√ Materi apa saja yang dibahas di dalam kitāb ini (العقيدة الواسطية) ? dan sebagainya.

Secara garis besar, kitāb Al ‘Aqidah Al Wāsithiyah (العقيدة الواسطية) memuat pokok-pokok penting ‘aqidah yang harus diketahui oleh kaum muslimin dan kitāb Al ‘Aqidah Al Wāsithiyah (العقيدة الواسطية) ini menitik beratkan pada ma’rifatullāh.

Apa itu ma’rifatullāh ?

⇒ Ma’rifatullāh adalah mengenal Allāh ‘Azza wa Jalla melalui sifat-sifat dan nama-nama- Nya (Asma Al Husna).

Ma’rifatullāh di sini bukan berarti ma’rifatullāh yang mungkin tersebar di masyarakat sebagai suatu tingkatan dalam agama yang kalau seseorang sudah mencapainya maka ada yang sampai bersatu dengan Allāh (na’ūdzu billāhi).

Ada pendapat sesat demikian yang mereka katakan, “Inilah ma’rifatullāh,” atau ada juga yang mengatakan, “Maka sudah bebas syari’at,” atau ada yang mungkin tidak sebahaya itu tetapi mungkin membuat dzikir-dzikir bid’ah (tidak sesuai dengan tuntunan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam).

Seperti hanya sekedar mengatakan, “Hu…. hu…,” saja. Jadi tidak mengatakan “Allāh” atau “Lā ilāha illallāh” tetapi mengatakan “Hu…. hu…,”saja. mungkin sambil Mungkin menari-nari dan mereka menamakan itu adalah ma’rifatullāh.

Ma’rifatullāh yang dimaksud bukanlah yang seperti ini. Yang di maksud ma’rifatullāh di sini adalah ma’rifatullāh yang benar yang sesuai dengan bahasa.

• Ma’rifat secara bahasa artinya “pengetahuan”, dan
• Allāh adalah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

⇒ Jadi ma’rifatullāh adalah pengetahuan atau mengilmui (memahami) Allāh ‘Azza wa Jalla melalui sifat-sifat dan nama-nama-Nya.

Inilah yang dititik beratkan oleh Imām Ibnu Taimiyyah di dalam kitābnya ini.

Selain membahasa sifat-sifat Allāh dan nama-nama-Nya, Ibnu Taimiyyah juga membahas tentang:

√ Imān kepada takdir (takdir baik dan takdir buruk).
√ Imān kepada hari akhir.
√ Dan juga ada tambahan-tambahan lain yang dia adalah pelengkap dari imān, (seperti) pelaku maksiat apakah dia dikāfirkan atau tidak ? atau masih masuk imān tetapi imānnya kurang.

√ Dan bagaimana posisi kita terhadap shahābat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, semua dijelaskan dalam kitāb ini dan ini merupakan pelengkap dari imān seorang muslim.

√ Dan juga terhadap saudara-saudara Nabi atau keluarga Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang disebut dengan ahlul bait.

Apakah kita harus mencintai ahlul bait atau harus membencinya?

Bagaimana posisi yang tepat sebenarnya, ini juga akan dijelaskan oleh Imām Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Dan juga masalah akhlaq, nanti akan disebutkan di akhir, karena akhlaq adalah penyempurna imān, karena banyak sekali hal-hal yang menyangkut dengan akhlaq dikaitkan dengan imān.

Contohnya seperti memuliakan tetangga. Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ . قِيْلَ: وَ مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ : الَّذِيْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

_”Demi Allāh, tidak berimān. Demi Allāh, tidak berimān. Demi Allāh, tidak berimān.”_

_Ditanyakan:_

_”Wahai Rasūlullāh, siapa dia?”_

_Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab:_

_”Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya._

(Hadīts shahīh riwayat Al Bukhāri nomor 6016)

Tidak berimān di sini maksudnya bukanlah tidak berimān karena dia kāfir, melainkan tidak berimān secara sempurna meskipun imānnya masih ada.

Sehingga disebutkan juga di akhir pembahasan tentang akhlaq oleh Imām Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Jadi inilah Al ‘Aqidah Al Wāsithiyah yang secara umum menitik beratkan sifat-sifat dan nama-nama Allāh, yang mana mempelajari sifat dan nama-nama Allāh ini memiliki keutamaan-keutamaan yang amat besar.

In syā Allāh nanti akan kita singgung ketika kita sudah masuk dalam apa yang dibahas oleh Imam Ibnu Taimiyyah.

Ini saja yang bisa saya sampaikan, kurang lebihnya saya mohon maaf.

وصلاة وسلم على نبينا محمد و آله وصحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top