Home > Bimbingan Islam > Tematik > Hadīts tentang Isra’ Mi’raj

Hadīts tentang Isra’ Mi’raj

🌍 BimbinganIslam.com
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Materi Tematik Bulan Rajab

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي جعل من يريده بخير فقيها في الدين
والصلاة والسلام على أشرف الخلق وسيد المرسلين نبينا محمد وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين أما بعد

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahīmakumullāh,

Pada kesempatan kali ini, kita akan Mencoba membawakan hadīts tentang kisah Isrā’ dan Mi’rāj.

Kisah Isrā’ dan Mi’rāj ini Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dibawakan oleh Imām Al Bukhāri dan Imām Muslim dalam shahīhnya.

Berikut kisah beliau dari shahīh Muslim nomor hadīts 164:

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Ketika aku berada di samping Baitullāh dalam keadaan separuh tidur, tiba-tiba aku mendengar pembicaraan dari salah seorang dari tiga lelaki yang berada di tengah-tengah. Lalu mereka menghampiriku dan membawaku ke suatu tempat.

Kemudian mereka membawa sebuah wadah dari emas yang berisi air zamzam. Setelah itu dadaku dibedah dari sini dan sini.

Qatādah berkata:

“Aku telah bertanya kepada orang yang bersamaku ketika itu, “Apakah yang beliau (Anas bin Mālik) maksudkan?”

Dia menjawab: “Hingga ke bawah perut beliau”.

Beliau melanjutkan sabdanya:

“Jantungku dikeluarkan dan dibersihkan dengan air zamzam, kemudian diletakkan kembali di tempat asal.

Setelah itu diisi pula dengan iman dan hikmah,
lalu didatangkan kepadaku seekor binatang tunggangan berwarna putih yang disebut Burāq.

Ia lebih besar daripada keledai dan lebih kecil daripada bighal. Panjang langkahnya sejauh mata memandang, sementara itu aku dibawa di atas punggungnya.

Kemudian kami pun memulai perjalanan hingga sampai ke langit dunia, setelah itu Jibrīl meminta agar dibukakan pintunya, ditanyakan kepadanya, ‘Siapa? ‘ Jawabnya, ‘Jibrīl’.

Kemudian ditanya lagi, “Siapakah yang bersamamu?”

“Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam”, jawab jibril.

Lalu ditanya lagi, “Apakah dia orang yang telah diutus ?”

Jawabnya, “Ya”.

Lalu malāikat yang menjaga pintu tersebut membuka pintu sambil berkata, “Selamat datang, sungguh tamu mulia telah tiba”.

Lalu kami mengunjungi Nabi Ādam.”

Dalam riwayat Al Bukhāri nomor 349 disebutkan bahwa disamping kanan nabi Ādam ada ruh anak keturunannya penghuni surga dan disamping kiri juga ada ruh anak keturunannya yang menghuni neraka. Ketika beliau melihat ke kanan beliau tertawa dan jika melihat kekiri beliau menangis.

Ketika itu beliau mengucapkan: “Selamat datang nabi yang shālih, anak yang shālih”

Lalu perawi membawakan hadīts tersebut dengan kisahnya, dia menceritakan bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bertemu dengan nabi Īsā dan nabi Yahyā di langit kedua.

Dan pada langit ketiga beliau berjumpa dengan nabi Yūsuf.

Lalu di langit keempat bertemu dengan nabi Idrīs.

Setelah sampai di langit kelima beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) bertemu dengan nabi Hārun.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam kemudian bersabda:

“Kemudian kami meneruskan perjalanan sehingga sampai di langit keenam, lalu aku menemui nabi Mūsā dan memberi salam kepadanya”.

Dia segera menjawab, “Selamat datang wahai saudaraku dan nabi yang shālih”.

Ketika aku meningalkannya, beliau menangis. Lalu dia ditanya, “Apakah yang menyebabkan kamu menangis?”

Dia menjawab, “Wahai Tuhanku! Engkau mengutus pemuda ini setelahku, tetapi umatnya lebih banyak memasuki Surga daripada umatku”.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Kami meneruskan lagi perjalanan sehingga sampai di langit ketujuh, lalu aku mengunjungi nabi Ibrāhīm”.

Dalam hadīts tersebut “Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menceritakan bahwa dia melihat empat sungai yang keluar dari sumbernya dua sungai yang jelas kelihatan dan dua sungai yang samar-samar.

Lalu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bertanya, “Wahai Jibrīl! Sungai-sungai apakah ini?” Jibrīl menjawab, “Dua sungai yang samar-samar itu merupakan sungai Surga, sedangkan sungai yang jelas kelihatan adalah sungai Nil dan Euphrat”.

Lalu aku dibawa naik ke Baitul Makmur, lalu aku bertanya, “Wahai Jibrīl, apakah ini?”

Lalu Jibrīl menjawab, “Ini adalah Baitul Makmur yang mana dalam setiap hari, tujuh puluh ribu malāikat akan memasukinya. Setelah mereka keluar, mereka tidak akan memasukinya lagi”.

Kemudian dibawakan dua wadah kepadaku, yang satunya berisi arak dan satu lagi berisi susu.

Keduanya ditawarkan kepadaku, lalu aku memilih susu.

Maka dikatakan kepadaku, “Kamu membuat pilihan yang tepat!”.

Allāh menghendakimu dan umatmu dalam keadaan fitrah (kebaikan dan keutamaan).

Kemudian difardukan pula kepadaku shalāt lima puluh waktu pada setiap hari.’

Dalam hadīts Al Bukhāri nomor 349 disebutkan:

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Kemudian Allāh ‘Azza wa Jalla mewajibkan kepada ummatku shalāt sebanyak lima puluh kali. Maka aku pergi membawa perintah itu hingga aku berjumpa dengan nabi Mūsā, lalu ia bertanya, “Apa yang Allāh perintahkan buat umatmu?”

Aku jawab, “Shalat lima puluh kali”

Lalu dia berkata, “Kembalilah kepada Rabbmu, karena umatmu tidak akan sanggup”.

Maka aku kembali dan Allāh mengurangi setengahnya.

Aku kemudian kembali menemui nabi Mūsā dan aku katakan bahwa Allāh telah mengurangi setengahnya.

Tapi ia berkata, “Kembalilah kepada Rabbmu karena umatmu tidak akan sanggup”.

Aku lalu kembali menemui Allāh dan Allah kemudian mengurangi setengahnya lagi.

Kemudian aku kembali menemui nabi Mūsā, ia lalu berkata, “Kembalilah kepada Rabbmu, karena umatmu tetap tidak akan sanggup”

Maka aku kembali menemui Allāh Ta’āla , Allāh lalu berfirman:

“Lima ini adalah sebagai pengganti dari lima puluh. Tidak ada lagi perubahan keputusan di sisi-Ku!”

Maka aku kembali menemui nabi Mūsā dan ia kembali berkata, “Kembailah kepada Rabb-Mu!”

Aku katakan, “Aku malu kepada Rabb-ku”

Jibrīl lantas membawaku hingga sampai di Sidratul Muntahā yang diselimuti dengan warna-warni yang aku tidak tahu benda apakah itu.

Kemudian aku dimasukkan ke dalam Surga, ternyata di dalamnya banyak kubah-kubah terbuat dari mutiara dan tanahnya dari minyak kesturi.”

Semoga cerita hadīts dalam riwayat Imām Bukhāri dan Imām Muslim ini menambah iman kita dan membuat kita semakin giat untuk beramal dengan benar.

Wallāhu Ta’āla A’lam

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top