Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Al-Ushulu Ats-Tsalasah > Halaqah 50 | Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Dalil Dari Sunnah Tentang 3 Tingkatan Dalam Islam III

Halaqah 50 | Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Dalil Dari Sunnah Tentang 3 Tingkatan Dalam Islam III

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-Tsalasah

سم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-50 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al-Ushūlu Ats-Tsalātsah wa Adillatuhā (3 Landasan utama dan dalīl-dalīlnya) yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh.

Kemudian Umar berkata :

“Maka laki-laki tersebut pergi meninggalkan tempat kami (majelis Rasūlullāh) maka kamipun terdiam sebentar.”

Baru saja terjadi percakapan yang luar biasa, yang membuat heran mereka dan mempengaruhi hati mereka. Sampai disebutkan tanda-tanda terjadinya hari kiamat.

ثُمَّ قَالَ: يَا عُمَرُ أَتَدْرِي مَنْ السَّائِلُ؟.
قُلْتُ: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ.

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata kepada Umar (shahibul qishash), “Wahai Umar tahukan siapa yang datang tadi?”.

Kemudian Umar menjawab:

“Allāh dan Rasūl-Nya yang lebih tahu”.

Karena mereka tidak mengetahui siapa sebenarnya laki-laki yang datang dan bertanya kepada Nabi. Maka Umar mengatakan, “Allāh dan Rasūl-Nya yang lebih tahu”.

Allāh lebih tahu karena Dia-lah yang mengetahui segala sesuatu, karena diantara namanya adalah Al-‘Alim dan tidak terjadi perkara yang kecil maupun yang besar di dunia ini kecuali dibawah ilmu Allāh.

Rasūl-Nya lebih tahu. Di dalam perkara agama
beliau lebih tahu, karena tidak mungkin agama Islām sampai kepada kita kecuali melalui perantara beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

⇒ Agama Islām dibawa Rasūlullāh dari Jibrīl, Jibrīl dari Allāh Azza wa Jalla.

Tentunya Rasūlullāh lebih tahu tentang agama Islām daripada kita. Sehingga benar yang dikatakan Umar, “Allāh dan Rasūl-Nya lebih tahu (اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ)”.

Adapun di dalam masalah dunia (masalah komputer, pertanian, peternakan dan seterusnya) sebagaimana dikabarkan oleh beliau, “Kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia”, tetapi kalau urusan agama maka Nabi Nya yang lebih tahu.

Oleh karena itu kalau ada pertanyaan berkaitan dengan agama, maka kita katakan, “اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ – Allāh dan Rasūl-Nya lebih mengetahui” TAPI kalau dalam urusan dunia, JANGAN katakan, “Rasūl lebih tahu” (karena telah beliau katakan untuk urusan dunia) أنتم أعلم بأمر دنياكم.
TAPI cukup katakan: “الله اعلم”.

قال‏:‏ فإنه جبريل أتاكم يعلمكم أمر دينكم

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan :

“Ini adalah Jibrīl dia datang untuk mengajarkan urusan agama kepada kalian”

Dalam riwayat yang lain :

قَالَ: فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ

“Ini adalah Jibrīl dia datang untuk mengajarkan agama kepada kalian”

⇒ Laki-laki yang datang dengan haiyah seperti itu adalah Jibrīl dengan tujuan untuk mengajarkan.

Menunjukkan bahwasanya taklim terkadang berupa soal dan jawab, Nabi disini menamakan يعلم dia sedang mengajarkan.

⇒ Jibrīl bertanya kemudian Rasūlullāh menjawab.

Terkadang seorang pengajar, mengajar dengan cara bertanya dan ini termasuk ushluq min asali taklim (metode diantara metode pembelajaran) dan fungsinya untuk menggerakan pikiran menggerakan otak.

Kemudian apa yang di sebutkan Jibrīl (tanya jawab antara Jibrīl dan Nabi) adalah Islām dengan makna khusus yaitu agama Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang didalamnya terkandung Arkānul Islām, Arkānul Imān dan Ihsān.

Agama Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam ada 3 tingkatan, dan masing-masing tingkatan memiliki rukun sebagaimana disebutkan oleh beliau وكل مرتبة لها أركان (masing-masing dari tingkatan memiliki rukun). Ini semua ada di dalam hadīts Jibrīl.

Banyak faedah-faedah yang bisa diambil dari hadīts ini diantaranya apa yang dilakukan oleh Jibrīl alayhissalām.

Bagaimana Jibrīl mengajarkan kepada kita tentang adab.

Diantara adab-adab menuntut ilmu, yaitu :

⑴ Jibrīl datang memakai baju

yang indah dan bersih, ini adalah bagian dari تعظيم العلم

Seseorang ketika akan menghadap seorang raja atau seorang pemuka, dia tidak akan ridhā memakai pakaian yang jelek, apalagi untuk urusan ibadah.

Sepantasnyalah seorang penuntut ilmu, ketika menghadiri majelis ilmu, dia memakai pakaian yang rapih. (Datang terlihat sebagai seorang thālabul ‘Ilm).

2. Tentang Haiyah nya bagaimana mendatangi majelis ilmu.

Jibrīl langsung mendatangi Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, artinya seorang penuntut ilmu mendekatkan diri kepada orang yang akan dia tuju untuk menimba ilmu.

Ini termasuk adab di dalam menuntut ilmu, mendekatkan dirinya kepada muallim bukan duduk di belakang atau di luar majelis, dan ini menunjukan taqdhim dia terhadap ilmu yang akan dia dapatkan.

Ini termasuk adab diantara adab-adab menuntut ilmu yang ingin disampaikan oleh malāikat Jibrīl.

Kemudian bagaimana duduknya pun disebutkan disini yaitu duduk dalam keadaan bersimpuh dan itu mungkin haiyah yang lebih susah daripada duduk bersila. Tapi dia lakukan demi untuk mendapatkan ilmu.

Ini adalah beberapa adab di dalam menuntut ilmu yang bisa kita ambil dari hadīts Jibrīl yang masyhūr.

Dan masih banyak faedah lain seperti (misalnya) jangan malu untuk mengatakan الله اعلم atau اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ, di dalam perkara- perkara yang dia tidak tahu.

Malāikat Jibrīl adalah syayyidul malāikat atau pemukanya malāikat, meskipun beliau seorang malāikat ketika beliau menghadiri majelis ilmu beliau posisikan dirinya sebagaimana penuntut ilmu.

Di dalam hadīts yang lain disebutkan :

وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًا بما صنع

“Sesungguhnya malāikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridhā pada penuntut ilmu.”

(Hadīts riwayat Abū Dāwūd dan At-Tirmidzī)

Malāikat merendahkan diri dihadapan para penuntut ilmu, seharusnya kita lebih beradab dengan adab-adab menuntut ilmu.

Siapapun kita meskipun kita adalah seorang ustad misalnya, kalau disana ada ustad lain yang sedang mengisi maka beradablah seperti seorang penuntut ilmu.

Penulis rahimahullāh membawakan hadīts Jibrīl yang masyhūr ini, ingin menunjukkan kepada kita bahwa Islām yang dibawa oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ada 3 tingkatan

Demikian yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya

Wallāhu Ta’āla A’lam

وبالله التوفيق والهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top